NovelToon NovelToon
Antara Dua Dunia

Antara Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

​"Wajahnya identik dengan Ali, pacar LDR-ku yang lembut. Tapi pria di depanku ini adalah Alistair, Pangeran Agung yang siap memenggal kepalaku jika aku berani kabur lagi!"

​Lia terbangun di tubuh Aurellia, istri Pangeran Agung Ivalice yang dikenal kejam dan obsesif. Di novel aslinya, Aurellia tewas mengenaskan setelah mengkhianati Alistair demi Pangeran Yovan yang licik. Demi menghindari maut, Lia harus mengubah alur. Ia pun nekat mendekati Nenek Suri yang disegani dan mendadak jadi istri "penurut" yang membuat Alistair curiga sekaligus salah tingkah. Akankah strategi Lia menjinakkan sang tiran berhasil? Ataukah ia justru terjebak dalam obsesi gelap pria yang wajahnya terus mengingatkannya pada sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Kartu As Selir Yasmin dan Skakmat dari Sudut Taman

Suasana di dalam Aula Pengadilan Tertinggi kembali menegang, beberapa jam setelah Putri Aurellia dilarikan ke paviliun medis. Kali ini, kursi terdakwa tidak lagi kosong.

Pangeran Yovan berdiri di sana dengan kepala tertunduk, sementara di hadapannya, Pangeran Agung Alistair telah kembali duduk di kursi kehakiman yang tinggi.

Sidang kali ini terasa jauh lebih menekan karena disaksikan langsung oleh Raja Iskan yang duduk di kursi keagungan istana.

Sebagai Hakim Agung, Alistair menatap Yovan tanpa sedikit pun rasa iba. Tangan kanannya perlahan mengangkat palu pengadilan berukir emas.

"Berdasarkan bukti mutlak dari rekaman pusaka, Pangeran Yovan terbukti melakukan penganiayaan dan percobaan pembunuhan terhadap Putri Aurellia di wilayah perbatasan," suara Alistair menggelegar, dingin dan tak tersentuh.

"Maka dengan ini, hukuman yang dijatuhkan adalah...."

"Tunggu, Pangeran Agung! Mohon tahan palu Anda!"

Sebuah seruan nyaring memotong kalimat Alistair tepat sebelum palu itu diketuk. Pintu aula pengadilan terbuka, memperlihatkan Selir Yasmin yang melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Alistair menyipitkan matanya, sementara para menteri mulai berbisik-bisik tegang.

Selir Yasmin tidak menghadap ke arah Alistair, melainkan langsung berlutut di hadapan Raja Iskan. Dari balik lengan bajunya, ia mengeluarkan sebuah gulungan kain sutra berwarna emas tua yang tampak sangat resmi.

"Yang Mulia Raja," ucap Selir Yasmin, suaranya bergetar penuh sandiwara yang matang.

"Saya memohon izin Anda. Saya membawa surat resmi yang pernah Anda berikan kepada saya bertahun-tahun yang lalu, di mana Yang Mulia pernah berjanji akan mengabulkan dua permintaan saya, apa pun itu."

Raja Iskan tertegun, matanya melebar menatap gulungan sutra di tangan selirnya. Ia mengenali segel lilin pribadinya pada surat itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Selir Yasmin akan memanfaatkan janji masa lalu tersebut di tengah sidang pidana yang krusial ini.

"Raja adalah orang yang agung dan tidak pernah melanggar janji," lanjut Yasmin.

Ia melirik Alistair sekilas dengan kilatan kemenangan di matanya.

"Hari ini, saya menagih janji itu untuk pertama kalinya. Saya meminta pembebasan penuh untuk putra saya, Pangeran Yovan."

Bisik-bisik di dalam ruangan berubah menjadi kegaduhan kecil. Raja Iskan tampak sangat terkejut sekaligus terpojok. Di satu sisi, ia adalah seorang penguasa yang memegang teguh kehormatan kata-katanya. Namun di sisi lain, ia tahu betul bahwa di dalam ruang pengadilan ini, keputusan Alistair selaku Pemimpin Agung dan Hakim Agung adalah mutlak.

