NovelToon NovelToon
Tak Setara

Tak Setara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Tidak Perlu Mencintainya

"Arka." Suara itu terdengar dari ujung meja makan.

Arka yang semula fokus pada makanannya langsung menghentikan gerakannya. Ia mengangkat kepala, menatap wanita yang duduk dengan posisi tegak dan anggun di hadapannya.

Ibunya.

Perempuan itu tidak meninggikan suara, namun ada tekanan halus di setiap katanya yang membuat suasana berubah.

Sendok yang beradu dengan piring perlahan mereda.

Hening yang tadi terasa biasa, kini berubah menjadi sesuatu yang menekan.

"Kamu harus segera menyelesaikan urusan bisnis mu." Tatapannya fokus pada steak yang ia potong.

"Tanggal pernikahan kalian semakin dekat. Jadi kamu harus beristirahat sejenak."

Arka menghentikan sendoknya.

"Aku tahu apa yang harus kulakukan."

Wanita itu tidak langsung menatapnya.

Pisau di tangannya tetap bergerak memotong steak dengan rapi, seolah percakapan itu hanyalah hal kecil.

"Mama hanya ingin memastikan, kali ini kamu tidak egois lagi."

Arka mengangkat pandangannya.

Kali ini, tatapannya langsung tertuju pada ibunya.

"Lalu.. apakah tindakan mama tidak egois?"

Wanita itu tersenyum tipis.

Bukan senyuman hangat—

melainkan senyuman yang lebih menyerupai penilaian.

“Egois?” ulangnya pelan.

“Mama tidak sedang memikirkan diri Mama sendiri, Arka.”

Tatapannya lurus, tak tergoyahkan.

“Mama hanya memastikan kamu tidak membuat keputusan yang akan kamu sesali seumur hidupmu.”

Arka mengepal jarinya di bawah meja.

"Beberapa waktu yang lalu, Valerie menghubungi mama." Wanita itu meraih gelas kemudian meminumnya.

"Dia bilang.. sikapmu padanya kurang baik."

Arka memejamkan mata sesaat, kemudian menghela nafasnya.

Seolah ketika nama itu disebut, membuatnya ingin menghindar—bukan karena tidak peduli, tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk terus terjebak di dalamnya.

Arka membuka matanya, tatapannya kosong sejenak sebelum akhirnya kembali fokus.

“Aku tidak pernah bersikap buruk.”

Suaranya rendah.

“Aku hanya tidak pernah menjadi seperti yang dia inginkan.”

Wanita itu menatap Arka dengan tegas.

"Kenapa? Karena kamu tidak mencintainya?"

Arka hanya diam, tidak menjawab.

Wanita itu kini menatap Arka tanpa emosi.

“Kamu tidak perlu mencintainya.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

“Kamu hanya perlu menikahinya.”

Arka menatap ibunya tanpa ekspresi apapun.

Kamu tidak perlu mencintainya.

Kamu hanya perlu menikahinya.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana.

Seolah semua hal bisa diselesaikan tanpa harus melibatkan perasaan.

Dan anehnya…

itu bukan sesuatu yang asing bagi Arka.

Selama ini, ia memang hidup dengan cara seperti itu.

Mengambil keputusan tanpa ragu.

Menjalani semuanya tanpa perlu mempertanyakan apa yang ia rasakan.

Seharusnya… kali ini pun sama.

Namun entah kenapa, pikirannya justru tidak setenang biasanya.

Arka menatap kosong ke depan, jemarinya saling bertaut tanpa sadar.

Ia bisa saja menurut.

Menikah.

Menyelesaikan semuanya seperti yang diharapkan.

Hidupnya akan tetap berjalan.

Teratur dan sempurna.

Seperti yang selalu diinginkan semua orang.

Tapi…

Bayangan itu kembali muncul.

Wajah Aluna.

Tatapan itu.

Cara perempuan itu hadir tanpa pernah meminta apa pun darinya.

Arka memejamkan mata sejenak.

Kalau semua ini memang semudah itu—

lalu kenapa ia tidak bisa merasa lega?

