NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Pasar Loak dan Topi Detektif Kusam

Bel panjang tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi nyaring, seolah menjadi melodi kebebasan bagi seluruh penghuni SMA Taruna Citra. Kelas XII IPA 1 langsung riuh. Anak-anak berhamburan memasukkan buku ke dalam tas, merencanakan jadwal nongkrong sore ini. Di bangkunya, Rama Arsya Anta membereskan peralatannya dengan gerakan lambat dan mekanis. Pikirannya masih agak keruh akibat beban tak kasat mata sisa makan malam elit semalam.

"Woy, Ram! Lo mau ikut futsal nggak sore ini di lapangan indoor depan?" ajak Dika sambil menyandang ranselnya. "Kurang satu orang nih tim kita."

Rama menggeleng pelan, memasukkan buku fisikanya ke dalam tas. "Gue pass. Ada urusan."

"Urusan OSN atau urusan... hati?" goda Dika, matanya sengaja melirik ke arah bangku barisan tengah tempat seorang gadis berjilbab ungu sedang merapikan tempat pensil. "Gue perhatiin, semenjak ngerjain tugas drama bareng, aura lo jadi agak beda, Bos. Lebih manusiawi dikit, nggak sedingin kanebo kering lagi."

"Ngaco lo. Udah sana berangkat, keburu lapangannya dipakai anak kelas sepuluh," usir Rama, berusaha menyembunyikan ujung telinganya yang mulai memanas.

Begitu Dika dan anak-anak cowok lainnya keluar kelas, Rama menyampirkan tas di sebelah bahunya dan berjalan menghampiri meja Nayla. Gadis itu baru saja selesai merapikan rok abunya dan menoleh dengan senyum sumringah yang entah bagaimana selalu berhasil membuat hari Rama terasa sedikit lebih cerah.

"Jadi kan, Babu?" tagih Nayla tanpa basa-basi, menaikkan sebelah alisnya. "Tora udah bubar, Wana Asri udah aman, berarti nggak ada alasan buat lo nolak nganterin gue keliling nyari properti drama."

"Iya, jadi. Gue udah bawa motor. Tunggu gue di parkiran belakang, gue mau ganti baju sebentar ke toilet," jawab Rama dengan nada sok datar, padahal di dalam dadanya ada antusiasme yang meronta-ronta.

Lima belas menit kemudian, Rama sudah mengganti seragam kaku itu dengan kaus hitam dan jaket kulit andalannya. Ia berjalan menuju pojok parkiran, di mana Nayla sudah menunggu sambil memeluk ranselnya. Gadis itu menatap motor sport hitam legam milik Rama dengan tatapan menilai.

"Nih," Rama menyodorkan helm bogo hitam ke arah Nayla. "Pakai yang bener, klik sampai bunyi. Dan kali ini, lo boleh pegangan. Gue nggak mau dituduh nyelakain anak orang kalau lo sampai terbang ke belakang."

Nayla mencibir, menerima helm itu dan memakainya. "Dih, modus banget nyuruh pegangan. Kalau lo bawanya manusiawi, gue nggak bakal terbang, Bos."

Rama hanya terkekeh pelan. Ia naik ke atas motor, diikuti oleh Nayla yang duduk di boncengan. Begitu tangan gadis itu mencengkeram ujung jaket kulitnya, Rama memutar tuas gas. Motor besar itu melesat membelah jalanan Yogyakerto yang mulai diwarnai semburat jingga di ufuk barat.

Tujuan mereka sore ini adalah Pasar Loak Beringin Raya, sebuah kawasan pasar tradisional yang terkenal menjual berbagai macam barang antik, pakaian bekas impor, dan pernak-pernik aneh yang cocok untuk dijadikan properti teater. Pasar ini terletak di pusat kota, cukup jauh dari wilayah Wana Asri.

Suasana pasar sangat padat dan bising. Suara pedagang yang saling bersahutan menawarkan barang, aroma kapur barus bercampur debu jalanan, dan lorong-lorong sempit yang dipenuhi gantungan baju membuat tempat ini terasa sangat hidup.

Bagi Rama yang terbiasa dengan mal elit dan butik ber-AC setiap kali menemani ayahnya, tempat ini terasa asing. Namun, melihat Nayla berjalan di depannya dengan mata berbinar-binar penuh semangat, Rama merasa pasar loak ini jauh lebih menarik daripada restoran mewah mana pun.

"Ram! Sini deh, lihat!" Nayla menarik lengan jaket Rama antusias, menyeret cowok bertubuh tegap itu ke salah satu lapak yang menjual pernak-pernik tua.

Gadis itu memegang sebuah kaca pembesar bertangkai kayu yang kacanya sudah sedikit kusam dan sebuah pipa cangklong palsu dari kayu imitasi. "Ini cocok banget buat karakter detektif si X di adegan babak kedua! Gimana menurut lo?"

"Lumayan. Bisa dipakai," jawab Rama singkat, matanya lebih fokus menatap senyum Nayla daripada barang yang dipegangnya.

