Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita dimasalalu
Kami melerai pelukan dengan perlahan, setelah mengutarakan rasa nyamanku pada Ayleen kini rasa canggung menyelimuti kami, Ayleen yang menunduk sementara aku menoleh pada pintu dengan keberadaan papa disana.
“Oh… maaf, papa selalu datang pada waktu yang kurang tepat.”
Aku menggeleng pelan, pasti papa akan menyangka kalau anaknya ini sudah memiliki perasaan terhadap Ayleen.
Papa perlahan mendekat, aku melirik Ayleen yang sedang mengusap air matanya dengan hijab yang diapakainya.
“Om…”Sapa Ayleen sambil menyalami papa.
“Loh ko om, panggil saja papa.” Ayleen tampak ragu, dia menoleh kerahku seperti sedang meminta pendapat.
Aku menganggukan kepala.
“Oh iya maaf, pah. Kalau begitu Ayleen buatkan dulu kopi kebelakang. Permisi”
“Ada apa?, kenapa istrimu menangis. Kamu menyakiti hatinya lagi Arsyad.”
Setelah Ayleen menghilang dibalik pintu, papa baru membuka pembicaraan.
Aku sontak menggeleng. “Justru aku sedang berusaha menyembuhkan lukanya pah.”
“Dengan cara apa?”
Aku menghela nafas ringan. “Menjadi pelindung dan tempat nyaman untuknya.”
Papa menganggukkan kepalaya, mungkin setuju dengan rencanaku. “Lantas mengapa istrimu menangis?”
“Mama.” Ucapku singkat.
Papa menghela nafas kasar.
“Mama yang menyuruh Ayleen untuk keluar dari rumah ini. Kemudian Ayleen tersinggung dengan perkataan mama yang merendahkan orangtuanya. Ayleen meminta diantarkan pulang dengan alasan dia tidak mengandung anaku.”
“Papa heran dengan mama mu, dia terlalu mencampuri urusan anaknya. Hem…. beneran dia tidak mengandung anakmu Arsyad?”
Aku mengangguk. “Sepertinya pa, karena sejauh ini tidak ada tanda-tanda Ayleen mengandung.”
“Kamu sedang belajar untuk mencintainya?”
Aku menatap mata papa lekat, laki-laki yang berusia hampir setengah abad, namun masih terlihat sehat dan tetap berkarisma, laki-laki yang penuh dengan tanggung jawab dihidupnya, papa adalah laki-laki yang setia yang mampu menerima segala baik buruk kelakuan istrinya yaitu mama, tidak jarang mama melakukan suatu hal membuat papa kecewa, tapi dengan kesabaran dan keluasan hati papa tetap memafkan mama.
Aku menggeleng pelan. “Arsyad belum bisa belajar mencintai Ayleen pah.”
Papa menatapku gusar, ia meletakan sebelah tangannya pada kepala sofa. “Apa wanita itu, wanita yang sudah meninggalkanmu dan bisanya cuman menguras hartamu. Kamu masih menyimpan namanya dihatimu Arsyad?, kamu masih mencintai wanita itu?. Wanita yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya ada dimana.” Papa mengerutkan keningnya.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan papa, memang pada kenyataanya hatiku masih belum melupakan sepenuhnya wanita yang menjadi cinta pertamaku. Zahira, namun aku menyingkat namanya menjadi Zara, itulah sebabnya aku memanggil Zara Ayleen dengan nama belakangnya, karena jika aku memanggilnya Zara, aku akan teringat pada perempuan dimasalaluku.
“Lupakan wanita itu Arsyad, kamu sudah memiliki istri, Ayleen tidak kalah sempurna dengan Zahira.”
Aku makin menundukan wajah, seketika kenangan bersama Zahira berputar dikepalaku.
