Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Kamar tidur di sayap kanan terasa jauh lebih luas dan sunyi malam itu. Alyssa duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela prancis yang masih menyisakan sisa-sisa embun. Sudah tiga hari berlalu sejak insiden di pelataran parkir kantor pusat Maheswara Group, namun benaknya seolah masih tertinggal di detik-detik menegangkan itu.
Sifat taktis Alyssa terus-menerus mencoba membedah situasi menggunakan logika. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terjadi hanyalah reaksi spontan belaka. Siapa pun pria yang memiliki insting pelindung dasar pasti akan menarik seseorang yang hampir tertabrak mobil di depan matanya. Itu murni refleks, tidak kurang dan tidak lebih.
Namun, tidak peduli seberapa keras otak cerdasnya menyusun penyangkalan, hati Alyssa menolak untuk berkompromi. Setiap kali ia memejamkan mata, memori itu kembali berputar dengan sangat jernih. Ia teringat bagaimana kokohnya lengan Alvaro yang melingkari pinggangnya, bagaimana aroma kayu cendana bercampur hujan maskulin menyergap indrasanya, dan yang paling sulit dilupakan ekspresi panik yang luar biasa di sepasang mata elang Alvaro.
Itu adalah gurat emosi yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari sang predator korporasi yang terkenal mati rasa. Dan setiap kali bayangan itu melintas, jantung Alyssa selalu berdetak lebih cepat, mengkhianati seluruh klausul dingin yang telah mereka sepakati di atas kertas.
Anehnya, alih-alih mencair, atmosfer di antara mereka pasca-kejadian justru beralih menjadi semakin ganjil. Alvaro secara terang-terangan menghindarinya selama beberapa hari ini.
Pria itu memilih menghabiskan seluruh waktunya di kantor. Jika biasanya ia sudah berada di rumah sebelum jam makan malam, kini Alvaro selalu pulang larut malam bahkan terkadang menjelang subuh ketika seisi mansion sudah terlelap. Mereka tidak lagi berbagi meja makan, dan selasar lantai dua yang memisahkan sayap kamar mereka terasa seperti jurang pemisah yang sengaja diperlebar oleh Alvaro.
Sifat berani Alyssa mulai terusik. Rasa kesal perlahan merayap di dadanya karena merasa pria berumur 28 tahun itu sedang bersikap sangat aneh dan kekanak-kanakan. Jika Alvaro ingin menegaskan kembali batas perjanjian baru mereka, ia bisa mengatakannya langsung secara profesional, bukan dengan cara melarikan diri dari rumah seperti ini. Sikap menghindar itu justru membuat Alyssa merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri mereka berdua.
Di sisi lain, di dalam ruang kerja megah di lantai paling atas gedung Maheswara Group yang telah sepi, Alvaro berdiri menghadap dinding kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan sebatang cerutu di jemarinya telah padam sejak satu jam yang lalu tanpa sempat ia sesap lagi.
Aura angkuh yang biasa melekat padanya kini digantikan oleh ketegangan batin yang teramat pekat. Alvaro tidak sedang menghindar karena marah; ia sedang bertarung dengan isi kepalanya sendiri.
Selama belasan tahun, sejak tragedi pengkhianatan berdarah yang menghancurkan keluarganya, Alvaro telah melatih dirinya untuk menjadi manusia yang tidak memiliki celah. Ia tidak mengizinkan ada satu pun orang yang berarti di dalam hidupnya, karena baginya, memiliki seseorang yang berharga sama saja dengan menyerahkan kelemahan kepada musuh-musuhnya seperti Arsen.
Namun, dekapan sore itu telah mengacaukan seluruh sistem pertahanan yang ia bangun dengan darah dan air mata.
Alvaro sebenarnya sedang berusaha keras memahami alasan di balik runtuhnya kendali mutlaknya hari itu. Mengapa dirinya begitu takut kehilangan Alyssa? Mengapa dadanya terasa sesak seolah dunianya akan runtuh hanya karena melihat wanita itu berada di jalur bahaya? Alyssa seharusnya tidak berarti apa-apa baginya. Wanita itu hanyalah istri kontrak, sebuah tameng di atas kertas untuk memuluskan taktik bisnis dan politik keluarganya.
Mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, Alvaro menatap pantulan dirinya di kaca. Ia menyadari satu kebenaran yang menakutkan: rasa takut kehilangan yang ia rasakan sore itu adalah nyata, dan itu membuktikan bahwa Alyssa Pradipta telah berhasil menembus dinding esnya, menjadi sebuah anomali berbahaya yang mulai ia pedulikan lebih dari hidupnya sendiri.
...****************...
Kekesalan Alyssa mencapai puncaknya pada malam keempat. Jarum jam telah melewati pukul setengah dua belas malam ketika ia mendengar deru mesin mobil Rolls-Royce Alvaro memasuki pelataran mansion.
Alih-alih membiarkan dirinya terlelap dalam rasa penasaran, sifat berani Alyssa mendesaknya untuk bertindak. Ia bangkit dari ranjang, mengenakan jubah tidur berbahan satin abu-abu, dan melangkah keluar menuju selasar lantai dua yang sunyi. Ia tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum meminta kejelasan atas sikap dingin suaminya yang tidak profesional ini.
Tepat saat Alvaro melangkah naik ke anak tangga terakhir, ia membeku. Di bawah temaram lampu dinding selasar, Alyssa berdiri tegak menunggunya dengan tangan bersendekap di dada.
Alvaro tampak lelah. Lingkar hitam samar di bawah matanya menunjukkan bahwa pria itu tidak tidur dengan baik selama beberapa hari terakhir. Namun, begitu melihat Alyssa, sepasang mata elang itu langsung kembali menegang, memasang barikade es yang biasa ia gunakan.
"Kenapa kau belum tidur, Alyssa? Ini sudah lewat tengah malam," ucap Alvaro, suaranya baritonnya terdengar parau dan dingin saat ia mencoba melangkah melewati istrinya begitu saja.
"Kita perlu bicara, Tuan Alvaro," potong Alyssa, melangkah satu tapak untuk menghalangi jalur pria itu. Sifat taktisnya menolak membiarkan Alvaro lolos kali ini.
Alvaro menghentikan langkahnya, menatap Alyssa dari ketinggian tubuhnya yang tegap. "Aku lelah, Alyssa. Jika ini tentang Pradipta Group, kita bisa membahasnya di kantor besok bersama tim legal."
"Ini bukan tentang perusahaan saya, tapi tentang Anda," sahut Alyssa, matanya menatap lurus, mengunci pandangan Alvaro tanpa rasa takut. "Anda menghindari saya selama empat hari ini. Pulang subuh, mengosongkan meja makan, dan bersikap seolah saya adalah wabah penyakit di rumah ini. Berdasarkan adendum yang baru kita tanda tangani, kita sepakat untuk saling menghormati. Sikap menghindar Anda yang kekanak-kanakan ini sama sekali tidak mencerminkan rasa hormat itu."
Mendengar kata kekanak-kanakan, rahang Alvaro mengeras samar. Ia memajukan tubuhnya selangkah, memperikis jarak di antara mereka hingga Alyssa dapat kembali mencium aroma maskulin kayu cendana yang sempat membuatnya gila beberapa hari lalu.
"Aku tidak menghindarimu, Alyssa. Aku sedang sibuk mengurus akuisisi proyek di Sumatra," kilah Alvaro, suaranya merendah, sarat akan intimidasi yang sengaja ia buat untuk memojokkan mental Alyssa. "Jangan terlalu tinggi menilai keberadaanmu di rumah ini sampai berpikir jalannya jadwalku berputar di sekitarmu."
"Benarkah?" Alyssa menarik sudut bibirnya, mengeluarkan senyuman taktis yang menantang tepat di depan wajah sang predator. "Atau Anda sebenarnya sedang ketakutan, Alvaro?"
Pertanyaan menohok itu membuat napas Alvaro tertahan selama satu ketukan.
"Kau bicara apa?" desis Alvaro tajam.
"Anda takut karena insiden di depan kantor hari itu," ucap Alyssa lirih namun tegas, setiap katanya menusuk tepat ke pusat pertahanan batin Alvaro. "Anda takut karena menyadari bahwa Anda tidak se-mati rasa yang Anda pamerkan pada dunia. Pelukan hari itu... ekspresi panik Anda... Anda takut karena menyadari saya bukan lagi sekadar angka di atas kertas kontrak Anda, bukan?"
