Wajib baca Novel Tawanan Dua Mafia.
Helena harus berjuang saat pria paling dicintainya dinyatakan tewas dalam pertempuran. Satu persatu orang yang disayangi Helena haeus tewas di depan matanya.
Helena harus tetap bertahan di saat situasi dan kondisi tidak lagi menguntungkan baginya.
Akankah Helena berhasil mengalahkan musuh yang tidak lain adalah sepupu suaminya sendiri?
"Strike, kau harus tetap hidup."
"Pergi, Nona. Pergi. Maafkan saya tidak bisa menjaga anda lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisca Nasty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Clara terbaring lemah di atas tempat tidur. Seorang dokter memeriksa perban yang menutupi beberapa robekan di tubuhnya. Lengan kiri wanita itu juga sudah dipenuhi perban. Dia memandang Robert dengan wajah mengumpat.
"Nona, anda keguguran. Anak anda tidak berhasil kami selamatkan," ungkap Dokter itu sambil merapikan alat medisnya.
Clara melirik sinis ke arah Dokter tersebut. "Baguslah," dustanya. Sebenarnya dia sangat sedih saat ini.
Kemarin dia sengaja berbohong karena terlalu kesal sama Clous. Pria itu tidak lagi berpihak padanya. Anehnya saat mengetahui dirinya hamil, Clara merasa begitu bahagia. Bahkan ada keinginan untuk menerima kehamilannya dan melahirkan anak tersebut. Meskipun dia tahu itu adalah anak Clous.
"Anda tidak sedih, Nona?" tanya Dokter itu bingung. Biasanya seorang wanita akan menangis setelah mendengar kabar buruk ini.
"Untuk apa? Ayahnya saja tidak menginginkannya," sahut Clara santai. Dia kembali mengingat kekejaman yang dilakukan Strike terhadap tubuhnya.
"Saya permisi, Nona." Dokter tersebut segera pergi. Dia takut berlama-lama ada di ruangan tersebut. Pasalnya bukan hanya Clara saja yang ada di ruangan itu.
"Strike sialan! Aku akan membunuhnya!" teriak Clara penuh emosi.
Setelah melompat ke laut nyatanya dia belum benar-benar lolos. Strike mengejarnya. Pria itu berhasil menusuk tubuh Clara dengan belatih. Bahkan mendaratkan satu tembakan di lengannya. Entah apa jadinya jika tembakan Strike berhasil bersarang di kepalanya.
Robert tertawa mendengarnya. Pria itu meneguk whiskey di depannya. Terlihat tenang dan sangat menikmati.
"Kau tidak menangis karena pacar kesayanganmu itu tewas?" ledek Robert.
"Aku tidak pernah mencintainya," sahut Clara sambil memalingkan wajahnya. Soal Clous tewas sama sekali tidak ada di dalam rencana Clara. Dia berpikir Clous akan melompat juga untuk mengejarnya.
"Tidak pernah mencintainya. Tapi setahun terakhir ini aku dengar hubungan kalian begitu panas."
"Jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku." Clara mulai emosi. "Aku akan membunuh Helena setelah ini!"
Robert menahan gerakannya. Kedua matanya menghitam. Dalam hitungan detik saja gelas yang sejak tadi dia mainkan kini sudah menjadi serpihan kaca di lantai.
"Berani menyentuhnya kau harus siap mati, jalang sialan," ancam Robert dengan sorot mata yang tajam. "Jika ada lecet sedikit saja di tubuh Helena. Aku pastikan tanganmu akan hilang satu. Mau coba?"
Robert berbicara pelan dan sangat lembut. Tapi tatapan membunuh pria itu membuat Clara takut. Bahkan dia masih merahasiakan rencana terakhirnya saat berusaha membunuh Helena di lautan.
"Sial! Dia benar-benar mencintai Helena," umpatnya di dalam hati. Tiba-tiba saja Clara menyesal karena tidak pernah mendengarkan perkataan Clous.
Robert beranjak dari duduknya. Ada botol whiskey yang baru dia ambil dari meja. Melangkah perlahan mendekati Clara. Wanita itu menjadi tidak tenang.
