Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keenan Lagi?
🦋
Sekolah hari ini terasa lebih lengang bagi Nadira. Mungkin karena hatinya yang kosong, atau karena bayangan kehangatan dua minggu terakhir bersama ayah dan ibu masih tinggal di belakang kelopak matanya. Setiap sudut lorong sekolah seolah ikut tenang bersama perasaannya yang mendadak kembali redup.
Beberapa siswa lalu-lalang, tertawa, saling menyapa. Tapi semua itu terdengar jauh. Seperti suara dari ruangan lain yang pintunya tertutup rapat.
"Dira!"
Seseorang memanggil dari kejauhan.
Nadira menoleh sekilas, lalu kembali menunduk. Langkahnya tetap pelan, bahunya sedikit turun. Ia tidak ingin menjelaskan apa pun hari ini.
Keenan memperhatikannya sejak pertama kali Nadira tiba di gerbang. Gadis itu berjalan pelan, langkahnya berat, seolah setiap detik menghantarnya kembali pada kenyataan bahwa kedua orang tuanya sudah kembali ke J****.
Ia tidak langsung mendekat. Keenan memilih berjalan beberapa langkah di belakang Nadira, memperhatikan caranya menarik napas, caranya menahan pundak agar tetap tegak.
Dia kelihatan capek… bukan badan, tapi hati, pikir Keenan.
Saat jam istirahat tiba dan Nadira duduk sendirian di taman sekolah, Keenan mendekat begitu saja, tanpa permisi seperti biasanya.
"Kenapa murung?" tanya Keenan sambil duduk di sampingnya.
Nada suaranya santai, tapi matanya serius. Tidak menuntut jawaban cepat.
Nadira menunduk, memintal ujung lengan seragamnya. "Ibu sama bapak udah balik ke J****."
"Oh…" Keenan mengangguk pelan. "Pantes."
"Pantes apanya?" Nadira melirik sekilas.
"Pantes kamu kayak orang ditinggal separuh jiwanya."
Nadira tersenyum tipis, senyum kecil yang cepat menghilang. "Lebay."
"Enggak," Keenan menggeleng. "Aku liat kok."
Ia tidak melanjutkan. Tidak bertanya macam-macam. Tidak menyuruh Nadira kuat. Ia hanya duduk, menemani.
"Kalau kamu mau cerita, aku siap dengerin," ucap Keenan akhirnya. "Kalau enggak juga gapapa. Duduk aja."
Keheningan turun di antara mereka. Tapi bukan keheningan yang canggung.
"Jangan sedih lagi. Ada aku di sini." ucap Keenan dengan suara pelan tapi mantap.
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tidak dibuat-buat. Tidak berlebihan.
Nadira merasa janggal. Hangat. Sekaligus salah. Ada perasaan bersalah yang menusuk setiap kali Keenan bersikap seperti ini, padahal hatinya sudah terikat dengan seseorang.
"Ken… aku udah punya pacar. Kamu jangan gitu terus."
Keenan menghela napas kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke bangku. "Aku tau."
"Terus kenapa?" Nadira menatapnya, bingung.
Keenan menoleh, menatap langit yang cerah. "Karena aku gak ngelakuin ini buat ngerebut kamu."
"Tapi"
"Pacar, kan? Bukan suami."
Nadira tercekat. "Iya sih…"
"Berarti aku masih punya tempat di hatimu?" Keenan mencondongkan tubuh, suaranya rendah tapi jelas.
"Emm?" Nadira gelagapan. Panas di wajahnya naik seperti tersengat matahari siang. "Kamu kok ngomongnya gitu sih…"
Keenan cuma tertawa kecil melihat reaksinya. "Udah, gapapa. Nanti juga kamu ngerti kok."
"Mengerti apaan sih?" Nadira memukul lengannya pelan.
"Bahwa kadang, ada orang yang dateng bukan buat dimiliki," jawab Keenan ringan, "tapi buat nemenin."
Nadira memalingkan wajah. Bukan cuma malu… tapi takut. Takut kalau kalimat itu benar-benar menemukan tempat di hatinya.
***
Hari terasa berjalan lambat tapi melelahkan. Setelah pulang sekolah, Nadira langsung berganti baju dan memulai rutinitasnya: menyapu seluruh rumah, mengepel, mencuci piring, menjemur pakaian yang tadi pagi belum sempat, dan merapikan ruang tamu yang berantakan.
"Jangan lupa lap meja!"
"Airnya jangan boros!"
"Cepetan, jangan lambat!"
Suara-suara itu terdengar biasa. Terlalu biasa.
Tubuhnya terasa berat, tapi ia tetap melanjutkan semuanya. Mungkin karena pekerjaan membuatnya berpindah dari ruang kosong di hatinya ke aktivitas yang bisa ia kontrol.
Sampai pukul lima sore, barulah Nadira duduk sebentar sambil memijat leher yang pegal. Tidak ada orang yang bertanya apakah ia capek. Tidak ada yang menawarkan bantuan.
Ia menatap telapak tangannya sendiri.
Merah. Kasar. Sedikit gemetar.
"Aku gak apa-apa," gumamnya lirih, entah pada siapa.
Semuanya kembali seperti sebelum ayah dan ibunya datang.
Dingin. Sepi. Cotok normalnya hidup Nadira.
Malam hari, Laura mengetuk pintu kamar Nadira. "Dira, lapar ga? Kita beli makan di luar yuk. Aku traktir."
Nadira mengangkat kepala. "Serius?"
