NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Menemani istri lahiran

Malam itu, hujan turun deras sekali membasahi kota, seolah langit ikut merasakan ketegangan yang melanda rumah mewah keluarga Arganta. Sudah lewat tengah malam, dan Grey terbangun karena rasa nyeri yang datang bertubi-tubi, jauh lebih kuat dan teratur dibanding kontraksi palsu yang sering ia rasakan minggu-minggu sebelumnya. Perutnya yang luar biasa besar—karena mengandung tiga bayi sekaligus—terasa kaku dan berat sekali, seolah ada beban berat yang terus mendesak ke bawah.

"Davian… Davian… bangun…" panggilnya pelan sambil meremas seprai, wajahnya menegang menahan rasa sakit yang menjalar dari pinggang hingga perut.

Davian yang sejak hamil besar Grey memilih tidur dengan posisi setengah sadar demi mengawasi istrinya, langsung terbangun seketika. Dalam hitungan detik ia sudah duduk tegak, matanya melebar melihat wajah Grey yang berkeringat dingin dan perut besar istrinya yang tampak menegang keras.

"Sayang? Ada apa? Sakit ya? Sebentar, aku panggil dokter sekarang!" Davian langsung melompat turun dari kasur, wajahnya yang biasanya tenang dan berwibawa kini berubah menjadi pucat pasi, tangannya gemetar hebat saat meraih ponsel di meja samping tempat tidur.

Grey menggeleng pelan sambil menghembuskan napas panjang, berusaha mengatur ritme napas seperti yang diajarkan di kelas persiapan kelahiran. "Duduk dulu… jangan lari-lari, Davian… Ini rasanya… waktunya sepertinya sudah tiba. Anak-anakmu ini nggak sabar mau keluar, sepertinya."

"APA? SEKARANG?!" Davian berteriak kaget, suaranya melengking tinggi—jauh dari gaya bicaranya yang berat dan rendah saat memberi perintah pada anak buahnya. Ia berputar-putar di pinggir kasur seperti orang bingung, tangannya mengacak-acak rambutnya sendiri. "Tapi… tapi dokter bilang masih ada sisa waktu seminggu lagi! Dan… dan kan kembar tiga, Sayang! Apa nggak harus operasi? Kok bisa normal? Aku sudah siapkan ruang operasi paling lengkap lho! Kenapa mendadak banget sih kalian, Nak?!" Ia beralih berbicara pada perut Grey dengan nada protes bercampur panik, membuat Grey mau tertawa tapi tertahan oleh rasa nyeri yang kembali datang.

"Sudah dibilang… aku mau lahiran normal. Dokter bilang posisi bagus, ukuran panggulku cukup, dan kalian bertiga kooperatif posisinya," jawab Grey di sela-sela tarikan napas panjang. "Sekarang bantu aku duduk tegak sedikit, panggil tim medis yang sudah siaga di ruang sebelah, dan… tolong jangan panik dulu. Kamu ini Davian Arganata lho, ditakuti satu negeri, kok lihat aku mau lahiran saja mukanya sudah kayak mau pingsan?"

"Sakitnya kamu yang rasain, aku yang deg-degan setengah mati!" sahut Davian cepat, namun tangannya bergerak sigap membantu Grey, mengganjal punggung istrinya dengan bantal-bantal empuk. Ia menekan tombol panggil darurat di dinding, dan dalam hitungan detik, ruangan itu sudah dipenuhi dokter kandungan, dua bidan berpengalaman, serta perawat—semuanya sudah bersiaga penuh karena memang Davian memerintahkan mereka tinggal di lokasi sejak dua minggu lalu.

Suasana yang tadinya agak kacau karena kepanikan Davian, kini berubah menjadi sangat teratur dan profesional. Namun, ketegangan mulai terasa nyata. Melahirkan kembar tiga secara normal adalah hal yang sangat jarang dan berisiko tinggi. Davian yang berdiri di sisi tempat tidur, memegang tangan Grey dengan erat, terlihat sangat tidak tenang. Ia menatap dokter dengan tatapan tajam khas penguasanya, tapi suaranya bergetar saat bicara.

"Dok… tolong… pastikan mereka aman ya? Kalau ada apa-apa… tolong selamatkan istriku dulu. Dia yang paling utama," ucap Davian serius, matanya berkaca-kaca.

