Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah Besar
Jenderal Jiang menghentikan kudanya, segera melompat turun dan berlari ke arah sosok itu.saat semakin dekat, langkah kakinya melambat.
Hang Si dan yang lain segera menghentikan kudanya dan menyusul, wajah mereka memucat saat melihat kondisi anak itu.
Wajah Hwang Zin pucat seperti mayat, bibirnya kering dan mengelupas, bagian atas tubuhnya terbuka dengan bekas darah yang membeku.
Jenderal Jiang bibirnya bergetar lembut. Dia mengulurkan tangan ke arah hidung anak itu – masih bernafas.
Mata Jiang Feng memerah dengan tangan agak gemetar dia melepas mantelnya untuk menutupi tubuh anak itu dan mencoba memanggilnya.
"...Zin.an!"
"Zin.an?!"
Tangan Jenderal gemetar saat menghapus darah di wajah pucat pemuda itu, suaranya terdengar serak. "...Zin.an.. bangunlah."
Mata yang tertutup terbuka perlahan. Hwang Zin tidak ingin memperdulikan pria ini dan hanya melihat langit biru di atasnya, berkedip dengan mata yang berat.
Apakah dia begitu baik hingga mati demi orang lain?
Dia benar-benar ingin tertawa saat ini.
Jenderal melihat anak itu tidak mengatakan apa-apa, hanya menatapnya dengan wajah sayu sebelum menutup matanya kembali.
Hatinya sangat tertekan – seolah anak itu melihatnya dengan lelah, seolah berkata
_Aku tidak akan bermain dengan mu lagi_
Mata Jenderal melebar, dia mengulurkan tangan untuk memeluk anak itu lalu segera menaiki kuda menuju barak!
_Tidak!_
Hang Si dan yang lain mengikuti tanpa berkata apa-apa, namun mata mereka juga memerah dan tangan mereka terkepal erat.
Lalu Satu hari berlalu, tiga hari berlalu... tujuh hari berlalu....
Saat Hwang Zin bangun, dia berada di klinik.Dia berbaring dengan wajah kosong beberapa saat sebelum mencoba untuk bangun.
Lukanya tidak terlalu menyakitkan, jadi dia segera berdiri dari ranjang dengan niat pergi. Namun tenda klinik terbuka dan angin dingin masuk ke dalam.
Hwang Zin berbalik melihat Jenderal beserta Hang Si dan yang lain berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut.
Song Wen segera menghampirinya dan menanyakan keadaan dengan cemas."...Zin.an, bagaimana keadaan mu?"
Hwang Zin dengan baju yang terbuka keluar melewatinya tanpa mengatakan apa-apa – bahkan tak melirik ke arah mereka sama sekali.
Semua orang membeku dengan mata menyusut.
Jiang Feng merasa kakinya menjadi dingin, dia mengigit daging pipinya hingga merasa sakit – menyadarkan dia bahwa Hwang Zin sepertinya benar-benar marah sekarang.
Hwang Zin berjalan keluar dengan langkah tegas.
Beberapa prajurit yang berlalu lalang melihatnya dan ingin menyapa, namun tertegun saat anak itu hanya melewati mereka begitu saja – seolah mereka adalah orang asing.
Hwang Zin kembali ke tendanya, mencopot tirai dalam tenda dan membuangnya keluar, lalu mulai mengemasi barang-barangnya.
Saat Jiang Feng, Song Wen, dan Hang Si berhasil menyusul, mereka melihat barang-barang yang dikeluarkan berserakan di depan tenda – perasaan tidak nyaman semakin menghampiri semua orang!
"Zin.an ...!" Song Wen berteriak di luar tanpa berani masuk, tanyanya penuh kekhawatiran.
"Apa yang kamu lakukan...?!" Tak ada jawaban, namun suara-suara di dalam menunjukkan anak itu mendengar mereka.
"Zin.an... aku minta maaf...!" teriak Hang Si dengan wajah pucat, bibirnya gemetar karena rasa bersalah. "Zin.an kami salah... maaf..."
Hang Si dan Song Wen jelas merasa sangat menyesal kenapa setuju akan rencana Jendral Jiang, yang mengakibatkan Hwang Zin terluka bahkan hampir mati.
