Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Yang Terkuak
Livia akhirnya bertemu dengan si Pak Tua di toko barang bekas miliknya, tepat di lokasi yang sebelumnya ditunjukkan oleh Axel. Untuk mencairkan suasana, Livia memulai percakapan dengan obrolan santai sambil membeli beberapa barang.
Strateginya berhasil. Pria tua itu mulai merasa nyaman hingga akhirnya ia berkisah tentang sejarah kota tersebut.
Dari sela cerita, terungkaplah sebuah kejadian kelam di masa lalu. Pak Tua itu menyebutkan bahwa peninggalan dari peristiwa gelap tersebut masih ada hingga sekarang, tersembunyi di sebuah bangunan yang jarang terjamah dan dianggap tidak penting oleh masyarakat.
Meskipun si pria tua tidak menyebutkan lokasinya secara gamblang, Livia hanya diam menyimak tanpa ingin mengulik lebih jauh agar tidak terlihat mencurigakan. Di dalam hatinya, Livia yakin tempat yang dimaksud adalah Gudang Tua Sektor tujuh.
Dengan nada basa-basi seolah hanya penasaran biasa, Livia sempat bertanya kapan tepatnya kejadian itu berlangsung. Percakapan mereka mengalir begitu natural, jauh dari kesan sebuah interogasi.
Tanpa Livia sadari bahwa Axel tengah mengawasinya. Axel semula merasa malu dan ingin fokus menata hidupnya, ternyata tidak bisa membendung rasa penasaran sejak pertemuan kembali mereka. Ia mengikuti Livia hingga ke toko barang bekas itu. Bukan karena berniat jahat, sungguh. Axel memiliki insting ingin melindungi. Bagi Axel, kota ini masih baru untuknya dan ia belum tahu seberapa bahaya karakteristik wilayahnya bagi seorang wanita yang sendirian tanpa penjaga seperti Livia.
Setelah melihat Livia beranjak pulang dalam keadaan baik-baik saja, Axel sempat ingin pergi. Tetapi ketika menyadari langkah kaki Livia justru menuju ke arah kawasan yang tak tersentuh orang, Axel mendadak cemas. Ia pun memutuskan untuk terus mengikuti Livia secara diam-diam dalam jarak aman.
Disinilah Livia membawa langkah Axel.
Di depan pintu gudang yang tertutup rapat, Livia menelaah gembok besar yang mengunci akses masuk. Ia memutar otak, mencari celah untuk membuka pintu tersebut. Tiba-tiba ia teringat teknik unik yang pernah diajarkan Morenzo saat membuka tutup botol. Tekan lalu putar 360 derajat sebanyak tiga kali.
Livia menerapkan logika yang sama. Saat ia memperhatikan gembok tersebut dengan saksama, ia menemukan sebuah ceruk kecil yang aneh. Begitu Livia menekan jarinya ke dalam ceruk itu, gembok besar tersebut tiba-tiba terbelah menjadi dua, menyingkap sebuah panel angka tersembunyi di dalamnya.
Ternyata oh ternyata, tampilan lubanng kunci di luar hanyalah tipuan. Pintu ini hanya bisa dibuka dengan kode.
Livia memasukkan tanggal lengkap kejadian kelam yang diceritakan Pak Tua tadi. Gagal. Pintu tidak bergerak. Tak menyerah ia mencoba memasukkan angka tahunnya saja.
Klik.
Pintu itu berhasil terbuka. Livia terpukau, tak menyangka bahwa ajaran aneh dari Morenzo ternyata sangat berguna di saat seperti ini. Ia melongok ke dalam, suasana di dalam gudang terasa sangat mencekam dan dingin.
Dari kejauhan Axel merasa tak habis pikir. Bagaimana mungkin Livia bisa menemukan tempat seperti ini, bahkan memiliki kemampuan untuk membongkar kunci yang terlihat mustahil dibuka? Khawatir Livia terperosok ke dalam bahaya, Axel pun menyelinap masuk mengikuti langkah Livia dari belakang dengan sangat hati-hati.
Livia menyalakan senternya. Seisi ruangan ternyata tampak seperti sebuah ruang kerja pribadi yang lama ditinggalkan. Livia mulai memperhatikan detail sekitar dengan jantung berdebar, hingga tiba-tiba--
BRAKK!
