Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 28. Mengagumi
"Cari Wulan ya Mas?"
Sudah lima menit Langit berdiri di depan teras rumah milik Wulan. Berkali-kali ia mengetuk pintu rumah namun tidak ada satupun respon dari si pemilik rumah. Sejak pertemuannya dengan Wulan di dua bulan yang lalu ia sama sekali belum bertandang ke rumah ini lagi dan kini rumah yang ia lihat nampak berbeda sekali dari yang pertama kali ia lihat.
Langit menoleh ke arah sumber suara. Ia mengangguk pelan seraya tersenyum simpul di depan Sastro yang perlahan mulai berjalan mendekatinya.
"Betul Pak, saya mencari Wulan. Tapi sepertinya Wulan sedang tidak ada di rumah ya?"
"Wulan memang sedang tidak ada di rumah Mas. Ia sedang ada di pengadilan untuk menghadiri sidang terakhir perceraian dengan suaminya. Mungkin sebentar lagi ia sampai di rumah. Karena sudah sejak pagi tadi ia berangkat."
"Cerai?" tanya Langit dengan mata membeliak. "Jadi selama ini Wulan tinggal di rumah ini hanya dengan anaknya saja Pak?"
"Betul Mas. Baru dua bulan terakhir ini Wulan tinggal di sini karena sebelumnya ia tinggal bersama suaminya."
Langit mengangguk-anggukkan kepala. Jika dirunut dari waktu yang telah berlalu, bisa jadi awal pertemuannya dengan Wulan dua bulan terakhir, merupakan awal Wulan pergi dari kehidupan suaminya.
"Oh begitu ya Pak?"
"Iya Mas. Kalau boleh tahu Mas ini siapanya Wulan ya? Sepertinya baru kali ini saya bertemu dengan Anda."
"Saya Langit, Pak. Kebetulan dua bulan yang lalu saya sempat menawarkan sebuah kerja sama dengan Wulan. Tapi baru sekarang saya bisa mem-follow up lagi karena dua bulan terakhir saya sedang ada di luar kota. Maka dari itu saya kemari untuk kembali membahas kerja sama ini dengan Wulan."
"Kerja sama di bidang apa ya Mas kalau boleh tahu?" tanya Sastro sedikit kepo.
"Tata busana Pak. Kebetulan saya memiliki pabrik garmen yang tidak jauh dari sini. Nah saya ingin mengajak kerja sama Wulan untuk membuat desain home wear yang sedang trend di masa sekarang agar bisa kami produksi secara massal."
"Kamu datang kepada orang yang tepat Mas. Dulu waktu sekolah, Wulan terkenal sebagai salah satu murid yang berprestasi. Dia juga sering memenangkan lomba desain busana. Jadi saya rasa dengan kemampuan yang dimiliki oleh Wulan, hasil produk pabrik Anda bisa laris di pasaran."
"Saya juga berharap seperti itu Pak. Semoga kerja sama kami nantinya bisa saling menguntungkan."
Obrolan Langit dan Sastro terhenti ketika sebuah taksi online berhenti tak jauh dari mobil milik Langit yang terparkir. Tak berselang lama, Wulan yang masih menggendong Bagas nampak keluar dari taksi online itu.
"Loh Mas Langit? Sudah dari tadi kah?" tanya Wulan yang sedikit terkejut dengan kedatangan Langit.
"Kalau begitu aku permisi dulu ya Lan," pamit Sastro yang merasa keberadaannya sudah tidak diperlukan lagi di sini.
"Kok buru-buru Pak?"
"Aku keburu ada acara di kelurahan, Lan." Sastro melirik ke arah Langit. "Saya duluan ya Mas. Semoga semua lancar."
"Terima kasih Pak!"
Sastro mengayunkan tungkai kaki meninggalkan Wulan dan Langit. Hingga tubuh Sastro tak lagi nampak di penglihatan dua orang itu.
"Silakan duduk dulu Mas!" ucap Wulan mempersilahkan Langit untuk duduk di kursi kayu yang ada di beranda. "Aku ke dalam sebentar ya Mas, mau menidurkan Bagas di kamar."
Langit menganggukkan kepala. "Silakan Lan."
Wulan masuk ke dalam untuk menidurkan Bagas di kamar. Setelah itu ia menuju kulkas yang ada di dapur mengambil dua air mineral dan satu toples rempeyek kacang untuk ia hidangkan di depan tamunya.
"Tidak usah repot-repot Lan!" ucap Langit sedikit tidak enak hati ketika melihat Wulan keluar dari dalam sembari membawa kudapan.
"Tidak repot kok Mas. Kebetulan ini ada, jadi aku hidangkan. Kalau tidak ada ya tidak akan aku hidangkan," jawab Wulan sembari terkekeh pelan.
