Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Mengungkapkan perasaan.
Pagi itu, seperti biasanya, tidak ada hal aneh—tidak ada sesuatu yang terasa istimewa dalam hidup Nala. Wanita itu melangkah keluar dari apartemennya untuk pergi bekerja seperti hari-hari sebelumnya.
Semuanya tampak normal, tidak ada yang berbeda. Bahkan mungkin hari ini akan jauh lebih melelahkan, karena ada dua rapat sekaligus untuk membahas kelanjutan album terbaru SOLIX yang hampir rampung itu.
Ia menyetir dengan tenang di jalanan Seoul yang mulai ramai. Sesekali rambut panjangnya tersingkap, tersapu oleh hembusan angin dari AC mobil. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Nala tiba di gedung LYNX Entertainment Agency—tempat ia bekerja selama tujuh bulan terakhir.
Banyak hal telah terjadi selama waktunya di sana.
Bahkan kini hubungannya dengan Jeongin semakin dekat. Nala benar-benar menganggap pria itu sebagai sahabat yang baik, karena Jeongin sering membantunya memahami banyak hal yang sebelumnya terasa asing dan sulit ia pelajari.
Dengan tenang Nala memarkirkan mobilnya di area parkir khusus karyawan. Setelah mematikan mesin, ia keluar sambil membawa beberapa barangnya, lalu melangkah menuju lobi gedung.
Seperti biasa, ia terlebih dahulu mengisi daftar kehadiran sebelum berjalan ke arah lift.
Namun saat pintu lift terbuka, Nala sedikit terkejut.
Di dalam sana sudah berdiri Kiyoon, Jihwan, dan Taeyang. Ketiga pria itu tampak sibuk dengan ponsel masing-masing. Nala yang terkejut refleks menundukkan kepala sejenak sebagai bentuk sapaan.
Mereka bertiga menoleh, lalu tersenyum lembut.
“Masuklah,” ujar salah satu dari mereka.
Nala justru terdiam bingung. Dalam pikirannya muncul pertanyaan singkat—bukankah biasanya mereka sudah berangkat lebih dulu? Namun ia tidak berani menanyakannya. Ia hanya menggeleng pelan.
“Aku bisa menunggu giliran…” ujar Nala pelan. Ia memang merasa canggung jika harus berada dalam satu lift bersama ketiga idol tersebut.
“Masuk saja. Tidak masalah. Ini bukan lift khusus artis,” ujar Kiyoon santai.
Tanpa ragu, maknae itu menarik tangan Nala agar masuk, Nala sedikit tersentak dan buru-buru melepaskan cengkeraman itu.
“Maaf…” ujar Nala cepat.
Kiyoon justru terkekeh pelan, tampak sedikit malu.
Pintu lift tertutup. Kini hanya ada mereka berempat di dalam ruang sempit itu.
Nala berdiri sedikit di belakang mereka. Tubuhnya tampak lebih pendek dibandingkan ketiga pria tersebut. Ia menunduk, diam-diam memandangi mereka dengan rasa kagum yang tak diucapkan. Tiga pria yang dielu-elukan jutaan penggemar kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Dahulu bahkan membayangkannya saja tidak pernah.
Lamunannya terhenti ketika lift tiba-tiba berhenti di lantai yang tidak seharusnya.
Tim kreatif berada di lantai dua belas, tetapi lift justru berhenti di lantai sebelas. Nala tetap diam, berpikir mungkin mereka yang akan keluar lebih dulu.
“Nah, sudah sampai… pergilah,” ujar Jihwan.
Ucapan itu membuat Nala bingung. Ia tidak yakin kepada siapa kalimat itu ditujukan. Namun beberapa detik kemudian Kiyoon dan Taeyang menoleh ke arahnya.
“Junho-hyung bilang ada yang ingin dia diskusikan,” ujar Taeyang.
Barulah Nala mengerti bahwa ucapan itu memang ditujukan kepadanya.
“Ah… begitu. Aku tidak diberi tahu sebelumnya… Terima kasih, Taeyang-ssi,” ujarnya.
