NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Langkah Pertama di Lantai Enam Puluh

​Lantai tertinggi menara utama Cha Group di Gangnam selalu dikenal sebagai wilayah yang dingin dan steril. Di balik pintu-pintu kaca antipeluru dan deretan meja sekretaris bernuansa monokrom, keputusan-keputusan bernilai triliunan Won diambil tanpa melibatkan emosi. Namun, pagi ini, atmosfer di lantai enam puluh itu terasa berbeda. Ada ketegangan yang tertahan di antara para staf senior yang berdiri berjejer di sepanjang lorong utama.

​Pintu lift eksekutif berdenting pelan. Ketika pintu baja berlapis krom itu terbuka, sosok yang pertama kali melangkah keluar adalah Cha Jin-wook. Pria itu tampil dengan setelan jas tiga potong (three-piece suit) berwarna hitam pekat buatan Savile Row, memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak. Namun, pandangan semua orang segera beralih pada sosok wanita yang berjalan anggun di sampingnya, dengan jemari yang tertaut rapat dalam genggaman tangan sang Presdir.

​Han Ji-an kembali.

​Ia tidak lagi mengenakan gaun tidur satin atau pakaian rajut longgar seperti saat berada di penthouse. Pagi ini, Ji-an memilih setelan blazer terstruktur berwarna putih gading dengan potongan pinggang yang tinggi, menyamarkan dengan sempurna bentuk perutnya yang mulai mengalami perubahan kecil. Rambut hitam panjangnya disanggul rapi ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai anting mutiara di telinganya. Langkah kakinya di atas lantai marmer terdengar konstan dan penuh percaya diri—sebuah penegasan bahwa ia bukan lagi wanita rapuh yang bisa diusir dari pintu belakang keluarga konglomerat.

​"Selamat pagi, Presdir. Selamat pagi, Nyonya Besar," sapa para kepala divisi serempak, membungkuk tepat sembilan puluh derajat saat pasangan itu lewat.

​Jin-wook tidak memperlambat langkahnya, namun genggaman tangannya pada Ji-an sedikit mengencang saat mereka melewati deretan direksi lama yang dulu pernah memandang rendah latar belakang istrinya. Tatapan Jin-wook tetap lurus ke depan, dingin dan tidak tersentuh, seolah menegaskan kepada siapa pun di ruangan itu bahwa setiap pasang mata yang berani menatap istrinya dengan tidak sopan akan langsung menghadapi konsekuensi karier yang fatal.

​Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja baru Ji-an yang terletak tepat di seberang ruangan Jin-wook, hanya dipisahkan oleh sebuah koridor kaca transparan. Ruangan itu telah ditata ulang sepenuhnya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Tidak ada lagi furnitur tua yang kaku; semuanya digantikan oleh meja kayu ek muda, sofa beludru abu-abu yang nyaman, dan beberapa vas berisi bunga lili putih segar yang aromanya langsung menenangkan saraf.

​"Bagaimana? Kau menyukai tata letaknya?" tanya Jin-wook, suaranya melunak seketika begitu pintu kayu ek ruangan itu tertutup rapat, memisahkan mereka dari pandangan publik.

​Ji-an berjalan mendekati meja kerjanya, menyentuh permukaan kayu yang halus, lalu berbalik menatap suaminya dengan binar mata yang cerah. "Ini terlalu luas untuk sebuah kantor yayasan kebudayaan, sayang. Kau bahkan meletakkan sofa yang bisa diubah menjadi tempat tidur di sudut sana."

​Jin-wook berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga ia bisa mencium aroma samar bedak bayi dan lavender dari tubuh Ji-an. Ia mengulurkan kedua tangannya, merapikan kerah blazer putih istrinya dengan gerakan yang sangat teliti. "Sofa itu ada di sana karena aku tahu kau keras kepala. Jika kau menolak pulang saat jam kerja tiga jammu habis, aku sendiri yang akan memaksamu tidur siang di sofa itu."

​Ji-an menahan senyumnya, menempelkan kedua telapak tangannya di dada bidang Jin-wook yang terbungkus rompi jas hitam. "Aku datang ke sini untuk bekerja, Presdir Cha, bukan untuk pindah tidur."

​"Bagiku, prioritas utamanya tetap kesehatanmu dan anak kita," balas Jin-wook pelan. Ia menundukkan wajahnya, mengecup kening Ji-an dengan kelembutan yang dalam, menyalurkan rasa aman yang selama ini selalu ia usahakan untuk wanita itu. "Dokter Kang akan mengirimkan menu makan siang khusus untukmu dalam satu jam. Aku akan memimpin rapat triwulanan di sebelah. Jika kau merasa lelah sedikit saja, tekan tombol darurat di bawah mejamu. Paham?"

​"Iya, aku paham. Pergilah, para direktur pasti sudah menunggumu," usir Ji-an lembut, meski jemarinya sempat meremas pelan kain jas Jin-wook sebelum melepaskannya.

​Jin-wook memberikan satu tatapan terakhir yang sarat akan proteksi sebelum berbalik dan melangkah keluar menuju ruang rapat utama.

