“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sidang Keluarga dan Keputusan untuk Melamar
Keesokan harinya, Pak Wisnu yang masih belum tenang setelah mendengar kabar keberadaan Kinanti dari Aditya semalam, bergegas mendatangi rumah Pak Wijaya.
"Assalamualaikum," sapa Pak Wisnu di depan pintu.
"Waalaikumsalam," jawab sang pemilik rumah. Di sana, Pak Wijaya membukakan pintu, mempersilakan Pak Wisnu masuk.
"Nu, ada apa?" tanya Pak Wijaya setelah mereka duduk di ruang tamu.
"Begini, Juragan. Mohon maaf sebelumnya kalau kedatangan saya mengganggu. Tapi saya mendapatkan kabar dari Juragan Adi kalau Kinanti dibawa bersamanya sejak semalam."
"Apa?!" Bukan Pak Wijaya, melainkan Bu Sarasvati yang terkejut tak sengaja mendengar perkataan Pak Wisnu.
"Bagaimana bisa, Pak Wisnu?" tanya Bu Sarasvati, masih terkejut.
"Semalam, saat Kinanti pulang kerja, dia menghubungi saya untuk dijemput. Ketika saya sampai di sana, toko sudah sepi dan tidak ada tanda-tanda keberadaan putri saya, Bu Juragan. Saya sudah berkeliling mencarinya hingga akhirnya saat saya pulang ke rumah, Juragan Aditya menghubungi saya. Dia bilang Kinanti ada bersamanya dan meminta waktu untuk meyakinkan Kinanti agar mau menerima lamarannya," jawab Pak Wisnu, terdengar ragu dan sungkan.
"Ya Allah, Yah, bagaimana ini? Bagaimana bisa Aditya berbuat senekat ini? Bagaimana kalau Aditya berbuat macam-macam pada Kinanti, Yah?" ucap Bu Sarasvati, gelisah sekaligus takut mendengar perlakuan putra sulungnya. Pak Wijaya terdiam, pikirannya melayang. Pak Wisnu yang takut putrinya kenapa-kenapa, mulai berpikir tak karuan.
"Kita ke sana sekarang. Kita harus ke rumah Aditya. Pasti dia menyembunyikan Kinanti di sana," putus Pak Wijaya. Ia bergegas mengajak Bu Sarasvati dan Pak Wisnu menuju mobilnya yang terparkir di garasi. Selama perjalanan, ketiga orang paruh baya itu berdoa agar Aditya tidak melampaui batas dan Kinanti baik-baik saja.
▬▭▬▭▬▭▬ ✦ ▬▭▬▭▬▭▬
🍽️ Sarapan Bersama di Rumah Sandera
Di rumah pribadi Aditya, pria itu baru selesai memasak untuk sarapan dirinya dan Kinanti. Aditya menyajikan menu seadanya untuk dinikmati bersama.
TAK! TAK! TAK!
Terdengar langkah kaki yang menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan gadis cantik, Kinanti. Terbangun dari tidur dan melihat Aditya tidak ada di sampingnya, Kinanti pun membersihkan diri dan turun ke lantai bawah. Gadis cantik itu berjalan menuju meja makan tempat Aditya berada.
"Selamat pagi. Sudah bangun, Sayang?" Sapa Aditya, tersenyum lembut pada Kinanti yang hanya membalas dengan anggukan pelan.
"Duduklah, kita sarapan," ajak Aditya. Kinanti pun duduk. Aditya dengan lembut melayani Kinanti yang hanya diam.
"Selamat makan," ucap Aditya. Selama makan, Kinanti hanya menundukkan kepala, tak berani menatap Aditya. Aditya, sambil memakan hidangannya, sesekali memandang Kinanti yang terlihat cantik alami.
*Jadi begini rasanya makan bersama gadis yang kucintai. Bagaimana kalau sudah sah, ya? Pasti tidak hanya makan bersama,* batin Aditya, memandang Kinanti dengan lekat.
Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga dengan TV menyala.
"Juragan, bagaimana dengan toko bunga tempat saya bekerja?" tanya Kinanti lirih.
"Aku sudah mengirim pesan pada pemilik toko kalau kamu sedang ada urusan," ujar Aditya santai.
"Lalu pakaiannya?" tanya Kinanti pelan.
"Oh, itu. Sebelum aku membawamu, aku menyempatkan diri membeli pakaian dan bahan makanan. Jadi, tidak perlu takut kamu kelaparan nantinya."
*Jadi, semua ini sudah direncanakan oleh Juragan Aditya,* batin Kinanti, menyadari betapa terorganisirnya penculikan ini.
Tiba-tiba, terdengar suara keras dari luar.
"Aditya!!!"
"ADITYA!!! BUKA PINTUNYA!!!"
"Ibu tahu kamu di dalam sana menyembunyikan Kinanti!" Suara Bu Sarasvati berteriak, memanggil putra sulungnya.
"Adi! Cepat buka!" teriak Bu Sarasvati.
