NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jawab

Malam itu tidak berakhir dengan ketegangan, melainkan dengan tawa kecil Laila yang menyelinap di antara suara jangkrik dari taman belakang. Zayn, dengan segala pembawaannya yang angkuh namun protektif, berhasil membuat Laila merasa bahwa badai di rumah Gion hanyalah sekadar gangguan cuaca ringan di aplikasi ponselnya.

​"Zayn, serius. 'Amunisi' itu maksudnya sepatu hak tinggi sepuluh senti ini?" Laila menunjuk tas belanja yang masih tergeletak di sofa teras. "Kalau Gion datang dan aku pakai ini, yang ada aku malah pegal duluan sebelum sempat bicara."

​Zayn tertawa pelan, suaranya berat dan menenangkan. "Sepatu itu bukan buat jalan jauh, Laila. Itu buat berdiri tegak. Biar kalau dia datang sambil berlutut dan menangis, sudut pandangmu ke dia itu dari ketinggian yang sangat jauh. Secara harfiah dan kiasan."

​"Kamu ini dendam banget ya sama dia?" Laila menggelengkan kepala, tapi senyumnya tak bisa sembunyi.

​"Aku tidak dendam pada semut, Laila. Aku hanya memastikan semut itu tidak menggigit kakimu lagi," jawab Zayn santai sambil menyesap sisa teh melatinya yang sudah dingin. "Ayo masuk, udara makin lembap. Kamu tidak mau kan besok hidungmu merah karena flu saat bertemu katering?"

​Keesokan Paginya

​Pukul sepuluh tepat. Laila turun dari mobil dengan gaun terusan berwarna champagne yang simpel namun jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Sepatu yang disebut Zayn sebagai 'amunisi' itu berbunyi klik-klak tegas di lantai marmer lobby. Di sampingnya, Zayn berjalan dengan tangan santai di saku celana kainnya, tanpa jas, hanya kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku.

​"Ingat, kalau dia muncul, jangan langsung pasang muka kasihan," bisik Zayn tepat di telinga Laila saat mereka berjalan menuju restoran hotel.

​"Dia beneran bakal ke sini? Kamu tahu dari mana?"

​"Asistenku, Leo, itu lebih hebat dari agen intelijen mana pun. Gion sudah menunggu di parkiran sejak satu jam lalu. Dia sedang latihan akting di depan spion mobilnya, kurasa," Zayn terkekeh sinis.

​Benar saja. Baru saja mereka melewati pintu kaca besar restoran, sesosok pria dengan kemeja yang agak kusut dan rambut yang tidak serapi biasanya berlari kecil mencegat mereka. Itu Gion. Wajahnya tampak kusam, kontras dengan kilau lampu kristal hotel.

​"Laila! Tunggu!" teriak Gion. Beberapa tamu hotel menoleh dengan risi.

​Laila menghentikan langkahnya. Jantungnya sempat berdegup kencang—kebiasaan lama—tapi kemudian ia merasakan tangan Zayn hinggap dengan posesif di pinggangnya. Sentuhan itu hangat, seolah menyalurkan keberanian instan.

​"Gion? Sedang apa kamu di sini?" tanya Laila. Suaranya datar, jauh lebih stabil dari yang ia bayangkan.

​"Laila, aku mohon... dengarkan aku sebentar saja. Mama masuk rumah sakit semalam, tekanan darahnya naik drastis," Gion memulai dramanya dengan napas tersengal. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau memang sengaja dikucek agar terlihat dramatis.

​Zayn menyela dengan nada yang sangat sopan namun mematikan. "Oh, rumah sakit mana? Kebetulan aku kenal banyak direktur rumah sakit di Jakarta. Mau kupesankan kamar VIP? Atau sekalian aku kirimkan dokter spesialis saraf agar Mama Ratih tidak perlu stres memikirkan cicilan motormu lagi?"

​Wajah Gion menegang. "Ini urusan aku sama Laila, Malik! Kamu jangan ikut campur!"

​"Zayn calon suamiku, Gion. Jadi ini urusannya juga," sahut Laila cepat. Ia sendiri kaget dengan keberaniannya. "Kalau Mama sakit, kenapa kamu malah di sini? Bukannya jaga di RS?"

​Gion gagap. "Aku... aku mau minta maaf, Lai. Aku khilaf soal yang kemarin-kemarin. Tolong, bilang sama vendor-vendor itu buat balik lagi. Kantor aku terancam bangkrut kalau materialnya nggak masuk minggu ini. Kamu kan tahu, itu satu-satunya harapan kita... maksudku, harapanku buat masa depan."

​"Masa depanmu, bukan masa depan kita," Laila mengoreksi dengan tenang. "Dulu aku mungkin bakal nangis dengar cerita ini, Gion. Tapi sekarang aku sadar, setiap kali kamu butuh uang atau bantuan proyek, Mama selalu mendadak sakit. Apa polanya harus selalu sama?"

​Zayn tersenyum tipis, tampak bangga pada Laila. Ia melirik jam tangan Patek Philippe-nya. "Dua menit lagi pihak katering datang, Sayang. Apa kita mau membuang waktu untuk mendengarkan naskah sinetron yang sudah basi ini?"

