Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Sumpah di Bawah Hujan Jakarta
Guntur berjalan sendirian di bawah guyuran hujan deras Jakarta. Jaket ojeknya yang sudah lusuh kini basah kuyup, menempel di tubuhnya yang kekar. Hinaan dari keluarga besar Vanesha Adeline masih terngiang-ngiang di telinganya, namun anehnya, Guntur tidak merasa sedih. Ia justru merasa bebas.
Di sebuah halte bus yang sepi, Guntur duduk sambil mengatur napasnya. Ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah tasbih kayu tua pemberian Ibu Siti Khumairoh sebelum ia berangkat tadi.
"Ibuk benar... harta bisa membutakan mata, tapi doa akan membukakan jalan," gumam Guntur pelan.
Tiba-tiba, suara decitan ban mobil terdengar nyaring di depan halte. Tiga mobil SUV hitam legam berhenti mengepung Guntur. Belasan pria berjas hitam dengan senjata tajam turun dan langsung mengepung Guntur. Dari mobil paling depan, Kevin keluar sambil memegang payung mahal, wajahnya penuh kebencian.
"Guntur, Guntur... Kamu pikir setelah keluar dari mansion, urusan kita selesai? Tidak, Gembel! Kamu sudah membuatku malu di depan Vanesha. Malam ini, aku akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat matahari Sidoarjo lagi!" teriak Kevin sambil memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang.
Guntur berdiri perlahan. Wajahnya yang biasanya penuh tawa sengklek, kini berubah menjadi sedingin es. Ia melilitkan tasbih kayu itu di pergelangan tangan kanannya.
"Kevin... Aku sudah bersumpah di depan Ibukku untuk tidak merusak. Tapi kalau sampah seperti kalian yang menghalangi jalan, maka aku harus membersihkannya," ucap Guntur dengan nada bicara yang bergetar hebat.
Seketika, hawa dingin yang luar biasa menyelimuti area halte itu. Air hujan yang turun seolah-olah berhenti di udara sebelum menyentuh tubuh Guntur. Ini bukan lagi sekadar Ya Qowiyyu Ya Matiin, tapi ini adalah tingkatan tertinggi dari ilmu warisan kakeknya: Aji Naga Hitam.
DHUARRR!
Tanpa menyentuh, tekanan udara dari tubuh Guntur membuat tiga preman terdepan terpental hingga menghantam tiang listrik sampai pingsan. Guntur melesat seperti kilat hitam.
BUGH! BRAKK!
Hanya dengan gerakan tangan yang sangat minimalis, Guntur mematahkan serangan mereka satu per satu. Kevin yang melihat anak buahnya bertumbangan seperti daun kering mulai gemetar hebat. Payungnya jatuh ke aspal.
"A... Apa-apaan ini?! Kamu pakai sihir apa, Gembel?!" teriak Kevin ketakutan sambil mundur perlahan.
Guntur kini berdiri tepat di depan Kevin. Mata Guntur tidak lagi berwarna cokelat, melainkan berkilat keemasan di tengah kegelapan malam. Ia mencengkeram kerah baju Kevin dan mengangkat pria itu hanya dengan satu tangan.
"Harta keluargamu tidak bisa membelikanmu nyawa kedua, Kevin. Sampaikan pada keluarga Adeline... Naga yang mereka usir sedang bersiap meruntuhkan istana mereka!" ucap Guntur dingin.
Guntur menghempaskan Kevin ke dalam genangan air hujan hingga tak berdaya. Di saat yang sama, sebuah mobil sedan sport merah berhenti di kejauhan. Vanesha Adeline keluar dari mobil dengan wajah panik, namun ia terdiam membeku melihat Guntur yang berdiri gagah di tengah belasan preman yang terkapar.
Vanesha menyadari satu hal malam itu: Pria yang ia cintai bukan lagi sekadar tukang ojek yang lucu, melainkan seorang penguasa yang selama ini menyembunyikan taringnya di balik kesederhanaan.