Kedudukan Raja dan Pemimpin Agung di kerajaan Ivalice hampir setara dalam hal hukum, bahkan seorang Raja pun tidak bisa mengintervensi keputusan pengadilan jika Alistair sudah mengetuk palu.

Alistair menatap tajam ke arah Raja Iskan.

"Raja, apakah ada pertimbangan lain perihal janji kuno itu?" ucap Alistair dengan nada rendah yang menuntut.

Ia tahu benar betapa liciknya wanita yang berdiri di tengah aula itu.

Raja Iskan menghela napas berat. Posisinya benar-benar tidak menguntungkan. Di hadapan para menteri dan hukum, ia terjepit oleh janjinya sendiri.

Dengan berat hati, sang Raja menatap Alistair, keponakan sekaligus Pemimpin Agungnya, lalu berkata dengan nada yang sangat pelan, hampir seperti memohon.

"Alistair... izinkan Saya menepati janji itu kali ini saja. Demi kehormatan Saya sebagai seorang laki-laki yang memegang kata-katanya."

Alistair tertegun sejenak. Ia sadar, tidak seharusnya seorang Raja sampai berbicara dengan nada memohon seperti itu kepadanya. Mau bagaimana pun, pria di hadapannya adalah pemimpin tertinggi negeri ini yang harus dijaga wibawanya di depan publik.

Alistair mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja kehakiman hingga buku jarinya memutih. Perlahan, ia menurunkan palu pengadilannya tanpa mengetuknya ke meja.

"Jika itu adalah kehendak Raja demi menepati sumpah resminya... maka Pengadilan Tertinggi menerima pengajuan tersebut," ucap Alistair, suaranya terdengar sangat berat dan dingin.

"Pangeran Yovan dibebaskan dari tuntutan pidana hari ini."

Yovan langsung mengembuskan napas lega yang luar biasa, sementara Selir Yasmin tersenyum puas, merasa di atas angin karena berhasil memenangkan permainan politik ini. Namun, dari kursinya, Alistair menatap punggung Yovan dengan tatapan murni seorang predator.

Yovan... hukum istana mungkin melepaskanmu hari ini karena janji Raja. Tapi aku bersumpah, kamu akan tetap membayar setiap tetes darah yang keluar dari tubuh Aurellia dengan caraku sendiri, batin Alistair penuh dendam.

Setelah keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak, Selir Yasmin berjalan menyusuri koridor istana yang terhubung dengan taman dalam. Langkahnya mendadak melambat ketika ia melihat sesosok wanita yang sedang berdiri dengan tenang di antara tanaman hias.

Itu adalah Selir Kedua, Selir Naraswati. Berbeda dengan Yasmin yang agresif atau Luvania yang energik, Naraswati adalah wanita yang selalu tampak tenang, anggun, namun memiliki pikiran yang sangat sulit ditebak.

Ketenangannya selalu memberi kesan bahwa ia sedang merencanakan banyak hal besar di balik layar, meskipun selama ini ia dan putranya, Pangeran Nathan, tidak pernah membuat masalah apa pun di istana.

Naraswati yang sedang memegang pisau kecil untuk memotong daun-daun kering pada tanaman hias kesayangannya, menoleh pelan saat menyadari kehadiran Yasmin.

"Melindungi anak dari hukuman dengan dalih menagih janji masa lalu... apakah hanya itu keahlianmu, Kakak?" ucap Naraswati dengan nada bicara yang sangat datar, namun maknanya begitu menusuk.

Selir Yasmin langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Naraswati dengan pandangan yang sangat dingin.

"Itu masih jauh lebih baik daripada hanya diam tidak bergerak seperti batu, Naraswati. Tanpa tahu waktu, sikap diammu itu bisa saja membuatmu dan putramu ditendang keluar dari istana ini suatu hari nanti," balas Yasmin sengit.

