NovelToon NovelToon
Saat Takdir Menautkan Hati

Saat Takdir Menautkan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Atap, Dua Dunia

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Secara hukum negara dan agama, Vira Calista adalah Nyonya Muda Ibrahim, istri sah dari Farzhan Ibrahim. Nama mereka tertera serasi di buku nikah, status di media sosial pun sudah berubah, dan semua orang di luar sana menganggap mereka pasangan suami istri yang harmonis dan bahagia.

Namun, kenyataan di balik dinding tebal rumah megah itu? Sama sekali berbeda.

Rumah itu besar, luas, dan memiliki banyak ruangan. Tapi bagi Vira, rumah ini terasa seperti sebuah perbatasan yang sangat tegas. Ada garis tak kasat mata yang memisahkan hidupnya dan hidup Farzhan. Mereka benar-benar hidup dalam satu atap, tapi dua dunia yang berbeda.

Dunia Farzhan adalah dunia yang rapi, dingin, teratur, dan penuh kemewahan. Dunianya adalah ruang kerja yang sunyi, kamar tidur yang selalu terkunci rapat, dan jadwal yang berjalan presisi seperti jarum jam. Pria itu bangun pukul lima pagi, olahraga, mandi, sarapan dengan menu yang sudah ditentukan, lalu pergi bekerja dengan penampilan yang sempurna tanpa satu helai rambut pun yang berantakan.

Dunia Vira? Adalah dunia dapur, dunia sabun dan pel, dunia yang penuh dengan ketakutan salah langkah. Di rumah ini, status "istri" rasanya hanya sebatas gelar saja. Perlakuan yang ia terima tidak jauh berbeda saat ia masih memegang gelar 'pembantu' dulu. Bahkan mungkin lebih berat, karena sekarang ia diawasi 24 jam non-stop.

 

Pagi itu, seperti biasa.

Di ruang makan yang luas itu, Farzhan sudah duduk tegak di ujung meja. Di hadapannya tersaji sarapan lengkap yang sudah disiapkan Vira dengan susah payah sejak subuh. Nasi goreng spesial, telur mata sapi bentuk sempurna, dan kopi hitam panas dengan takaran yang pas.

Vira berdiri di samping meja, tangan saling bertaut di depan perut, posturnya membungkuk sedikit seperti pelayan yang sedang menunggu perintah.

"Silakan dimakan, Tuan! Eh, maksudnya Zhan," ucap Vira pelan. Ia masih bingung harus memanggil apa. Memanggil 'Mas' terasa terlalu mesra, memanggil 'Zhan' biasa saja takut dianggap tidak sopan, dan memanggil 'Pak' terasa terlalu tua.

Farzhan tidak menjawab. Ia mengambil sendok dan garpu, mulai menyantap makanannya dengan tenang dan anggun. Wajahnya datar, tidak ada senyum, tidak ada pujian.

Vira hanya berdiri di sana menunggu. Menunggu dinilai. Menunggu ada yang salah dengan rasanya atau tidak.

"Garamnya ini kurang sedikit, tolong di perhatikan lagi." kata Farzhan tiba-tiba tanpa menatap Vira.

Jantung Vira mencelos. "Oh... maaf. Besok aku tambahin ya."

"Dan nasinya ini agak lembek. Aku suka yang agak keras." tambah Farzhan lagi, lalu menyesap kopinya. "Kopi nya... Boleh."

Hanya satu kata 'boleh' itu sudah seperti hadiah juara bagi Vira. Ia menghela napas lega. "Baik, terima kasih penilaiannya. Aku catat ya."

Farzhan selesai makan. Ia meletakkan sendok garpu dengan rapi, menyusunnya sejajar sempurna di atas piring. Lalu ia berdiri, merapikan jas kerjanya.

"Aku berangkat kerja. Ingat aturan, kalau aku pulang nanti, semua harus tetap rapi!" titah Farzhan singkat sambil berjalan melewati Vira.

"Iya, hati-hati..." jawab Vira cepat.

Begitu pintu utama tertutup dan suara mobil Farzhan menghilang, barulah Vira bisa bernapas lega. Bahunya yang semula tegang langsung turun lemas.

"Fiuh! Akhirnya aku bisa bernafas dengan tenang.." gumamnya.

Tapi tunggu dulu, tugasnya belum selesai. Ia harus membereskan piring kotor itu, mencucinya sampai kinclong, mengelap meja makan sampai tidak ada noda sedikitpun, lalu menyapu dan mengepel seluruh ruangan. Itu rutinitasnya setiap hari.

Rutininas normal, siang harinya saat Farzhan di kantor sibuk memimpin rapat, menanda tangani dokumen penting, dan dikelilingi staf yang hormat, Vira di rumah sibuk mengangkat ember air, menyetrika tumpukan baju, dan berburu debu di sudut-sudut karpet.

Mereka hidup di dunia yang sama-sama keras, tapi dengan cara yang berbeda. Yang satu watak keras, yang satu jadi bahan kekerasan.

