NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Gang itu sempit dan diapit oleh bangunan-bangunan apartemen tua yang jarak antar balkonnya begitu dekat, seolah-olah para tetangga di sana bisa saling berjabat tangan dari jendela masing-masing. Felysha Anindhita berjalan perlahan, sol sepatunya mengeluarkan bunyi klik yang tajam setiap kali menghantam permukaan batu jalanan yang tidak rata. Di sini, kebisingan jalan besar Paris terdengar sangat jauh, digantikan oleh suara sayup-sayup denting piring dari sebuah dapur di lantai atas dan bunyi angin yang terjebak di antara lorong-lorong batu.

Langkah Felysha terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna biru pudar yang permukaannya sudah mulai mengelupas di bagian bawah. Di atas pintu itu, tergantung sebuah papan kayu berbentuk oval dengan tulisan L'Art du Café dalam huruf emas yang sudah agak kusam. Cahaya kuning yang hangat memancar dari jendela kaca kecil di samping pintu, memperlihatkan suasana interior yang tampak begitu sunyi dan tenang. Felysha menempelkan telapak tangannya pada permukaan pintu kayu itu, merasakan tekstur serat kayu yang kasar dan dingin sebelum akhirnya ia mendorongnya perlahan.

Sebuah bel kecil yang terpasang di atas pintu berdenting dengan nada tinggi yang jernih, mengumumkan kedatangannya ke seluruh ruangan. Felysha melangkah masuk, dan seketika itu juga, aroma kopi yang pekat dan hangat menyerbu indra penciumannya. Aroma itu bercampur dengan wangi kayu manis dan sisa aroma kayu terbakar dari perapian kecil di sudut ruangan. Ia menutup pintu di belakangnya, membiarkan bunyi klik kunci yang halus memutus aliran udara dingin dari luar.

Interior kedai itu jauh lebih kecil daripada yang ia bayangkan. Hanya ada empat meja kayu bundar yang permukaannya sudah dipenuhi bekas-bekas goresan waktu, dikelilingi oleh kursi-kursi rotan yang tampak sangat nyaman. Di sepanjang salah satu dinding, terdapat rak buku kayu yang menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh buku-buku bersampul kulit dan tumpukan majalah seni yang sudah menguning. Lantainya terbuat dari kayu ek yang akan berderit pelan setiap kali ada orang yang berjalan di atasnya.

Felysha berjalan mendekati konter kayu yang tinggi di bagian belakang. Di atas konter itu, terdapat sebuah mesin espresso manual berukuran besar yang terbuat dari kuningan mengkilap, tampak seperti sebuah peninggalan dari masa lalu yang masih berfungsi dengan baik. Beberapa stoples kaca berisi biji kopi dari berbagai belahan dunia berjejer rapi di rak belakang, masing-masing memiliki label tulisan tangan yang rapi. Felysha memperhatikan detail label-label itu—Sumatra Mandheling, Ethiopia Yirgacheffe, Colombia Supremo.

"Selamat sore," ucap Felysha dengan suara yang pelan, hampir ragu. Ia menoleh ke sekeliling, namun ia tidak melihat siapa pun di balik konter. Hanya ada suara musik jazz instrumental yang diputar dengan volume rendah dari sebuah pemutar piringan hitam di dekat rak buku.

Ia menunggu selama beberapa saat, kedua tangannya meremas tali tas sketsanya. Suasana di dalam kedai ini begitu berbeda dengan kafe-kafe modern di Champs-Élysées yang selalu bising dengan suara mesin dan percakapan orang-orang dalam berbagai bahasa. Di sini, waktu seolah-olah berjalan lebih lambat. Felysha bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang mulai tenang. Ia berjalan menuju meja di pojok ruangan, meja yang paling dekat dengan jendela besar yang menghadap ke gang sepi tadi.

Ia meletakkan tas sketsanya di atas kursi sebelah, lalu duduk perlahan. Permukaan meja kayu itu terasa dingin saat ia menyentuhnya dengan ujung jari. Ia memperhatikan butiran debu yang menari di bawah sorotan lampu gantung di tengah ruangan. Di tempat ini, ia merasa identitasnya sebagai "calon istri Julian" atau "mahasiswi berprestasi" perlahan-lahan memudar. Ia hanyalah seorang pengunjung yang sedang mencari kehangatan.

