NovelToon NovelToon
The Dancer And The Night King

The Dancer And The Night King

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.​Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.​Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.​Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.​Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tarian Terakhir

​Malam itu, Sydney Opera House tampak seperti berlian raksasa yang terapung di atas perairan gelap Port Jackson. Lampu-lampu sorot eksterior memantulkan kemilau putih yang angkuh, namun di balik dinding-dinding ikonik itu, sebuah drama tentang kepemilikan dan perpisahan sedang mencapai puncaknya.

​Di dalam ruang ganti utama, atmosfer terasa begitu dingin hingga bulu kuduk para asisten panggung meremang. Elang Dirgantara berdiri di sudut ruangan, kedua tangannya bersedekap di dada, matanya yang tajam tidak sedetik pun beralih dari sosok Laras yang sedang dipasangi mahkota kecil bertahtakan safir. Elang tidak lagi bicara. Kehadirannya yang dominan sudah cukup untuk membungkam siapa pun. Ia adalah bayangan yang nyata, memastikan bahwa setiap inci kulit Laras yang akan dipamerkan di atas panggung adalah atas seizinnya.

​Laras menatap pantulannya di cermin. Riasannya malam ini lebih dramatis dari biasanya—garis mata yang tajam dan bibir merah yang menyala, namun tatapannya kosong. Di bawah kostum sutra tipisnya, ia masih bisa merasakan sisa hangat cengkeraman Elang dari perdebatan mereka semalam. Ia tahu, setelah tirai ditutup malam ini, kehidupannya sebagai seniman publik akan berakhir. Ia akan menjadi koleksi pribadi yang paling mahal dalam sejarah hidup seorang Elang Dirgantara.

​"Lima menit, Nona Laras," suara asisten panggung memecah kesunyian.

​Elang melangkah maju. Ia memberi isyarat agar para perias keluar. Kini hanya ada mereka berdua. Elang meraih tangan Laras, mencium punggung tangannya dengan khidmat, lalu beralih membisikkan sesuatu di dekat telinga wanita itu.

​"Menarilah seolah-olah dunia ini hanya berisi aku dan kamu, Laras. Tunjukkan pada mereka keindahan yang hanya milikku, agar mereka tahu apa yang akan mereka rindukan selamanya."

​Laras tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Elang menuntunnya menuju sayap panggung. Di sana, Amy dan tim keamanan sudah membentuk barikade, memastikan tidak ada orang luar, termasuk Julian, yang bisa mendekati Laras sebelum atau sesudah pementasan.

*

​Musik mulai mengalun. Sebuah komposisi orkestra yang megah namun sarat akan melankolis. Laras melangkah ke tengah panggung, disambut oleh kegelapan auditorium yang dipenuhi ribuan penonton. Namun baginya, auditorium itu kosong. Satu-satunya energi yang ia rasakan adalah tatapan Elang dari balik tirai sayap panggung.

​Laras mulai bergerak. Tarian "Cakrawala" yang seharusnya melambangkan kebebasan, malam itu berubah makna di bawah jemari dan gerak tubuh Laras. Setiap lompatan yang ia lakukan terasa seperti upaya putus asa untuk menggapai langit yang semakin menjauh. Setiap putaran pirouette-nya tampak seperti pusaran emosi yang mencekik.

​Penonton terdiam. Ada sesuatu yang berbeda dari penampilan Laras kali ini. Bukan sekadar teknik yang sempurna, melainkan sebuah kejujuran yang menyakitkan. Laras menari dengan air mata yang mulai mengalir, membasahi pipinya yang dipulas glitter. Ia menarikan rasa sakitnya, obsesi Elang yang mengepungnya, dan cintanya yang telah bermutasi menjadi penjara.

​Puncaknya, saat bagian akhir musik yang mendayu-dayu, Laras menjatuhkan dirinya ke lantai panggung dengan gerakan yang sangat lembut namun terasa hancur. Ia merentangkan tangannya ke arah penonton, seolah sedang mengucapkan selamat tinggal pada dunia luar yang selama ini ia puja.

​Saat musik berhenti, keheningan total menyelimuti Opera House selama beberapa detik yang terasa abadi. Kemudian, ledakan tepuk tangan dan standing ovation membahana. Ribuan orang berdiri, bersorak, dan melemparkan bunga mawar ke panggung. Mereka tidak tahu bahwa mereka baru saja menyaksikan upacara pemakaman karir seorang penari hebat.

​Di balik tirai, Elang berdiri dengan rahang mengeras. Ia tidak ikut bertepuk tangan. Ia hanya menatap Laras dengan kepuasan yang mengerikan. Baginya, tangisan Laras di panggung adalah bukti bahwa wanita itu telah benar-benar hancur dan siap untuk dibentuk kembali sepenuhnya di bawah tangannya.

​*

​Belum sempat Laras menikmati sisa napasnya di panggung, Elang sudah melangkah maju dan menariknya masuk ke balik tirai sebelum buket bunga terakhir menyentuh lantai.

​"Kita pergi sekarang," perintah Elang pendek.

​"Tapi, Elang... mereka masih memanggil namaku. Aku harus memberikan penghormatan terakhir—"

​"Tidak ada penghormatan lagi. Kamu sudah memberikan mereka cukup," Elang memberi kode pada Amy.

​Laras segera diselubungi oleh jubah hitam panjang untuk menutupi kostum tarinya. Tim keamanan mulai menggiringnya menuju pintu keluar belakang yang tersembunyi, menjauh dari kerumunan media yang sudah menunggu di lobi utama. Mereka bergerak cepat menyusuri lorong-lorong gelap teater menuju area parkir bawah tanah di mana iring-iringan SUV hitam sudah bersiaga dengan mesin menyala.

​Namun, tepat saat mereka mencapai pintu keluar terakhir, sebuah mobil taksi berwarna kuning berhenti mendadak, menghalangi jalan SUV utama Elang.

​Para pengawal Elang segera bersiap dengan posisi defensif, namun Elang mengangkat tangannya, memerintahkan mereka untuk menahan diri. Pintu taksi terbuka, dan seorang wanita turun dengan napas terengah-engah, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan dan kekhawatiran yang luar biasa.

​"Maya?" Laras terpekik, suaranya pecah.

1
falea sezi
laras tak ubah nya jalang. bego bgt qm. laras mau. ma. laki celup. sana sini
Indryana Imaniar
woou awal yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!