Bunyi dentuman keras itu membuat Livia terlonjak kaget, menebas kesenyapan di dalam ruangan yang gelap itu.
Suara dentuman keras itu memicu insting bertahan hidup Livia. Secara spontan, ia langsung mencari celah untuk bersembunyi, menenggelamkan tubuhnya di balik lemari besar yang menjulang tinggi hingga tak terlihat sama sekali. Ini adalah teknik perlindungan diri yang pernah diajarkan Morenzo kepadanya.
Ternyata, bunyi itu berasal dari Axel. Ia baru saja menabrak meja dalam kegelapan. Axel panik karena tiba-tiba kehilangan jejak Livia. Dengan perasaan gelagapan, ia menghampiri titik terakhir tempat Livia berdiri tadi. Matanya menyapu seluruh ruangan, namun kegelapan yang pekat menjadi penghalang besar.
Berbeda dengan Livia yang membawa senter, Axel datang tanpa persiapan apa pun. Begitu senter Livia dipadamkan, Axel benar-benar buta dalam kegelapan. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bercucuran di pelipisnya.
"Livia... kau di mana?" panggil Axel dengan suara gemetar. Ia membatin dalam hati dengan ngeri, Apakah yang tadi kulihat benar-benar Livia? Ataukah itu hanya hantu yang menyerupainya? Apakah kota ini berhantu?
Mendengar suara familiar itu memanggil namanya, Livia menghela napas lega sekaligus jengkel. Ia pun menyalakan kembali senternya, menyinari wajah Axel yang tampak pucat.
"Axel, sedang apa kau di sini?" tanya Livia ketus.
"Maaf, Livia... aku tidak sengaja mengikutimu sampai ke sini," jawab Axel gugup, berusaha membela diri. "Aku hanya khawatir melihatmu masuk ke wilayah terpencil ini sendirian. Aku bersumpah tidak berniat jahat, aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja!"
Livia mendengus dan langsung menyuruh Axel untuk segera keluar. Namun Axel memohon agar diizinkan tetap di sana. Ia tahu jika ia beralasan ingin melindungi, Livia pasti akan menolaknya mentah-mentah. Maka Axel mengganti taktiknya.
"Kumohon, biarkan aku di sini sebentar saja. Aku aku takut kegelapan dan aku butuh cahaya sentermu untuk keluar," keluhnya memasang wajah memelas.
Livia akhirnya membiarkannya. Mereka berdua mulai menyusuri ruangan itu, meski Livia tetap menjaga jarak yang cukup jauh dari Axel.
"Kenapa kau sampai datang ke tempat seperti ini?" tanya Axel.
"Aku suka bereksperimen dan mencari hal-hal baru."
Yups, Axel pun tahu soal itu. Ia manggut-manggut saja meski pikirannya bercabang. Ia penasaran ke mana perginya para pengawal Livia? Apakah wanita di depannya ini masih menjadi istri Morenzo, ataukah ia sebenarnya sudah dicampakkan? Tapi Axel memilih menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Ia sadar tidak sopan mencampuri urusan pribadi orang lain terlalu dalam. Bahkan sepertinya dilarang tahu terlalu jauh mengenai Livia dan Morenzo jika ingin hidup tenang.
Langkah mereka terhenti saat kaki Axel menyenggol tumpukan kertas usang di pojok ruangan. Secara tak sengaja ia menemukan sebuah koran usang yang warnanya sudah menguning dimakan usia. Axel memungutnya dan membaca judul utamanya dengan suara lantang.
"Livia, lihat ini... Tragedi Kecelakaan Beruntun di Perbatasan Sektor, Korban Jiwa Teridentifikasi Sebagai Tuan Besar..." Axel terhenti sejenak, mengeja nama yang tertera di sana. "...Namanya mirip sekali dengan kakekmu, bukan?"
Livia tersentak. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat mendengar nama itu disebut. Dengan terburu-buru, ia menghampiri Axel dan merebut koran tersebut dari tangannya.
Matanya terpaku pada baris kalimat yang memuat detail kecelakaan itu. Nama yang tercantum di sana memang benar nama mendiang kakeknya. Informasi ini seolah menjadi potongan teka-teki yang selama ini ia cari. Kejadian kelam yang diceritakan Pak Tua tadi ternyata berkaitan langsung dengan darah dagingnya sendiri.
Bersambung.