NovelToon NovelToon
TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

TERPAKSA MENJADI ISTRI KONTRAK ZAYN DEVANDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Menikah Karena Anak / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Rumit,Semakin Murka

Langkah Zayn terhenti tepat di depan pintu kamar,setelah tadi di hubungi pelayan ada keributan lagi di rumah padahal ayah dan dirinya ada meting penting di kantor,namun kegaduhan itu tidak bisa di abaikan begitu saja

Suara dari dalam

Tidak lagi sekadar gaduh.

Tapi

Kacau.

Ia tidak sendiri.

Di sampingnya, berdiri Tuan Misra Devandra.

Wajah pria itu tenang.

Namun matanya

Tajam.

Pintu terbuka.

Apa yang terlihat di dalam

Cukup untuk membuat rahang Zayn mengeras.

Aluna berdiri di tengah ruangan.

Rambutnya berantakan.

Sudut bibirnya mengalir darah.

Dan matanya

Tidak lagi sama seperti sebelumnya.

Di depannya

Selena.

Dengan tangan terangkat.

Siap

Menampar lagi.

“CUKUP.”

Suara itu menggema.

Dalam.

Penuh tekanan.

Namun bukan Zayn

Melainkan

Tuan Misra.

Tangan Selena terhenti di udara.

Ditahan.

Semua orang membeku.

Selena menoleh.

Matanya melebar sedikit.

“Ayah”

Namun pria itu tidak menjawab.

Genggamannya pada pergelangan tangan Selena tidak keras.

Namun cukup

Untuk menghentikan.

“Apakah ini yang kamu sebut menjaga martabat keluarga?”

Suaranya rendah.

Namun setiap katanya terasa seperti tekanan yang menghimpit.

Selena mencoba menarik tangannya.

Namun tidak bisa.

“Ayah” Zayn melangkah masuk.

Tatapannya langsung mencari

Aluna.

Dan saat melihat kondisinya

Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.

“Lepaskan saya!” Selena akhirnya berkata tajam.

“Dia yang memulai genderang perang pada saya!”

“Diam.”

Satu kata.

Dari Misra.

Selena benar-benar terdiam.

Untuk pertama kalinya

Amarahnya seperti terpotong.

Zayn melangkah mendekat.

Langsung ke arah Aluna.

“Aluna…”

Suaranya lebih rendah sekarang.

Gadis itu tidak menjawab.

Namun matanya

Sedikit bergetar saat melihatnya.

Zayn melihat darah di bibirnya.

Tangannya tanpa sadar terangkat

Namun berhenti di udara.

Ia menahan diri.

Karena saat ini

Yang lebih penting

Adalah menghentikan semua ini.

Di belakangnya

Suara Tuan Misra kembali terdengar.

“saya memberikan waktu padamu, Selena.”

Nada itu tenang.

Namun jelas

Mengandung peringatan.

“Bukan untuk membuat kekacauan seperti ini lagi”

Selena tertawa kecil.

Namun kali ini

Tidak sekuat sebelumnya.

“Dia menampar saya,” balasnya.

“Dia pikir dia siapa bisa melakukan semua itu padaku?”

“Dan kamu pikir kamu siapa?”ucap tuan misra

Kalimat itu

Langsung memotong.

Selena terdiam.

Tatapan Misra kini benar-benar tajam.

“Sejak kapan kamu berhak memperlakukan orang lain seperti ini di rumahku?”

Hening.

Zayn berdiri di depan Aluna sekarang.

Seolah tanpa sadar

Menjadi pembatas.

“Ayah,” ucapnya pelan.

Namun Misra tidak menoleh.

“Jika ini berlanjut…”

lanjut Misra,

“saya tidak akan segan mengambil keputusan yang akan menyulitkan hidupmu.”ucap tuan Misra dan kemudian pergi

Kalimat itu

Tidak diakhiri.

Namun maknanya jelas.

Selena menatapnya.

Ada sesuatu yang berubah di matanya.

Bukan lagi sekadar marah.

Tapi

Gelisah.

Zayn menarik napas.

Dalam.

“Selena,” ucapnya akhirnya.

Nada suaranya tidak tinggi.

Namun berbeda dari sebelumnya.

“Cukup.”

Selena menatapnya.

Tidak percaya.

“Kamu membelanya juga ,ntah apa yang di bawa perempuan ini sehingga semua orang termasuk Ayah Misra yang kejam ini membelanya,?” ucapnya

Zayn tidak langsung menjawab.

Namun sikapnya,

Sudah cukup.

Ia berdiri di sisi Aluna.

Dan itu

Jawaban paling jelas.

Suasana di ruangan itu

Membeku.

Dengan tiga orang

Yang masing-masing membawa emosi.

Dan satu garis

Yang akhirnya mulai terlihat jelas.

Zayn Devandra

Tidak lagi berdiri di tengah.

Ia memiliki di sisi Aluna

Udara di ruangan itu masih tegang.

Kata-kata belum sepenuhnya selesai, emosi masih menggantung, dan semua orang seolah berdiri di ujung sesuatu yang bisa runtuh kapan saja.

Zayn berdiri di depan Aluna.

Masih menjadi pembatas.

Masih menahan sesuatu dalam dirinya

Namun ia terlambat menyadari satu hal.

Aluna tidak bergerak.

Bukan karena diam.

Bukan karena menahan.

Tapi karena

Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.

Zayn melihatnya.

Terlambat satu detik.

“Aluna”

Tubuh gadis itu terhuyung.

Langkahnya goyah.

Matanya kehilangan fokus.