"Guntur..." panggil Vanesha dengan suara bergetar.
Guntur menoleh, kilat di matanya meredup, kembali menjadi Guntur yang dikenal Vanesha. "Mbak V... Sampeyan nggak perlu takut. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai."
Kevin merangkak mundur di atas aspal yang banjir, wajahnya yang tadi sombong kini hancur dikuasai ketakutan luar biasa. Belasan anak buahnya yang berbadan raksasa sudah tidak ada yang berdiri; semuanya melintir dengan posisi tulang yang tidak masuk akal.
Guntur melangkah maju. Setiap kakinya menginjak genangan air, muncul suara berdesis seolah-olah air hujan itu mendidih karena hawa panas dari tubuhnya.
"Guntur! Berhenti! Kamu tahu siapa saya?! Ayah saya bisa menghancurkan hidupmu dalam semalam!" jerit Kevin sambil mencoba merogoh sesuatu dari balik saku jasnya.
SREEEET... BUGH!
Guntur melesat secepat kilat. Sebelum tangan Kevin sempat menyentuh benda di sakunya, kaki Guntur sudah mendarat telak di dada Kevin.
KRAAAKKKK!
Suara tulang rusuk yang patah terdengar sangat nyaring di tengah suara badai. Kevin terpental sejauh lima meter, menghantam badan mobil SUV-nya sendiri sampai penyok ke dalam.
DHUARRRR!
Kaca mobil itu pecah berantakan terkena benturan tubuh Kevin. PRANGGG! Serpihan kacanya menyayat kulit Kevin yang kini merintih seperti binatang sekarat. Guntur berjalan mendekat, ia meraih leher Kevin dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan satu tangan.
"Uangmu... jabatanmu... tidak bisa menghentikan tangan ini untuk meremukkan lehermu, Kevin," ucap Guntur dengan suara rendah yang sangat mengancam.
Tiba-tiba, seorang preman yang masih tersisa mencoba menyerang Guntur dari belakang dengan sebilah parang. Guntur bahkan tidak menoleh. Ia hanya mengibaskan tangan kirinya ke belakang dengan kekuatan penuh.
KREEEKKKK... PLAK!
Tangan preman itu patah seketika hanya karena hantaman angin dari gerakan tangan Guntur. Parang itu terbang dan menancap di aspal. Guntur kemudian membanting tubuh Kevin ke atas kap mesin mobil yang panas.
JEGAAARRRR!
Kap mesin mobil mewah seharga miliaran itu ringsek total membentuk lekukan tubuh Kevin. Asap mengepul keluar dari sela-sela mesin. Guntur mencengkeram tangan kanan Kevin—tangan yang tadi berani menunjuk-nunjuk wajahnya di mansion.
KREK... KREK... KREK...
Guntur mematahkan jari-jari Kevin satu per satu secara perlahan. Suara tulang jari yang remuk terdengar sangat menjijikkan, seperti kayu kering yang diinjak. Kevin menjerit histeris sampai suaranya hilang, matanya melotot hampir keluar menahan rasa sakit yang tidak manusiawi.
"Ini buat setiap tetes air mata Ibuku yang kau hina! Ini buat setiap tetes keringat Bapakku yang kau rendahkan!" bentak Guntur dengan aura membunuh yang begitu pekat.
Vanesha Adeline yang melihat dari kejauhan jatuh terduduk. Ia menutup mulutnya dengan tangan, gemetar hebat melihat pemandangan haus darah di depannya. Ia tidak pernah menyangka Guntur yang biasanya membetulkan ban motor sambil bercanda, bisa berubah menjadi "Iblis Pencabut Nyawa" saat kehormatannya diusik.
Guntur melepaskan Kevin yang kini sudah tidak berdaya, tergeletak lemas di tengah puing-puing mobil dan genangan darah. Guntur berdiri tegak, membiarkan hujan membersihkan sisa darah di tangannya yang berurat.
