Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semakin Rumit,Semakin Murka
Langkah Zayn terhenti tepat di depan pintu kamar,setelah tadi di hubungi pelayan ada keributan lagi di rumah padahal ayah dan dirinya ada meting penting di kantor,namun kegaduhan itu tidak bisa di abaikan begitu saja
Suara dari dalam
Tidak lagi sekadar gaduh.
Tapi
Kacau.
Ia tidak sendiri.
Di sampingnya, berdiri Tuan Misra Devandra.
Wajah pria itu tenang.
Namun matanya
Tajam.
Pintu terbuka.
Apa yang terlihat di dalam
Cukup untuk membuat rahang Zayn mengeras.
Aluna berdiri di tengah ruangan.
Rambutnya berantakan.
Sudut bibirnya mengalir darah.
Dan matanya
Tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Di depannya
Selena.
Dengan tangan terangkat.
Siap
Menampar lagi.
“CUKUP.”
Suara itu menggema.
Dalam.
Penuh tekanan.
Namun bukan Zayn
Melainkan
Tuan Misra.
Tangan Selena terhenti di udara.
Ditahan.
Semua orang membeku.
Selena menoleh.
Matanya melebar sedikit.
“Ayah”
Namun pria itu tidak menjawab.
Genggamannya pada pergelangan tangan Selena tidak keras.
Namun cukup
Untuk menghentikan.
“Apakah ini yang kamu sebut menjaga martabat keluarga?”
Suaranya rendah.
Namun setiap katanya terasa seperti tekanan yang menghimpit.
Selena mencoba menarik tangannya.
Namun tidak bisa.
“Ayah” Zayn melangkah masuk.
Tatapannya langsung mencari
Aluna.
Dan saat melihat kondisinya
Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah.
“Lepaskan saya!” Selena akhirnya berkata tajam.
“Dia yang memulai genderang perang pada saya!”
“Diam.”
Satu kata.
Dari Misra.
Selena benar-benar terdiam.
Untuk pertama kalinya
Amarahnya seperti terpotong.
Zayn melangkah mendekat.
Langsung ke arah Aluna.
“Aluna…”
Suaranya lebih rendah sekarang.
Gadis itu tidak menjawab.
Namun matanya
Sedikit bergetar saat melihatnya.
Zayn melihat darah di bibirnya.
Tangannya tanpa sadar terangkat
Namun berhenti di udara.
Ia menahan diri.
Karena saat ini
Yang lebih penting
Adalah menghentikan semua ini.
Di belakangnya
Suara Tuan Misra kembali terdengar.
“saya memberikan waktu padamu, Selena.”
Nada itu tenang.
Namun jelas
Mengandung peringatan.
“Bukan untuk membuat kekacauan seperti ini lagi”
Selena tertawa kecil.
Namun kali ini
Tidak sekuat sebelumnya.
“Dia menampar saya,” balasnya.
“Dia pikir dia siapa bisa melakukan semua itu padaku?”
“Dan kamu pikir kamu siapa?”ucap tuan misra
Kalimat itu
Langsung memotong.
Selena terdiam.
Tatapan Misra kini benar-benar tajam.
“Sejak kapan kamu berhak memperlakukan orang lain seperti ini di rumahku?”
Hening.
Zayn berdiri di depan Aluna sekarang.
Seolah tanpa sadar
Menjadi pembatas.
“Ayah,” ucapnya pelan.
Namun Misra tidak menoleh.
“Jika ini berlanjut…”
lanjut Misra,
“saya tidak akan segan mengambil keputusan yang akan menyulitkan hidupmu.”ucap tuan Misra dan kemudian pergi
Kalimat itu
Tidak diakhiri.
Namun maknanya jelas.
Selena menatapnya.
Ada sesuatu yang berubah di matanya.
Bukan lagi sekadar marah.
Tapi
Gelisah.
Zayn menarik napas.
Dalam.
“Selena,” ucapnya akhirnya.
Nada suaranya tidak tinggi.
Namun berbeda dari sebelumnya.
“Cukup.”
Selena menatapnya.
Tidak percaya.
“Kamu membelanya juga ,ntah apa yang di bawa perempuan ini sehingga semua orang termasuk Ayah Misra yang kejam ini membelanya,?” ucapnya
Zayn tidak langsung menjawab.
Namun sikapnya,
Sudah cukup.
Ia berdiri di sisi Aluna.
Dan itu
Jawaban paling jelas.
Suasana di ruangan itu
Membeku.
Dengan tiga orang
Yang masing-masing membawa emosi.
Dan satu garis
Yang akhirnya mulai terlihat jelas.
Zayn Devandra
Tidak lagi berdiri di tengah.
Ia memiliki di sisi Aluna
Udara di ruangan itu masih tegang.
Kata-kata belum sepenuhnya selesai, emosi masih menggantung, dan semua orang seolah berdiri di ujung sesuatu yang bisa runtuh kapan saja.
Zayn berdiri di depan Aluna.
Masih menjadi pembatas.
Masih menahan sesuatu dalam dirinya
Namun ia terlambat menyadari satu hal.
Aluna tidak bergerak.
Bukan karena diam.
