Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Mandi
Pagi tiba. Sinar mentari menyapa. Tak begitu cerah, mulai tertutup polusi kendaraan di langit ibu kota yang tak pernah padam. Suara burung berkicau tak begitu terdengar. Kalah riuh dengan suara mesin kendaraan yang lalu lalang di jalanan.
Di sebuah ruang rawat inap berkelas VVIP.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Alina yang berada di atas ranjang pasien menoleh. Vincent muncul dari balik pintu kamar mandi itu dengan bertelanjang dada. Celana pendek menutupi tubuh bagian bawahnya. Sedangkan sebuah handuk kecil nampak berada di tangannya. Menggosok gosok rambut hitamnya yang masih terlihat basah.
Alina diam mematung untuk beberapa saat. Pria yang semalaman menjaganya itu baru saja selesai mandi. Aroma sabun yang segar dan wangi semerbak memenuhi ruangan. Bulir bulir air mandi masih belum sepenuhnya kering. Sebagian masih menempel di tubuh tegap atletis milik pria itu. Seolah menambah pesona tubuh pria berusia dua puluh delapan tahun tersebut.
Vincent mendekat.
"Pagi! Baru bangun?" tanyanya seraya menggosok gosok rambutnya yang basah.
"Iya," jawab Alina.
Di atas nakas, sarapan pagi jatah pasien sudah berada di sana. Masih utuh. Belum tersentuh. Mungkin suster belum lama mengantarnya.
"Mau sarapan, atau mandi dulu?" tanya Vincent.
Alina menoleh ke arah nakas. Seolah berfikir sejenak. "Belum lapar, sih," ucapnya.
"Ya udah, kalau gitu mandi dulu, yuk! Aku bantu ke kamar mandi," ucap laki-laki itu.
Gadis itu tak menjawab. Ia membuang nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Vincent.
"Jadi inget cemilan ku di rumah. Padahal kemarin aku udah bikin camilan enak. Eh, nggak jadi dimakan," ucapnya menyesali keadaan.
Vincent terkekeh. "Alina, Alina...padahal kamu lagi sakit. Masih sempat-sempatnya mikirin makanan," ucap pria itu.
Wanita itu tak menjawab. Ia nampak memonyongkan bibirnya.
"Ya udah, nanti biar aku suruh Supri buat ambil camilan kamu. Nanti kita nonton di sini aja. Okey?" ucap Vincent membujuk. Alina menoleh, lalu mengangguk dengan bersemangat. Terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Ya udah, sekarang mandi dulu, gih. Biar aku bantuin mapah kamu ke kamar mandi," ucap laki-laki itu seraya meletakkan handuknya di samping bantal.
Alina diam sejenak. "Aku sendiri aja, deh, ke kamar mandinya. Aku bisa, kok," ucapnya.
Vincent diam. Melirik ke arah wanita hamil itu.
"Ngapain sendiri? Kan ada aku, Al. Kalau ada yang bantuin ngapain sendirian? Lagian kaki kamu kan masih sakit," ucap Vincent. Alina melongok menatap lutut kakinya yang masih dibalut perban. Memang sakit, sih. Bahkan ia tak tahu apakah bisa jalan atau tidak. Sejak kemarin ia hanya terbaring di ranjang.
"Ayok!" ucap laki-laki itu sembari mengulurkan tangannya berniat membantu Alina untuk turun. Alina yang awalnya ragu-ragu itupun akhirnya menurut. Daripada nggak mandi. Ya, kan?
Gadis itu mengalungkan lengannya ke pundak Vincent. Laki-laki itu memapah Alina. Satu tangannya merengkuh pinggang Alina, membantunya berjalan, sedang satu lainnya memegangi botol infus yang selangnya masih menempel di lengan Alina.
Alina sesekali meringis. Lututnya terasa ngilu saat digerakkan. Begitu juga pundaknya.
"Mau aku gendong aja?" tanya Vincent.
"Nggak usah! Jalan aja!" ucap Vincent.
"Kamu yakin?"