Naraswati meletakkan pisau kecilnya di atas meja taman dengan perlahan, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia melangkah mendekati Yasmin, menatap madunya itu dengan mata yang jernih namun dalam.

"Putraku adalah pangeran resmi kerajaan ini. Kami akan tetap di sini, dan tidak akan pernah ke mana-mana," balas Naraswati dengan nada rendah namun penuh penekanan yang tenang.

Yasmin terkekeh sinis, melipat kedua tangannya di dada.

"Kamu seyakin itu?"

"Iya, tentu saja."

"Raja adalah ayah yang adil. Beliau tidak akan pernah membeda-bedakan putranya," ujar Naraswati lagi, mempertahankan ketenangannya.

Yasmin tertawa remeh, matanya menatap Naraswati dengan semakin sinis.

"Tidak membedakan? Lalu bagaimana dengan Pangeran Rayyan? Bukankah dia adalah pangeran termuda, tapi dia sudah digadang-gadang menjadi kandidat terkuat Putra Mahkota?" ujar Yasmin dengan nada penuh kedengkian.

Naraswati tetap tidak terpancing.

"Dia adalah putra dari Permaisuri Isadora. Jadi, posisi Putra Mahkota memang sudah sewajarnya menjadi miliknya sejak lahir."

"Jangan berpura-pura naif di hadapanku, Naraswati!" desis Yasmin, memajukan wajahnya dengan geram.

"Tentu saja kamu juga memikirkan bagaimana posisi Pangeran Nathan ke depannya di kerajaan ini. Jangan berlagak tidak punya ambisi!"

Mendengar hal itu, Naraswati justru tersenyum kecil. Ia menatap Yasmin dengan pandangan kasihan, sebuah tatapan yang seketika membuat Yasmin merasa terhina.

"Apa yang dimiliki Nathan saat ini sudah lebih dari cukup," jelas Naraswati dengan suara yang begitu tenang dan tertata.

"Putraku sama sekali tidak tertarik dengan posisi Putra Mahkota itu, jadi aku rasa itu bukanlah hal yang harus aku khawatirkan."

Naraswati menjeda kalimatnya, lalu membalikkan tubuhnya sedikit, memandang ke arah paviliun milik Pangeran Agung.

"Lagipula, lihatlah Pangeran Alistair," ucap Naraswati, membuat Yasmin tersentak pelan.

"Dia bukan Putra Mahkota, dia bahkan tidak berada dalam garis suksesi langsung takhta Raja. Tapi lihatlah bagaimana dia sekarang, dia tetap menjadi pria yang paling disegani, ditakuti, dan memegang posisi sebagai Pemimpin Agung yang mengendalikan hukum negeri ini. Semua itu ia dapatkan bukan karena posisi atau gelar fiktif, Kakak... melainkan karena kualitas, kekuatan, dan keahlian murni yang ia miliki."

Naraswati menoleh kembali ke arah Yasmin, memberikan senyuman tipis yang terasa seperti skakmat yang mematikan.

"Jadi, jika Nathan ingin berkembang dan menjadi hebat seperti Pangeran Agung, dia bukan butuh posisi atau gelar instan yang selalu Kakak agung-agungkan dengan cara-cara kotor. Dia hanya butuh kemampuan."

Setelah menjatuhkan kalimat telak itu, Naraswati berbalik dengan anggun, melanjutkan kegiatannya merawat tanaman dan mengabaikan keberadaan Yasmin sepenuhnya.

Di tengah koridor, Selir Yasmin mematung dengan wajah yang memerah padam. Dadanya naik turun menahan emosi yang bergejolak hebat setelah disindir habis-habisan mengenai kualitas putranya dibandingkan dengan Alistair.

"Dasar... wanita sombong!" desis Yasmin dengan gigi yang mengertak, menyadari bahwa di istana ini, musuhnya bukan hanya Permaisuri, melainkan setiap sudut paviliun yang mulai melihat kebusukannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!