Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suara Ketiga
Area parkir bawah tanah mendadak sunyi setelah suara ketiga terdengar dari rekaman itu, tidak seorang pun langsung berbicara karena semua orang berusaha memastikan bahwa mereka tidak salah dengar. Kirana menatap layar laptop tanpa berkedip, sementara Aiden dan Armand saling bertukar pandang dengan ekspresi yang sama seriusnya. Rendra masih berdiri di tempatnya, tetapi kali ini wajahnya tidak lagi dipenuhi kepanikan melainkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
"Itu bukan suara saya." Rendra menggeleng.
"Aku tahu." Fajar mengernyit.
"Putar sekali lagi." Aiden mengulurkan tangan.
Fajar mengangguk lalu memutar ulang beberapa detik terakhir rekaman tersebut, suara langkah kaki kembali terdengar disusul percakapan dua pria yang belum begitu jelas. Beberapa saat kemudian, suara ketiga kembali muncul, kali ini lebih jelas daripada sebelumnya.
"Aku yang akan mengambil datanya."
Kalimat itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup membuat Armand langsung mengangkat kepala.
"Itu..." Armand mengembuskan napas.
"Aku juga mengenalnya." Aiden menyipitkan mata.
Kirana memandang kedua pria itu bergantian, ia bisa melihat mereka mengenali suara tersebut tetapi tidak ada satu pun yang segera menyebutkan nama pemiliknya.
"Siapa?" Kirana mengernyit.
"Tunggu." Aiden menggeleng.
Fajar menghentikan rekaman itu sambil menarik napas panjang, tatapannya masih tertuju pada layar laptop seolah dirinya sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar.
"Aku tidak pernah mendengar bagian ini." Fajar mengusap wajahnya.
"Maksudmu?" Gavin mengangkat alis.
"Rekaman yang kumiliki rusak." Fajar menutup laptop perlahan. "Bagian akhirnya selalu terpotong."
Semua orang kembali terdiam, jika Fajar baru mengetahui isi lengkap rekaman itu hari ini berarti ada seseorang yang sengaja mengubah salinan yang selama ini beredar.
"Tuan!"
Seorang petugas keamanan berlari menghampiri mereka sambil membawa sebuah kartu identitas.
"Kami menemukan ini." Petugas itu menyerahkan kartu tersebut.
"Apa?" Aiden menerimanya.
"Kartu akses sementara."
Aiden membalik kartu itu lalu langsung mengernyit, kartu tersebut tidak memiliki nama tetapi terdapat nomor seri yang masih aktif.
"Ini milik siapa?" Armand menatap petugas itu.
"Belum tahu." Petugas itu menggeleng. "Tapi kartu ini ditemukan di dekat pintu darurat."
Aiden menyerahkan kartu itu kepada Armand, lalu menoleh ke arah Gavin.
"Gavin." Aiden mengangkat dagu.
"Iya?" Gavin berdiri tegak.
"Bawa kartu itu ke bagian keamanan."
"Siap." Gavin menerima kartu tersebut.
"Jangan hilang."
"Saya bukan anak TK." Gavin mendengus pelan.
"Tapi kadang-kadang kelakuanmu mirip."
Gavin memutar bola matanya sebelum berjalan pergi bersama petugas keamanan meski sempat menggerutu, ia tahu situasi kali ini bukan sesuatu yang bisa dijadikan bahan bercanda.
Sementara itu, Kirana memperhatikan Rendra yang masih berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya, tetapi ketenangan tersebut justru membuatnya semakin sulit ditebak.
"Kamu tahu suara itu?" Kirana mengangkat pandangan.
Rendra terdiam sesaat.
"Saya pernah mendengarnya." Rendra mengangguk pelan.
"Siapa orangnya?" Kirana menghela napas.
"Saya belum yakin."
Kirana langsung memalingkan wajahnya, jawaban seperti itu kembali terdengar menggantung sama seperti semua penjelasan yang selama ini diberikan Rendra.
"Kamu masih menyembunyikan sesuatu." Kirana menggeleng.
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
"Saya belum punya bukti."
Kirana tertawa pelan, tetapi tawanya sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Kamu selalu menunggu bukti." Kirana menatapnya datar. "Saat rumah tangga kita hancur, kamu juga menunggu bukti. Saat perselingkuhanmu terbongkar, kamu menunggu bukti. Sekarang pun sama."
Rendra menundukkan kepala.
"Saya tahu." Rendra mengembuskan napas.
"Tidak." Kirana menggeleng lagi. "Kamu tidak tahu."
Suasana kembali hening, tidak ada seorang pun yang mencoba menyela karena semua orang bisa merasakan bahwa percakapan itu sudah terlalu lama tertunda.
"Aku pulang." Kirana berbalik.
"Kirana." Rendra melangkah.
"Jangan ikuti saya." Kirana menghentikan langkahnya.
"Saya hanya ingin menjelaskan."
"Saya sudah lelah mendengar penjelasan."
Kalimat itu membuat Rendra membeku, ia tidak mengejar lagi dan hanya memperhatikan Kirana yang berjalan menuju lift bersama langkah yang tetap tenang namun Aiden tidak langsung mengikutinya. Ia justru berhenti di depan Rendra selama beberapa detik.
"Kamu masih punya kesempatan." Aiden menatapnya.
"Apa maksud Anda?" Rendra mengernyit.
"Jangan sia-siakan." Aiden berbalik.
Rendra memperhatikan punggung Aiden hingga pria itu menghilang di balik pintu lift, untuk pertama kalinya sejak bertemu CEO tersebut ia tidak merasakan permusuhan yang ia rasakan justru peringatan.
Beberapa menit kemudian, Gavin kembali dengan langkah cepat sambil membawa wajah yang jauh berbeda dari biasanya. Senyum khasnya menghilang dan napasnya terdengar sedikit memburu.
"Bos." Gavin berhenti.
"Ada apa?" Aiden menoleh.
"Kartu itu..." Gavin menelan ludah.
"Kenapa?"
"Pemiliknya sudah ketemu."
"Siapa?" Armand mengangkat kepala.
Gavin tidak langsung menjawab, ia justru menatap Kirana lebih dulu lalu mengalihkan pandangannya kepada Rendra. Wajahnya perlahan berubah pucat.
"Pemilik kartu akses itu..." Gavin mengembuskan napas pelan. "...baru saja masuk ke ruang kerja Tuan."
Aiden langsung berbalik, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berlari menuju lift dan di saat yang sama dari lantai atas terdengar suara alarm keamanan mulai berbunyi.