NovelToon NovelToon
Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Takdir Tiga Darah Volume 1: Deru Di Balik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Kutukan / Misteri
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Dara Kirana terpaksa meninggalkan gemerlap kota untuk menetap di kaki Gunung Marapi yang selalu diselimuti kabut misterius, namun kepindahannya justru menyeretnya ke tengah pusaran rahasia kuno yang mematikan. Saat nyawanya terancam oleh insiden tak wajar di tengah hutan hujan yang lebat, sesosok pemuda dingin dan tertutup bernama Indra Bagaskara muncul menyelamatkannya dengan kekuatan yang melampaui logika manusia. Di tengah aroma tanah basah dan desas-desus tentang legenda manusia harimau yang mulai menjadi nyata, Dara menyadari bahwa ketertarikannya pada Indra bukan sekadar romansa biasa, melainkan awal dari kebangkitan darah "Pawang" dalam dirinya yang ditakdirkan untuk menjinakkan sang penguasa rimba sebelum sisi binatangnya mengambil alih kesadaran manusianya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Penebusan Sang Betina dan Taklukknya Sang Raja

​Adrenalin membakar setiap pembuluh darah di tubuh Dara Kirana. Rasa takut yang sedari tadi meremukkan paru-parunya menguap, digantikan oleh sebuah kehendak murni yang meledak dari dasar jiwanya.

​Di hadapannya, seekor serigala betina raksasa—Gendis, gadis yang paling membencinya—terkapar bersimbah darah demi melindunginya. Dan di atas tubuh serigala itu, seorang tentara mayat hidup kolonial mengangkat bayonet berkaratnya, bersiap untuk memberikan tusukan mematikan yang kedua.

​“Jadilah pipa penyalur. Biarkan energi bumi yang bekerja,” instruksi Kakek Danu bergema di kepalanya.

​Dara tidak menarik energinya sendiri. Ia menghentakkan kakinya ke aspal yang dingin, menyerap Napas Akar dari kedalaman Gunung Marapi dalam satu tarikan napas yang sangat rakus. Segel kelopak bunga di telapak tangan kanannya meledak dengan pendar cahaya biru benderang yang menyilaukan mata, menerangi kabut kelabu di sekitarnya layaknya suar suci.

​Dengan kecepatan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri, Dara menerjang maju.

​Tepat saat Marsose Darah itu mengayunkan bayonetnya ke arah leher Gendis, Dara menabrakkan telapak tangan kanannya yang berpendar terang langsung ke dada mayat hidup tersebut.

​BLAAAAAAAASH!

​Suara desisan keras terdengar, menyerupai daging yang dilemparkan ke atas wajan baja yang menyala.

​Tentara vampir itu memekik, sebuah suara mekanis tanpa pita suara yang menggetarkan udara. Energi kehidupan murni dari Napas Akar menembus seragam militernya yang lapuk, membakar dada pualamnya layaknya asam sulfat. Radiasi kemurnian itu menolak kutukan keabadian sang Marsose. Mayat hidup itu terlempar ke belakang, bergulingan di atas aspal dengan dada yang berlubang dan berasap hitam.

​Namun, Dara tidak punya waktu untuk merayakan keberhasilannya.

​Dua Marsose lainnya, yang sedari tadi berdiri mengawasi, kini memutar pandangan mereka sepenuhnya pada Dara. Mata merah darah mereka menyipit. Mereka mengenali bahaya dari cahaya biru tersebut. Dalam gerakan yang serempak dan sangat terkoordinasi, kedua mesin pembunuh itu melesat maju untuk mengeksekusi Sang Pawang.

​Dara menarik napas, memusatkan radar spasialnya ke tanah aspal, mempraktikkan pelajaran menghindar dari Maya Bagaskara.

​Kanan!