​"Laila! Kamu tega? Kamu berubah sejak kenal cowok sombong ini!" Gion berteriak, mulai kehilangan kendali karena usahanya gagal. "Dia cuma manfaatin kamu! Dia cuma mau pamer!"

​Zayn melangkah maju satu tindak, membuat Gion refleks mundur. Meskipun Zayn lebih santai, postur tubuhnya yang atletis dan tatapannya yang tajam membuat Gion tampak kecil.

​"Begini, Gion. Aku beri kamu satu tips bisnis gratis," ujar Zayn dengan nada meremehkan. "Jangan pernah mencoba menipu orang yang sudah memberimu segalanya. Karena saat mereka berhenti memberi, mereka tidak hanya menarik dukungan, tapi juga menarik harga dirimu. Laila sudah memberikan tahun-tahun terbaiknya untukmu, dan kamu menyia-nyiakannya untuk kesenangan sendiri. Sekarang, tagihannya sudah jatuh tempo."

​Zayn merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam emas. Ia menjepitnya dengan dua jari dan memberikannya pada Gion.

​"Hubungi nomer di situ. Itu kantorku. Bilang kamu mau melamar jadi kurir logistik. Mungkin dengan begitu, kamu bisa belajar bagaimana cara mengantar barang tepat waktu tanpa harus mengemis pada mantan pacar."

​Wajah Gion memerah padam. Ia merasa dihina di tempat umum. "Sialan kamu, Malik!"

​"Sama-sama. Dan oh, satu lagi," tambah Zayn sambil merangkul bahu Laila dengan mesra. "Berhenti kirim pesan ke Laila. Ponselnya sudah kuganti, dan nomer lamanya sudah aku buang ke tempat yang seharusnya: tempat sampah. Sama seperti kenangannya tentangmu."

​Setelah Gion diusir oleh petugas keamanan hotel karena mulai berteriak-teriak tidak jelas, Zayn dan Laila akhirnya duduk di pojok restoran yang privat. Laila mengembuskan napas panjang, bahunya merosot rileks.

​"Gila. Aku tidak percaya aku baru saja bicara begitu," kata Laila sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.

​Zayn terkekeh, memesankan dua gelas iced latte untuk mereka. "Kamu hebat, Lai. Kamu tidak goyah sedikit pun saat dia bawa-bawa nama Mamanya."

​"Itu karena aku tahu kamu pasti sudah mengeceknya, kan?" Laila menatap Zayn penuh selidik. "Mama Ratih beneran sakit tidak?"

​Zayn menyesap minumannya dengan tenang. "Dia di rumah, kok. Sedang asyik menonton gosip pagi sambil makan gorengan. Aku sudah kirim orang buat memastikan. Tekanan darahnya mungkin naik, tapi itu karena dia kalah main arisan, bukan karena memikirkanmu."

​Laila tertawa lepas. "Kamu benar-benar menyeramkan, Zayn. Kamu tahu segalanya."

​"Aku hanya tidak suka kejutan yang tidak menyenangkan," jawab Zayn kalem. "Nah, sekarang lupakan si drama king itu. Lihat ini, menu kateringnya. Kamu lebih suka salmon dengan saus lemon atau wagyu dengan truffle?"

​Laila melihat daftar menu mewah di depannya, lalu menatap Zayn. "Boleh aku jujur?"

​"Apapun buat kamu."

​"Aku lebih suka kalau nanti di resepsi ada pojokan yang jual bakso abang-abang. Biar tamu-tamu sombongmu itu tahu rasanya makanan enak yang sesungguhnya."

​Zayn terdiam sejenak, lalu tawa maskulinnya meledak, memicu beberapa tamu lain menoleh penasaran. "Bakso? Di Grand Ballroom? Laila, kamu benar-benar akan membuat ibuku pingsan karena kaget."

​"Tapi kamu setuju, kan?" goda Laila.

​Zayn meraih tangan Laila, mengecupnya lembut di depan manajer restoran yang baru saja datang membawa tester makanan. "Selama yang makan baksonya itu kamu, aku akan beli satu pabrik baksonya sekalian kalau perlu. Tapi dengan satu syarat."

​"Apa?"

​"Kamu harus menyuapiku satu butir. Karena aku tidak mau pamer kemewahan lagi, aku mau pamer betapa bahagianya aku punya istri yang seleranya merakyat tapi kelasnya ningrat."

​Laila tersipu. Di antara aroma kopi mahal dan gemerlap hotel bintang lima, ia menyadari satu hal: bersandar pada orang yang tepat tidak membuatnya lemah, justru membuatnya merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi dunia.

​"Jadi," Zayn menyandarkan punggungnya ke kursi, "siap memilih warna dekorasi, atau mau kita bahas soal rencana 'pengasingan' Gion ke luar kota agar dia tidak mengacaukan pesta kita?"

​"Zayn! Biarkan dia tenang!"

​"Oke, oke. Tapi kalau dia muncul lagi, aku tidak akan pakai kartu nama. Aku akan pakai pengacara. Setuju?"

​"Setuju," jawab Laila mantap.

1
merry
bagi lh satu tas mu lai🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭kn bnykk tuu
de banyantree: boleh kk🤭🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!