*Sinopsis*
Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.
Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*
Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.
Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.
90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Tanpa Tidur
Hari ke-232.
Kehamilan Evelyn masuk minggu ke-27.
Masuk trimester tiga.
Perutnya makin berat, tidurnya makin nggak nyaman.
Tiap malam dia bangun 2-3 kali buat pipis, ganti posisi, atau karena Relia nendang di rusuk.
Tapi malam ini beda.
Jam 1 pagi, Evelyn kebangun karena punggungnya sakit banget.
Kayak ditusuk dari dalam.
Dia coba ganti posisi, minum air, tarik napas.
Nggak mempan.
“Matthias...” bisiknya pelan.
Matthias langsung bangun.
Mata masih ngantuk, tapi tangannya udah nyari saklar lampu.
“Ada apa? Sakit?”
Evelyn ngangguk.
“Punggung. Kayak ketarik. Nggak bisa tidur.”
Matthias langsung duduk di pinggir ranjang, bantu Evelyn duduk.
Dia ambil bantal kecil, ganjel di punggungnya.
Terus mulai pijit pelan-pelan.
“Gue pijit ya? Kayak biasa?”
Evelyn ngangguk.
Tapi kali ini nggak reda.
Malah makin ngilu.
Matthias liat jam.
Jam 1.17 pagi.
Dia tarik napas.
“Gue telpon dr. Laras ya? Takutnya ada apa-apa.”
Evelyn pegang tangannya.
“Nggak usah panik dulu. Mungkin cuma pegel biasa.
Lo tidur lagi aja. Gue coba tahan.”
Matthias nggak mau.
Dia duduk di lantai, sandar ke kasur, pegang tangan Evelyn.
“Gue nggak bisa tidur kalau lo kesakitan.
Gue janji nggak bakal biarin lo ngerasain ini sendirian lagi.”
Evelyn diem.
Air mata jatuh pelan.
Bukan karena sakit.
Tapi karena cara dia ngomong.
---
Jam 2 pagi, sakitnya reda dikit.
Evelyn bisa rebahan miring kiri.
Matthias masih duduk di lantai, nggak gerak.
“Lo tidur dong,” kata Evelyn pelan.
Matthias geleng.
“Gue jaga. Takut lo sakit lagi.”
Evelyn senyum.
“Lo nggak capek jadi bapak siaga?”
Matthias senyum kecil.
“Capek. Tapi ini capek yang gue pilih.”
Mereka diem.
Di luar hujan rintik-rintik.
Di dalam, cuma ada suara napas mereka dan detak jam dinding.
Jam 3 pagi, Relia mulai gerak-gerak.
Kayak ikut bangun juga.
Evelyn ketawa kecil.
“Dia juga nggak bisa tidur. Kayak bapaknya.”
Matthias naruh tangan di perut.
“Relia, jangan ganggu mama ya. Mama capek.”
Relia nendang sekali.
Matthias ketawa.
“Dia bilang nggak.”
Evelyn ketawa juga.
Sakitnya kayak hilang sebentar.
---
Jam 4 pagi, Evelyn akhirnya ketiduran.
Matthias masih jaga.
Dia nggak tidur.
Cuma ngeliatin wajah Evelyn yang akhirnya tenang.
Pukul 6 pagi, Evelyn bangun.
Matthias masih di lantai, kepala sandar ke kasur, mata merem.
Dia nggak tega bangunin.
Dia turun pelan, ambil selimut tipis, selimutin Matthias.
Terus dia cium keningnya pelan.
“Terima kasih udah nggak ninggalin gue,” bisiknya.
Matthias nggak bangun.
Tapi tangannya gerak, nyari tangan Evelyn.
Genggam erat.
---
Pagi harinya, Nyonya Alina datang bawa bubur ayam dan teh jahe.
Dia liat mata Matthias yang merah, langsung ngerti.
“Kalian nggak tidur ya?”
Evelyn ngangguk.
“Punggung gue sakit semalaman. Matthias jagain gue.”
Nyonya Alina ngelirik Matthias.
Dia nggak ngomong apa-apa.
Cuma usap kepala Matthias pelan.
“Bagus,” katanya pelan.
“Jadi bapak itu emang gitu. Nggak tidur dulu, biar anak dan istri bisa tidur.”
Matthias cuma senyum capek.
Tapi matanya berbinar.
---
Siangnya, dr. Laras datang cek ke rumah.
Hasilnya: semua normal.
Sakit punggung itu wajar di minggu 27.
Otot ketarik karena beban perut.
Saran: kompres hangat, tidur miring kiri, jangan angkat berat.
“Kalau sakitnya makin sering atau ada flek, langsung ke RS ya, Bu Evelyn.”
Evelyn ngangguk.
Matthias catat semua di notes ponsel.
Setelah dokter pulang, Evelyn liat Matthias.
“Lo tidur siang ya. Gue serius.”
Matthias geleng.
“Gue mau nemenin lo pijit punggung.”
Evelyn nggak ngot.
Dia tahu, kalau dia maksa, Matthias bakal merasa gagal.
Jadi mereka tiduran bareng di sofa.
Evelyn miring kiri, Matthias di belakangnya, tangan di perut.
Relia gerak pelan.
Kayak ikut nenangin.
---
Sore harinya, Evelyn tidur 2 jam.
Bangun-bangun, Matthias masih di sampingnya.
Nggak kemana-mana.
“Lo nggak capek?” tanya Evelyn.
Matthias senyum.
“Capek. Tapi nggak mau ke mana-mana kalau lo belum oke.”
Evelyn peluk dia.
Peluk yang lama.
Nggak ada kata.
Cuma ada rasa aman.
---
Malamnya, Evelyn bisa tidur lebih nyenyak.
Punggungnya masih pegel, tapi nggak setajam semalam.
Matthias tidur di sampingnya, tangan masih di perut.
Jam 3 pagi, Relia gerak lagi.
Evelyn bangun, usap perutnya pelan.
“Shh... tidur ya, Sayang. Mama sama Papa juga mau tidur.”
Relia diem.
Evelyn senyum.
Dia liat Matthias.
Tidur nyenyak.
Nggak ada kerutan.
Nggak ada beban.
Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun, rumah ini bener-bener tenang.
---
Hari ke-240.
Kontrol kehamilan.
Dokter bilang, “Minggu 28 udah masuk trimester akhir.
Siap-siap aja, Bu. Bayi makin besar, ibu makin capek.”
Evelyn ketawa.
“Udah kerasa, Dok.”
Di mobil pulang, Matthias ngeliat dia.
“Lo kuat banget.”
Evelyn ngangkat alis.
“Lo juga. Malam itu lo nggak tidur sama sekali.”
Matthias senyum.
“Gue rela. Asal lo sama Relia aman.”
Evelyn pegang tangannya.
“Gue sayang lo.”
Matthias nggak jawab.
Dia cuma cium punggung tangan Evelyn pelan.
---
Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:
_“Hari ini gue ngerti,
jadi orang tua itu bukan soal nggak tidur.
Tapi soal rela nggak tidur demi orang yang lo cintai.”_
Dia tutup buku.
Matiin lampu.
Tidur di pelukan Matthias.
Di luar, dunia masih jalan.
Tapi di dalam kamar itu, mereka udah punya rumah.
---
*Bersambung –