"Iya. Kamu keliatan kayak butuh angin malam."
Nadira tersenyum tipis. "Boleh."
Mereka berjalan kaki ke warung depan komplek. Lampu-lampu jalan sudah menyala, dan udara malam menyapu lembut kulit mereka. Ada rasa damai yang sangat rare bagi Nadira.
"Enak ya malam gini," kata Laura sambil meregangkan tangan. "Kayak dunia gak ribut."
"Iya…" Nadira mengangguk. "Andai bisa diem selamanya."
"Eh, jangan. Nanti aku ga punya temen ngomel lagi."
Mereka tertawa kecil.
Mereka membeli mie ayam dan es teh lalu duduk di depan rumah Laura, tepat di tangga teras. Lampu teras kecil memantulkan cahaya kuning lembut ke wajah mereka.
Obrolan pun mengalir pelan.
"Jadi… kamu sama Keenan makin deket ya?" tanya Laura sambil nyengir nakal.
"Hah? Enggak lah, biasa aja." Nadira buru-buru menyangkal sambil menyeruput es tehnya.
"Apanya yang biasa… tiap hari dia nanya kamu, tiap lihat kamu langsung nempel. Tuh anak ga bisa pura-pura, Dira."
"Dia emang gitu ke semua orang," Nadira berusaha santai.
Laura tertawa kecil. "Boong. Ke aku enggak tu."
Nadira memainkan sedotan, ragu-ragu. "Tapi aku udah punya pacar, Lau."
Laura mengangguk pelan. "Aku tau. Tapi punya pacar bukan berarti kamu ga boleh ngerasain senang kalau ada yang peduli sama kamu. Kamu kan manusia, bukan robot."
Kata-kata itu masuk terlalu dalam. Nadira terdiam, menatap mie ayamnya yang sudah hampir habis.
"Terus… kamu suka sama Keenan?" Laura menatapnya sambil menyenggol bahu.
Nadira langsung menggeleng kuat-kuat. "Enggak! Aku cuma… nyaman."
Laura menaikkan alis. "Nyaman, ya? Itu biasanya awal dari..."
"Lauraaa! Hush!" Nadira menutup telinga, merah padam.
Mereka berdua tertawa keras, sampai suara tawa itu memantul ke jalanan yang sepi. Nadira jarang tertawa seperti ini. Jarang banget. Dan malam itu, tawa itu keluar begitu natural, seolah sebagian kecil dari dirinya yang hilang… pulang lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika mereka akhirnya berhenti tertawa dan mulai membereskan bungkus makanan.
Laura melirik Nadira sambil tersenyum lembut. "Dira… aku seneng liat kamu kayak gini. Kamu keliatan hidup lagi."
Nadira memeluk lututnya, menatap ke jalanan yang gelap. "Aku juga seneng. Rasanya kayak… aku bisa nafas walaupun cuma sejenak."
Laura tidak menambah apa-apa lagi. Ia cuma duduk di samping Nadira, bahu mereka bersentuhan. Ada keheningan, tapi bukan yang menakutkan. Keheningan hangat antara dua perempuan yang saling paham.
Namun saat Nadira kembali ke kamarnya malam itu, tiba-tiba semua rasa bahagia perlahan meredup. Ia menatap layar HP yang menampilkan nama pacarnya. Chat terakhir mereka sudah dua jam lalu dan masih belum dibalas.
Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Lalu mengunci layar.
Entah kenapa… wajah Keenan terlintas begitu saja.
Cara ia menatap. Cara ia bicara. Cara ia membuat hari buruk terasa tidak terlalu buruk.
Dan Nadira benci mengakuinya… tapi ada sesuatu yang berubah hari ini.
Bukan tentang siapanya, tapi tentang dirinya sendiri. Bagaimana ia merasa dilihat tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Sebelum tidur, Nadira menarik selimut dan berbisik pada dirinya sendiri:
"Jangan jatuh hati, Dira… jangan."
Tapi hatinya tidak pernah mau begitu gampang diatur.
***
Keesokan harinya, di sekolah, Keenan kembali hadir dengan gaya santai seperti biasa. Tapi matanya, selalu matanya, yang pertama kali mencari Nadira.
"Pagi," sapanya.
"Pagi," balas Nadira pelan, lebih pelan dari biasanya.
Keenan memperhatikannya. Lama. "Mukamu beda."
"Beda gimana?"
"Lebih… lembut."
Nadira memutar bola matanya, malu sekaligus senang tanpa ia sadari. "Kamu halu."
"Hei, aku ga pernah halu kalo soal kamu."
Seketika jantung Nadira berdegup lebih cepat.
Ya Tuhan, anak ini… ada apa sih dengan cara dia ngomong?
Keenan tersenyum tipis, bukan senyum jail, bukan senyum sombong… tapi senyum yang tulus.
"Lagi seneng, ya?"
"Aku? Seneng kenapa?"
"Ga tau. Cuma kerasa aja."
Dan Nadira tidak bisa menjawabnya. Karena ia tidak siap untuk mengakui bahwa, iya… ia memang senang.
Senang karena malam itu dengan Laura. Senang karena perhatiannya Keenan. Senang karena ada seseorang yang tidak mencarinya hanya saat butuh.
Ia menatap Keenan sekilas, dan Keenan balas menatap.
Untuk pertama kalinya sejak orangtuanya pulang, Nadira tidak merasa sendirian.
Dan itu menakutkan. Tapi juga… indah.