Kenapa justru ada sesuatu yang terasa hilang…

bahkan sebelum semuanya benar-benar terjadi?

Napasnya tertahan pelan.

Ia benci perasaan ini.

Ragu, sesuatu yang selama ini tidak pernah menjadi bagian dari dirinya.

Namun sekarang,

ia justru terjebak di dalamnya.

Melangkah maju terasa salah.

Melangkah mundur pun tidak terasa benar.

Dan untuk pertama kalinya…

Arka tidak tahu

pilihan mana yang benar-benar harus ia ambil.

...***...

Setelah mengetahui Aluna mengandung anak darinya.

Arka mulai lebih memperhatikan setiap detail perempuan itu.

Setiap hari di meja kerja Aluna, selalu ada kiriman makanan.

Pria itu tidak ingin melihat Aluna semakin kurus, ia ingin memastikan bahwa Aluna selalu makan.

Ia tidak lagi mengganggunya dengan tumpukan revisi, Arka kini mulai menyerahkan tugas Aluna kepada Revan—Yang memang semestinya.

Setiap hari, tepat di jam makan, kiriman itu selalu datang.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah terlewat.

Makanan hangat, dengan menu yang berbeda—namun perhatian yang sama.

Aluna tidak pernah benar-benar diminta untuk menghabiskannya.

Tapi dari semua itu… ia tahu.

Arka hanya ingin memastikan ia tetap baik-baik saja,

dengan cara sederhana yang tidak pernah ia ucapkan langsung.

Melihat perhatian kecil dari Arka, Aluna mulai merasa percaya—perlahan.

Kepercayaan itu tumbuh diam-diam, seperti sesuatu yang ia rawat tanpa ia sadari.

Dan bersamanya, Aluna perlahan kembali menjadi dirinya yang dulu.

Senyumnya mulai kembali, meski belum sepenuhnya utuh.

Tawanya terdengar lagi, meski masih diselingi ragu.

Tapi setidaknya…

ia tidak lagi terasa kosong.

Kadang-kadang di sela waktu senggangnya, Arka menyempatkan dirinya untuk mendatangi Aluna ke kos.

Walau hanya sekedar melihat wajahnya—Itu cukup membuat rasa lelahnya hilang.

"Aluna, entah kenapa akhir-akhir ini.. aku merasa khawatir dengan keadaan mu."

Arka menatap perempuan yang tengah memakan martabak.

"Khawatir kenapa?" suaranya tidak terdengar jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.

"Kamu sendirian disini, apalagi kamu sedang hamil. Aku takut terjadi apa-apa."

Arka mengambil air minum dan memberikannya pada Aluna.

Aluna meneguk air dalam botol.

"Pak Arka tenang saja.. saya aman."

Arka mengepalkan tangannya pelan.

Ia tidak suka melihat ini.

Tidak suka melihat Aluna berada di tempat seperti ini—sendirian, dalam keadaan seperti sekarang.

Seharusnya ia bisa melakukan lebih.

Tapi justru itu yang membuatnya terdiam.

Karena semakin ia ingin melindungi…

semakin ia sadar—

ia tidak tahu batasnya harus berhenti di mana.

Arka menatap langit-langit kamar itu.

Pikirannya masih seputar keputusan apa yang akan ia ambil.

Ia menoleh sekali lagi pada perempuan di sampingnya, yang sudah tertidur dengan pulas di pelukannya.

Ia mengecup keningnya.

Tiba-tiba getaran dari ponselnya membuatnya menoleh.

Tangannya meraih ponsel di meja

Arka.. pernikahan kita tinggal dua Minggu lagi.

Aku ingin membuat foto prewedding di Paris.

Kalimat itu langsung membuat dadanya terasa sesak.

Ia menghela nafas panjang, lalu menjatuhkan kepalanya di atas bantal, menutup matanya dengan lengannya.

Pesan itu masih terngiang di kepalanya.

Ringan dan penuh antusias.

Seolah semuanya sudah pasti terjadi.

Prewedding.

Paris.

Pernikahan.