​Dara menjatuhkan tubuhnya ke arah kanan tepat sebelum bayonet dari Marsose pertama membelah udara di tempat kepalanya berada sedetik yang lalu. Namun, Marsose kedua sudah memprediksi gerakannya. Tentara pucat itu mengayunkan gagang senapannya dari bawah, mengincar tulang rusuk Dara.

​Dara tidak bisa menghindar lagi. Kaki manusianya tidak cukup cepat. Ia hanya bisa menyilangkan kedua lengannya di depan dada, memadatkan energi birunya sebagai perisai penahan benturan.

​Namun, hantaman itu tidak pernah tiba.

​Sebuah lolongan memekakkan telinga merobek kabut sore, diikuti oleh auman harimau yang membuat aspal jalanan bergetar hebat.

​Dari arah belakang Dara, sebuah siluet raksasa berwarna merah marun melesat melampaui tubuh gadis itu. Bumi Arka. Sang Alpha Serigala tidak berwujud manusia, tidak juga berwujud serigala penuh. Ia berada dalam mode Half-Shift yang sangat mematikan. Otot-ototnya menggembung merobek kemejanya, rahangnya dipenuhi taring buas, dan cakar-cakarnya memanjang.

​Bumi menerjang Marsose kedua, menabraknya dengan kekuatan sebuah truk yang melaju kencang. Serigala muda itu tidak menggunakan teknik; ia menggunakan kebuasan murni. Ia menindih mayat hidup itu ke aspal dan mulai menghujamkan cakarnya bertubi-tubi ke wajah dan leher sang vampir, mencabiknya hingga hancur berkeping-keping.

​Di saat yang hampir bersamaan, suhu udara melonjak drastis, seolah seseorang baru saja membuka pintu tungku pembakaran raksasa.

​Indra Bagaskara tiba.

​Pewaris Cindaku itu bergerak layaknya kilat panas. Ia memosisikan dirinya tepat di depan Dara, menjadi benteng absolut yang tak tertembus. Saat Marsose pertama mencoba menusuknya dengan bayonet, Indra menangkap bilah besi berkarat itu dengan tangan kosongnya. Uap mendidih menyembur dari telapak tangannya, melelehkan dan mematahkan logam itu seolah itu hanyalah ranting rapuh.

​Marsose itu terdiam kaku. Di detik berikutnya, Indra mengayunkan cakar obsidian hitam legamnya yang bersuhu ratusan derajat secara horizontal.

​SYRRAAAKK!

​Kepala tentara mayat hidup itu terputus dari lehernya dengan irisan yang sangat rapi dan hangus terbakar. Tubuh tanpa kepala itu ambruk, menjadi abu kehitaman sebelum menyentuh aspal.

​Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, ketiga Marsose Darah elit itu telah dimusnahkan.

​Kabut perlahan-lahan mulai menipis, seolah energi gelap yang menahannya telah menguap. Hening kembali mengambil alih, hanya diselingi oleh deru napas berat dari para predator.

​Dara terengah-engah, lututnya akhirnya goyah. Ia jatuh terduduk di aspal, menatap Indra dan Bumi yang berdiri menjulang melindunginya. Kedua pemuda itu telah tiba tepat pada waktunya.

​Bumi mengibaskan sisa abu hitam dari cakarnya. Pendar merah di matanya perlahan meredup saat ia menarik kembali transformasi liarnya, kembali ke wujud manusiawinya. Namun, ekspresi wajah Alpha muda itu sama sekali tidak lega. Matanya terkunci pada sosok serigala betina yang terkapar bersimbah darah di aspal.

​Bumi melangkah mendekati Gendis. Penciuman tajam Sang Alpha langsung bekerja. Ia mencium bau darah Gendis, bau luka racun perak dari Marsose, dan... bau sapu tangan Dara yang berlumuran darah serigala di dahan pohon tak jauh dari sana.

​Otak Bumi yang cerdas langsung menyusun kepingan teka-teki itu dalam sekejap. Begu tidak akan turun ke jalan raya tanpa dipancing. Marsose Darah tidak akan berpatroli sejauh ini tanpa mengikuti jejak kekacauan.