Clara berusaha memandang wajah Robert dengan sisa keberanian. Kini kondisinya sekarat. Kalau tidak dibantu Robert, mungkin kemarin dia sudah celaka. Tewas di tangan Strike.
Robert menyiram wajah Clara dengan whiskey di tangannya. Membanting botol kosong itu lagi setelahnya. Mencekik leher Clara dengan wajah menahan emosi.
"Kau boleh membunuh siapapun. Aku akan membantumu. Tapi jangan pernah sentuh Helenaku. Dia menjadi urusanku. Apa kau mengerti?"
Clara berusaha mengatur napasnya yang sesak. Dadanya begitu sakit karena Robert begitu melindungi Helena. Tidak membiarkannya menyentuh Helena sedikitpun.
"Oke."
"Bagus!" Robert menghempaskan tubuh Clara di tempat tidur. Merapikan penampilannya sebelum pergi.
Clara meremas seprei yang kini dia tiduri. Wanita itu terus saja mengumpat dan mengutuk Helena di dalam hati. Meskipun Aberzio tidak ada. Nyatanya wanita itu masih dilindungi oleh Robert.
"Aargh! Wanita pembawa sial!"
***
Pesawat yang ditumpangi Helena dan Strike mendarat di Roma dengan selamat. Strike sengaja tidak menggunakan pesawat milik keluarga Guineno untuk menghilangkan jejak. Keberangkatan mereka tidak boleh sampai diketahui oleh anak buah Clara maupun Robert.
Dua pasukan King Tiger yang kini masih hidup berbaris di belakang Strike dan Helena. Kini tangan Helena terus saja ada di dalam genggaman Strike. Pria tangguh itu tidak akan membiarkan Helena menjauh darinya. Meskipun hanya satu meter.
"Kita mau ngapain ke sini, Strike?" Sebuah pertanyaan kembali muncul dibenak Helena. Sekarang bukan waktunya untuk bersenang-senang. Kenapa mereka harus pergi ke Roma? Untuk apa?
"Saya akan menemui beberapa anak buah saya di sini, Nona. Mengajaknya untuk melindungi anda." Strike segera membuka pintu mobil.
Helena masih belum masuk. Dia memandang Strike lagi dengan serius. "Apa sudah ada kabar tentang keberadaan Aberzio?"
Strike menggeleng. Hal itu membuat Helena kembali sedih. Dia segera masuk ke dalam mobil setelahnya. Di ikuti oleh Strike setelahnya.
"Nona, saya sudah menyiapkan kamar untuk anda istirahat malam ini. Sudah saya pesankan makan malam juga. Saya harus pergi melakukan sesuatu. Anda bisa istirahat dan jangan keluar hotel, Nona. Ada dua penjaga di depan kamar anda nanti. Jika terjadi sesuatu, hubungi saya."
Helena hanya diam saja. Dia memandang keluar jendela. Memperhatikan keindahan kota Roma. Sorot lampu yang terang dan gedung-gedung tinggi yang berbaris tinggi berhasil mengurangi kesedihan Helena.
Setibanya di hotel, Strike segera membawa Helena ke kamar yang sudah dipesan. Kamar yang lumayan luas. Letaknya di lantai 25. Dari balkon Helena bisa menikmati pemandangan indah kota Roma pada malam hari. Strike berharap malam ini Helena bisa istirahat total.
"Saya permisi dulu, Nona."
Strike segera pergi meninggalkan kamar tersebut. Membiarkan Helena mandi dan istirahat. Di depan kamar Strike bisa melihat anak buahnya menjaga Helena.
"Lindungi Nona Helena. Aku percaya sama kalian."
Dua pria itu menunduk hormat. "Baik, Bos. Kami janji akan melindungi Nona Helena dengan nyawa kami."
"Aku percaya pada kalian." Strike melirik jam di pergelangan tangannya. Pria itu segera pergi setelahnya. Dia tidak mau membuang-buang waktunya yang berharga. Strike ingin segera kembali dan menjaga Helena.
