Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.Hutang Dibayar, Dendam Terpendam, dan Hukuman yang Menanti
Belum sempat suara itu selesai bergema di udara, sesosok tubuh kekar dan tegap perlahan melangkah keluar dari bayangan gelap di pinggir lorong. Sosok itu bergerak tenang namun memancarkan tekanan batin yang begitu berat hingga udara di sekitarnya seolah menjadi padat.
Ia berjalan melewati Xiao Xuan, meraih kembali tombak panjang berwarna hijau zamrud yang masih menancap kuat di tanah, lalu memutar badannya lebar-lebar, berdiri tepat di depan pemuda itu seolah menjadi perisai hidup yang tak tertembus.
"Paman! Akhirnya Paman datang juga!" seru Xue Ling yang masih bersembunyi di balik punggung Xiao Xuan. Wajahnya yang pucat seketika berubah cerah, dipenuhi rasa lega dan gembira yang tak bisa disembunyikan.
Pria kekar itu, Li Feng, mengangguk pelan ke arah keponakannya, tatapannya lembut sesaat sebelum kembali berubah tajam saat menatap musuh di depan.
Ia lalu menepuk bahu Xiao Xuan dengan telapak tangan besarnya yang berat namun hangat. Di dalam tepukan itu terselip pesan diam-diam: Bagus, kau berani, tapi... kau terlalu nekat.
"Dasar bocah pemberani," gumam Li Feng dengan suara rendah yang terdengar mengomel namun sebenarnya penuh kekaguman. "Dulu di hutan kau sudah berani-beraninya memprovokasi Tetua Roh padahal dirimu masih Master Roh.
Sekarang kau malah mengajak berkelahi Leluhur Roh? Apa kau ini magnet masalah? Di mana ada bahaya, di situ pasti ada kau."
Ia berhenti sejenak, menatap Hong Ya dan anak buahnya dengan pandangan merendahkan, persis seperti singa menatap sekawanan serigala kecil.
"Tapi tak apa. Mereka cuma sampah biasa. Masalah sebesar ini... Paman bereskan untukmu."
Begitu kata-kata itu terucap, aura di sekeliling Li Feng meledak keluar. Di bawah kakinya, lima cincin roh berputar perlahan namun memancarkan cahaya yang menyilaukan mata:
dua berwarna kuning keemasan, dua berwarna ungu pekat, dan satu lagi berwarna hitam legam yang dalam.
Raja Roh tingkat lima puluh!
Melihat sosok gagah perkasa itu, melihat lima cincin roh yang berputar anggun namun mematikan, dan mendengar nada bicaranya yang begitu meremehkan namun penuh keyakinan mutlak, darah Hong Xi seolah membeku seketika.
Sialan... ternyata dia Raja Roh! jerit hatinya yang mulai panik tak terkendali. Bukan main-main lagi, ini ahli besar yang atribut dan kekuatannya jauh di atasku.
Dua orang bodoh di bawahanku itu bilang cuma ada anak kecil dan gadis biasa! Mereka bahkan tidak sadar ada pelindung sekuat ini bersembunyi di belakang! Aku salah langkah besar kali ini... aku menendang batu karang yang sangat besar dan keras!
Keringat dingin membasahi seluruh punggung Hong Xi. Ia tahu persis perbedaan antara Leluhur Roh dan Raja Roh itu adalah jurang maut yang tak terjangkau. Melawan sama saja dengan mencari kematian.
Tanpa ragu sedetik pun, Hong Xi berteriak parau ke arah anak buahnya.
"Semua mundur! Bubar lari!"
Bersamaan dengan teriakan itu, tubuh Hong Xi sudah melesat bagai kilat ke arah lorong gelap di sebelah kiri, meninggalkan segala gengsi dan harga dirinya.
Dua Tetua Roh dan beberapa Ahli Roh yang tersisa pun tak kalah cepat, mereka berhamburan ke segala arah persis seperti tikus yang melihat kucing besar.
