Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi itu, suasana Jakarta terasa sedikit lebih bersahabat dari biasanya. Sebuah mobil sedan hitam dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat beberapa meter sebelum gerbang utama rumah sakit. Elvano sengaja tidak berhenti tepat di depan lobi demi menjaga privasi sang istri yang hingga saat ini masih menjadi rahasia terbesar bagi publik.
“Ingat, hubungi aku jika ada sesuatu. Jangan pulang sendirian sebelum Darian atau supir menjemputmu,” ujar Elvano sambil menatap Selena yang tengah bersiap turun. Suaranya terdengar protektif, ciri khas seorang CEO yang terbiasa mengendalikan keadaan.
Selena tersenyum, lalu meraih tangan suaminya untuk berpamitan. “Aku mengerti, El. Kamu juga jangan terlalu lelah di kantor. Sampai jumpa nanti malam,” jawab Selena lembut sebelum akhirnya keluar dan menghilang di balik kerumunan orang di lobi rumah sakit.
Begitu Selena melangkah masuk ke ruang prakteknya, ia sudah disambut oleh Dira yang tampak sangat gelisah. Asistennya itu bahkan tidak bisa duduk diam di kursinya. Begitu pintu tertutup rapat, Dira langsung menghambur ke arah Selena dengan mata berbinar-binar.
“Dokter! Ya ampun, akhirnya Dokter masuk juga! Bagaimana? Bagaimana rasanya menjadi Nyonya Alvendra? Bagaimana rasanya bangun tidur dan wajah pertama yang Dokter lihat adalah wajah tampan Elvano?” rentetan pertanyaan itu keluar dari mulut Dira tanpa jeda.
Selena hanya bisa menggelengkan kepala sambil meletakkan tasnya di atas meja kerja.
“Dira, kamu ini benar-benar tidak bisa menahan rasa penasaranmu ya?” sahut Selena sambil tersenyum simpul.
“Tentu saja tidak bisa, Dok! Sampai detik ini pun aku masih merasa seperti sedang berada di dalam mimpi. Menjadi saksi pernikahan rahasia seorang superstar global... rasanya aku ingin berteriak ke seluruh dunia, tapi aku tahu aku harus menjaga amanah Dokter,” tutur Dira sambil memegang dadanya seolah sedang menahan kehebohan yang meledak-ledak.
Selena tertawa kecil melihat tingkah laku asistennya itu. Ia segera memakai jas putihnya, mencoba kembali ke mode profesional.
“Sudah, simpan dulu rasa kagetmu. Hari ini jadwalku apa saja? Kita harus fokus bekerja karena pasien sudah menunggu,” perintah Selena dengan nada yang lebih tegas namun tetap ramah.
Dira langsung mengubah posisinya menjadi tegak, tangan kanannya memberi hormat layaknya prajurit.
“Siap, Dokter Sunshine! Jadwal hari ini cukup padat, ada tiga pasien diet diabetes dan satu sesi konsultasi nutrisi anak pukul sepuluh nanti,” lapor Dira dengan semangat yang kembali membara.
Di sisi lain kota, sebuah mobil Rolls-Royce hitam memasuki area parkir khusus gedung Zenithra Entertainment. Elvano melangkah keluar dengan aura kepemimpinan yang absolut. Mengenakan setelan jas formal yang sangat pas di tubuhnya, ia berjalan menyusuri koridor kantor sambil mengangguk tipis pada setiap karyawan yang menyapanya.
Darian sudah menunggu di depan pintu lift dengan senyum jahil yang sudah menjadi ciri khasnya. Begitu pintu lift tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua, Darian langsung berdehem kencang.
“Sepertinya ada yang auranya sedang bersinar pagi ini. Apa efek pengantin baru membuat kopi pahit pun terasa manis, Bos?” goda Darian sambil melirik Elvano dari sudut matanya.
Elvano hanya memberikan tatapan tajam yang dingin, membuat Darian seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menggerakkan tangan seolah sedang menarik resleting di mulutnya.
Begitu sampai di ruang kerja CEO yang kedap suara, Elvano menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Ia membuka beberapa dokumen yang sudah tersusun rapi di mejanya.
“Darian, bagaimana agenda pagi ini?” tanya Elvano, kembali ke mode profesionalnya sebagai pemimpin Zenithra.
Darian segera membuka tabletnya. “Hari ini tim kreatif sedang melakukan diskusi mendalam mengenai naskah film baru yang akan dibintangi oleh Max. Genrenya thriller-action, persis seperti yang kamu minta untuk mengubah citra Max menjadi lebih dewasa,” jelas Darian.
Elvano mengetukkan jarinya di atas meja marmer miliknya. “Apa diskusinya sudah berjalan? Pastikan semua detail kontrak dan klausul privasi sudah disepakati sebelum kita melangkah lebih jauh,” tanya Elvano dengan nada tanpa ekspresi.
“Sudah berjalan, El. Semuanya terkendali. Tim produser akan segera memberikan laporannya padamu sebelum makan siang nanti,” jawab Darian dengan nada yang kini jauh lebih serius.
Elvano mengangguk mengerti.
**
Lampu sorot studio akting Zenithra Entertainment masih menyala terang, memantulkan bayangan Max yang sedang beradu argumen dengan bayangannya sendiri di depan cermin raksasa. Keringat membasahi kaos hitam yang ia kenakan, menunjukkan betapa seriusnya ia mendalami skrip barunya. Max adalah salah satu aset berharga di bawah naungan Elvano, dan ia tidak pernah main-main dalam urusan totalitas.
Suara langkah kaki yang terburu-buru memecah keheningan studio. Bram, manajer Max, masuk dengan napas sedikit tersengal namun wajahnya tampak lega sambil membawa tumpukan dokumen.