Taeyang hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
Nala pun melangkah keluar dari lift. Dengan langkah pelan ia berjalan menyusuri koridor menuju Studio 4—studio milik Junho. Ia masih merasa bingung. Mengapa ada diskusi sepagi ini, bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya?
Namun ia tidak bisa menolak. Ini memang bagian dari pekerjaannya. Ketika sampai tepat di depan pintu Studio 4, Nala menghela napas panjang sebelum mengetuk pelan.
“Junho-ssi… aku boleh masuk?”
Tidak ada jawaban.
Nala melirik ke sekeliling. Hanya beberapa staf yang berlalu-lalang di koridor. Ia tersenyum tipis, meskipun kebingungan mulai muncul di wajahnya.
“Junho-ssi…” panggilnya lagi.
Ia mengetuk pintu untuk kedua kalinya, tetapi tetap tidak ada sahutan. Nala mulai berpikir bahwa mungkin Junho tidak berada di dalam ruangan. Ia bahkan sudah hampir berbalik untuk pergi ketika tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dalam.
“Masuklah.”
Nala mengernyit bingung, tetapi akhirnya ia menghela napas pelan dan mendorong pintu itu perlahan.
Saat melangkah masuk, ia sedikit tertegun.
Ruangan itu kosong. Hanya ada Junho.
Pria itu duduk di kursinya, membelakangi pintu, menghadap layar komputer yang menyala. Di monitor terlihat sebuah file berisi deretan lirik lagu yang belum selesai.
“Junho-ssi… ada apa?” ujar Nala akhirnya, membuka percakapan setelah merasa keheningan itu berlangsung terlalu lama.
Junho tetap diam.
Bahunya tampak kaku, kedua tangannya bersedekap di depan layar monitor yang menampilkan barisan lirik yang belum rampung. Cahaya lembut dari lampu gantung jatuh di atas siluet tubuhnya, menciptakan bayangan samar di dinding studio.
Nala masih berdiri di ambang pintu, ragu. Ia menatap punggung pria itu dengan kebingungan yang tidak dapat ia sembunyikan.
“Junho-ssi…?” panggilnya lagi, suaranya pelan namun cukup untuk memecah kesunyian ruangan.
Akhirnya Junho berbalik perlahan.
Tatapannya tajam, namun bukan karena marah. Justru ada sesuatu di sana—kerapuhan yang tersamar di balik ketenangan yang dibuat-buat. Ia menatap Nala cukup lama, seolah sedang menimbang ribuan kata yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
“Duduklah,” ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.
Nala menurut, meski jantungnya berdetak begitu cepat tanpa alasan yang jelas. Ia menaruh berkas di tangannya di atas meja, mencoba tersenyum sopan seperti biasa.
“Apakah ini tentang revisi lirik kemarin? Atau ada hal yang terlewat?” tanyanya, masih berusaha terdengar profesional meskipun suasana terasa aneh. Tapi Junho hanya tersenyum samar.
“Tidak. Hari ini aku tidak ingin membicarakan proyek. Aku hanya ingin berbicara denganmu,” ujar nya yang entah kenapa nada bicaranya tidak terasa formal, kata-kata itu membuat Nala terdiam.
Ada jeda panjang yang terasa seperti kekosongan di antara mereka. Junho lalu berdiri, melangkah perlahan mendekat. Setiap langkahnya terdengar begitu jelas di ruangan yang hening itu—berat, tapi pasti.
Ketika ia berhenti di hadapan Nala, ia menatapnya begitu dalam, seolah berusaha menghafal setiap detail wajah perempuan itu.
“Aku… sudah berusaha menunda ini terlalu lama,” ujarnya akhirnya.
Suaranya tenang tapi berat, seperti seseorang yang telah berpikir ribuan kali sebelum berbicara.
“Dan aku tahu, mungkin waktunya tidak tepat. Tapi jika aku terus menunggu waktu yang sempurna, mungkin aku tidak akan pernah berani mengatakannya sama sekali,” ujar nya yang membuat Nala membisu, matanya membulat kecil.
