Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.
Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Dua hari setelah menghubungi Alden Verrow, ritme hidup Seraphina mulai berubah lagi.
Namun kali ini, perubahan itu bergerak dengan cara yang jauh lebih halus.
Tidak ada sikap dingin yang terlalu jelas. Tidak ada keputusan besar yang cukup mencolok untuk membuat orang bertanya. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti biasa, bahkan terlalu biasa.
Ia masih turun untuk sarapan tepat waktu.
Masih duduk di tempat yang sama di ruang makan besar keluarga Halstrom. Masih menikmati teh hangat sambil mendengarkan Darius membahas pasar saham atau perkembangan proyek terbaru perusahaan. Sesekali ia menanggapi seperlunya, cukup untuk menjaga kesan bahwa semuanya tetap normal.
Lysandra masih sibuk dengan kehidupan sosialnya. Kael tetap tenggelam dalam pekerjaan seperti biasanya. Dan Seraphina...
Ia tetap memainkan perannya dengan sangat rapi.
Ibu yang tenang.
Istri yang elegan.
Wanita yang terlihat hanya sedikit berubah sejak beberapa minggu terakhir. Lebih tenang, lebih berhitung, sedikit menjaga jarak. Tidak lebih dari itu.
Setidaknya, itulah yang mereka pikirkan.
Karena di balik semua ketenangan itu, sesuatu mulai bergerak perlahan.
Sesuatu yang selama ini terlalu lama ia abaikan.
Pagi itu, setelah Darius berangkat ke kantor pusat dan rumah mulai kembali tenang, Seraphina langsung menuju ruang kerja pribadinya. Ruangan itu berada di sisi paling belakang lantai dua, cukup jauh dari area utama rumah, membuatnya terasa lebih privat dibanding ruangan lain.
Cahaya matahari pagi masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan, jatuh tepat di atas meja kerja kayu gelap yang dipenuhi map dan dokumen.
Semua terlihat biasa.
Namun isi dokumen di atas meja itu sama sekali tidak biasa.
Data staf rumah.
Laporan administrasi perusahaan.
Riwayat transaksi kecil.
Catatan pengeluaran pribadi.
Dan beberapa laporan internal yang sengaja ia minta dua hari terakhir.
Tentunya bukan secara terang-terangan.
Seraphina tahu, langkah ceroboh hanya akan membuat semuanya berantakan.
Ia meminta seluruh data itu dengan alasan audit kecil tahunan. Sesuatu yang terdengar masuk akal dan cukup rutin untuk tidak mengundang perhatian.
Tidak ada yang curiga.
Atau setidaknya, belum.
Seraphina duduk perlahan di kursinya lalu membuka map pertama.
Administrasi internal perusahaan.
Nama demi nama tertera rapi di sana.
Sekretaris senior.
Kepala administrasi.
Manajer keuangan.
Staf legal.
Orang-orang yang selama bertahun-tahun berada di sekitar bisnis keluarganya.
Dulu, ia tidak pernah benar-benar memikirkan loyalitas mereka.
Ia percaya mereka bekerja untuk keluarga Halstrom.
Untuk perusahaan.
Untuk stabilitas bersama.
Namun sekarang...
Cara pandangnya berubah.
Orang bekerja untuk kepentingan.
Dan kepentingan paling sering bergerak mengikuti uang.
Matanya berhenti pada laporan pengeluaran salah satu staf administrasi senior.
Elric Vale.
Sudah bekerja hampir tujuh tahun.
Reputasinya bagus.
Sopan.
Rapi.
Tidak pernah membuat masalah.
Di mata orang lain, pria itu terlihat profesional.
Namun saat Seraphina mulai memperhatikan lebih detail, ada sesuatu yang terasa janggal.
Transfer tambahan.
Nominal kecil.
Berulang.
Tidak cukup besar untuk langsung mencurigakan.
Tapi terlalu konsisten untuk dianggap kebetulan.
Jemarinya bergerak membuka lampiran tambahan.
Ada pembayaran pribadi yang tidak tercatat dalam bonus perusahaan.
Sumber dana tidak langsung atas nama siapa pun.
Terlalu rapi.
Terlalu bersih.
Seolah sengaja dibuat samar.
Tatapan Seraphina menyipit sedikit.
Pelan, jemarinya mengetuk meja kayu.
Sekali.
Dua kali.
Lalu ia mengambil pena dan memberi tanda kecil di pojok dokumen.
Dicurigai.
Ia tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Namun instingnya mulai bekerja.
Karena semakin lama diperhatikan, semuanya terasa terlalu teratur untuk dianggap kebetulan.
Map berikutnya berpindah ke tangannya.
Data staf rumah pribadi.
Kepala pelayan.
Koordinator keamanan.
Asisten rumah tangga senior.
Dan lagi-lagi, ia menemukan sesuatu.
Theodore.
Kepala pelayan rumah.