Hwang Zin keluar dengan tas kura-kura di tangan kirinya. Luka yang mulai berkeropeng tampaknya terbuka kembali – darah menembus kasa dengan cepat terlihat mata telanjang.
Wajah Jiang Feng berubah jelek, dia mendekatinya dengan cemas dan marah."Jangan mengangkat benda seberat itu, lukamu-"
Tangannya terulur namun ditampar dengan kuat.Plak!
Mata semua orang melebar. Punggung tangan Jiang Feng memerah, namun pria itu hanya melihat pemuda di depannya dengan tubuh kaku.
"...Lukamu... bisa terbuka..."ucapnya dengan suara serak.
Hwang Zin sangat dingin,dia tak perduli pada ketiganya dan pergi dengan luka yang terbuka – bahkan tak memakai bajunya dengan benar.
Jiang Feng tidak tahan melihatnya dan mengikuti dari belakang dengan jarak aman, tak ingin membuat anak itu semakin marah."....Zin.an mau kemana? Luka mu terbuka, ayo kita obati dulu..."
"Hang Si, bukankah anda ingin saya memaafkan mu ..." Hwang Zin tak menjawab Jenderal, justru menanya pada Hang Si yang juga mengikutinya.
"Zin.an...." Hang Si merasa tak nyaman ,anak ini biasanya memanggilnya saudara Hang tapi sekarang,Dia ingin berkata sesuatu namun anak itu menyela.
"Ambilkan aku kuda...."
"Tidak...!" bantah Jiang Feng dengan marah, mencengkram tangan anak itu dan merebut tasnya lalu melemparkannya pada Hang Si.
Hang Si menangkap tas dengan terhuyung, Song Wen segera membantunya menahannya.
"Simpan tasnya!" ucap Jenderal dengan wajah dingin sebelum menarik lengan Hwang Zin yg tak terluka menuju tendanya.
Alis Hwang Zin mengerut semakin dalam.
Saat masuk ke tenda, nafas Jiang Feng terasa berat, matanya merah dan mengigit bibirnya dengan kuat.
Hwang Zin melihat pundak pria itu gemetar tanpa berkata apa-apa, menepis tangannya lalu berjalan ke atas ranjang sang Jendral dan duduk di sana tanpa ekspresi.
Jiang Feng melihatnya lalu berjalan di depannya – bang! dia berlutut dengan wajah pucat dan bibir berdarah.
"Zin.an.. maafkan aku oke...." Dia memohon pengampunan, tahu bahwa dirinya salah – seharusnya tidak berbohong dan membahayakan nyawa anak itu.
"Hwang zin..." Jenderal menyentuh tangan anak itu namun ditepis. Bibirnya bergetar karena penolakan, matanya meredup. "Jangan lakukan hal itu lagi oke... Jangan menyakiti dirimu sendiri..."
Hwang Zin menunduk untuk melihatnya dengan wajah tenang. "Aku akan pergi besok..."
Mata Jiang Feng melebar, dia mendongak dengan wajah tidak percaya. Kenapa dia masih ingin pergi!
Kenapa dia masih ingin meninggalkannya!
"Tidak! Zin.an apa kamu tak mengerti! Jangan lakukan ini padaku... tolong...!" ucapnya dengan rasa sakit di matanya.
Hwang Zin merasa Jiang Feng sangat menyedihkan namun juga kejam.
"Apa kau gila..."Dia mengangkat kaki untuk menendang lengannya – Jiang Feng yang tidak waspada dan lengah jatuh ke belakang, namun dengan keahlian beladiri dia dengan sigap menahan kaki Hwang Zin.
Dengan gerakan cepat, Jenderal memeluk pinggang anak itu. Hwang Zin mendengus saat bahu pria ini memukul dadanya yang terluka.
Melihat dia membuat kesalahan lagi, Jiang Feng panik dan menjauhkan tubuhnya sedikit, melihatnya dengan marah dan cemas."Zin.an..!"
Hwang Zin mengambil tangan yang menahan pinggangnya. "Lepaskan bajingan!"
"....Panggil Dokter Fei kemari!" teriak Jenderal marah sambil tetap menahannya – sama sekali tidak berniat melepaskan.
