NovelToon NovelToon
Susuk Suanggi

Susuk Suanggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Iblis
Popularitas:20.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Setelah diperkosa secara massal oleh 10 warga desa dan diusir secara hina oleh suaminya sendiri akibat fitnah rekaman video, Ratri menempuh jalan kegelapan. Ia memasang susuk emas "Suanggi" dari seorang dukun di hutan Weling , di organ vitalnya.

Kini, ia kembali bukan untuk cinta, tapi untuk membalas pada kejantanan mereka dan nyawa siapa pun yang pernah menyakitinya.

Namun, kehadiran seorang Ustadz muda bernama Fatih membawa pilihan sulit , terus memupuk dendam yang memakan jiwanya, atau melepaskan iblis itu demi sebuah ampunan yang tak terduga dan hidup dengan nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesunyian

Malam di Desa Karang Jati kian merayap menuju puncaknya. Kegelapan yang menyelimuti rumah Eko terasa lebih pekat dari biasanya, seolah-olah cahaya lampu lima watt di sudut ruangan ditelan oleh hawa hitam yang tak kasat mata. Eko, yang kini tergeletak di lantai tanah setelah terjatuh dari amben, merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Aroma melati yang tajam menusuk hidungnya, berbaur dengan bau anyir dari bekas luka amputasinya yang kembali berdenyut hebat.

"Rumi! Ruminten! Kemari kamu, jalang! Jangan biarkan aku di sini sendiri!" teriak Eko, suaranya parau dan gemetar.

Ia mencoba menyeret tubuhnya yang tak lagi utuh menggunakan satu tangan kanannya yang tersisa. Setiap gesekan kulitnya dengan lantai tanah yang kasar mendatangkan perih yang luar biasa. Ia terus memanggil kakaknya, memanggil tetangganya, bahkan memanggil Pak RT. Namun, Desa Karang Jati malam itu seolah berubah menjadi desa mati. Tak ada satu pun langkah kaki yang mendekat. Tak ada satu pun sahutan dari luar dinding bambu rumahnya.

Tetangga sekitar sebenarnya mendengar teriakan itu. Namun, rasa muak dan ngeri telah mengalahkan rasa kemanusiaan mereka. Mereka menutup telinga rapat-rapat dengan bantal, enggan berurusan dengan pria yang telah mengutuk darah dagingnya sendiri.

"Mas Dar! Tolooooong!" teriakan Eko kini berubah menjadi isak tangis. Egonya yang setinggi langit runtuh di hadapan kesunyian yang mencekam. Ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang kini lebih rendah dari seekor cacing.

Tepat saat Eko berada di puncak keputusasaannya, saat ia merasa bayangan hitam di pojok ruangan mulai mendekat untuk mencabut nyawanya, terdengar suara derit pintu depan yang dibuka paksa. Cahaya lampu dari luar masuk sejenak sebelum pintu itu tertutup kembali.

"Mas Dar? Mas Dar, itu kamu?!" tanya Eko dengan suara yang masih tersendat tangis.

Darsono muncul dengan wajah yang sangat kuyu. Di tangannya, ia menjinjing bungkusan nasi dan botol air mineral. Begitu melihat adiknya tergeletak di lantai seperti bangkai, Darsono hanya bisa mendesah panjang.

Namun, bukannya berterima kasih karena kakaknya telah datang, mulut kotor Eko kembali beraksi. "KE MANA SAJA KAMU, KEPARAT?! Kamu mau membiarkanku mati di sini, ya?! Kamu sengaja membiarkan aku ketakutan sendiri sementara kamu enak-enakan di luar?!"

Darsono, yang selama ini adalah sosok penyabar dan pendiam, tiba-tiba meletakkan bungkusan makanan itu ke atas meja dengan hentakan keras. BRAK!

"CUKUP, EKO! DIAM KAMU!" Darsono berteriak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga Eko tersentak kaget.

"Aku ini kakakmu, bukan pembantumu! Kamu pikir aku tidak lelah?! Aku harus mengurus administrasimu di rumah sakit, aku harus menanggung malu karena makianmu kepada warga, dan aku harus mencari makan untukmu!" Darsono menunjuk-nunjuk wajah Eko dengan tangan yang gemetar karena emosi. "Tadi aku saking lelahnya sampai tertidur di bangku warung makan! Aku pingsan karena kecapekan memikirkan nasibmu! Dan sekarang saat aku kembali, ini balasanmu?!"