“Mengatakan… apa maksudmu, Junho-ssi?” tanya nya bingung, dia menatap tubuh pria di hadapannya. Junho menatap lantai sejenak, kemudian menarik napas panjang.
“Beberapa bulan ini, aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku hanya mengagumimu sebagai rekan kerja. Aku berpikir—ini hanya kekaguman biasa terhadap seseorang yang berbakat, seseorang yang bekerja dengan sepenuh hati. Tapi semakin aku melihatmu, semakin aku mengenalmu, semua itu menjadi kebohongan kecil yang tidak bisa lagi kupertahankan.” Ia mengangkat pandangannya. Tatapannya hangat, tapi juga penuh keyakinan yang tenang.
“Aku menyukaimu, Nala.”
Kata-kata itu meluncur dengan lembut, namun mengguncang udara di ruangan itu seperti denting nada terakhir dalam sebuah lagu cinta yang tak selesai.
Nala membeku di tempat, napasnya tercekat. Ia menatap Junho tanpa bisa berkata apa-apa, seolah otaknya menolak memproses apa yang baru saja didengarnya.
Idola yang selama ini hanya bisa ia kagumi dari layar, kini berdiri di depannya, menatapnya dengan mata yang sama—tapi kini bukan untuk menyanyi di panggung, melainkan untuk mengungkapkan sesuatu yang begitu pribadi.
Junho melanjutkan, suaranya masih terjaga dalam nada rendah dan tulus.
“Aku tidak berharap jawabanmu sekarang. Aku tahu, ini mungkin mengejutkan—dan aku tidak ingin menempatkanmu dalam posisi sulit. Tapi aku harus jujur, Nala. Karena setiap kali aku menatapmu, aku merasa… aku hidup dalam kebohongan jika terus berpura-pura ini hanya profesionalitas.” Ia tersenyum tipis, nyaris getir, namun tetap lembut, mata nya menunjukkan ketakutan yang entah apa.
“Dan meskipun dunia menilai kita berbeda—kau dengan kesederhanaanmu, aku dengan segala kerumitanku—aku tidak ingin perbedaan itu membuatku diam lebih lama lagi,” lanjut nya.
Ruangan terasa terlalu kecil bagi degupan jantung yang bergemuruh. Nala masih belum bersuara. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang tanpa sadar naik ke pipinya. Tangannya bergetar pelan di atas pangkuan, matanya berkedip cepat, berusaha menguasai diri.
“Junho-ssi…” ucapnya pelan. “Aku—aku tidak tahu harus berkata apa. Ini… terlalu tiba-tiba,” lanjut nya benar benar tidak percaya.
Junho mengangguk perlahan, seolah sudah memprediksi itu. Ia tersenyum tenang, dan dengan suara yang lebih lembut berkata.
“Aku tidak butuh jawaban hari ini. Aku hanya ingin kau tahu, bahwa setiap kalimat yang kutulis di lagu terakhir itu… setiap kata tentang seseorang yang membuatku belajar arti ‘tenang’—itu semua tentangmu... aku tidak bisa berhenti memikirkan mu,” lanjut nya.
Nala terdiam lagi. Napasnya perlahan berubah menjadi helaan panjang yang tak ia sadari mengandung air mata haru yang nyaris jatuh. Ia mengangkat pandangannya, menatap Junho, dan dalam sorot matanya, ada sesuatu yang berubah—perasaan yang selama ini ia tekan kini mulai mencair.
Setelah beberapa detik hening yang terasa abadi, Nala tersenyum kecil.
“Kalau begitu… Aku hanya bisa berterima kasih karena kau memilih jujur. Dan, entah kenapa, aku… tidak ingin kau berhenti menyukaiku,” ucap nya pelan.
Junho mematung beberapa saat, seolah masih tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Sorot matanya bergetar lembut, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mengulang sekali lagi, kali ini suaranya hampir berbisik—penuh harap, namun juga takut kehilangan.
“Itu… artinya, kau menerimaku?” ujar nya.
Nala menatapnya lama. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, hanya anggukan pelan, begitu pelan hingga nyaris tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat seluruh dunia Junho terasa berhenti berputar.