Hwang Zin melihatnya dengan mata menyipit penuh niat membunuh. "Lepaskan..."
"Kita obati lukanya dulu...!" tolaknya dengan keras kepala, takut anak ini akan membuat kondisinya semakin buruk.
Dokter Fei datang ke tenda dengan wajah pucat, namun kakinya lemas saat melihat Jendral berlutut di sisi kaki Hwang Zin, memeluk anak itu dengan posesif.
Wajah Hwang Zin semakin pucat namun tanpa emosi apapun.
".....Kenapa kau tidak segera melihat lukanya!"teriak Jenderal marah membuat Dokter Fei memucat dan berlari ke arah mereka.
Jiang Feng akhirnya melepaskannya dan menyisihkan diri, namun tetap berdiri di sisinya dengan posesif mengawasi.
Dokter Fei membuka perban dan melihat luka yang hampir sembuh telah robek kembali. Dia mendongak melihat wajah anak itu yang tanpa ekspresi sama sekali – ditusuk sedalam itu tapi mengapa dia tidak menunjukkan rasa sakit?
Sekarang luka kembali terbuka, merah, bengkak, dan mengeluarkan darah. Namun Hwang Zin seperti boneka hidup tanpa rasa.
Hal ini membuat Jiang Feng marah, tak berdaya, sedih, dan terluka – tapi Hwang Zin tak menunjukkan sedikit pun rasa sakit bahkan saat obat dioleskan pada lukanya.
Dokter Fei mengobati dengan cepat dan segera diusir keluar oleh Jenderal, menyisakan mereka berdua di dalam tenda.
"Kamu istirahatlah disini, jangan berniat untuk keluar...!" perintahnya dengan marah sebelum pergi keluar dengan wajah gelap.
Namun siapa Hwang Zin – tak lama setelah pria itu pergi, dia merasa lukanya tidak terlalu sakit lagi dan berdiri untuk keluar.
Namun wajah Hwang Zin segera menjadi dingin. "Apa yang kalian lakukan?"
Dua kenalan berdiri kokoh di depan tenda sebagai penghalang.
"Tuan meminta kami untuk tidak membiarkan anda keluar ..." jawab Hang Si dengan wajah pucat.
Saudara Peng melihatnya dengan khawatir."..Zin.an tetaplah didalam, luka mu bisa terbuka lagi..."
Hwang Zin tertawa dengan marah. "....Jadi apa dia menahanku? Apakah dia memasukkan ku dalam tahanan rumah..!"
"Tidak! Zin.an jangan salah paham!" Hang Si melambaikan tangannya dengan panik.
"....Jika dia tidak menahanku, apa yang kalian lakukan sekarang!?" teriaknya kehabisan kesabaran.
Keduanya tak bisa menjawab dan menundukkan kepala.
Semua orang di barak tahu bahwa Hwang Zin hampir mati untuk menyelamatkan nyawa semua orang dari aksi pembunuhan Qun'er.
Selama ini mereka salah paham padanya, menuduhnya egois dan pencemburu – padahal anak ini sudah tahu wajah asli gadis itu dan mencoba memberi tahu mereka agar tidak tertipu.
Tapi mereka buta....
Hwang Zin tak bisa pergi jadi duduk di dalam tenda dengan wajah segelap arang. Pria ini terlalu mendominasi, posesif, dan bodoh!
Dia mengetuk secara membabi buta.
"Zin.an!" Paman Dong masuk dengan nampan makan. Hwang Zin berdiri menyambutnya dengan semangat. "Paman....!"
"Kamu.. kamu baik-baik saja?" mata pria tua itu memerah, dia menaruh nampan di meja."...Ayo kamu harus makan..."
"Duduklah...." Hwang Zin menarik pria tua itu duduk di kursi tenda. Paman Dong menepuk-nepuk tangannya dengan rasa lega.
"....Kamu hampir membuat ku mati ketakutan saat Jendral membawamu kembali – tubuhmu penuh darah, wajah mu pucat dan sedingin es.... Paman Dong benar-benar ketakutan saat melihatnya.
Dia melihat Anak itu masih menendang dan bernafas beberapa saat lalu, tapi mengapa dalam sekejap semua berubah?
Hwang Zin koma selama 7 hari sebelum bangun hari ini.