Dan sebelum ia benar-benar jatuh

Zayn sudah bergerak.

Ia menangkap tubuh Aluna tepat waktu.

Ringan.

Terlalu ringan.

“Aluna!”

Suaranya berubah.

Lebih keras.

Lebih panik dari sebelumnya.

Kepala Aluna terkulai lemah di bahunya.

Matanya tertutup.

Tidak ada respons.

Jantung Zayn seolah berhenti sesaat.

“Aluna, bangun…”

Suaranya lebih rendah sekarang.

Namun jelas

Ada sesuatu yang jarang terdengar di sana.

Kepanikan.

Tidak ada jawaban.

Tangannya menepuk pelan pipi Aluna.

“Aluna.”

Tetap tidak ada respons.

Sial.

Zayn mengangkat tubuhnya lebih erat.

Menopangnya dengan hati-hati.

“PANGGIL DOKTER!”

Teriakannya menggema.

Keras.

Tanpa kendali.

Para pelayan langsung bergerak.

Cepat.

Tidak ada yang berani menunda.

“Iya, Tuan!”

Langkah kaki berlarian keluar ruangan.

Zayn tidak peduli.

Fokusnya hanya satu.

Aluna.

Wajah gadis itu pucat.

Bibirnya masih menyisakan darah yang mulai mengering.

Dan napasnya

Pelan.

Terlalu pelan.

Zayn menatapnya.

Lebih dekat.

Seolah ingin memastikan

Ia masih di sana.

Sementara Selena hanya berdiri menyaksikan segala perhatian Zayn untuk Aluna ,yang perlahan dirinya akan kehilangan Suaminya apalagi ketika Selena mendengar Zayn berkata

“Aku di sini…”

Gumamnya pelan.

Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

Tangannya sedikit gemetar.

Hal yang jarang terjadi.

Ia mengangkat tubuh Aluna ke ranjang.

Dengan hati-hati.

Seolah gadis itu bisa hancur jika ia terlalu kasar.

“Air,” ucapnya cepat.

Salah satu pelayan segera datang.

Zayn tidak langsung mengambilnya.

Tatapannya masih terpaku pada Aluna.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah hanya karena

Kelelahan?

Atau

Lebih dari itu?

Zayn menelan napas.

Ia mengingat kembali semuanya.

Kolam.

Tamparan.

Kata-kata.

Tekanan.

Terlalu banyak.

Untuk seseorang seperti Aluna.

“Dia tidak akan seperti ini… kalau bukan karena saya.”

Kalimat itu muncul.

Tanpa bisa dicegah.

Zayn menutup mata sejenak.

Bukan.

Bukan hanya karena dia.

Tapi karena semua yang terjadi—

Di sekelilingnya.

Namun tetap saja

Ia bagian dari itu.

“tuan zayn”

Suara pelayan terdengar di belakangnya.

“Tenangkan diri tuan”

Zayn menghela napas.

Namun tidak menjawab.

Bagaimana ia bisa tenang

Saat seseorang yang tadi masih berdiri di sampingnya

Kini tidak sadar di depan matanya?

Langkah kaki kembali terdengar.

Dokter datang.

“Permisi, Tuan.”

Zayn langsung mundur sedikit.

Memberi ruang.

Namun tidak benar-benar menjauh.

Tatapannya tetap di sana.

Pada Aluna.

Pada wajah yang kini terlihat terlalu tenang

Untuk seseorang yang baru saja menghadapi semua itu.

Dan saat dokter mulai memeriksa

Zayn hanya berdiri.

Diam.

Namun di dalam dirinya

Ada sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan.

Ini bukan lagi sekadar kontrak.

Bukan sekadar kewajiban.

Ini sudah menjadi

Tanggung jawab.

Dan mungkin

Lebih dari itu.

Karena untuk pertama kalinya

Zayn Devandra merasa

Ia benar-benar takut kehilangan seseorang.

Zayn sudah mulai perhatian atau ini hanya perhatian sesaat

"dokter bagaimana keadaannya??"tanya Zayn

"syok dan kelelahan tuan,, tapi kondisi mulai setabil"ucap dokter yang membuat Zayn menghela napas lega

"gadis ini pandai bersandiwara Zayn,kenapa kamu sepanik itu melihat keadaannya"ucap Selena

Zayn menghela napas ,masih saja Selena membahas ini dalam keadaan seperti ini

"Selena tolong,sudah cukup,aku berjanji aku akan menjelaskannya padamu,tolong cukup kamu melakukan hal apapun lagi pada Aluna"pinta Zayn yang membuat Selena menggeleng

"kamu mulai tertarik padanya,iya kan"ujar Selena yang membuat Zayn meliriknya

"kamu yakin saya harus menjawab pertanyaanmu"

"tidak perlu"timpal Selena sambil pergi keluar dari kamar Aluna karena ia sudah tahu jawabannya

1
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Nirna: Siap kak, makasih sudah semangat nunggu updatenya 🤗 Semoga next chap makin seru yaa ❤️
total 1 replies
arunnn arsy
tim aluna 💪💪💪
Nirna: Wah ada tim Aluna nih ❤️ Makasih banyak kak sudah dukung Aluna terus 🤗
total 1 replies
arunnn arsy
ayo aluna sambut tangan Zayn🥰
Nirna: Kita lihat nanti ya kak 😍 apakah Aluna bakal luluh atau malah bikin Tuan Zayn makin gemas 🤭❤️
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut
Nirna: siap kakak ku, ditunggu ya,, terimakasih sudah baca🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!