Aditya menghela napas, sementara mata Kinanti membulat mendengar suara Bu Sarasvati, ibu dari pria yang menculiknya.
"Juragan, itu suara Nyonya Juragan," ujar Kinanti. Aditya dengan langkah malas membuka pintu rumahnya.
"Dasar anak nakal! Berani-beraninya kamu berbuat seperti ini, Aditya!" Setelah masuk, Bu Sarasvati langsung menjewer telinga Aditya hingga kemerahan. Di belakangnya, tampak Pak Wijaya dan Pak Wisnu.
"Bapak!" Kinanti segera memeluk ayahnya.
"Lihat apa yang terjadi... Kamu membuat tensi Ibu naik seketika! Kenapa kamu menculik Kinanti, hah!"
"Aduh, Ibu, sakit! Ibu, lepaskan, sakit!" ucap Aditya mengaduh kesakitan.
"Biarkan! Biar kamu tahu rasa!" ucap Bu Sarasvati, gemas melihat kelakuan putranya. Pak Wijaya menggelengkan kepala melihat ibu dan anak itu.
"Nak, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Pak Wisnu, memeriksa putrinya.
"Tidak, Pak. Kinanti baik-baik saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Ya ampun, Sayang, maafkan putra nakal Ibu, ya. Sudah membuatmu begini. Kamu tenang saja, Ibu akan menghukumnya nanti," Setelah menjewer putranya, Bu Sarasvati menghampiri Kinanti dan memeluknya.
"Padahal Kinanti baik-baik saja, tidak terluka sedikit pun. Malah aman bersamaku, tidak aku apa-apakan," gerutu Aditya, mengusap telinganya yang terasa panas.
"Sudah, sekarang biarkan Pak Wisnu membawa pulang Kinanti," ucap Pak Wijaya.
"Tidak! Kinanti tidak boleh pulang sampai kita menikah nanti!" ucap Aditya sontak, tak terima.
"Aditya, kamu tidak boleh seperti itu. Kinanti masih punya orang tua. Biarkan dia pulang bersama Pak Wisnu, Nak," bujuk Pak Wijaya dengan sabar.
"Tidak! Tidak boleh! Nanti Adi tidak bisa ketemu Kinanti lagi!"
"Aditya, kamu tidak boleh egois! Biar Kinanti pulang, kamu juga ikut pulang sama Ibu dan Ayah," timpal Bu Sarasvati.
Kinanti yang melihat perdebatan Aditya dan orang tuanya pun angkat bicara.
"Juragan, izinkan saya pulang. Tidak baik kita satu rumah tanpa ikatan yang sah," ucap lembut Kinanti.
"Benar apa yang Kinanti bilang, Adi. Kalian harus menikah dulu. Sudah, ayo kamu juga ikut pulang. Secepatnya kita akan siapkan lamaran dan pernikahanmu," bujuk Pak Wijaya kepada putranya, seperti membujuk anak kecil.
"Bagaimana kalau Kinanti kabur?"
"Aditya, Kinanti tidak akan kabur. Biarkan dia pulang, kasihan bapaknya khawatir," ucap Bu Sarasvati, menghela napas panjang melihat tingkah putra sulungnya.
"Juragan Aditya, Kinanti tidak akan kabur dan aman bersama saya," janji Pak Wisnu.
Setelah mempertimbangkan, akhirnya Aditya membiarkan Kinanti pulang.
"Baiklah, tapi Kinanti harus pulang bersamaku," ucap Aditya. Bu Sarasvati dan Pak Wijaya saling memandang. Kinanti menatap Pak Wisnu, bermaksud meminta izin. Pak Wisnu pun mengangguk. Kinanti pulang satu mobil dengan Aditya, sementara Pak Wisnu, Pak Wijaya, dan Bu Sarasvati satu mobil seperti saat mereka datang ke rumah pribadi Aditya.
"Aku minta maaf, Wisnu, membuatmu khawatir karena ulah putraku," ucap Pak Wijaya tulus kepada Pak Wisnu.
"Tidak apa-apa, Juragan. Saya lebih lega setelah melihat keadaan Kinanti tadi," ucap Pak Wisnu.
Mobil Pak Wijaya memasuki area rumah Pak Wisnu. Di sana sudah ada Aditya. Pak Wijaya, Bu Sarasvati, dan Pak Wisnu turun, menghampiri pasangan itu.
"Terima kasih, Juragan, sudah mengantar Kinanti," ucap Pak Wisnu.
"Sudah kewajiban saya memastikan calon istri dan ibu dari anak-anak saya selamat sampai tujuan," ujar Aditya. Pasangan paruh baya itu tertegun mendengar pernyataan Aditya, begitu pun ayah Kinanti.
"Juragan Jaya, Bu Juragan, terima kasih. Mohon maaf saya merepotkan," ucap Pak Wisnu sungkan.