Hal-hal yang seharusnya membuatnya menantikan sesuatu…

namun justru terasa seperti beban yang perlahan menekannya.

Ia tidak membalas.

Tidak juga membuka kembali pesan itu.

Karena semakin ia memikirkannya—

semakin jelas satu hal yang tidak bisa ia abaikan.

Tidak ada bayangan Valerie di sana.

Yang ada justru…

Aluna.

Dan itu yang membuat semuanya terasa semakin salah.

Dua minggu lagi.

Seharusnya ia merasa siap, seharusnya ia merasa yakin.

Tapi yang ia rasakan sekarang… hanya ragu yang semakin dalam,

dan perasaan yang semakin sulit ia kendalikan.

...***...

Malam itu.

Aluna terpaksa harus lembur di kantor, karena ia merasa lebih nyaman mengerjakan pekerjaannya di kantor daripada di rumah.

Ketika semua karyawan telah pulang, ketika lampu kantor sebagian telah redup.

Di sanalah ia akhirnya bisa menikmati momen indahnya pemandangan gemerlap kota dari dinding kaca dan keheningan yang menenangkan.

Di mejanya berjejer beberapa minuman—Matcha, susu coklat, Thai tea, berbagai jenis snack dari yang asin hingga manis.

Dari ponselnya di putar musik indie favoritnya.

Jam dinding menunjukkan pukul 22:10 malam.

Sesekali ia merenggangkan ototnya, dan menguap karena mulai lelah.

Ting.

Dari arah lift di ujung koridor, seseorang datang dengan langkah pelan.

Aluna melirik sosok itu.

Matanya menyipit karena pandangannya gelap.

"Aku sudah bilang berapa kali," suara itu terdengar pelan tapi jelas. "Jangan memaksakan diri."

"Hah.. dia lagi." Seolah Aluna sudah hafal dengan suara itu.

"Selagi saya mampu.. kenapa tidak,"

jawabnya santai.

"Kamu bisa serahkan tugas itu junior writer kan." Pria itu bersandar di meja kerja Aluna.

"Bisa saja.. tapi saya kasihan karena dia masih baru."

Aluna menyantap Snack kentang.

"Bagaimana dengan mu? Ada yang merasa kasihan?" Ledek pria itu.

Aluna memonyongkan bibirnya.

"Ck.. sepertinya tidak ada."

Pria itu meraih kursi lalu duduk di samping Aluna.

"Aku.." Ia menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja.

Aluna menoleh, wajah mereka hampir menyentuh.

"Pak Arka kasihan pada saya?"

"Aku mencintaimu." Pria itu tersenyum lebar.

Aluna tersenyum sinis padanya, lalu kembali menatap komputer.

"Hei.." Arka memanggilnya.

"Apa?" jawabnya singkat.

“Aku selalu mengatakan aku mencintaimu…”

Ia berhenti sejenak.

“Tapi kamu… tidak pernah mengatakan itu padaku.”

Jari Aluna berhenti mengetik keyboard.

Hening menyelimuti ruangan.

"Kenapa?" tanya Arka lirih. "Kamu tidak mencintai ku, Aluna?"

"Saya.." kalimatnya tertahan. "Saya tidak tahu."

...***...

1
Amiura Yuu
percakapan nya huruf nya jangan dibuat miring kak berasa ngomong dalam hati
Lass96: Wah noted kak... Makasih udah ngingetin! Aku coba evaluasi lagi biar lebih nyaman dibaca yaa
total 1 replies
Gira Hurary
sukaaaa alurnya... author ini berani beda, tetep semangat ya thor
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Gira Hurary
semangaaaat
Rini
Lanjut thor🤭
Rini
Baru diawal bagus bgt, setiap kata-katanya tersusun rapi mudah dipahami😍 semangat thor💪
Lass96: Terima kasih atas dukungannya 🤍
total 1 replies
Annida Annida
lanjut tor
Dian
lumayan bagus
Lass96: Terima kasih sudah membaca dan berkomentar. Senang sekali kalau ceritanya bisa kamu nikmati.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!