​"Apa yang kau lakukan, Gendis?" suara Bumi terdengar sangat rendah, bergetar oleh amarah yang membekukan darah. Ia berlutut di sebelah serigala betina itu.

​Gendis, yang kondisinya semakin kritis akibat racun vampir yang menyebar di nadinya, perlahan-lahan kehilangan wujud serigala raksasanya. Tulang-tulangnya menyusut, bulu-bulunya menghilang, mengembalikannya ke wujud seorang gadis remaja yang terluka parah. Pakaiannya robek, dan darah hitam pekat mengalir dari luka tusukan dalam di paha kanannya. Urat-urat keunguan mulai merambat naik menuju perutnya.

​Bumi segera melepas kaus hitamnya yang tersisa, menyisakan tubuh atletisnya yang telanjang dada, dan menutupi tubuh Gendis yang terekspos.

​"Alpha..." rintih Gendis, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang sawo matang. Rasa sakit dari racun itu menggerogoti sarafnya, namun rasa bersalah di dadanya jauh lebih menyakitkan. "Maafkan aku... aku... aku yang memancing Begu itu... aku hanya ingin menakutinya agar dia pergi..."

​Rahang Bumi mengeras. Urat di lehernya menonjol keras. Kemarahannya sebagai Alpha yang kawanannya melakukan makar bertabrakan hebat dengan rasa kasihannya melihat anggotanya sekarat.

​"Kau mempertaruhkan nyawa kawananku, nyawa Dara, dan nyawamu sendiri demi egomu yang kerdil?!" bentak Bumi, suaranya pecah oleh frustrasi. "Kau melanggar perintahku, Gendis! Kau tahu apa hukuman bagi serigala yang berkhianat!"

​Gendis terisak pelan, memejamkan matanya, pasrah menerima kematiannya. Racun Marsose itu akan membunuhnya dalam beberapa menit. "Biarkan aku mati, Bumi... aku pantas mendapatkannya..."

​"Minggir."

​Sebuah suara tegas dan absolut memotong kemarahan Bumi.

​Dara merangkak maju, mendorong bahu Bumi agar menyingkir. Gadis manusia itu tidak memedulikan darah hitam yang mengotori aspal. Ia menempatkan dirinya tepat di atas luka tusukan di paha Gendis.

​"Dara, apa yang kau lakukan? Gadis ini baru saja mencoba membunuhmu secara tidak langsung!" cegah Bumi, menahan lengan Dara.

​Dara menepis tangan Bumi dengan tatapan tajam. "Dia memang melakukan hal bodoh. Tapi dia juga melompat dari tebing itu untuk melindungiku saat Marsose itu datang. Dia mengorbankan nyawanya untuk memperbaiki kesalahannya."

​Dara menatap Gendis yang memandangnya dengan mata setengah terbuka, penuh ketidakpercayaan.

​Tanpa ragu, Dara menempelkan kedua telapak tangannya langsung ke atas luka yang membusuk itu. Ia kembali menarik Napas Akar, membiarkan energi bumi mengalir deras melalui tubuhnya. Pendar biru benderang menyala, mengirimkan gelombang kesejukan es ke dalam jaringan daging Gendis yang terbakar racun.

​Gendis menjerit tertahan saat proses purifikasi terjadi. Asap kehitaman mengepul dari lukanya, berbau seperti belerang dan daging mati. Racun mematikan itu dipaksa mundur, dibekukan oleh energi kehidupan murni Sang Ratu Penengah.

​Dara tidak melepaskan tangannya. Keringat membasahi dahinya, wajahnya memucat karena ia menggunakan energi bumi secara besar-besaran, namun ia menolak menyerah. Perlahan-lahan, urat-urat ungu di kulit Gendis memudar. Luka hitam itu kembali memerah, darah segar menggantikan darah busuk, dan kecepatan regenerasi alami sel serigala Gendis kembali mengambil alih.