Ia menarik napas dalam-dalam, dadanya bergemuruh hebat. Dan dalam sekejap, seluruh kendali dirinya runtuh begitu saja. Junho melangkah maju, lalu tanpa berpikir panjang, ia meraih tangan Nala, menariknya ke dalam pelukan yang penuh kelegaan—hangat, rapat, dan tulus.
“Terima kasih…” bisiknya di antara helaan napas yang bergetar. “Terima kasih karena tidak menolakku,” lanjut nya.
Nala tak sempat berkata apa pun. Tubuhnya sempat menegang, tapi perlahan luluh di bawah dekapan itu. Ada sesuatu yang aneh di dadanya—perasaan yang ringan, seperti semua beban yang tak pernah ia sadari kini menguap perlahan. Ia bisa mendengar detak jantung Junho, cepat namun stabil, menenangkan entah bagaimana caranya.
Saat Junho melepaskan pelukannya, ia masih tetap menatap Nala tanpa mengalihkan pandangan. Ada cahaya yang berbeda di mata pria itu—lembut, namun juga pasti. Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna perak. Nala menatapnya heran.
“Apa itu?” tanyanya, suaranya pelan tapi terdengar jelas di tengah keheningan ruangan.
“Sesuatu yang sudah lama ingin kuberikan padamu,” ujarnya.
Ia membuka kotak itu dengan hati-hati, memperlihatkan sepasang kalung sederhana berbandul kecil berbentuk lingkaran yang saling menyatu—tidak berlebihan, tapi elegan, seperti dirinya.
“Aku memesan ini sejak sebulan lalu, kupikir… suatu hari aku akan punya keberanian untuk memberikannya padamu. Dan hari ini… sepertinya saat itu tiba,” lanjut nya.
Nala terpaku menatap benda kecil itu, napasnya terasa berat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kalung itu terlalu indah, tapi juga terlalu simbolis. Junho mengambil salah satu kalung dan menatapnya dalam-dalam.
“Boleh aku memakaikannya padamu?” tanyanya, suaranya begitu lembut hingga terdengar seperti gumaman di antara desir napas.
Nala menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. Ia hanya bisa mengangguk, nyaris tak bersuara. Junho tersenyum kecil, lalu berjalan ke belakangnya. Ujung jarinya menyentuh kulit leher Nala ketika ia menyingkap rambut panjang perempuan itu dengan hati-hati.
Sentuhan ringan itu cukup membuat Nala menahan napas tanpa sadar, mata nya ikut terpejam seiring dengan lembut nya sentuhan itu.
Klik.
Suara pengait logam itu terdengar nyaris tidak nyata, tapi bagi keduanya, itu seperti gema dari janji yang tak terucap. Junho kembali berdiri di depannya, memperhatikan bagaimana kalung itu kini tergantung anggun di leher Nala.
“Cocok sekali, seperti memang dibuat untukmu,” katanya lirih.
Nala berusaha tersenyum, tapi wajahnya memanas hebat. Ia bisa merasakan pipinya berdenyut karena malu, namun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Junho lalu mengambil kalung satunya lagi, yang identik, lalu menatap Nala sambil tersenyum.
“Sekarang… bisakah kau memakaikannya untukku?” ujar nya sembari tersenyum, namun hal itu membuat Nala tertegun.
“A–aku?” tanyanya terbata, namun Junho mengangguk, senyumnya masih sama—hangat, sabar, dan tulus.
“Ya. Aku ingin… kau yang melakukannya,” ujar nya yang membuat Nala dengan ragu meraih kalung tersebut.
Rasanya dunia berhenti sejenak. Nala menatap kalung di tangannya, lalu ke arah Junho yang berdiri begitu dekat. Ia berusaha menenangkan dirinya, tapi jantungnya berdetak terlalu kencang untuk bisa disembunyikan.
"Bisa menunduk sedikit?" Kata Nala ragu, tubuh nya dan Junho jelas berbeda, pria itu sangat tinggi hingga ketika dia berada di sampingnya mungkin hanya sebahu pria itu.