Waktu itu Zahira yang memelukku erat karena kami akan berpisah untuk sementara, Zahira akan menyelesaikan studinya di london dan aku yang mulai mengurus perusahaan milik papa. Namun tahun demi tahun, setelah Zahira pergi aku belum pernah menerima kabar apapun darinya, bahkan keluarganya pun seperti menyembunyikan keberadaan Zahira.
“Silahkan diminum Mas, Pah.” Ayleen datang dengan membawa dua cangkir kopi.
“Makasih leen.”
“Terimakasih nak Ayleen.”
“Sama-sama, kalau begitu Ayleen pamit ada yang harus dikerjakan.” Ucapnya menunduk, tanpa menoleh padaku dan papa. Apa Ayleen mendegar percakapanku dengan papa.
***
POV Ayleen.
Aku memasuki kamar tujuanku ingin beristirahat, karena aku merasa, keram diperutku makin parah. Penyakit bulananku kambuh lagi, mana aku belum persiapan obat.
Aku merebahkan badan dan menarik selimut, badanku juga jadi kurang ngerasa enak. Ingin segera terlelap namun bayangan obrolan papa Mikail dan mas Arsyad berputar dikepalaku.
“Kamu sedang belajar untuk mencintainya?”
“Arsyad belum bisa belajar untuk mencintai Ayleen pah.”
Obrolan papa dan mas Arsyad terus berputar dikepalaku, entah mengapa hatiku merasa teriris dengan jawaban yang dilontarkan oleh mas Arsyad. Apa aku berharap suatu saat nanti mas Arsyad bisa mencintaiku, tapi itu tidak mungkin, laki-laki dengan bayangan masalau yang kuat akan sangat sulit untuk melupakan masalalunya, apalagi kalau memang Zahira adalah cinta pertamanya. Ternyata mas Arsyad masih menyimpan nama seseorang dihatinya, Ternyata wanita itu bernama Zahira.
“Aww….” Keram diperutku makin kuat. Perutku bawahku terasa diperas kencang, pegal dan sakitnya sampai kaki.
Klek.. pintu kamar terbuka. Pasti mas Arsyad yang datang. Aku akan pura-pura tidur, tapi sebenarnya aku ingin menangis karena saking sakitnya. Tapi malu kalau tiba-tiba nangis didepan mas Arsyad.
Aku pura-pura tidur sambil memegangi perutku.
Rasa sakitnya semakin kuat.
Akhirnya bangun dan bersandar pada kepala ranjang sambil meringis memegangi perut.
Mas Arsyad melihat kearahku dengan tatapan bingung.
“Kenapa?”
“Mas.. bisa tolong belikan obat ini…?” Aku memperlihatkan layar ponsel, mas Arsyad berjalan mendekat kearahku dan memperhatikan obat yang berada pada layar ponsel.
“Oke,” ucapnya sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil jaketnya.
“Mas..”
“Hem..”
“Boleh sama titip pembalut ga?”
Tanpa kusangka mas Arsyad mengangguk, kemudian mengambil kunci mobilnya. sebelum membuka pintu kamar ia menoleh kepadaku.
“Ada titipan yang lain?”
Aku menggeleng pelan. “Itu aja mas.”
Sepetelah mas Arsyad pergi, aku kembali merebahkan tubuh. Badanku terasa linu disetiap sendinya.
“Non Ayleen, mbak boleh masuk?”
“Boleh Mbak..” aku menjawab semampunya.
Mbak Asih datang dengan membawa nampan.
“Diminum non, dulu kalau mbak sakit datang bulan. Mbak suka dibikinin jamu ini. Tadi mas Ar bilang, tolong bikinin sesuatu buat non Ayleen, katanya perutnya sakit lagi datang bulan, yaudah mbak Asih bikin ini aja buat non.”
Deg.
Kenapa jantungku berdegup lagi. Apa aku seneng dapat perhatian kecil seperti ini dari mas Ar.
“Makasih banyak ya mbak..”
“Sama-sama non, kalau begitu mbak pamit dulu ya.”
*
*
Jangan lupa like ya.
Love u READERS…💗