​Dara menarik tangannya dengan napas terengah-engah. Ia berhasil.

​Gendis membuka matanya sepenuhnya. Rasa sakit yang menyiksanya telah menguap. Ia menatap Dara, gadis fana yang baru saja ia caci maki dan ia celakai, yang kini justru memberikan nyawanya kembali. Dinding kebencian di dalam dada serigala betina itu runtuh seketika, hancur berkeping-keping oleh kemurnian hati yang tidak pernah ia pahami sebelumnya.

​"Kenapa..." bisik Gendis parau, air mata penyesalan membanjiri wajahnya. "Kenapa kau menyelamatkanku? Aku membencimu."

​Dara mengusap peluh di dahinya, lalu memaksakan sebuah senyum lelah namun tulus. "Kita sedang berada di ambang perang, Gendis. Willem sedang membangunkan pasukannya. Aku butuh serigala betina yang tangguh di pihakku, bukan serigala yang mati karena kebodohannya sendiri."

​Gendis terisak keras. Ia meraih tangan Dara yang bersimbah darahnya sendiri, dan menempelkan punggung tangan gadis fana itu ke keningnya—sebuah gestur penundukan mutlak dari seekor serigala kepada pemimpinnya.

​"Nyawaku... mulai detik ini adalah milikmu, Ratu Penengah," isak Gendis, bersumpah dengan tulus dari relung jiwanya yang terdalam. "Aku akan menjadi bayanganmu. Aku akan menebus pengkhianatanku."

​Bumi menatap pemandangan itu dalam diam. Kemarahan di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kekaguman yang tak terhingga. Dara tidak hanya menundukkan musuhnya; ia mengubah musuhnya menjadi pengikut yang paling loyal. Itulah kekuatan sejati dari Darah Penengah.

​Namun, momen penebusan itu terpotong oleh suara erangan berat dari arah belakang.

​Bumi dan Dara serempak menoleh.

​Indra Bagaskara berlutut di atas aspal dengan satu kaki menopang berat tubuhnya. Pemuda Cindaku itu memegangi dadanya dengan tangan yang gemetar. Suhu udara di sekitar Indra mendadak tidak stabil, melonjak naik lalu turun secara drastis. Mata hazelnya berkedip liar, sesekali menyala emas terang, lalu kembali meredup. Uap panas mengepul tebal dari kerah seragamnya.

​Harimau di dalam dada Indra sedang mengamuk.

​"Indra!" Dara melupakan rasa lelahnya dan segera berlari menghampiri pemuda itu.

​Indra mengangkat tangannya, mengisyaratkan Dara untuk berhenti. "J-jangan mendekat... Dara," geram Indra, suaranya pecah, bercampur dengan geraman binatang buas. Urat-urat di lehernya menonjol berwarna hitam.

​Sindrom Kecanduan (Withdrawal) yang ditahannya sejak siang tadi di lorong sekolah kini meledak sepenuhnya. Pemicunya bukan hanya ketiadaan penawar, melainkan karena Indra memaksakan dirinya untuk melesat dengan kecepatan penuh dari balai adat Utara menuju jalan ini begitu penciumannya menangkap aroma darah Dara dan Marsose. Ia menggunakan sisa-sisa kewarasannya untuk membantai tentara vampir itu, dan kini, bendungannya telah hancur.

​"Aku... aku tidak bisa menahannya lagi," erang Indra, mencengkeram aspal hingga kuku-kukunya kembali memanjang menjadi cakar obsidian. "Insting ini... ia menyuruhku membunuh siapa pun yang ada di dekatmu. Lari, Dara... sebelum aku merobekmu."

​Dara membeku. Ia bisa merasakan hawa panas yang luar biasa mengerikan memancar dari tubuh pemuda itu. Ini bukan panas perlindungan; ini adalah panas pemusnahan. Jika Indra lepas kendali di sini, ia tidak hanya akan membunuh Bumi dan Gendis, tapi juga Santi yang masih pingsan.