Bukan karena menahan.
Tapi karena
Tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.
Zayn melihatnya.
Terlambat satu detik.
“Aluna”
Tubuh gadis itu terhuyung.
Langkahnya goyah.
Matanya kehilangan fokus.
Dan sebelum ia benar-benar jatuh
Zayn sudah bergerak.
Ia menangkap tubuh Aluna tepat waktu.
Ringan.
Terlalu ringan.
“Aluna!”
Suaranya berubah.
Lebih keras.
Lebih panik dari sebelumnya.
Kepala Aluna terkulai lemah di bahunya.
Matanya tertutup.
Tidak ada respons.
Jantung Zayn seolah berhenti sesaat.
“Aluna, bangun…”
Suaranya lebih rendah sekarang.
Namun jelas
Ada sesuatu yang jarang terdengar di sana.
Kepanikan.
Tidak ada jawaban.
Tangannya menepuk pelan pipi Aluna.
“Aluna.”
Tetap tidak ada respons.
Sial.
Zayn mengangkat tubuhnya lebih erat.
Menopangnya dengan hati-hati.
“PANGGIL DOKTER!”
Teriakannya menggema.
Keras.
Tanpa kendali.
Para pelayan langsung bergerak.
Cepat.
Tidak ada yang berani menunda.
“Iya, Tuan!”
Langkah kaki berlarian keluar ruangan.
Zayn tidak peduli.
Fokusnya hanya satu.
Aluna.
Wajah gadis itu pucat.
Bibirnya masih menyisakan darah yang mulai mengering.
Dan napasnya
Pelan.
Terlalu pelan.
Zayn menatapnya.
Lebih dekat.
Seolah ingin memastikan
Ia masih di sana.
Sementara Selena hanya berdiri menyaksikan segala perhatian Zayn untuk Aluna ,yang perlahan dirinya akan kehilangan Suaminya apalagi ketika Selena mendengar Zayn berkata
“Aku di sini…”
Gumamnya pelan.
Hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.
Tangannya sedikit gemetar.
Hal yang jarang terjadi.
Ia mengangkat tubuh Aluna ke ranjang.
Dengan hati-hati.
Seolah gadis itu bisa hancur jika ia terlalu kasar.
“Air,” ucapnya cepat.
Salah satu pelayan segera datang.
Zayn tidak langsung mengambilnya.
Tatapannya masih terpaku pada Aluna.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apakah hanya karena
Kelelahan?
Atau
Lebih dari itu?
Zayn menelan napas.
Ia mengingat kembali semuanya.
Kolam.
Tamparan.
Kata-kata.
Tekanan.
Terlalu banyak.
Untuk seseorang seperti Aluna.
“Dia tidak akan seperti ini… kalau bukan karena saya.”
Kalimat itu muncul.
Tanpa bisa dicegah.
Zayn menutup mata sejenak.
Bukan.
Bukan hanya karena dia.
Tapi karena semua yang terjadi—
Di sekelilingnya.
Namun tetap saja
Ia bagian dari itu.
“tuan zayn”
Suara pelayan terdengar di belakangnya.
“Tenangkan diri tuan”
Zayn menghela napas.
Namun tidak menjawab.
Bagaimana ia bisa tenang
Saat seseorang yang tadi masih berdiri di sampingnya
Kini tidak sadar di depan matanya?
Langkah kaki kembali terdengar.
Dokter datang.
“Permisi, Tuan.”
Zayn langsung mundur sedikit.
Memberi ruang.
Namun tidak benar-benar menjauh.
Tatapannya tetap di sana.
Pada Aluna.
Pada wajah yang kini terlihat terlalu tenang
Untuk seseorang yang baru saja menghadapi semua itu.
Dan saat dokter mulai memeriksa
Zayn hanya berdiri.
Diam.
Namun di dalam dirinya
Ada sesuatu yang tidak bisa lagi ia abaikan.
Ini bukan lagi sekadar kontrak.
Bukan sekadar kewajiban.
Ini sudah menjadi
Tanggung jawab.
Dan mungkin
Lebih dari itu.
Karena untuk pertama kalinya
Zayn Devandra merasa
Ia benar-benar takut kehilangan seseorang.
Zayn sudah mulai perhatian atau ini hanya perhatian sesaat
"dokter bagaimana keadaannya??"tanya Zayn
"syok dan kelelahan tuan,, tapi kondisi mulai setabil"ucap dokter yang membuat Zayn menghela napas lega
"gadis ini pandai bersandiwara Zayn,kenapa kamu sepanik itu melihat keadaannya"ucap Selena
Zayn menghela napas ,masih saja Selena membahas ini dalam keadaan seperti ini
"Selena tolong,sudah cukup,aku berjanji aku akan menjelaskannya padamu,tolong cukup kamu melakukan hal apapun lagi pada Aluna"pinta Zayn yang membuat Selena menggeleng
"kamu mulai tertarik padanya,iya kan"ujar Selena yang membuat Zayn meliriknya
"kamu yakin saya harus menjawab pertanyaanmu"
"tidak perlu"timpal Selena sambil pergi keluar dari kamar Aluna karena ia sudah tahu jawabannya