"Pak, ini dua barang berapaan?" tanya Nayla pada bapak penjual yang sedang duduk mengipasi dirinya pakai koran.

"Tujuh puluh ribu aja, Neng. Barang langka itu, asli dari zaman kompeni," tawar si bapak sambil tersenyum lebar.

Rama baru saja hendak merogoh dompet di saku belakangnya, bersiap membayar tanpa banyak tanya, ketika tangan Nayla dengan sigap menahannya. Gadis itu melangkah maju, memasang wajah serius layaknya seorang negosiator tingkat tinggi.

"Tujuh puluh ribu kemahalan, Pak. Ini kan kacanya udah baret-baret, pipanya juga catnya udah ngelupas," Nayla memulai serangannya dengan nada lembut tapi mematikan. "Tiga puluh ribu ya, Pak? Buat tugas anak sekolahan nih, Pak, uang jajannya pas-pasan."

Bapak itu melongo. "Waduh, Neng. Tiga puluh mah modalnya aja nggak nutup. Enam puluh deh."

"Tiga puluh lima ribu, Pak. Mentok. Kalau nggak boleh, ya udah saya cari di lapak depan aja yang katanya lebih murah," Nayla meletakkan kembali barang itu dengan gerakan pelan, bersiap membalikkan badan, sebuah trik klasik ibu-ibu pasar yang ia pelajari dari ibunya.

"Eh, ya udah, ya udah! Bawa deh tiga puluh lima ribu! Laris manis Tanjung Kempul!" bapak itu akhirnya mengalah dengan wajah pasrah.

Nayla tersenyum penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah Rama, menengadahkan telapak tangannya. "Sini dompet lo, Babu. Gue yang nego, lo yang bayar."

Rama tak bisa menahan tawanya. Ia menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib gadis ini. Di dunianya, tawar-menawar harga adalah hal yang memalukan. Ayahnya selalu mengajarkan untuk menggesek kartu elit tanpa melihat label harga. Tapi bersama Nayla, hal remeh seperti berdebat harga kaca pembesar bekas terasa seperti sebuah pencapaian yang membanggakan.

Perburuan berlanjut ke area pakaian bekas. Nayla asyik membongkar tumpukan baju, mencari mantel panjang yang pas untuk properti si X. Rama berdiri setia di belakangnya, kedua tangannya kini sudah penuh dengan kantong kresek berisi barang belanjaan Nayla, mulai dari buku tua, borgol mainan, hingga syal bulu sintesis.

"Ketemu!" Nayla bersorak pelan, menarik sebuah trench coat panjang berwarna cokelat gelap yang terlihat agak usang namun sangat bergaya retro. Ia juga mengambil sebuah topi fedora berwarna senada dari rak di atasnya.

Nayla berbalik menghadap Rama. Tanpa aba-aba, gadis itu memakaikan topi fedora tersebut tepat di atas kepala Rama.

Jarak mereka seketika terkikis habis. Tangan Nayla yang terangkat memakaikan topi membuat aroma stroberi dari jilbabnya menguar jelas di indra penciuman Rama. Wajah Nayla mendongak, matanya yang bulat menatap lurus ke arah wajah Rama untuk memastikan posisi topi itu pas. Di tengah lorong pasar yang sempit dan remang-remang, waktu seolah membeku.

Rama menelan ludah. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tatapan Nayla yang begitu dekat dan intens membuat seluruh pertahanan rasionalnya runtuh.

"Nah... pas banget," gumam Nayla pelan. Gadis itu sepertinya baru menyadari betapa dekatnya jarak mereka. Matanya sedikit melebar, dan rona merah muda langsung menjalar di kedua pipinya. Ia buru-buru menurunkan tangannya dan mundur selangkah, salah tingkah.

"L-lo cocok pakai itu. Kelihatan misterius kayak detektif beneran, bukan kayak preman pasar," rutuk Nayla cepat, memalingkan wajahnya pura-pura merapikan tumpukan baju lain.

Rama tersenyum tipis. Ia membetulkan letak fedora di kepalanya, menatap gadis yang sedang sibuk menyembunyikan wajah malunya itu dengan perasaan yang hangat. "Oke. Kita beli ini. Ada lagi yang mau lo cari?"

"Udah, udah cukup. Ayo balik, capek gue," Nayla berjalan cepat menuju kasir, meninggalkan Rama yang masih terkekeh pelan di belakangnya.

Setelah selesai berbelanja, alih-alih langsung pulang, Rama mengajak Nayla duduk di sebuah warung tenda pinggir jalan yang menjual Es Dawet Ayu. Udara senja Yogyakerto mulai mendingin, tapi rasa haus setelah berkeliling pasar loak membuat es dawet itu terasa sangat nikmat.

Nayla mengaduk minumannya, lalu menatap Rama lekat-lekat. Insting gadis itu memang tajam. Ia tahu ada sesuatu yang mengganjal di balik senyum Rama sejak mereka berangkat tadi.