Eko terdiam seribu bahasa. Ia belum pernah melihat kakaknya semarah ini. Sorot mata Darsono yang biasanya lembut kini berkilat penuh amarah dan keletihan yang mendalam. Eko menciut, ia menundukkan kepalanya, menyadari bahwa satu-satunya orang yang masih peduli padanya kini berada di ambang batas kesabaran.

Melihat adiknya diam, Darsono mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ia menarik napas panjang berkali-kali untuk meredakan emosinya. Dengan sisa-sisa tenaga, ia membopong tubuh Eko kembali ke atas amben. Ia menyiapkan piring, menuangkan nasi dan lauk, lalu menyiapkan sendok.

"Makan," ucap Darsono singkat.

Eko menurut seperti anak kecil yang baru saja dimarahi ibunya. Ia makan dengan perlahan, disuapi oleh kakaknya karena keseimbangannya yang buruk membuat ia susah untuk makan sendiri dalam posisi duduk yang miring. Setelah makan, Darsono menyiapkan segelas air dan beberapa butir obat penenang serta antibiotik yang diresepkan dokter.

"Ini diminum. Jangan banyak tingkah lagi malam ini," kata Darsono. Ia juga meletakkan sebuah ember plastik di samping amben. "Kalau mau buang air kecil, gunakan ini. Jangan panggil-panggil aku kalau tidak darurat."

Setelah memastikan semua kebutuhan Eko terpenuhi, Darsono membentangkan tikar di amben sebelah yang biasanya digunakan untuk tamu. Ia segera merebahkan tubuhnya, dan dalam hitungan detik, suara dengkuran halus terdengar dari mulutnya. Darsono benar-benar telah mencapai titik nadir energinya.

Eko berbaring menatap langit-langit rumah yang kusam. Meski kakaknya ada di sampingnya, rasa takut itu tidak sepenuhnya hilang, namun setidaknya ia tidak merasa sendirian lagi. Obat penenang mulai bekerja, membuat kelopak matanya terasa berat, namun pikirannya masih melayang pada bayangan wajah anaknya yang menyerupai anjing.

"Maafkan aku, Rumi..." bisik Eko lirih sebelum akhirnya ia jatuh ke dalam tidur yang penuh dengan mimpi buruk.

Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah-celah genting yang bocor. Darsono sudah bangun sejak subuh. Ia membersihkan rumah sebisanya, membuang isi ember pembuangan Eko, dan menyiapkan air hangat. Eko masih tertidur lelap akibat pengaruh obat semalam.

Darsono memutuskan untuk pergi ke pasar desa guna membeli kebutuhan pokok dan beberapa jamu untuk adiknya. Di tengah jalan, tepat di depan pos ronda, ia berpapasan dengan Pak RT Hardo yang tampak sedang berbincang dengan beberapa warga.

Wajah Pak RT Hardo terlihat tegang dan pucat, seolah kurang tidur berhari-hari. Begitu melihat Darsono, ia segera memisahkan diri dari kerumunan warga dan mendekat.

"Mas Darsono," panggil Pak RT Hardo dengan suara rendah. "Bagaimana keadaan Eko? Semalam saya dengar ada keributan di rumah kalian."

Darsono menghentikan langkahnya, wajahnya tampak lesu. "Begitulah, Pak RT. Eko masih susah menerima kenyataan. Dia stres berat, setiap saat kerjanya hanya memaki dan marah-marah. Tapi semalam sudah saya beri pengertian sedikit keras, sekarang dia sedang tidur."

Pak RT Hardo mengangguk-angguk, matanya tampak gelisah menyapu sekeliling. "Saya turut prihatin, Mas Dar. Bagaimanapun, Eko itu warga saya. Rencananya siang nanti, setelah urusan di balai desa selesai, saya akan mampir menjenguknya. Saya ingin melihat kondisinya secara langsung."