Gerakan mereka begitu terlatih, begitu luwes, dan begitu cepat—jelaslah bahwa kelompok ini sudah sangat berpengalaman dalam urusan melarikan diri.
Melihat kelincahan yang tak terduga itu, Li Feng pun tertegun sejenak. Ia segera mengangkat tombak hijaunya tinggi-tinggi, kekuatan lima cincin roh mengalir deras ke ujung senjata itu.
"Pergi ke mana?!"
"Keahlian Roh Kelima Hantaman Penghancur Langit!"
Dengan satu lemparan dahsyat, tombak panjang itu melesat kembali ke udara, membelah malam dengan suara berdesing yang menakutkan, mengejar tepat ke arah punggung Hong Xi yang sedang lari terbirit-birit.
Merasakan angin maut yang mendekat dari belakang, nyali Hong Xi nyaris copot. Ia memaksakan seluruh tenaganya, memutar kekuatan rohnya sekuat tenaga.
"Keahlian Roh Keempat Serangan Langit Taring Ular!"
"Keahlian Roh Ketiga Perisai Sisik Ular!"
Di belakang tubuhnya, bayangan ular raksasa muncul, membuka mulutnya lebar-lebar mencoba menggigit dan menangkis serangan itu. Di saat yang sama, perisai keras berwarna abu-abu muncul menutupi seluruh punggung dan bahunya, lapisan pertahanan terkuat yang ia miliki.
DUKK!!
Serangan maut Hong Xi hancur lebur dalam sekejap saat bertemu tombak hijau itu, persis seperti apa yang terjadi pada Xiao Xuan tadi. Tanpa melambat sedikit pun, tombak itu terus melaju dan menghantam perisai pertahanan terakhirnya.
KRAK!!
Suara retakan tulang dan besi yang hancur terdengar bersamaan. Perisai itu tak sanggup menahan kekuatan Raja Roh.
Tombak itu menembus tembus, dan dalam sekejap yang mengerikan, lengan kiri Hong Xi terputus bersih dari bahunya, terlempar ke tanah berlumuran darah merah yang segar.
"AAAAHHH!!!"
Jeritan kesakitan Hong Xi memecah keheningan malam. Ia melirik sekilas ke arah lengannya yang kini tergeletak tak berdaya di tanah, namun ia tak berani berhenti, tak berani kembali.
Mengertakkan gigi hingga berbunyi keras menahan rasa sakit yang luar biasa, ia terus berlari, menenggelamkan dirinya ke dalam kegelapan lorong-lorong sempit kota hingga bayangannya hilang sepenuhnya.
Tak lama kemudian, hanya tersisa genangan darah dan potongan lengan yang menjadi saksi bisu pertempuran singkat itu. Anak buahnya yang lain juga sudah menghilang entah ke mana.
Li Feng menghela napas panjang, menggelengkan kepala melihat keadaan itu.
"Dasar kelompok sampah. Aku tak menyangka mereka lari secepat itu," gumamnya sambil menarik kembali tombaknya yang terbang otomatis kembali ke tangannya. "Tapi ya sudahlah, cukup sudah. Yang penting kalian selamat."
Ia menoleh ke arah Xiao Xuan, sorot matanya berubah menjadi penilaian yang dalam.
"Nak, terima kasih sudah menjaga keponakanku dua kali ini."
Xiao Xuan segera melangkah maju, menangkupkan kedua tangannya dengan hormat dan rasa syukur yang tulus. Tubuhnya masih sedikit gemetar karena sisa ketegangan, namun suaranya tegas.
"Terima kasih, Guru. Kalau tidak ada Anda, kami bertiga pasti sudah binasa malam ini. Hutang nyawa ini... saya ingat baik-baik."
Li Feng tersenyum tipis, lalu menepis ucapan itu dengan santai.
"Tak perlu berlebihan. Kau selamatkan Ling'er saat disergap di hutan, dan kau bertarung mati-matian menjaganya di sini. Itu dua kali kebaikan besar.
Aku datang menolongmu sekali, dan juga... aku sudah membereskan masalah laporan soal kematian Tetua Roh di hutan itu. Sekarang kita impas. Hutang budi lunas sudah."