Dokter tersenyum kecil sambil memeriksa denyut nadi dan posisi bayi. "Tenang saja, Tuan Davian. Ibu Grey hebat sekali. Dia kuat, dan bayi-bayinya juga sehat dan posisinya sangat bagus. Kita akan lakukan ini pelan-pelan dan hati-hati. Tuan tetap di sini ya, dukungan Tuan sangat penting buat Ibu Grey."

Dan di situlah dimulai kisah lucu sekaligus menegangkan itu.

Setelah Grey diposisikan dengan benar, kaki diletakkan di penyangga, dan persiapan lengkap dilakukan, rasa sakit itu makin menjadi-jadi. Grey menggenggam tangan Davian begitu kuat hingga pria yang biasa memegang senjata atau menandatangani dokumen bernilai miliaran itu sampai meringis kesakitan.

"Aduh… aduh… pelan-pelan, Sayang… itu tulang tanganku, lho… nanti patah kalau digenggam sekuat itu," keluh Davian, wajahnya berkerut menahan sakit, tapi ia sama sekali tidak berniat melepaskan tangannya. Ia menatap wajah istrinya yang sudah basah kuyup oleh keringat, rambutnya berantakan menempel di dahi, dan rasa khawatirnya makin memuncak. "Dok! Kenapa mukanya keringatan begini? Sakit sekali ya? Ada obat biusnya nggak? Apa perlu aku suruh hentikan sebentar?!"

Dokter dan bidan di sebelahnya hanya tertawa kecil sambil bekerja. Grey sendiri yang sedang menahan kontraksi, sempat menyahut dengan napas terengah, "Jangan dengerin dia… dia cuma panik… Davian, napas… ajari aku napas, jangan malah teriak-teriak nggak jelas."

"Iya… iya… napas… gimana caranya lagi? Tarik… buang? Tarik… buang? Begini kan?!" Davian ikut-ikutan menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan keras, sampai-sampai lehernya jadi tegang sendiri, ikut mengerahkan tenaga padahal dia yang melahirkan istrinya. "Ya ampun… berat sekali rasanya lihat kamu begini… kenapa aku nggak bisa gantiin saja sih? Kalau bisa tukeran, udah aku yang kerjain dari kemarin-kemarin. Kamu diam saja di situ, aku yang ngelahirin bertiga sekaligus, beres deh urusannya."

Grey yang sedang menahan rasa sakit hebat sampai matanya terpejam kuat, sempat tersenyum tipis mendengar ocehan suaminya. "Kamu… kalau ngomong… selalu saja ada ada saja ya…"

Ketika pembukaan sudah lengkap, saatnya mengerahkan tenaga. Di sinilah momen paling lucu sekaligus menegangkan terjadi. Davian, Sang Penguasa Bayangan yang namanya membuat orang gemetar satu benua, kini berubah menjadi pendukung nomor satu yang paling heboh dan paling berisik di ruangan itu.

"Ayo Sayang… ayo semangat! Keluarkan tenaganya! Ingat, Nak… musuhnya ada di depan, kalahkan saja!" seru Davian bersemangat, matanya melotot sambil menatap perut Grey yang makin menonjol ke depan. Ia berteriak semangat lebih keras dari dokternya sendiri. "Buang napasnya… jangan ditahan! Itu dia… itu dia… Wah hebat sekali istriku! Hebat! Ayah bangga sekali! Kalau sudah keluar nanti, Ayah belikan apapun yang kamu mau! Pulau pribadi mau? Mau beli gedung pencakar langit? Bilang saja!"

Fokus… Davian… jangan nawarin gedung…!" tegur Grey terengah-engah, tangannya mencengkeram baju depan Davian sampai kusut.

"Maaf… maaf… ayo semangat lagi! Sekali lagi! Kerahkan tenaganya! Kalau ada apa-apa, bilang saja nama Ayah… pasti jalan!" Davian terus berkoar-koar, wajahnya merah padam karena ikut tegang, keringat dingin juga mulai membanjiri wajahnya sendiri. Ia bahkan sampai jongkok sedikit di samping tempat tidur seolah dia juga ikut mendorong dari samping.

Bersambung ......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!