Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Besok adalah hari resepsi ngunduh mantu Alif dan Asya. Saat ini, dua keluarga besar sudah berada di hotel tempat acara besok.
Alif uring-uringan karena dipisahkan dari Asya. Sedangkan Asya tampak gembira menghabiskan waktu dengan keluarganya.
"Pokoknya malam ini aku tidur di kamar mama dan papa," ucap Alif kesal
"Loh nggak bisa gitu dong, Kak," protes papa
"Kamu ini udah dikasih kamar sendiri malah ke sini," ledek mama
"Biarin. Gara-gara ide kalian aku jadi terpisah sama istriku," ucap Alif sinis
"Ya elah, cuma sehari doang kok lebay amat," sinis papa
"Besok juga udah satu kamar lagi," celetuk mama
Sedangkan di sisi lain, Asya berada di kamar abi dan umi. Asya sedang dalam mode manjanya.
"Kayaknya kamu bahagia sekali sama Alif ya, Dek," celetuk abi
"Alhamdulillah Abi, mas Alif selalu berusaha mengusahakan apapun untuk Asya," ucap Asya sambil tersenyum
"Rasanya lega sekali Abi melepas kamu untuk Alif. Karena dia adalah laki-laki yang bertanggungjawab," ucap abi sambil mengelus kepala Asya
"Umi juga bahagia akhirnya kamu bisa menemukan pasangan yang nyaris sempurna, Dek," ucap umi sambil mengelus tangan Asya
"Semua ini juga karena doa kalian semua," ucap Asya sambil memeluk abi dan uminya bersamaan
Tanpa disadari ada seseorang yang mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Ia tersenyum sambil mengusap air matanya yang jatuh.
'Akhirnya kamu bahagia setelah luka yang tak sengaja aku torehkan' batin seseorang itu lalu pergi
Setelah subuh, perias mulai datang ke kamar Asya. Ia dirias begitu cantiknya. Asya ditemani oleh kakak dan kakak iparnya yaitu Anisa dan Lisa. Mereka berdecak kagum melihat kecantikan yang terpancar dalam diri Asya. Setelah selesai, perias pamit keluar kamar.
Ceklek. Pintu terbuka menampilkan sosok Raffa yang berjalan menuju adiknya. Ia tersenyum haru melihat Asya yang tampil begitu menawan. Asya merentangkan kedua tangannya. Raffa terkekeh lalu memeluk adik bungsunya itu.
"Perasaan baru kemarin deh kamu itu ngompol di kasurnya abang," ucap Raffa sambil melepaskan pelukannya
"Ih apaan sih. Itu dulu waktu masih kecil ih," ucap Asya sambil melipatkan kedua tangannya
"Cepat banget sih waktu berjalan. Sekarang kamu udah nikah dan ikut suami," ucap Raffa sambil mengelus kepala Asya
"Halah bilang aja kalo Abang gak bisa jauh dari Adek kan?," goda Asya
"Itu sih salah satunya," ucap Raffa sambil melihat ke atas
"Jangan nangis. Nanti Asya akan meluangkan waktu untuk ngajak mas Alif main ke pesantren," ucap Asya sambil mengelus tangan Raffa
Anisa dan Lisa terharu melihat interaksi keduanya. Ada sedikit rasa iri dalam hati Anisa melihat adiknya yang lebih dekat dengan abangnya. Gus Kafka yang hadir tiba-tiba mengelus tangan istrinya. Ia seolah tau apa yang dirasakan istrinya. Anisa menoleh lalu tersenyum ke arah gus Kafka.
Suara dari luar kamar menginterupsi agar Asya segera keluar menuju pelaminan. Acara akan segera dimulai.
Asya keluar ruangan diapit oleh Raffa dan istrinya. Asya begitu cantik mengenakan gaun muslimah berwarna navy serta hiasan mahkota berlian di kepalanya. Alif tak kalah tampan dengan jas warna senada.
Alif tersenyum sambil menunggu Asya tepat di samping tangga. Ia begitu terpesona dengan kecantikan istrinya yang seperti boneka barbie itu. Raffa menyerahkan adiknya. Asya lalu menggandeng tangan Alif. Mereka berjalan menuju pelaminan diikuti anggota keluarganya.