Alina hanya mengangguk. Vincent hanya menurut. Perlahan ia membantu wanita itu untuk masuk ke dalam kamar mandi meskipun sebenarnya ia sangat ingin menggendong wanita itu.
"Kamu keluar, ya. Aku bisa sendiri?" ucap Alina setelah tiba di kamar mandi.
"Kamu yakin?" tanya Vincent. Alina hanya mengangguk. Lagi lagi, pria itu hanya patuh. Ia paham, Alina pasti merasa tidak nyaman. Terlebih lagi pernah terjadi sesuatu yang tak mengenakan diantara mereka berdua. Alina pasti memiliki kekhawatiran tersendiri dalam hal itu.
Vincent berbalik badan. Berniat untuk keluar dari kamar mandi itu. Meskipun ia sanksi Alina bisa mandi sendiri lantaran tangan dan kaki wanita itu sepertinya masih sulit digerakkan.
"Aw!" pekik Alina. Vincent yang belum sempat keluar kamar mandi itu menoleh.
Alina meringis. Tangan kanannya ngilu. Tanpa sadar ia menggerakkan tangan itu untuk membuka kancing baju pasien yang berada di belakang punggungnya. Lantaran satu tangan kiri saja tak mampu menjangkau seluruh kancing baju hijau itu.
Vincent menghela nafas. Ia mendekat, lalu berdiri di belakang Alina yang duduk di sebuah kursi dekat shower.
"Sudah aku bilang, kamu nggak akan bisa mandi sendiri," ucap pria itu. Ia menggerakkan tangannya membuka kancing baju Alina.
"Vincent! Nggak usah!" ucap Alina mencoba menahan gerakan pria itu.
"Udah diem! Aku cuma mau bantu kamu mandi!" ucapnya.
"Tapi...."
"Aku nggak lagi mabok, Al. Aku nggak akan.....kuraank ajaar."
Vincent terdiam. Laki-laki itu menelan ludahnya kasar saat baju hijau itu terbuka sebagian. Punggung putih mulus dengan sebuah tali br a yang melekat sempurna menjadi pemandangan yang terpampang jelas di hadapannya. Kulitnya putih, mulus tanpa noda. Sebuah tahi lalat kecil di pundak menambah indah pemandangan di hadapannya.
Vincent tak bergerak. Dadanya tiba tiba berdebar hebat. Tubuh ini pernah ia jamah dulunya. Kala itu ia tak sadar. Tapi kini ia melihatnya dengan kesadaran penuh. Indah. Menggoda. Membuatnya terdiam untuk beberapa saat. Ia membuka lagi satu kancing baju itu. Tinggal tersisa satu kancing maka baju itu akan terbuka dengan sempurna.
Sreett..
Kain itu hampir jatuh. Vincent melotot. Jari tangannya bersentuhan dengan kulit punggung yang mulus itu. Alina meremas bagian depan baju itu agar tak benar-benar jatuh. Laki-laki itu diam. Jantungnya berdebar makin cepat. Tanpa sadar ada sedikit pergerakan dari jari jari tangannya seolah bermain di sana. Membuat Alina makin gugup. Ia menarik kursinya, sedikit menjauh dari laki-laki itu.
"Vincent, tolong keluar! Aku mau mandi sendiri!"
Ucapan itu membuat Vincent seketika sadar dari lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya cepat seolah ingin membuang pikiran kotor yang kini mulai menyerang otaknya. Sesuatu miliknya sebagai pria normal kini bahkan mulai bereaksi.
"Aku akan panggilkan suster!" ucap pria itu lalu dengan cepat keluar dari kamar mandi.
Vincent menarik nafas panjang. "Kendalikan dirimu, Vincent! Dia bukan istri ataupun pacarmu!" gumamnya seorang diri di depan pintu kamar mandi.
Laki-laki itu melongok ke bawah, menyentuh anggota tubuhnya yang mengeras di bawah sana. "No, boy! Itu bukan rumahmu!" ucapnya sambil mengelus-elus miliknya.
Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar. Ia lantas keluar dari ruangan itu guna mencari bantuan suster untuk memandikan Alina.
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/