"Tidak apa-apa, Nu. Ini memang menjadi tanggung jawabku sebagai orang tua Aditya. Tolong maafkan putraku," balas Pak Wijaya.
"Iya, Juragan. Sama-sama."
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya, Wisnu, Kinanti."
"Iya, Juragan, hati-hati," serentak Kinanti dan Pak Wisnu. Bu Sarasvati melihat Aditya belum beranjak, lalu memanggilnya.
"Ayo, Adi, segera masuk ke mobil."
"Aku pergi ya, Sayang. Mari, Pak Wisnu," pamit Aditya, lalu memasuki mobil hitamnya.
Pak Wisnu dan Kinanti memasuki rumah. Di dalam, Pak Wisnu segera memeriksa keadaan Kinanti.
"Nak, kamu tidak apa-apa, kan? Juragan Aditya tidak melakukan aneh-aneh, kan?" tanya Pak Wisnu yang masih khawatir.
"Tidak, Pak. Kinan baik-baik saja. Kinanti juga tidak dilecehkan. Juragan Aditya memperlakukan Kinan dengan baik di sana, bahkan Juragan Aditya memasak untuk sarapan Kinan dan membelikan baju buat Kinanti," ucap Kinanti, menunjuk baju yang ia kenakan. Tidak mungkin juga Kinanti menceritakan kegilaan Aditya semalam yang hanya menambah kekhawatiran Bapaknya.
"Huu, syukurlah, Nak. Apa kamu menerima lamaran Juragan Aditya?" tanya Pak Wisnu.
"Iya, Pak. Akan lebih baik Kinanti terima. Kinan takut diculik dan dikurung di rumahnya lagi," Kinanti bergidik membayangkan tidak bisa keluar rumah lagi.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat, ya. Kita bahas nanti saja. Masuk kamar sana."
"Iya, Pak. Kinan ke kamar dulu, ya."
Pak Wisnu melihat Kinanti berjalan memasuki kamar pribadinya. Ia menghela napas lega. Akhirnya putrinya bisa pulang. Beban pikiran yang semalam menumpuk di kepalanya lenyap sudah. Ia sangat khawatir putrinya diculik, mengingat Kinanti pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat Lidia berkunjung di toko bunga tempat Kinanti bekerja.
▬▭▬▭▬▭▬ ✦ ▬▭▬▭▬▭▬
💍 Rencana Lamaran Cepat
Di tempat lain, di ruang keluarga kediaman Wijaya, sepasang paruh baya kini mesidang putra sulungnya. Bu Sarasvati yang biasanya lembut kini menatap tajam putranya yang terlihat santai tanpa rasa bersalah, sementara Pak Wijaya hanya memijat keningnya.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu bisa berbuat nekat, Aditya?" ucap Bu Sarasvati.
"Adi bingung harus bagaimana, Bu. Adi sudah membujuk, tapi Kinanti tetap menolak. Adi pikir, dengan Kinanti di dekat Adi, dia bisa melihat keseriusan Adi, Bu," ucap Aditya membela diri.
"Apa kamu tidak memakai cara lain? Apa kamu tidak berpikir kalau Kinanti bisa saja membenci perbuatanmu?" Bu Sarasvati bertanya. Aditya hanya terdiam.
Pak Wijaya melihat putranya dengan tatapan mendalam. Tak habis pikir dengan jalan pikiran putra sulungnya.
"Aditya, Ayah sama Ibu tidak masalah kamu mau suka sama siapa, cinta sama siapa, asal dia gadis baik-baik. Tapi, Ayah sama Ibu tidak suka perbuatanmu itu. Ayah sama Ibu takut kamu khilaf, Nak. Tolong jangan diulangi lagi. Ayah dan Ibu membesarkan kamu, mendidik kamu untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, menjadi laki-laki yang baik, dan menghormati perempuan. Untuk kali ini, Ayah dan Ibu tidak bisa membenarkan perbuatanmu, apa pun alasannya. Kamu harus memahami perasaan Kinanti dan perasaan Pak Wisnu juga," nasihat Pak Wijaya dengan suara bergetar.
Aditya merenungkan nasihat ayahnya. Ia sadar perbuatannya tidak dibenarkan, tetapi ia tidak rela jika Kinanti memilih orang lain dan dimiliki orang lain. Baginya, Kinanti adalah miliknya.
"Kita harus menyiapkan lamaran untuk Aditya dan Kinanti, Bu. Lebih cepat lebih baik," ucap Pak Wijaya, membuat Aditya tersenyum lebar mendengar kabar itu.
"Yah, Ayah sudah bicara sama Pak Wisnu?" tanya Bu Sarasvati.
"Ayah akan hubungi Wisnu, Bu," jawab Pak Wijaya.
"Baiklah. Aditya, jangan ke mana-mana. Kamu harus ikut Ibu beli perlengkapan lamaran nanti," ajak Bu Sarasvati.
"Iya, Bu," ucap Aditya dengan semangat menyetujui ajakan dari ibunya.
Bersambung__
____