Felysha membuka buku sketsanya, namun ia tidak berniat menggambar. Ia hanya ingin merasakan tekstur kertasnya di bawah telapak tangannya. Ia melihat ke arah mesin espresso lagi, mengamati uap tipis yang sesekali keluar dari lubang pembuangannya. Ia membayangkan rasa kopi hitam yang pahit namun menenangkan mengalir di tenggorokannya. Ia sudah tidak memikirkan Andre yang mungkin sedang panik mencarinya, atau pesan-pesan Julian yang mungkin akan membanjiri ponselnya beberapa menit lagi.

Terdengar suara langkah kaki yang berat dari arah pintu belakang yang tertutup tirai kain tebal. Felysha segera merapikan posisi duduknya, bersiap untuk memesan minumannya. Ia menunduk sebentar, merapikan letak syalnya yang sedikit berantakan. Ia tidak ingin barista kedai ini melihat plester di lehernya dan mulai bertanya-tanya.

"Bisa saya bantu, Mademoiselle?"

Suara itu terdengar sangat rendah, memiliki nada bariton yang familiar namun terasa asing di tempat seperti ini. Felysha tidak segera mengangkat kepalanya. Ia masih sibuk merapikan ujung bukunya. Namun, ada sesuatu dalam aksen dan intonasi suara itu yang membuatnya merasa seolah-olah baru saja tersengat listrik kecil. Ia merasa udara di sekelilingnya tiba-tiba menjadi lebih padat.

Felysha perlahan mengangkat kepalanya. Pandangannya melewati permukaan konter kayu, naik ke arah apron kain berwarna cokelat tua yang menutupi kemeja putih seorang pria, hingga akhirnya berhenti tepat di wajah pria yang berdiri di sana. Pria itu sedang memegang selembar kain lap bersih, tangannya membeku di udara saat matanya bertemu dengan mata Felysha.

Rahang pria itu mengeras seketika. Matanya yang tadi tampak tenang saat menyapa, kini melebar karena rasa terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan. Di bawah pencahayaan lampu kuning kedai yang hangat, garis-garis wajah pria itu tampak begitu jelas—rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan mata hitam yang tajam yang pernah ia lihat di bawah sorotan lampu taman beberapa malam yang lalu.

Felysha merasa suaranya tertahan di pangkal tenggorokan. Ia mencengkeram pinggiran meja kayu itu hingga buku-buku jarinya memutih. Ingatannya tentang malam kejadian pencopetan itu berputar cepat seperti roll film yang diputar paksa. Suara langkah kaki, tarikan tas yang kasar, rasa perih di leher, dan kemudian... sosok pria yang muncul dari kegelapan untuk memberikan saputangan putih.

Pria yang berdiri di balik konter kopi itu bukan lagi pria misterius dengan jaket denim yang berjalan di gang gelap. Ia adalah pria yang kini mengenakan apron, dengan aroma biji kopi yang menempel di tubuhnya. Pria yang malam itu menghilang begitu saja setelah mengantarnya sampai ke depan gerbang apartemen tanpa menyebutkan nama lengkapnya.

"Ma... Mahesa?" bisik Felysha lirih, suaranya nyaris tidak terdengar di antara alunan musik jazz.

Mahesa tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Felysha dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara keterkejutan, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam yang tidak bisa Felysha pahami. Mahesa menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun dengan cepat. Tangannya yang memegang kain lap meremas kain itu hingga kuku-kukunya memerah. Ia seolah-olah baru saja melihat hantu dari masa lalunya yang belum selesai ia kubur.

Kesunyian di antara mereka berlangsung begitu lama, seolah-olah waktu di dalam L'Art du Café benar-benar telah berhenti. Felysha merasakan getaran hebat menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. Ia menemukan Mahesa. Atau lebih tepatnya, takdir baru saja menyeretnya masuk ke dalam gang paling sunyi di Paris hanya untuk mempertemukannya kembali dengan pria yang menyelamatkannya—pria yang kini berdiri mematung di balik mesin kopi, menatapnya seolah-olah Felysha adalah ancaman paling besar dalam hidupnya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!