Selasar itu mendadak menjadi sangat sunyi. Kata-kata Alyssa bagai merobek paksa topeng es yang selama ini melindungi luka masa lalu Alvaro. Pria berumur 28 tahun itu menatap Alyssa dengan tatapan yang begitu pekat, bergolak antara amarah yang tertahan dan rasa frustrasi yang mendalam karena rahasia hatinya telah dibaca dengan begitu akurat oleh wanita di hadapannya.
Alvaro mengepalkan tangannya di sisi tubuh, mencoba menahan gejolak gila di dalam dadanya yang mendesak untuk kembali menarik wanita pembangkang ini ke dalam dekapannya. Sembari menatap lekat bibir jernih Alyssa, Alvaro menyadari bahwa penolakannya selama beberapa hari ini sepenuhnya sia-sia. Dinding pertahanannya tidak sekadar retak; di bawah pendar lampu selasar malam ini, benteng itu telah runtuh, meninggalkan dirinya yang sepenuhnya tidak berdaya di hadapan istri kontraknya sendiri.
...****************...
Selama beberapa detik yang terasa abadi, Alvaro tidak bersuara. Keheningan di antara mereka begitu pekat hingga suara detak jam dinding di ujung koridor terdengar seperti dentang yang memekakkan telinga.
"Kau terlalu percaya diri, Alyssa," ucap Alvaro akhirnya. Suaranya kini terdengar sangat rendah, hampir menyerupai bisikan yang berbahaya. Ia mengambil satu langkah lagi ke depan, memotong sisa jarak yang ada hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan pernah berpikir kau bisa membaca pikiranku."
Alyssa tidak mundur satu milimeter pun. Mental bajanya menolak untuk tunduk, meskipun ia bisa merasakan kehangatan tubuh Alvaro yang menguar di udara malam yang dingin. "Saya tidak membaca pikiran Anda, Alvaro. Saya hanya membaca fakta yang ada di depan mata saya."
Alvaro menatap lurus ke dalam manik mata jernih Alyssa. Ada kilat kemarahan di sana, namun di balik itu, ada rasa frustrasi yang mendalam karena wanita di hadapannya ini menolak untuk merasa terintimidasi. Perlahan, Alvaro mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya yang kokoh sempat melayang di udara selama satu ketukan, sebelum akhirnya ia menyelipkan beberapa helai rambut Alyssa yang terlepas ke belakang telinganya.
Sentuhan kulitnya yang hangat pada pelipis Alyssa mengirimkan sengatan listrik yang familier sama persis dengan apa yang mereka rasakan di pelataran kantor tempo hari.
"Jika kau memang secerdas itu," bisik Alvaro tepat di dekat wajah Alyssa, napasnya yang hangat menerpa kulit pipi wanita itu, "maka kau seharusnya tahu bahwa mendekati pria sepertiku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu. Kau ingin rasa hormat? Aku akan memberikannya. Tapi jangan pernah meminta lebih dari itu."
Alvaro menarik kembali tangannya, memutuskan kontak mata mereka dengan sepihak. Ia membalikkan badan dan melangkah menuju pintu kamarnya di ujung koridor sayap kiri tanpa menoleh lagi. Pintu kayu ek itu tertutup dengan ketukan yang tegas, meninggalkan Alyssa sendirian di selasar yang sunyi.
Alyssa menarik napas dalam-dalam yang sempat tertahan, menyentuh pelipisnya yang masih terasa hangat akibat sentuhan jemari Alvaro. Jantungnya kembali berdegup kencang, menolak untuk berkompromi dengan logika taktisnya.
Alvaro boleh saja mengeluarkan peringatan dan memasang kembali topeng dinginnya, namun malam ini Alyssa tahu satu hal dengan pasti: ancaman dan kata-kata tajam pria itu hanyalah bentuk pertahanan diri yang putus asa. Sang predator malam ini telah mengakui kekalahannya secara tersirat, dan malam yang larut itu ditutup dengan pemahaman baru bahwa hubungan kontrak mereka tidak akan pernah bisa kembali sama seperti semula.