Sudah bekerja hampir sembilan tahun.
Selama ini terlihat sangat loyal.
Pria yang selalu tahu kebiasaan keluarga mereka. Orang yang paling sering mengatur jadwal rumah, tamu, hingga urusan pribadi kecil.
Namun ada beberapa pengeluaran yang membuat alis Seraphina perlahan berkerut.
Jam tangan mewah.
Tas branded untuk istrinya.
Pembayaran tambahan yang tidak tercatat di laporan gaji resmi.
Jumlahnya tidak besar.
Tapi terlalu sering.
Dan semuanya muncul sejak tiga tahun terakhir.
Tiga tahun.
Kurang lebih waktu yang sama ketika Darius mulai mendapatkan akses lebih luas ke aset keluarga.
Kebetulan?
Seraphina tidak lagi percaya pada kebetulan.
Ia memberi tanda kecil lagi.
Tidak langsung bertindak.
Belum.
Orang seperti itu justru lebih berguna jika tetap merasa aman.
Karena seseorang yang merasa tidak dicurigai akan terus membuat kesalahan.
Dan Seraphina membutuhkan kesalahan itu.
Ia bersandar perlahan di kursinya.
Pandangan jatuh pada tumpukan map yang belum selesai diperiksa.
Dulu, ia mungkin akan merasa lelah menghadapi semua ini.
Merasa dikhianati.
Merasa marah.
Sekarang perasaannya jauh lebih dingin.
Karena setelah melewati kematian sekali...
Hal seperti ini tidak lagi cukup untuk menghancurkannya.
Ponselnya bergetar pelan di atas meja.
Satu pesan masuk.
Alden Verrow.
Jam empat sore. Tempat biasa. Jangan lewat pintu utama.
Sudut bibir Seraphina bergerak tipis.
Singkat.
Langsung.
Tetap sama seperti dulu.
---
Sore harinya, Seraphina meninggalkan rumah tanpa banyak penjelasan.
Ia hanya mengatakan ada urusan pribadi dan tidak akan pulang terlalu malam.
Tidak ada yang terlalu mempermasalahkan.
Darius sibuk dengan pekerjaannya.
Lysandra sedang fokus pada acara sosial.
Kael tenggelam dalam laporan proyek.
Tidak ada yang benar-benar bertanya lebih jauh.
Dan itu justru mempermudah semuanya.
Hotel tua milik keluarga Verrow berdiri di pusat kota dengan kesan klasik yang elegan. Tidak terlalu mencolok, tetapi cukup eksklusif untuk menjaga privasi tamunya.
Seraphina masuk melalui akses samping seperti arahan Alden.
Lounge privat di lantai atas terlihat sepi.
Hanya ada beberapa meja.
Lampu temaram.
Dan suara musik piano pelan yang mengisi ruangan.
Alden sudah duduk di sana.
Setelan abu gelapnya tetap rapi seperti biasa. Rambut sedikit beruban membuat pria paruh baya itu terlihat lebih tegas dibanding kebanyakan pria seusianya.
Begitu melihat Seraphina datang, tatapannya berhenti beberapa detik.
Lama.
Seolah sedang membaca sesuatu.
“Kamu berubah,” ucapnya akhirnya.
Seraphina duduk di hadapannya.
“Mungkin aku baru mulai sadar.”
Alden mengembuskan napas pelan.
“Keterlambatan masih lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Pelayan datang membawa teh sebelum kembali pergi tanpa banyak bicara.
Ruangan kembali tenang.
Alden membuka map tipis di hadapannya.
“Aku sudah mulai memeriksa beberapa dokumen yang kamu kirim.”
“Dan?”
“Ada terlalu banyak akses yang diberikan pada Darius.”
Jawaban itu tidak membuat Seraphina terkejut.
Ia sudah menduganya.
Namun mendengar orang lain mengatakannya tetap meninggalkan rasa pahit.
“Aku pernah memperingatkanmu dulu,” lanjut Alden pelan.
“Aku tahu.”
Tidak ada bantahan.
Karena memang benar.
Dulu Alden pernah mencoba mengingatkannya agar tidak menyerahkan terlalu banyak kuasa hukum pada Darius.
Tapi saat itu...
Ia terlalu sibuk percaya.
Terlalu yakin bahwa pria yang ia cintai tidak mungkin mengkhianatinya.
Betapa bodohnya dirinya dulu.
“Aku tidak ingin bertindak gegabah,” kata Seraphina akhirnya. “Aku mau semuanya kembali perlahan.”
Alden mengangguk kecil.
“Itu keputusan yang benar. Kalau Darius memang sudah bergerak selama bertahun-tahun, berarti dia pasti punya orang di banyak tempat.”
“Itu juga yang kupikirkan.”
Seraphina membuka map kecil yang ia bawa.
Beberapa nama sudah diberi tanda.
Alden membacanya sekilas.