​Begitu pintu tertutup, Ji-an menarik napas dalam-dalam. Kedamaian di wajahnya perlahan bergeser, digantikan oleh ekspresi fokus seorang wanita yang siap mengambil kembali haknya. Ia duduk di kursi kerjanya dan langsung membuka gawai tablet yang telah dipersiapkan oleh tim sekretariat yayasan.

​Agenda pertamanya hari ini bukan sekadar memeriksa laporan keuangan pameran seni, melainkan menghadapi faksi internal yang selama ini memanfaatkan yayasan kebudayaan sebagai alat pencucian uang untuk sisa-sisa pengikut Nyonya Besar Kang di masa lalu.

​Tok, tok.

​Pintu ruangan terbuka. Sekretaris Hong, seorang wanita paruh baya yang telah mengabdi di yayasan selama lima belas tahun dan dikenal sebagai kaki tangan tersembunyi dari keluarga lama, masuk dengan membawa tumpukan dokumen tebal. Wajahnya tampak tersenyum sopan, namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik lipatan matanya.

​"Selamat atas kembalinya Anda, Nyonya Besar Han," ucap Sekretaris Hong, sengaja menggunakan nama gadis Ji-an alih-alih gelar resminya untuk menguji batasan. "Ini adalah berkas anggaran untuk renovasi museum seni prasejarah di Gyeongju yang sempat tertunda bulan lalu. Kami membutuhkan tanda tangan Anda segera agar dana operasional sebesar lima belas miliar Won bisa dicairkan pekan ini."

​Ji-an tidak langsung mengambil pulpen. Ia menerima dokumen tersebut, memandangi sampulnya sejenak, lalu mendongak menatap Sekretaris Hong dengan pandangan yang tenang namun tajam.

​"Lima belas miliar Won untuk renovasi museum yang bahkan belum membuka jalur kunjungan publik sejak dua tahun lalu?" Ji-an bertanya dengan nada suara yang rendah, hampir tanpa riak emosi.

​Sekretaris Hong sedikit bergeser di tempat berdirinya. "Itu... karena struktur bangunan bawah tanahnya memerlukan penanganan khusus dari kontraktor asing, Nyonya."

​Ji-an membuka halaman tengah dokumen tersebut, jemari lentiknya menunjuk pada baris nama perusahaan subkontraktor yang terdaftar di Incheon. "Kontraktor asing yang kau maksud adalah JS Logistics? Perusahaan yang tiga bulan lalu dinyatakan pailit dan saat ini saham mayoritasnya dipegang secara sepihak oleh kerabat jauh mantan Direktur Kang Min-woo?"

​Mendengar nama Min-woo disebut, senyuman di wajah Sekretaris Hong langsung membeku. Buku-buku jarinya yang memegang map cadangan tampak memutih. Ia tidak menyangka bahwa Ji-an yang dulu dianggap hanya tahu urusan domestik, kini bisa membaca peta kepemilikan saham dengan begitu jeli dalam waktu singkat.

​"Nyonya, itu hanya kebetulan nama yang mirip—"

​"Tidak ada kebetulan dalam laporan audit yang masuk ke mejaku, Sekretaris Hong," potong Ji-an dingin. Ia menutup dokumen tersebut dengan ketukan yang pelan namun tegas di atas meja marmernya. "Sampaikan pada tim keuangan, proyek di Gyeongju ditangguhkan tanpa batas waktu. Mulai hari ini, seluruh rantai pasok dan vendor yayasan harus melalui proses verifikasi ulang oleh firma hukum pusat Cha Group."

​Ji-an bersandar pada sandaran kursinya, menatap Sekretaris Hong yang kini berdiri dengan tubuh yang sedikit gemetar karena syok. "Dan satu hal lagi. Di dalam gedung ini, namaku adalah Nyonya Besar Cha. Pastikan kau mengingatnya sebelum membawa berkas lain ke ruangan ini besok pagi."

​"Ba... baik, Nyonya Besar. Saya permisi," bisik Sekretaris Hong dengan wajah pucat, bergegas membungkuk dan berjalan keluar dengan langkah yang terburu-buru.

​Di balik dinding kaca koridor, Ji-an melihat bayangan Jin-wook yang baru saja keluar dari ruang rapat seberang. Pria itu sempat menghentikan langkahnya, menatap ke arah ruangan Ji-an dengan pandangan menyelidik, memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi pada istrinya.

​Ji-an tersenyum kecil dari balik kaca, memberikan anggukan pelan yang mengisyaratkan bahwa semuanya berada di bawah kendali. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Cha Group, mereka bukan lagi sekadar sepasang suami istri di dalam rumah, melainkan dua kekuatan yang bergerak selaras untuk membersihkan seluruh duri yang tersisa di dalam kekaisaran bisnis mereka.

​Langkah tegas Han Ji-an di hari pertama kerjanya telah mengirimkan sinyal bahaya bagi sisa-sisa musuh lama! Namun, akankah Sekretaris Hong menerima begitu saja kekalahannya, ataukah ada pergerakan bawah tanah lain yang mulai direncanakan oleh faksi Kang Min-woo yang masih bersembunyi?

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!