“Latihanmu sudah cukup untuk sore ini, Max. Aku punya berita bagus,” ujar Bram sambil meletakkan dokumen itu di atas meja kecil.
Max menghentikan gerakannya, mengambil botol air mineral dan meneguknya hingga tersisa separuh.
“Diskusi dengan tim produksi sudah selesai?” tanya Max dengan suara serak.
Bram mengangguk antusias. “Sudah. Semuanya berjalan mulus. Genre thriller-action yang kau incar itu sudah dikunci. Kabar baiknya lagi, Pak Elvano secara pribadi sudah memberikan lampu hijau. Beliau setuju kau mengambil peran ini,” jelas Bram.
Mendengar nama Elvano disebut, Max sedikit merasa tenang. Jika sang CEO sekaligus aktor jenius itu sudah setuju, berarti naskah ini memang memiliki potensi besar untuk menjadi masterpiece. Namun, Max melihat ada keraguan di wajah Bram.
“Kenapa wajahmu begitu? Ada syarat tambahan?” tanya Max curiga.
Bram menghela napas pendek sebelum menjawab. “Ada tuntutan fisik dari sutradara. Kau tahu kan, karakter ini adalah seorang mantan agen yang hidup dalam pelarian dan penuh penderitaan emosional? Sutradara ingin kau terlihat lebih dewasa, lebih macho, tapi dengan postur yang lebih kering. Intinya, kau harus menguruskan badan dalam waktu singkat demi peran ini,” papar Bram hati-hati.
Max terdiam sejenak, menatap otot lengannya yang selama ini ia bentuk di gym. “Diet ekstrem?” tanya Max pendek.
“Bukan diet asal-asalan, Max. Pak Elvano tidak mau artisnya jatuh sakit hanya karena tuntutan peran. Beliau perfeksionis soal kesehatan timnya,” sahut Bram cepat. “Karena itu, aku sudah mendaftarkan namamu untuk berkonsultasi dengan ahli nutrisi terbaik di Rumah Sakit Internasional Medika. Kita butuh pengawasan medis agar berat badanmu turun tapi tenagamu tetap terjaga untuk adegan aksi nanti.”
Max menganggukkan kepalanya pelan. Sebagai aktor yang menganut paham method acting, ia paham betul bahwa tubuh adalah alat kerjanya. Jika ia harus terlihat kurus dan menderita demi sebuah peran legendaris, ia akan melakukannya.
“Kapan waktu konsultasinya?” tanya Max sambil menyambar handuk kecil untuk menyeka keringat di lehernya.
“Besok pagi. Aku sudah mengatur jadwal paling awal agar tidak bentrok dengan jadwal latihanmu yang lain,” jawab Bram sambil memeriksa kalender digital di ponselnya.
“Baiklah. Kabari aku jam berapa tepatnya. Aku akan datang tepat waktu,” ucap Max tegas.
“Aman.” Bram mengacungkan jempolnya.
**
Di balik meja marmer hitam yang luas, Elvano Alvendra baru saja melepaskan kancing jasnya untuk merasa sedikit lebih rileks. Matanya tertuju pada sebuah rantang berbahan stainless steel yang tampak sangat kontras dengan perangkat teknologi canggih di sekelilingnya.
Ponsel di atas meja bergetar, menampilkan nama yang seketika melunakkan rahang tegas pria itu.
“Bagaimana, El? Paket makan siangnya sudah mendarat di mejamu?” tanya Selena di ujung telepon. Suaranya terdengar ceria, khas Dr. Sunshine yang selalu punya energi cadangan di tengah sif rumah sakit yang padat.
Elvano mengulas senyum tipis—jenis senyum yang tidak akan pernah ia perlihatkan di depan kamera manapun. Ia meraih rantang itu, membukanya perlahan, dan mencium aroma tumis sayuran segar dan protein yang diatur sedemikian rupa sesuai standar nutrisi.
“Sudah sampai dengan selamat tanpa cacat, Dokter Selena,” jawab Elvano, suaranya rendah dan hangat.
Selena tertawa kecil, suara yang selalu berhasil membuat Elvano merasa tidak lagi sendirian di puncak kesuksesannya.
“Baguslah. Aku harap kamu menikmatinya. Oh iya, sore ini aku akan langsung pulang ke rumah. Ada jadwal live streaming untuk edukasi meal prep mingguan.”
Elvano mengangguk pelan, seolah Selena bisa melihatnya. “Aku mengerti. Nanti aku akan menyusul ke rumah setelah urusan dengan tim produksi selesai. Jangan memaksakan diri jika kamu lelah, live streaming bisa dijadwal ulang.”
“Tidak bisa, El. Followers-ku sudah menunggu menu diet penyakit untuk diabetes minggu ini. Ini tanggung jawab profesional,” sanggah Selena lembut namun tegas. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Ngomong-ngomong, kamu mau makan malam apa nanti? Aku akan belanja bahan-bahannya sekalian pulang.”
Elvano menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, matanya menatap langit Jakarta dari jendela kaca besar di ruangannya.
“Apapun itu, asalkan kamu yang masak.”
Terdengar helaan napas kecil dari seberang telepon, diiringi nada menggoda. “Wah, sejak kapan aktor dingin ini pandai sekali meluncurkan rayuan di jam kerja?”
“Tidak masalah, bukan? Selama yang aku goda adalah istriku sendiri,” balas Elvano tenang, menikmati kemenangan kecil dalam percakapan itu.
“Baiklah..baiklah suamiku. Sampai jumpa di rumah!” tutup Selena sebelum mengakhiri panggilan.
Elvano meletakkan ponselnya dan mulai mencicipi masakan Selena.
***