“Elric Vale?”
“Dicurigai.”
“Theodore?”
“Mungkin juga.”
Alden menatapnya lagi.
“Kamu serius.”
“Aku tidak punya pilihan.”
Karena kalau gagal...
Ia tahu bagaimana semuanya berakhir.
Racun.
Pengkhianatan.
Tubuh yang melemah di lantai dingin.
Tatapan anak-anaknya yang kosong.
Sekali saja sudah cukup.
Ia tidak akan membiarkan akhir itu terulang.
---
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Seraphina mulai bergerak lebih hati-hati.
Ia sengaja memberi informasi berbeda pada beberapa staf.
Kecil.
Sederhana.
Namun cukup untuk mengetes sesuatu.
Pada satu orang, ia berkata perusahaan akan melakukan audit internal minggu depan.
Pada orang lain, ia menyebut akan ada perubahan pengelolaan rekening keluarga.
Sementara pada staf berbeda, ia menyebut kemungkinan restrukturisasi kecil.
Informasi berbeda.
Orang berbeda.
Kalau sesuatu bocor...
Ia akan tahu dari mana asalnya.
Dan hasilnya datang lebih cepat dari dugaan.
Tiga hari kemudian, salah satu bagian administrasi mulai membahas audit yang bahkan belum diumumkan.
Padahal hanya satu orang yang mengetahui detail itu.
Elric.
Seraphina duduk diam di ruang kerja saat laporan itu sampai ke tangannya.
Tatapannya jatuh pada layar laptop.
Nama itu terasa semakin jelas sekarang.
Elric Vale.
Sudah tujuh tahun bekerja.
Selalu sopan.
Selalu terlihat loyal.
Tapi ternyata...
Sudah lama menjual informasi.
Senyum kecil muncul di bibir Seraphina.
Tipis.
Dingin.
“Jadi kamu juga.”
Ia tidak memanggil pria itu.
Tidak langsung memecatnya.
Belum.
Orang seperti Elric akan lebih berguna jika tetap berada di tempatnya.
Karena seseorang yang merasa aman akan terus berbicara.
Dan Seraphina ingin mendengar semuanya.
Namun di tengah semua kecurigaan itu...
Ada satu nama yang membuat langkahnya berhenti sejenak.
Evelyn Hart.
Sekretaris senior lama.
Wanita yang dulu bekerja langsung dengan ayahnya.
Tenang.
Teliti.
Jarang bicara berlebihan.
Seraphina masih ingat bagaimana Evelyn beberapa kali mencoba memperingatkannya soal akses Darius.
Tentang dokumen yang terlalu mudah disetujui.
Tentang keputusan yang terlalu cepat.
Sayangnya...
Dulu ia terlalu sibuk membela suaminya.
Kini setelah semua diperiksa ulang...
Nama Evelyn justru paling bersih.
Tidak ada transaksi aneh.
Tidak ada komunikasi mencurigakan.
Tidak ada pola mencolok.
Bahkan beberapa kali wanita itu diam-diam menghentikan perpindahan akses aset tertentu dengan alasan prosedur belum lengkap.
Hari itu, Seraphina memanggil Evelyn ke ruang kerja pribadi.
Wanita paruh baya itu masuk dengan langkah tenang.
“Ibu memanggil saya?”
Seraphina menatapnya cukup lama.
Lalu berkata pelan,
“Aku mau bertanya sesuatu.”
“Tentu.”
“Kalau suatu hari aku ingin mengambil kembali semuanya...”
Kalimat itu menggantung.
Evelyn terdiam.
Tatapannya berubah sedikit lebih serius.
“Dari Tuan Darius?”
Seraphina tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup.
Dan sesuatu di mata Evelyn berubah.
Seperti seseorang yang akhirnya melihat badai yang sejak lama ia perkirakan.
“Saya akan membantu,” jawabnya tenang.
Tanpa ragu.
Tanpa pertanyaan panjang.
Jawaban itu membuat Seraphina diam beberapa detik.
Karena setelah semua pengkhianatan...
Ternyata masih ada seseorang yang tetap berdiri di tempat yang sama.
Loyal.
Bukan karena uang.
Melainkan karena prinsip.
Dan malam itu...
Sebuah tim kecil mulai terbentuk diam-diam.
Alden Verrow di sisi hukum.
Evelyn Hart di sisi internal perusahaan.
Sedikit demi sedikit...
Permainan mulai berubah.
Namun Seraphina belum tahu.
Tidak semua langkahnya benar-benar tersembunyi.
Di sisi lain kota, seseorang baru saja mengetuk pintu ruang kerja Darius.
“Tuan.”
Darius mengangkat kepala dari dokumen bisnisnya.
“Ada apa?”
Pria di depan pintu tampak ragu sesaat sebelum berkata pelan,
“Nyonya Seraphina mulai bergerak diam-diam.”
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir...
Tatapan Darius berubah.