Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NONIK PANGGIL PAPA DI DEPAN DOKTER
Bau disinfektan dan suara bip-bip monitor ICU rumah sakit kota S membuat Santi mual. Setelah beberapa jam di klinik PT Gumilang, dia memaksa Dody mengantarnya menjenguk Nonik. Duduk di kursi rumah sakit, mata sembab, daster lusuhnya masih yang sama pada waktu lari menggendong Nonik ke UGD malam itu.
Di ranjang, Nonik berbaring. Selang oksigen melingkar di wajah pucatnya. Dada kecilnya masih naik-turun ngos-ngosan, tetapi tidak se-nguk nguk seperti beberapa hari yang lalu.
Pintu ICU terbuka pelan. Dody masuk. Jasnya kusut, matanya merah. Dia setelah mengantarkan Santi ke rumah sakit K langsung kembali ke perusahaan karena ada rapat RUPS. Kemudian karena dia mengkhawatirkan Santi. Langsung ke rumah sakit kembali menyusul Santi.
"Gimana?"
Bisik Dody, takut membangunkan Nonik. Dia melihat Nonik yang teerbaring lemah di tempat tidur pasien.
Santi menggeleng pelan, air mata menetes lagi.
"Belum sadar dari tadi pagi, pak..."
Dokter Bram, dokter spesialis anak yang menangani Nonik dari UGD, menghampiri mereka. Mukanya lelah tetapi tenang.
“Nyonya Santi, Pak Dody, bisa ikut aku sebentar?"
Mereka minggir ke sudut ICU, menjauh dari ranjang Nonik.
Dokter Bram menarik nafas. Dokter itu mukanya murung kelihatannya ada kabar tidak menyenangkan yang mau disampaikan dokter itu.
"Aku masih inget jelas, nyonya, dua hari lalu, jam 1 pagi, nyonya lari nerobos UGD gendong Nonik. Baju nyonya lusuh sekali. Nonik di gendongan Ibu udah biru, nguk-nguk, mulut berbusa. Ibu teriak ke suster saya: 'Tolong dok, anak saya asma dan jantung bawaan, dia kejang!'"
Santi menutup mulut. Membayangkan lagi malam itu. Dody terdiam seribu bahasa, menelan ludah. Baru tahu sedetil itu perjuangan Santi. Tidak menyangka kalau OB di perusahaannya demikian keras dalam berjuang demi hidup anaknya. Hati Dody terasa sakit. Dia teringat masa kecilnya yang mendapatkan perlakuan kurang menyenangkan dari tantenya Wati.
Dokter Bram melanjutkan.
"Kami langsung masukin ICU karena kondisinya kritis. Beruntung Pak Dody dateng 5 menit kemudian dan nutup deposit 250jt. Kalau telat dikit... saya nggak berani bayangin, Bu."
Dody mngepalkan tangan di saku jasnya. Santi menunduk.
*"Nah, setelah 48 jam observasi di ICU, hasil lengkapnya keluar,"
Kata Dokter Bram sambil membuka file.
"Nonik ini komplikasinya ganda, Pak, nyonya. Yang pertama, bener kata Ibu, Jantung Bawaannya kumat. Klep jantung bocor dari lahir. Warisan dari almarhum ayahnya. Itu yang bikin oksigen di darahnya selalu tekor. Makanya dari bayi nafasnya nguk-nguk."*
"Yang kedua,"
Dokter Bram menunjukkan hasil rontgen,
"Dia juga kena Asma Kronis berat. lama tinggal di kosan pengap Gang Mawar dan polusi kota S bikin paru-parunya rusak. Jadi pas jantungnya kumat malam itu, asmanya langsung nyamber juga. Double strike. Makanya dia kejang sampe mulut berbusa. Saturasi oksigennya tinggal 80. Itu namanya Hipoksia Berat."
Santi lamas, memegang tembok ICU. Dia sebenarnya sudah tahu tetapi dengar hasil dari pemeriksaan anaknya dia tetap saja lemas. Apalagi menyebut lengkap detail penyakitnya. Dia hampir tidak sanggup berdiri. Untunglah ada pegangan kamar tidur yang bisa dia pegangi sehingga tidak terjatuh.
"Terus... terus gimana dok? Anak saya bisa sembuh?"
Dokter Bram menghela nafas.
"Harus operasi klep jantung, Bu. Secepatnya. Nggak bisa ditunda. Dan nggak bisa di sini. Rekomendasi saya ke rumah sakit H di negara M. Alatnya lengkap, dokternya spesialis PJB anak. Terus... Nonik nggak boleh balik lagi ke kota S, Bu. Udara di sini kotor. Paru-parunya udah nggak kuat. Sekali kambuh lagi, saya nggak jamin dia selamet."*
Hening. Hanya ada suara bip monitor Nonik.
Tiba-tiba...
"...Pa...pa..."