​Bumi berdiri, perlahan melangkah menempatkan tubuhnya di antara Indra dan Gendis. Namun, Alpha muda itu tidak memasang kuda-kuda menyerang. Ia menatap Indra dengan pandangan yang penuh beban dan pemahaman.

​Bumi telah melihat pengorbanan yang dilakukan Indra hari ini. Harimau putih itu rela tersiksa oleh sindromnya sendiri agar tidak melukai manusia di sekolah. Ia berlari menembus batas wilayah demi menyelamatkan Dara.

​Sebagai seorang pemimpin, Bumi tahu kapan harus bertarung, dan kapan harus menekan egonya demi sekutu yang dibutuhkan dalam perang.

​"Bumi..." Dara menatap pemuda serigala itu dengan panik, takut Bumi akan menyerang.

​Namun, Bumi justru menatap Dara dengan tatapan yang sangat lembut namun tegas. Ia mengangguk pelan.

​"Tenangkan dia, Dara," titah Bumi, suaranya tenang, menunjukkan otoritas Alpha yang bijaksana. "Harimau itu membutuhkan penawarnya, dan hanya kau yang bisa memberikannya. Lakukan tugasmu sebagai Pawang."

​Dara menelan ludah. Ia merasakan dukungan mutlak dari Bumi.

​Tanpa ragu lagi, Dara memanggil sisa-sisa Napas Akar di tubuhnya. Pendar biru kembali menyala, meski tidak seterang sebelumnya, namun cukup untuk memancarkan aura es yang menenangkan.

​Dara menerobos hawa panas yang menyengat kulit wajahnya. Ia berlutut di hadapan Indra, mengabaikan cakar obsidian pemuda itu yang bergetar hanya beberapa sentimeter dari perutnya.

​Dengan gerakan penuh kelembutan, Dara menangkup kedua pipi Indra yang basah oleh keringat dingin. Ia menempelkan dahinya ke dahi sang Cindaku, membiarkan hidung mereka bersentuhan.

​Dssssshh...

​Riak energi dingin menyapu masuk ke dalam pikiran Indra, memadamkan api yang membakar kewarasannya layaknya hujan lebat yang menyiram padang gurun gersang.

​Tubuh besar Indra seketika melemas. Erangannya terputus. Pemuda itu memejamkan mata rapat-rapat, mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti rintihan kelegaan yang luar biasa. Ia menjatuhkan beban tubuhnya ke depan, memeluk pinggang Dara erat-erat, membenamkan wajahnya di lekukan leher gadis fana itu.

​Cakar-cakarnya menyusut. Suhu tubuhnya kembali normal. Di dalam pelukan Dara, sang Raja Hutan yang paling ditakuti di Lembah Marapi takluk sepenuhnya, berubah menjadi seorang pemuda rapuh yang baru saja diselamatkan dari kegilaannya sendiri.

​"Aku di sini, Indra. Kau aman," bisik Dara, mengusap lembut rambut hitam pemuda itu, mengalirkan sisa energi birunya untuk menstabilkan detak jantung Indra.

​Di latar belakang, kabut mulai tersapu oleh angin malam yang bersih. Bumi berdiri dalam diam, mengawasi area sekitar untuk memastikan tidak ada lagi mayat hidup yang mengintai. Di sebelahnya, Gendis yang telah dibalut kaus Bumi bersandar lemah pada batang pohon, menatap Dara dengan penuh rasa hormat.

​Hari ini, batas-batas antara Cindaku, Ajag, dan Manusia telah kabur. Darah telah tumpah, ego telah dihancurkan, dan dari puing-puing perselisihan itu, sebuah ikatan persaudaraan yang tak akan bisa dipatahkan oleh Willem van Deventer baru saja lahir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!