"Lo lagi banyak pikiran ya, Bos?" tembak Nayla langsung pada sasaran.

Rama yang sedang minum seketika terdiam. Ia meletakkan gelasnya, menatap keramaian jalan raya yang mulai dihiasi lampu kendaraan. "Kelihatan banget ya?"

"Muka lo itu bisa dibaca kayak buku cetak anak TK," cibir Nayla. "Kenapa? Tora ngulah lagi? Atau Galang bikin masalah di bengkel?"

Rama menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan kepingan keberanian untuk sedikit membagi beban di pundaknya. "Bukan urusan jalanan, Nay. Urusan rumah."

Nayla meletakkan gelasnya, memasang mode pendengar yang serius. "Bokap lo?"

"Iya," Rama memutar-mutar gelas kaca di depannya. "Semalam, pas makan malam elit yang gue ceritain itu, dia ngebahas masa depan gue. Dia udah nyusun semuanya. Kampus gue, tempat magang gue, bahkan..." Rama menjeda kalimatnya, meragu sejenak sebelum melanjutkannya dengan suara serak. "...dia ngerencanain buat ngejodohin gue sama anak kolega bisnisnya demi aliansi perusahaan."

Keheningan melanda meja mereka. Suara bising knalpot di jalan raya seolah terdengar sayup-sayup. Nayla tertegun. Kata 'dijodohkan' terdengar sangat kuno dan konyol di telinganya, layaknya plot sinetron tahun dua ribuan. Tapi melihat raut wajah Rama yang frustrasi, Nayla sadar bahwa bagi cowok ini, itu adalah ancaman penjara seumur hidup.

Entah mengapa, ada nyeri tak kasat mata yang tiba-tiba menyengat dada Nayla saat mendengar Rama akan dijodohkan. Nyeri yang tak bisa ia jelaskan secara logika.

"Terus... lo terima?" tanya Nayla, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.

Rama menatap Nayla tepat di manik matanya. "Menurut lo, gue bakal nerima dikurung dalam sangkar yang bukan buatan gue sendiri?"

Nayla menggigit bibir bawahnya, menahan senyum tipis yang mendadak ingin merekah. "Nggak. Lo kan Hantu Wana Asri. Hantu mana bisa dikurung di dalam kandang emas."

"Bokap gue ngerasa gue ini bidak catur yang bisa dia majuin atau mundurin sesuka hatinya demi menumbangkan raja lawan," gumam Rama getir. "Dari kecil gue dilatih buat nurut, buat diam, buat pura-pura sempurna. Tapi rasanya, kali ini batas kesabaran gue udah habis."

Nayla mencondongkan tubuhnya melintasi meja, menatap Rama dengan kilat mata yang penuh tekad dan pemberontakan. "Kalau bokap lo ngerasa lo ini cuma bidak catur, ya tugas lo sekarang buat miringin papan caturnya, Ram. Acak-acak permainannya. Lo yang pegang kendali atas hidup lo sendiri."

Kalimat itu sederhana, tapi menghantam kesadaran Rama bagaikan godam raksasa. Acak-acak permainannya. Selama ini, pemberontakannya hanya ia lakukan secara sembunyi-sembunyi di atas aspal jalanan malam. Ia tidak pernah benar-benar menentang ayahnya secara langsung.

Tapi melihat Nayla, gadis yang dengan berani menghajar preman sekolah demi temannya, gadis yang berani menantangnya di jalanan bypass, Rama menyadari satu hal. Untuk bisa bersama gadis ini dan memiliki hidup yang ia inginkan, ia harus berani menghadapi sumber masalahnya yang sebenarnya.

Sebuah senyum lebar perlahan terukir di wajah Rama. Rasa sesak yang sejak semalam menyekik lehernya kini menguap sepenuhnya. Ia menatap Nayla dengan perasaan yang meluap-luap.

"Makasih, Nay," ucap Rama tulus, matanya memancarkan kehangatan yang tak terhingga. "Lo emang majikan paling galak, tapi juga paling tahu caranya bikin babunya sadar."

Nayla membuang muka, pipinya kembali merona hebat. Ia buru-buru menyedot sisa es dawetnya hingga terdengar bunyi seruputan yang nyaring. "U-udah ah, jangan baper. Buruan abisin es lo, keburu magrib nih. Gue mau rebahan."

Rama terkekeh lepas. Ia menghabiskan minumannya, membayar tagihan, lalu membawakan kantong belanjaan Nayla menuju motornya. Di bawah langit Yogyakerto yang kini berubah menjadi biru gelap kemerahan, motor sport hitam itu kembali melesat membelah jalanan.

Kali ini, genggaman tangan Nayla di sisi jaketnya terasa lebih erat. Dan di balik helmnya, Rama merasa siap untuk menghadapi badai apa pun yang akan dilemparkan dunia kepadanya. Papan catur itu akan segera ia balikkan, dan ia bersumpah akan memenangkan permainan ini dengan aturannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!