"Mbak V... masuk ke mobil. Jakarta akan menjadi saksi, bahwa Naga tidak akan diam saja saat sarangnya diinjak!" teriak Guntur membelah petir
Vanesha Adeline melangkah mendekat dengan kaki yang masih gemetar. Di sekelilingnya, suasana tampak seperti medan perang; mobil SUV yang hancur, asap yang mengepul dari mesin, dan tubuh-tubuh preman yang terkapar tak berdaya. Aroma darah bercampur bau aspal basah tercium sangat menyengat.
Guntur berdiri mematung membelakangi Vanesha. Kepalan tangannya perlahan mulai mengendur, tapi energi hitam masih terlihat tipis menyelimuti tubuhnya yang kekar.
"Guntur..." panggil Vanesha lirih.
Guntur menoleh perlahan. Sisa-sisa kilat keemasan di matanya membuat Vanesha sempat terkesiap mundur. "Mbak V... sampeyan lihat sendiri kan? Ini Guntur yang asli. Bukan pria lucu yang biasa sampeyan suruh-suruh. Apa sampeyan masih mau dekat dengan monster seperti saya?" tanya Guntur dengan suara berat yang serak.
Vanesha menatap dalam ke mata Guntur. Ia melihat kesedihan, kemarahan, tapi juga ketulusan yang luar biasa. Tanpa berkata-kata, Vanesha maju dan langsung memeluk punggung Guntur yang basah kuyup.
"Aku tidak peduli kamu monster atau bukan, Guntur. Kamu melakukan ini karena mereka menghina orang tuamu. Di mataku, kamu adalah pria paling jantan yang pernah aku temui," bisik Vanesha sambil menyandarkan kepalanya di punggung Guntur.
Tiba-tiba, dari arah puing mobil, seorang preman yang ternyata masih sadar mencoba meraih pistol yang terjatuh di aspal. Ia ingin menembak Vanesha dari belakang karena dendam.
SREEEKKK!
Guntur merasakan getaran bahaya itu tanpa menoleh. Dengan gerakan yang tidak masuk akal, ia memutar tubuhnya sambil menarik sebuah baut besar yang copot dari mesin mobil di dekatnya
WUUUUUTTT... JLEBBB!
Guntur melempar baut itu dengan kekuatan tenaga dalam. Baut itu melesat seperti peluru dan menancap tepat di tangan si preman sebelum ia sempat menarik pelatuk.
KRAAAKKKK... AAAARRGGHHH!
Suara tulang tangan yang pecah dihantam besi panas itu membuat si preman menjerit sesaat sebelum pingsan karena tekanan mental. Guntur berjalan mendekati Kevin yang masih merintih di genangan air, lalu menginjak dadanya pelan namun mematikan.
KREEEKKKK...
"Sampaikan pada Ayah Vanesha. Naga Hitam ini tidak butuh harta Adeline. Tapi mulai besok, saya yang akan menentukan siapa yang pantas berdiri di puncak Jakarta. Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!" bentak Guntur dengan suara yang menggetarkan kaca-kaca gedung di sekitarnya.
JEGAAARRRR!
Suara petir menyambar di langit seolah-olah mengamini sumpah Guntur. Kevin, dengan sisa tenaganya, merangkak pergi menjauh dari area halte itu, meninggalkan semua kemewahannya yang kini hancur.
Guntur kembali ke arah Vanesha, merogoh tasbih dari Ibu Siti di sakunya, lalu melilitkannya lagi ke tangan. "Mbak V, ayo pergi. Malam ini Jakarta sudah cukup berdarah. Besok, kita mulai babak baru. Saya akan buat semua orang yang menghina keluarga saya bersujud di depan rumah Sidoarjo!"
Vanesha mengangguk mantap, ia menggenggam tangan Guntur yang kasar dan penuh luka. Mereka masuk ke mobil merah Vanesha, meninggalkan kekacauan itu di belakang. Sang Naga telah benar-benar bangkit, dan tidak akan ada lagi yang bisa menghentikannya.