Panggung pernikahan yang begitu mewah. Banyak orang berdatangan mengucapkan selamat dan mendoakan mempelai. Asya dan Alif sedari tadi tak berhenti menyalami para tamu setelah sesi foto bersama keluarga.
"Duduk aja kalo pegel sayang," ucap Alif
"Aku masih kuat kok Mas," ucap Asya sambil tersenyum
"Yakin?," tanya Alif
"Nanti kalo udah capek pasti aku bilang," jawab Asya
Acara begitu meriah dengan berbagai hiburan yang telah disiapkan oleh orang tua Alif. Semua orang terlihat bahagia dan menikmatinya. Semakin malam semakin banyak rekan bisnis Alif dan papanya yang hadir.
"Akhirnya aku bisa melihat senyum itu lagi. Senyum kebahagiaan dari Asya," ucap Raffa sambil melihat Asya yang tertawa bersama Alif
"Setelah melewati rasa sakit itu ternyata Allah telah mempersiapkan kebahagiaan tak terduga untuk Asya," timpal Lisa
"Terkadang seseorang memang perlu patah hati hebat dulu sebelum akhirnya benar-benar menemukan cinta sejati yang sesungguhnya," ucap Raffa
"Ternyata anak bungsu itu yang paling kuat ya. Bahkan disaat dia terluka hebat tapi dia masih bisa tersenyum. Aku gak bisa bayangin gimana rasanya jadi Asya," ucap Lisa
"Sakit itu sudah pasti tapi dia mampu berdamai dengan takdir. Semoga Asya selalu bahagia bersama Alif," tambah Lisa tulus
"Aamiin," jawab Raffa
Sedangkan di sisi lain, Rifky terlihat bersama Rania duduk di meja dekat pelaminan. Mereka tampak jelas dapat menyaksikan kebahagiaan yang terpancar dari Alif dan Asya.
'Aku melepaskan dirimu dengan ikhlas. Semoga Allah selalu menjaga kebahagiaan kalian' batin Rifky
"Gue tau kalo sebenarnya lo suka sama Asya," celetuk Rania sambil memakan es krimnya
"Kalaupun iya juga percuma. Gue udah kalah dari Alif," ucap Rifky terkekeh
"Gimana rasanya jadi orang yang pertama tau kalo Alif akan menikahi Asya?," tanya Rania
"Kaget udah pastilah apalagi Alif adalah sahabat gue. Tapi di sisi lain, gue juga ingin melihat sahabat gue bahagia dan nggak terluka lagi seperti sebelumnya. Gue yakin Asya akan membuat Alif bahagia," ucap Rifky tulus
"Jadi lo ikhlas melihat orang yang lo cinta bersanding dengan orang lain apalagi orang itu adalah sahabat lo sendiri?," tanya Rania
"Kita hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan. Apalagi yang bisa gue lakukan selain ikhlas. Gue juga yakin bahwa Allah sudah menyiapkan pengganti yang lebih baik dari Asya," ucap Rifky
"Setelah ini mau lanjut S2 apa kerja?," tanya Rania mengalihkan pembicaraan
"Ingin lanjut sih tapi kayaknya bokap suruh gue ngurus perusahaan," ucap Rifky
Rania hanya menganggukkan kepalanya. Ia kembali menikmati camilannya.
Sedangkan di sisi lain, Anisa dan gus Kafka juga duduk tak jauh dari pelaminan. Anisa tersenyum melihat kebahagiaan Asya.
"Akhirnya aku bisa melihat wajah bahagia Asya lagi," ucap Anisa
"Ini semua sudah kehendak Allah," timpal gus Kafka
"Aku dulu bodoh banget ya tidak bisa melihat bahwa Asya sangat terluka," ucap Anisa terkekeh miris
"Sudah jangan bahas masa lalu lagi. Sekarang semua sudah bahagia dengan porsi masing-masing," ucap gus Kafka tegas
"Iya," jawab Anisa
Acara selesai sekitar pukul 23.00 Wib. Semua orang memutuskan untuk langsung pergi dari hotel. Sebagian keluarga Asya ikut menginap di rumah Alif.