Mendengar itu, Xiao Xuan seketika tersadar.
Jadi, alasan Xue Ling dan seniornya begitu santai saat menceritakan soal pembunuhan itu... ternyata karena ada Li Feng di belakang layar yang menanggung risiko dan konsekuensinya.
Kalau dipikir-pikir... aku memang terlalu terburu-buru, batin Xiao Xuan merenung sambil mengerutkan kening. Saat itu aku hanya berpikir untuk menolong, tanpa mempertimbangkan risiko hukum dan aturan dunia ini.
Kalau tidak ada mereka, meskipun aku selamat dari musuh, aku pasti akan dicari oleh pihak berwenang karena membunuh Tetua Roh. Tsk... masih kurang dewasa caraku berpikir.
"Sudah, cukup istirahatkan otakmu," potong Li Feng saat melihat pemuda itu mulai merenung dalam-dalam. Ia berbalik menatap Xue Ling dengan ekspresi yang berubah menjadi keras dan tegas.
"Dan kau, Nona Muda. Kau sudah cukup bersenang-senang di luar sana, hampir saja mati pula. Penilaianmu gagal total, kau tak selesaikan tugasmu, malah nyaris jadi makanan binatang buas atau sasaran pembunuhan. Sekarang waktunya pulang."
Mendengar itu, senyum cerah di wajah Xue Ling seketika luntur, digantikan dengan raut pasrah dan cemas. Ia tahu betul apa arti kalimat itu.
Pulang berarti menghadapi kemarahan Bibinya, omelan panjang Ibu Tua, dan hukuman berat dari ayahnya...
"Ah... sial... tamatlah riwayatku..." gerutunya pelan.
Karena malam sudah semakin larut dan kondisi mereka semua masih berantakan Lang Xi masih kesakitan, Xiao Xuan kelelahan, dan Xue Ling ketakutan mereka tidak langsung berangkat pulang.
Setelah membereskan diri sedikit, mereka menyewa penginapan baru yang lebih aman dan tertutup, lalu beristirahat sepenuhnya. Malam itu penuh dengan keheningan, namun di dalam hati masing-masing, perasaan dan pemikiran berputar kencang.
Sementara itu, di sisi lain kota, jauh di dalam sebuah gudang tua yang dijadikan markas sementara kelompok tentara bayaran Gigi Ular, suasana jauh dari damai.
Hong Xi terbaring di atas kasur jerami yang kotor. Lengan kirinya sudah putus hingga bahu, dan seorang tabib serta Ahli Roh penyembuh sedang sibuk membalut lukanya, menghentikan pendarahan, dan menanamkan energi penyembuh ke dalam tubuhnya.
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin terus mengalir, namun rasa sakit fisik itu belum seberapa dibandingkan rasa sakit hati dan amarah yang membakar dadanya.
Di depan tempat tidurnya, dua orang Ahli Roh yang dulu melarikan diri dari Xiao Xuan kini tergeletak di lantai, babak belur dan berdarah-darah. Mereka sedang dipukuli habis-habisan oleh tiga orang Tetua Roh sisa pasukan Hong Xi.
Pukulan demi pukulan mendarat tanpa ampun. Suara rintihan dan permohonan maaf terdengar pilu, namun semakin mereka menangis, semakin membara amarah Hong Xi.
"Pukul mereka! Pukul mereka sampai aku bilang berhenti!" Hong Xi meraung parau, matanya yang merah menatap kedua bawahannya itu seolah ingin memakan mereka hidup-hidup.
Dasar dua orang sampah tak berguna! Kalian bilang padaku itu cuma anak kecil jenius! Kalian bilang dia cuma beruntung! Kalian bilang dia membunuh Tetua Roh dengan serangan mendadak saja! Kalian bahkan tidak sadar ada pelindung sekuat Raja Roh di dekatnya?!"
Hong Xi mengerang kesakitan saat tabib menekan lukanya, tapi ia terus berteriak.