"Kamu ini bisa saja." Langit juga ikut tergelak lirih. "Oh iya, aku datang kemari untuk melanjutkan pembahasan tentang project yang pernah aku sampaikan ke kamu dua bulan yang lalu Lan. Maaf karena baru sekarang aku bisa mem-follow up. Dua bulan ini aku ada urusan di luar kota, sedangkan aku mencoba menghubungimu tapi nomor ponselmu tidak aktif."
"Aduh, aku minta maaf Mas. Nomor ponselku tiba-tiba terblokir karena melewati masa tenggang. Jadi nomor yang sempat aku kirim ke kamu sudah tidak bisa digunakan."
"Tidak apa-apa Lan. Yang jelas hari ini kita bisa bertemu untuk membahas project yang pernah aku tawarkan."
"Jadi, project yang Mas Langit tawarkan seperti apa konsepnya?" tanya Wulan langsung pada pokok pembahasan.
"Begini Lan. Aku ingin kamu membuatkan beberapa desain home wear untuk menjadi produk unggulan di pabrik milikku. Jika nanti para jajaran direksi yang ada di pabrik menyetujui desain yang kamu buat, maka akan kami produksi secara massal dan akan ada project fee yang kamu terima."
"Project fee? Maksudnya hanya sekali itu saja aku menerima project fee itu Mas?"
"Oh tentu tidak hanya sekali Lan," jelas Langit.
"Lantas skemanya bagaimana Mas?"
"Begini, nanti desain yang kamu buat akan kami hargai dengan nominal yang sangat pantas. Setelah desain yang kamu buat masuk produksi dan berhasil masuk market akan ada fee sebanyak lima persen. Jadi kamu tidak perlu khawatir, selama desain yang kamu buat masih di produksi maka kamu akan mendapatkan bagian lima persen itu secara terus menerus. Bagaimana? Apa kamu bersedia menjadi salah satu team dari perusahaan garmen yang aku miliki?"
Wulan nampak terdiam larut dengan pikirannya. Wanita itu seakan mempertimbangkan semua hal secara matang sebelum membuat satu keputusan. Jika ditelaah secara detail, project kerja sama yang ditawarkan oleh Langit ini sangat menguntungkan sehingga tidak ada alasan baginya untuk menolak tawaran dari Langit.
"Bagaimana Lan? Apa kamu bersedia?" ulang Langit dengan harap-harap cemas.
Wulan tersenyum simpul seraya mengulurkan tangannya. "Deal Mas. Aku terima tawaran kerja sama darimu."
Langit tak kalah memasang wajah penuh bahagia. Ia pun menyambut uluran tangan Wulan sebagai simbol jika mulai hari ini mereka terlibat dalam satu kerja sama.
"Deal. Setelah ini aku akan buatkan surat perjanjian kerja sama yang akan sama-sama kita tanda tangani di depan direksi."
Dahi Wulan mengernyit. "Di depan direksi? Maksud kamu bagaimana Mas?"
"Besok atau lusa kamu aku undang datang ke pabrikku. Nanti di sana kita sama-sama menandatangani kontrak kerjasama. Kalau tidak memberatkan, kamu bisa mulai membuat desain produk. Nanti ketika tanda tangan kontrak bisa kamu presentasikan sekalian di depan para direksi. Siapa tahu langsung goal yang artinya desain dari kamu bisa langsung masuk produksi."
Wulan terperangah. "Secepat itu Mas?"
"Jika bisa cepat, kenapa harus diulur-ulur lagi kan?" tanya Langit menegaskan. "Tapi jika kamu memang belum siap aku tidak memaksa Lan."
"Belum siap? Maksud mas Langit bagaimana?"
"Maaf, aku dengar dari Pak Sastro tadi, kamu baru saja menghadapi satu ujian terbesar dalam pernikahanmu. Aku khawatir jika terkesan terlalu memaksa di saat situasinya seperti ini."
"Oh masalah itu?" tanya Wulan yang mulai paham ke mana arah pembicaraan Langit. "Fase kehancuranku sudah berlalu Mas. Saat ini aku justru lagi semangat-semangatnya menata kembali hidupku. Jadi, aku usahakan lusa desain itu sudah bisa aku presentasikan di depan jajaran direksi."
"Sungguh?" tanya Langit menegaskan.
Wulan mengangguk mantap. "Betul. Aku akan bekerja keras untuk bisa sukses meng-upgrade passion yang aku miliki setelah hampir tiga tahun tak terjamah sama sekali."
Seutas senyum simpul terbit di bibir Langit. Melihat semangat yang menyala di dalam diri Wulan, ia yakin jika partner kerjanya ini merupakan salah satu wanita yang tangguh dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi satu kesulitan.
Ibu... Maafkan aku, sepertinya selain sosokmu, aku juga mengagumi sosok wanita yang ada di hadapanku ini. Semoga setelah ibu tiba di kota ini, ibu juga bisa mengenal wanita tangguh bernama Wulan ini.
.
.
.