 

Waktu bergulir cepat, pekerjaan kantor selesai saat matahari sudah tergantikan langit gelap.

Farzhan pulang dengan Wajahnya yang tampak lelah namun tetap terlihat gagah. Vira menyambutnya di pintu, mengambil tas kerja dan jasnya dengan sopan.

"Mau mandi dulu? Aku sudah siapkan air hangat," tawar Vira.

"Iya," jawab Farzhan singkat, lalu berjalan menuju kamarnya. Kamar yang selalu tertutup rapat. Kamar yang bagi Vira adalah wilayah terlarang mutlak. Zona merah yang tidak boleh diinjak.

Saat Farzhan sedang mandi dan berganti baju santai, Vira sudah menyiapkan makan malam. Mereka makan bersama, tapi suasananya kaku sekali. Bicara seperlunya. Hanya soal makanan, soal kebersihan rumah, atau soal kabar orang tua. Tidak ada obrolan santai, tidak ada cerita yang seru, tidak ada tawa sama sekali.

Mereka seperti dua orang asing yang kebetulan dibayar untuk tinggal di rumah yang sama.

Selesai makan malam, Farzhan akan pergi ke ruang kerjanya atau kembali ke kamarnya. Pintu ditutup, dan terkunci dari dalam. Sementara itu Vira kembali ke dapur untuk membereskan sisa makan malam mereka tadi, bila sudah beres, ia kemudian kembali ke kamarnya sendiri. Kamar tamu yang kecil dibandingkan kamar utama Farzhan.

Mereka memang tidur di rumah yang sama, tapi di kamar yang berbeda. Berpisah. Seolah-olah Farzhan masih bujangan, dan Vira hanyalah pengurus rumah yang menginap.

Suatu malam, Vira tidak sengaja bertemu Farzhan di lorong saat mau ambil air minum. Farzhan berjalan dari arah ruang kerja menuju kamarnya. Wajahnya tampak serius, mungkin sedang memikirkan pekerjaan.

Saat berpapasan, jarak mereka hanya beberapa langkah. Vira tersenyum canggung, "Mau tidur Zhan?"

Farzhan hanya mengangguk dingin. "Hmm. Sana tidur. Besok harus bangun pagi!"

"Iya..."

Itu saja. Tidak ada obrolan panjang. Tidak ada tanya jawab "kamu ngapain aja tadi?". Farzhan masuk ke kamarnya, pintu tertutup, dan klik... bunyi kunci diputar.

Vira berdiri mematung di lorong yang gelap itu. Hanya diterangi lampu tidur yang remang.

Ia menatap pintu kamar Farzhan dengan perasaan yang aneh. Hampa.

"Memang benar-benar aneh, ya..." bisik Vira pelan pada dirinya sendiri. "Kita ini memang satu atap. Tapi duniamu dan duniaku beda jauh. Dia di atas, aku di bawah. Dia bos, aku babu. Status suami istri itu cuma buat dilihat orang lain doang."

Air mata Vira mulai menggenang lagi. Rasa kesepian itu datang menyergap. Ia punya suami, tapi rasanya lebih sendirian daripada saat ia tinggal sendirian di apartemen kecil dulu. Setidaknya dulu ia bebas melakukan apa saja. Sekarang? Ia ada di sini tidak sendirian tapi rasanya kosong.

"Padahal kan kita sudah tanda tangan surat nikah..." isaknya pelan. "Kenapa rasanya aku cuma jadi bayangan aja ya di hidup kamu..."

Vira mengusap air matanya kasar. Ia mencoba tegar.

"Sudahlah Vira... bersyukur aja. Setidaknya kamu aman, tidak masuk penjara, orang tua kamu senang. Anggap aja ini kerja shift 24 jam. Anggap aja kamu numpang hidup di istana orang kaya. Jangan berharap lebih..."

Dengan langkah gontai, Vira kembali ke kamarnya sendiri. Menutup pintu, memisahkan dirinya dari dunia Farzhan.

Di dalam kamar yang nyaman tapi dingin itu, Vira menarik selimut menutupi tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar.

Satu atap, dua dunia.

Satu nama keluarga, tapi hati yang berjauhan.

Suami istri di atas kertas, tapi bos dan bawahan di dunia nyata.

Begitulah hidup mereka berjalan. Hari demi hari. Tenang, rapi, tapi hampa. Dan Vira tidak tahu, sampai kapan keadaan akan terus seperti ini.

1
Pich
kenapa ga di cium sekalian haeh🥱
Rocean: masih kicik🤣
total 1 replies
Sheer
asikkk ada yg cemburu🤣🤭
Sheer
boleh juga vira . diam diam 🤭
Rocean: diam diam menghanyutkan ya
total 1 replies
Sheer
demen bnget kalo cerita yang sangai gini.
Rosella
lucu bangets yaampun🤣
Pich
ihh gemas deh sama mereka🤭
Pich
dia pikir mau ngapain🤣
Rocean: 🤣🤣🤣🤣
entahlah
total 1 replies
Seai
🥴
Rosella
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!