Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Rahasia di Ruang Bawah Tanah
Setelah kejadian teh yang menyedihkan itu, Aurelia jadi sering membawa peluit kayu pemberian Lucas ke mana-mana. Meski ia tidak berani meniupnya keras-keras karena takut ketahuan prajurit, benda itu menjadi jimat keberaniannya.
Beberapa hari kemudian, Lucas datang lagi. Kali ini ia tidak duduk di atas peti gandum, melainkan sedang jongkok di dekat saluran air kecil di samping gudang.
"Aurelia! Sini cepat!" panggil Lucas dengan suara berbisik yang tertahan.
Aurelia yang baru saja lepas dari pengawasan sepupunya, Princess Elara, langsung berlari menghampiri. "Ada apa, Lucas? Kamu nemu katak lagi?"
"Bukan! Lihat ini," Lucas menunjuk ke sebuah celah kecil di bawah tembok menara tua yang sudah jarang dilewati orang. "Aku kemarin melihat ada kucing istana masuk ke sini dan dia tidak keluar-keluar. Aku yakin ini jalan rahasia ke tempat penyimpanan harta atau mungkin dapur rahasia yang penuh roti enak!"
Mata Aurelia membelalak bulat. "Jalan rahasia? Tapi kata Ayah, menara ini angker. Katanya ada hantu pelayan yang suka narik kaki anak kecil yang nakal."
Lucas tertawa sampai giginya terlihat. "Hantu itu kan cuma bohong supaya kita tidak main ke sini! Kamu takut ya? Katanya mau jadi putri yang pemberani."
Aurelia mengerucutkan bibirnya. "Aku tidak takut! Ayo kita masuk!"
Dengan susah payah, mereka merangkak melewati celah sempit itu. Aurelia tidak peduli lagi kalau gaun merah mudanya terkena debu hitam. Di dalam, suasananya remang-remang dan dingin. Suara tetesan air terdengar bergema.
"Wah, tempat ini besar sekali!" bisik Aurelia sambil memegang ujung baju Lucas. "Lucas, kalau kita tersesat bagaimana? Nanti kita dimakan tikus raksasa?"
"Tenang saja, aku sudah bawa ini!" Lucas mengeluarkan sebuah korek api dan potongan lilin kecil dari sakunya. Begitu api menyala, ruangan itu terlihat lebih jelas. Ternyata itu adalah gudang senjata tua yang sudah berdebu.
"Lihat! Ada helm ksatria!" Lucas langsung berlari dan mencoba memakai salah satu helm yang sudah berkarat. Helm itu terlalu besar sampai menutupi seluruh wajah Lucas. "Halo? Aurelia? Aku tidak bisa lihat apa-apa! Gelap sekali di dalam sini!"
Aurelia tertawa terpingkal-pingkal melihat Lucas yang menabrak rak senjata karena matanya tertutup helm. "Kamu lucu sekali, Lucas! Kamu terlihat seperti kura-kura besi!"
Di tengah tawa mereka, Aurelia melihat sebuah peti kecil yang tidak terkunci. Di dalamnya ada banyak kelereng kaca yang sangat cantik dengan warna-warni di dalamnya.
"Lucas, lihat! Kelerengnya bagus sekali!" Aurelia mengambil satu dan mengarahkannya ke cahaya lilin. "Ini lebih bagus daripada perhiasan di kotak rias sepupuku. Elara pasti bakal iri kalau lihat ini."
"Wah, iya! Itu kelereng mata kucing," kata Lucas sambil melepas helmnya dengan susah payah. "Di pasar, anak-anak yang punya kelereng seperti itu dianggap paling hebat. Kita bawa beberapa ya? Buat main nanti."
"Boleh kah?" tanya Aurelia ragu.
"Boleh saja, ini kan barang lama yang dibuang. Anggap saja ini harta karun kita," jawab Lucas mantap.
Mereka duduk di lantai yang dingin itu, mengabaikan segala protokol istana. Mereka asyik menyusun kelereng-kelereng itu seolah-olah itu adalah pasukan perang. Bagi Aurelia, momen ini jauh lebih berharga daripada semua pelajaran sejarah yang diberikan gurunya.
"Lucas," tanya Aurelia sambil memainkan kelereng birunya. "Kalau nanti kamu sudah besar, kamu tetap mau ajak aku cari harta karun begini?"
Lucas berhenti menyusun kelerengnya. Ia menatap Aurelia dengan muka serius khas anak laki-laki. "Tentu saja! Nanti kalau aku sudah jadi kepala logistik, aku akan punya kunci semua pintu di kerajaan ini. Kita bisa masuk ke mana saja yang kita mau. Aku akan cari jalan rahasia yang lebih besar lagi, mungkin yang tembus sampai ke laut!"
"Janji ya?" Aurelia menyodorkan kelingkingnya lagi.
"Janji! Dan aku tidak akan biarkan prajurit atau pangeran sombong itu menangkap kita," balas Lucas sambil menautkan kelingkingnya yang belepotan debu hitam.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari arah tangga di atas mereka. Suara itu terdengar seperti sepatu bot prajurit yang sedang berpatroli.
"Gawat! Ada orang!" bisik Lucas. Ia cepat-cepat meniup lilinnya sampai padam.
Dalam kegelapan, mereka berdua saling berpegangan tangan, menahan napas sekuat tenaga. Jantung Aurelia berdegup kencang karena takut ketahuan, tapi di saat yang sama, ia merasa sangat senang. Petualangan ini membuatnya merasa benar-benar hidup.
Setelah suara langkah kaki itu menjauh, Lucas menarik tangan Aurelia. "Ayo cepat keluar lewat lubang tadi sebelum mereka balik lagi!"
Mereka merangkak keluar dengan terburu-buru. Saat sampai di luar, wajah mereka penuh coreng-moreng debu hitam, dan baju Aurelia sudah tidak berbentuk lagi.
"Lihat wajahmu! Kamu seperti kucing kecebur got!" ejek Lucas sambil tertawa pelan.
Aurelia melihat pantulan wajahnya di genangan air dan ikut tertawa. "Kamu juga! Kamu seperti pencuri arang!"
Meski nanti ia harus dimarahi habis-habisan oleh pengasuhnya karena baju yang kotor, Aurelia tidak peduli. Di saku gaunnya, ada dua butir kelereng mata kucing yang ia simpan sebagai bukti bahwa hari ini, ia bukan seorang putri yang kesepian, melainkan seorang petualang hebat bersama sahabatnya.
---