Suara kecil. Serak. Seperti bisikan.
Dody sama Santi langsung menoleh ke kamar tidur.
Nonik, matanya setengah kebuka. Tangan kecilnya yang diinfus bergerak-gerak pelan di udara... mau meraih sesuatu.
"...Papa... Nonik... takut... gelap..."
Dody kaku. Santi langsung menangis sesenggukan menutup mulut. Dia tahu Nonik amat merindukan ayahnya yang sudah meninggal karena kecelakaan di perusahaan Gumilang di gudang.
Itu pertama kalinya. Selama 5 tahun Nonik hidup, dia hanya tahu mengucap "Papa.” Dia selalu bermain dengan ayahnya yang selalu perhatian kepadanya.. sehabis dari kerja sebagai kepala gudang C, dia mengajak bermain anaknya. Biasanya Nonik paling senang diajak main pesawat-pesawatan.
Sekarang, "Papa" itu ditujukan ke Dody. Laki-laki yang 48 jam lalu maksa ibunya tanda tangan kontrak nikah 1 tahun di UGD.
Dody berjalan mendekat, pelan-pelan seperti takut Nonik hilang. Dia menggenggam jemari Nonik yang dingin.
"Papa di sini, nak. Papa nggak bakal ke mana-mana. Nggak ada yang gelap. Ada Papa."
Nonik tersenyum tipis, terus memejamkan mata lagi. Tetapi jemarinya tetap menggenggam jemari Dody kencang.
TIBA-TIBA HP DI SAKU JAS DODY BUNYI. VIDEO CALL MASUK
Di layer, Wandy
Wajah Dody yang tadinya melunak, langsung beku lagi. Dingin.
Dia mengangkat.
"Ada apa, Wandy?"
Muncul wajah Wandy di layar. Cantik, rambut di-blow, di belakangnya jendela apartemen mewah kota S. Malam.
Wandy tersenyum manis.
"Sayang, khok aku denger dari Tante Wati kamu nikah siri sama OB? Terus anak OB-nya masuk ICU? Khok nggak bilang-bilang? Anaknya gimana? Udah nggak kejang-kejang nguk-nguk lagi kan?"
Dody mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia menahan kemarahannya. Ini rumah sakit. Banyak orang, pasien-pasien gawat darurat sedang dirawat. Dia tidak bisa seenaknya marah-marah di ruang ICU.
JLEB. JLEB. JLEB.
Setiap kata Wandy tajam dada terasa sakit. Santi yang berdiri di samping Dody memucat. Jadi Tante Wati sudah mengadu. Wandy tahu semua. Detil sekali. Termasuk "nguk-nguk".
Dody melirik Santi sekilas, lalu menatap layar tajam.
"Urusanku. Nggak usah kamu campurin keluargaku, Wandy."
Wandy tertawa kecil, memainkan rambutnya.
"Keluarga? Sejak kapan OB kosan jadi keluarga CEO, Sayang? Ya udah. Aku cuma kangen. Cepet selesein main rumah-rumahan kamu ya. Opa udah nanyain kapan kita resepsi."
_TUT._
Wandy mematikan duluan.
Dody pelan menurunkan HP. Melempar ke kursi. Rahangnya mengeras. Wandy. Tunangannya itu sudah tahu tentang kontrak nikahnya dengan Santi. Tantenya Wati yang memberi tahu. Merger 15 trilyun amblas.
Dokter Bram batuk kecil, memecah suasana.
"Anu... Pak Dody, soal biaya yang aku bilang tadi... Operasi klep jantung di kota P di negara M rumah sakit H, plus terapi uap 6 bulan pasca operasi, estimasinya 200 juta, Pak. Di luar biaya hidup nyonya sama Nonik di sana."
200 juta. Jumlah yang tidak sedikit. Dody diam. 250jutanya sudah habis buat deposit ICU dua hari lalu. Rekening pribadinya diblokir Opa Darwis karena "nikah tidak direstui". Kalau tidak diblokir, sudah pasti dia dengan mudah dapat segera mengatakan saat itu juga Nonik langsung dibawa ke P. Tetapi itu sudah tidak mungkin. Dia sudah tidak mempunyai apa-apa. Segala kekayaannya sudah lenyap ditelan bumi. Dia sudah menjadi gelandangan. Tidak tahu apa dapat menjalankan hidup ke depannya tanpa kekayaan dari keluarganya. Dari Opa Darwis, yang menganggap dia pewaris satu-satunya perusahaan PT Gumilang Perkasa.
Santi meremas ujung dasternya. Dia tahu Dody sudah tidak punya apa-apa lagi.
Di kamar tidur, Nonik tidur, tetapi tangannya masih menggenggam satu jari Dody erat. Bibirnya komat-kamit pelan.
“Papa.”
rat. Bibirnya komat-kamit pelan: "Papa..."