Darsono tersenyum getir. "Terima kasih, Pak RT. Kedatangan Pak RT mungkin bisa sedikit menenangkan pikirannya. Tapi mohon maklum kalau nanti bicaranya masih agak kasar."

"Iya, saya mengerti. Yang sabar ya, Mas Dar. Cobaan ini memang berat," ucap Pak RT sambil menepuk bahu Darsono.

Namun, di balik kata-kata empatinya, Pak RT Hardo sebenarnya menyimpan maksud lain. Ia ingin memastikan apakah Eko sudah mulai "diganggu" oleh hal-hal yang tidak masuk akal, sebagaimana ia sendiri mulai merasakan teror di rumahnya sendiri. Ia ingin melihat apakah ada tanda-tanda "jantung perawan" yang diminta dukun itu bisa ia dapatkan tanpa harus melakukan tindakan kriminal yang terlalu jauh—atau setidaknya, ia ingin mencari kawan dalam ketakutan yang sama.

Darsono pun melanjutkan perjalanannya ke pasar, tidak menyadari bahwa di balik punggung Pak RT Hardo yang menjauh, sekelebat bayangan hitam tampak mengikuti dari kejauhan, seolah-olah maut sedang mengatur jadwal pertemuan untuk mereka semua di siang hari nanti.

Eko di rumahnya mulai terbangun. Ia merasakan sinar matahari mengenai wajahnya, dan ia menyadari hari yang panjang akan kembali dimulai—hari-hari sebagai manusia cacat yang akan segera menghadapi penagihan hutang dari masa lalu yang kelam.

1
Zainuri Zaira
rt gila bukanx mrngayomi masyarakat tp mlh buat orng sensara
Sita Ning Nong
ceritanya mudah di pahami, runtut, menarik...
Halwah 4g: terimakasih kka
total 1 replies
Lis Lis
huuu uuuuu uuuu perasaan Q ko pendek bngt yaaaa😭😭😭😭
Sulas Lis
lajuuuuutttt kaaaaa
Mersy Loni
lanjut thor
FiaNasa
bukannya jadi panutan yg baik malah bobrok RT nya
Lis Lis
masih nyebut di detik detik terakhir
FiaNasa
habiskan sja orang² yg sudah memperkosamu Ratri
FiaNasa
hiiiiiiii....sampai separah itu si Karno akibat perbuatannya dulu
Lis Lis
yaaaaa blm Up 😭😭😭😭
Lis Lis
sukurlah .....
kirain istrinya yg di bacok
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨
ceritanya udah bagus, Thor. tapi alangkah lebih baiknya, kalau cerita ini di cari tau asal usul Suanggi itu darimana, lalu dibuat lokasinya ditempat asal Suanggi, dari wilayah Timur Indonesia, sesuai adat budayanya pasti lebih ngena.

dan jangan lupa, perdalam literasi, hantu Suanggi itu apa, dan untuk apa.
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya. satu lagi. Suanggi itu hanya ada di seputaran Sulawesi. asalnya asli dari Pulau Suanggi. gak ada di Pulau manapun.

dia bukan susuk, tapi ilmu hitam yang diturunkan melalui warisan keluarga.

suanggi gak pernah muncul memangsa korbannya dalam wujud manusia, tetapi sudah berubah bentuk menjadi makhluk yang diinginkannya saat memakan mangsanya.

ibarat Kuyang, adanya cuma di Kalimantan, begitu juga Suanggi, adanya ahanya di Wilayah Timur Indonesia, di Pulau Suanggi, Pulau Sulawesi, Pulau Papua, dan sekitarnya.

jadi kalau di buat versi Jawa gak ngena dianya.
total 2 replies
Mersy Loni
lanjut thor
Bp. Juenk
mampir di karya saya Thor "Siapa Aku"
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Hmm ..... sepertinya Pakk RT salah satu pelaku yang menganiaya Ratri 🤔

kalau benar demikian, siap siap aja Pakk RT jadi korban Ratri seperti Pakk Karno
Skay Skayzz
ngeri bngtt
Rembulan menangis
blm juga up ya best uda nunggu dri kmarin
Bp. Juenk
Hutan weling itu dimana ka
Halwah 4g: ada d ujung hutan ,Bwah bukit, di lembah 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
Ampun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!