"Aku percaya omong kosong kalian! Aku percaya cerita bohong kalian! Dan lihat akibatnya! Tanganku hilang satu! Aku hampir mati! Dan yang paling parah...
aku sekarang bermusuhan dengan keluarga yang punya Raja Roh! Kau tahu apa artinya punya Raja Roh di keluarga? Itu artinya leluhur mereka kemungkinan besar adalah Suci Roh! Apa aku ini gila? Apa aku mau melawan Suci Roh hanya demi membunuh anak kecil yang kalian katakan 'mudah' itu?!"
"Kapten! Ampun! Kami benar-benar tidak tahu! Saat itu kami ketakutan setengah mati, kami lari saja! Kami tak melihat siapa-siapa di sana... kami cuma melihat dia yang mengerikan..." rintih salah satu dari mereka, mulutnya penuh darah.
"Berhenti memohon?! Terlambat!" Hong Xi membanting tinju ke kasurnya. "Hanya memukul kalian saja belum cukup melampiaskan amarahku!
Karena kebodohan kalian, masa depan kelompok ini hancur! Pukul terus! Pukul sampai mereka tak bisa bangun dari tempat tidur selama enam bulan! Biar mereka merasakan penderitaan yang kurasakan sekarang!"
Para Tetua Roh itu mengangguk patuh, menambah kekuatan pukulan mereka. Tangisan pilu itu terus terdengar hingga meredam perlahan.
Salah satu Tetua Roh yang berdiri di dekat kepala tempat tidur akhirnya memberanikan diri bertanya dengan suara rendah dan takut-takut.
"Kapten... lantas... apa rencana kita selanjutnya? Kita... kita benar-benar mundur saja? Kita tak akan membalas dendam atas luka ini?"
Hong Xi menatap langit-langit gudang yang berdebu, napasnya berat dan kasar. Amarahnya perlahan berubah menjadi kepahitan yang dingin.
"Membalas dendam?" Hong Xi tertawa sinis, tawa yang penuh kepahitan dan keputusasaan. "Mau bagaimana lagi?
Apa kau mau aku kembali ke sana, lalu mati di tangan Raja Roh itu? Kita baru saja kalah telak. Kita menghadapi kekuatan yang jauh di atas kita."
Ia menoleh menatap kegelapan di sudut ruangan, matanya berkilat penuh kebencian yang tertanam dalam.
"Awalnya aku pikir Xiao Xuan itu jenius yang luar biasa, seseorang yang hebat sendirian. Aku pikir aku bisa memanfaatkannya atau melenyapkannya sebelum dia tumbuh besar.
Tapi ternyata... semua kemenangan itu bukan semata-mata kekuatannya. Ada tangan besar yang menjaganya dari bayangan."
Hong Xi mengertakkan gigi hingga berbunyi keras.
"Serangan yang membunuh Tetua Roh di hutan itu... pasti ada campur tangan Raja Roh itu juga. Dua orang bodoh itu terlalu takut sampai tidak sadar.
Kalau tidak, mana mungkin seorang Master Roh membunuh Tetua Roh begitu mudah? Itu semua tipuan! Dan aku tertipu mentah-mentah!"
Ia menarik selimut menutupi tubuhnya yang gemetar karena sakit dan marah.
"Kita mundur. Kita tinggalkan kota ini secepat lukaku sembuh. Jangan pernah lagi berurusan dengan anak itu atau siapa pun yang bersamanya. Menjauh sejauh mungkin.
Kalau tidak... nyawa kita semua takkan cukup untuk menebus kesalahan."
Namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Hong Xi bersumpah diam-diam: Anak bernama Xiao Xuan... kau beruntung punya pelindung hebat. Tapi ingat saja...
di dunia ini, tidak selamanya ada orang yang akan menolongmu. Suatu hari nanti... kalau kau jatuh, aku akan ada di sana untuk menginjakmu.
Di tengah malam yang sepi itu, benih dendam yang baru saja tertanam itu perlahan tumbuh, menunggu waktu yang tepat untuk mekar kembali menjadi bahaya yang baru.