Junho mengangguk lalu menundukkan kepalanya seolah mempersilahkan Nala melakukan apapun.
Dengan gerakan gugup, ia melangkah mendekat. Ujung jarinya sedikit gemetar saat ia menyentuh kulit leher Junho, menyingkap kerah kemejanya perlahan agar bisa mengaitkan kalung itu.
Aroma maskulin Junho yang lembut—campuran sabun dan parfum kayu—membuat seluruh pikirannya kabur sesaat.
Klik.
Pengait itu tertutup sempurna. Tapi detik berikutnya, mata mereka bertemu. Begitu dekat, begitu dalam, hingga keduanya lupa bagaimana caranya berpura-pura tenang.
“Terima kasih,” ujar Junho pelan, matanya masih tak beranjak dari wajah Nala. “Sekarang, kita sama-sama memiliki sesuatu yang menandakan awal dari kisah ini,” lanjut nya yang membuat Nala tersenyum kecil, matanya menunduk, tapi pipinya memerah parah.
“Junho-ssi, kau membuat semuanya terasa terlalu nyata…” ujar Nala yang membuat Junho tersenyum, lalu berkata dengan nada yang nyaris seperti janji.
“Memang harus nyata, Nala. Karena aku tidak ingin mencintaimu hanya di antara layar dan lagu,” ujar nya sembari meraih pinggang perempuan itu dan mendekapnya erat seolah dia takut Nala akan menghilang jika dia melepaskan nya.
Tubuh Nala sedikit tersentak, bahkan tangan nya sempat refleks menahan dada pria itu. Namun setelah beberapa detik dia mulai tenang dalam dekapan pria itu.
"Tapi Junho-ssi... Apa yang akan terjadi jika ada orang yang tahu tentang ini, kita tidak seharusnya bisa bersama bukan?" Ujar Nala yang baru tersadar jika pria yang memeluk nya kini bukan pria biasa.
Dia Kim Namjunho, pria yang di elu-elukan dunia, perasaan kecil mulai muncul di hati nya. Ada perasaan ragu karena menerima perasaan pria itu.
"Kalau aku yang memilih mu, maka dunia tidak boleh ikut campur," ujar nya yang mana kata-kata itu jatuh begitu lembut, namun menghantam hati Nala tanpa ampun.
Ia menatap Junho lagi—dan kali ini, tanpa bisa menahannya, ia tertawa kecil, penuh rasa gugup dan bahagia yang tidak bisa dijelaskan.
Untuk sesaat, dunia terasa berhenti berputar. Tidak ada panggung, tidak ada kamera, tidak ada batas antara idol dan penulis. Hanya ada dua hati yang akhirnya berani bertemu di titik yang sama.
Dan di antara dua kalung identik yang kini menggantung di dada mereka, berkilau janji kecil—tentang keberanian, tentang kejujuran, dan tentang cinta yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
"Terimakasih karena telah memilih ku Junho-ssi," ujar nya.
Junho melepaskan pelukannya. Dia menatap Nala lama sebelum akhirnya bicara.
"Mulai hari ini kau harus panggil aku Oppa, hm?" Ujar nya yang membuat Nala mengangguk pelan.
"Baiklah..." Ujar nya mengangguk pelan, Nala melihat jam yang ada di meja Junho lalu matanya membulat sempurna.
"Astaga!" Seru nya panik, Junho ikut menoleh tapi mengernyit bingung.
"Kenapa?" Tanya nya, namun Nala malah berjalan menuju meja, lalu mengambil barang-barang yang tadi dia simpan di sana.
"Ini sudah terlambat, yaampun... Aku pergi sekarang," ujar nya sembari berlalu tanpa menunggu respon dari Junho.
Sedangkan Junho hanya tersenyum penuh arti saat melihat pintu tertutup di depan nya, dia tahu ini bukan akhir tapi awal dari semuanya.
Dia tahu semuanya akan segera di mulai, tapi kini dia tidak akan ragu karena dia tahu hati nya sudah berbicara lebih keras dari logikanya sendiri.