Di dalam kamar, Helena sudah mandi dan mengenakan baju piyama celana panjang berwarna putih. Dia berdiri di atas balkon setelah selesai menghabiskan makan malamnya. Menikmati pemandangan kota Roma yang begitu indah saat malam hari.
Helena mendengar suara ponsel berdering. Helena terlihat kebingungan. Apa Strike sengaja meninggalkan ponsel dan senjata api di atas tempat tidur? Helena segera mengangkat panggilan dari nomor yang tidak dikenali tersebut.
"Halo, Kak Helena. Apa kabar?"
Helena berusaha tetap tenang. Meskipun kini bibirnya ingin segera memaki Clara. "Kau belum mati?"
Clara tertawa di dalam telepon. Jelas tujuannya menghubungi Helena karena ingin membuat Helena emosi. Frustasi juga. Agar Helena segera mengakhiri hidupnya.
"Aku tidak akan mati. Musuhku saja masih hidup, bagaimana bisa aku mati secepat itu. Helena, seharusnya kau tidak pernah muncul di dalam kehidupan Kak Aberzio. Kau itu hanya pembawa sial."
Helena masih berusaha tenang. "Apa bedanya denganmu? Adik angkat sialan yang diangkat dan dijaga dengan baik nyatanya menjadi penyebab Aberzio tewas. Buruk sekali. Selain tidak tahu diri. Ternyata kau juga tidak tahu caranya berterima kasih."
"Kau sumber masalahnya, Helena. Kak Aberzio tewas di tangan Robert. Bukankah Robert pria yang sudah tergila-gila padamu? Kak Aberzio tewas karena ulahmu Helena. Kak Aberzio yang aku kenal adalah pria yang sangat kuat. Tidak terkalahkan. Ini bukan pertarungan pertamanya. Sudah berulang kali dia hampir mati. Tapi dia bisa selamat. Nyawanya selalu tertolong. Setelah dia mencintaimu dan menikahimu. Kak Aberzio menjadi pria yang lemah. Dia bukan lagi Aberzio Guineno yang aku kenal. Tindakannya seperti ditahan-tahan. Kau itu memang wanita sialan Helena. Memangnya apa hebatnya kau ini?
Bahkan awal menikah saja hanya Kak Aberzio yang cinta sendirian. Saat di ranjang. Astaga, Helena. Apa kau tidak sadar. Kau begitu payah. Kak Aberzio aku rasa tidak pernah puas bercinta denganmu. Kau itu sok polos Helena.
Kalau saja Kak Aberzio menikah denganku, aku jamin dia akan mendapatkan kepuasan dariku. Aku bisa menyentuh dibagian yang dia inginkan. Tidak sepertimu. Istri sialan yang tidak tahu diuntung!"
"Kau sedang menghina dirimu sendiri, Clara. Nyatanya apapun yang aku lakukan Aberzio selalu menerimanya. Dia mencintaiku. Jangan samakan aku dengan jalang sialan sepertimu Clara. Beda jauh." Helena berusaha melawan meskipun kini hatinya begitu terluka.
"Satu hal yang harus kau ingat Helena. Kak Aberzio tewas karena menikah denganmu. Ingat itu wanita pembunuh!" Clara segera memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
Helena menurunkan ponselnya dan menangis. Mengingat kini Aberzio tewas di tangan Robert membuat rasa bersalah yang begitu besar di dalam diri Helena.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku. Aku benar-benar buruk. Aku istri yang tidak sempurna. Aku sudah membuatmu menderita seperti ini."
kenapa harus dirahasiakan dr helena
klo jason tdk seposesif robert
🫂🫂🫂helena km pasti bisa jgn menyerah dulu...tunggulah aberzio kembali
jangan dulu jatuh ke pria lain mending jadi single mom aja sembari ngumpulin kekuatan n strategi baru king tiger yg udah bercerai berai ulah si clara..
emang selalu ada kejutan distiap novel²nya kak sis😲😯
klo aberzio beneran mati nasib helena y jadi tahanan berstts istri robert😭
jgn sampe jjson juga dilenyapkan si robert
jeson ben kalian dimana😭