Di tengah kaku dan dinginnya protokol Keraton Amarta, Arya Wijaya, sang Raja muda, merasa hidupnya hanyalah pengabdian tanpa warna. Segalanya berubah saat ia bertemu dengan Sekar, seorang guru taman kanak-kanak yang juga seorang pelukis berbakat. Sekar adalah perwujudan dari keanggunan yang bersahaja—lembut dalam tutur kata, ceria dalam bersikap, dan memiliki jiwa bebas yang dituangkannya ke atas kanvas. Bagi Arya, Sekar adalah jendela menuju dunia yang lebih manusiawi. Namun, bagi tembok keraton, Sekar hanyalah rakyat jelata yang dianggap tak layak bersanding dengan takhta. Saat Arya dihadapkan pada tuntutan perjodohan politik demi stabilitas kerajaan, ia harus memilih: mempertahankan mahkota yang hampa, atau memperjuangkan cintanya pada sang pelukis yang telah mewarnai kembali hatinya. Sebuah kisah tentang benturan antara tradisi yang kaku dan cinta yang tulus, di mana keanggunan seorang wanita biasa diuji di hadapan kemegahan istana yang penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidur Panjang Sang Melati
Ketegangan di peraduan Sekar mencapai titik nadir saat fajar menyingsing. Setelah perjuangan melelahkan dengan berbagai penawar racun dan doa-doa yang dipanjatkan, tubuh Sekar akhirnya menunjukan reaksi. Kejangnya mereda, dan rona biru di ujung kuku serta bibirnya mulai memudar, berganti dengan pucat yang lebih tenang. Namun, ia tidak membuka mata.
Tabib kepala menyeka keringat di dahinya dengan tangan gemetar. Ia membungkuk dalam di hadapan Arya yang masih setia mendekap tangan Sekar.
“Gusti Prabu,” ucap sang Tabib dengan suara parau. “Racun itu telah berhasil kami jinakkan dan dikeluarkan dari aliran darahnya. Nyawa Nimas Sekar telah kembali dari ambang kematian.”
Harapan buncah di mata Arya, namun kalimat selanjutnya dari Tabib seolah menjatuhkannya kembali ke jurang terdalam.
“Namun… racun tersebut telah menyentuh kesadarannya terlalu dalam. Saat ini, Nimas Sekar sedang berada dalam tidur yang sangat panjang. Raganya telah selamat, namun sukmanya seolah tertahan di antara dua dunia. Kapan beliau akan bangun, hamba tidak lagi memiliki kuasanya. Itu tergantung seberapa keras usaha Nimas Sekar untuk kembali, tergantung pada kemauan dan kekuatan batin beliau sendiri untuk memenangkan pertempuran di dalam mimpinya.”
Mendengar kabar itu, hati Arya hancur berkeping-keping. Baginya, melihat Sekar bernapas namun tak terjaga jauh lebih menyiksa daripada melihatnya terluka. Ia melepaskan genggamannya sejenak hanya untuk menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Keheningan kamar itu hanya dipecah oleh isak tangis tertahan dari sang Penguasa Amarta.
“Tidur panjang?” Bisik Arya perih. “Bagaimana mungkin aku bisa merayakan kemenangan jika cahayaku sendiri memilih untuk terpejam?”
Ia kembali meraih tangan Sekar yang halus namun terasa lemas. Ia menciumi jemari itu berulang kali, seolah-olah melalui sentuhan itu ia bisa menyalurkan seluruh kekuatannya agar Sekar mampu melangkah kembali ke dunia nyata.
Arya mendekatkan wajahnya ke telinga Sekar. Di tengah keheningan pagi yang dingin, ia terus membisikkan kata-kata cinta, berharap suaranya menjadi kompas bagi sukma Sekar yang mungkin sedang tersesat di kegelapan.
“Sekar… Melatiku,” bisiknya dengan suara yang serak karena duka. “Bangunlah, Sayang. Lihatlah, rakyatmu sudah menunggumu di alun-alun. Mereka sudah menyiapkan bunga-bunga terindah untuk menyambut Ratu mereka. Jangan biarkan mereka berduka.”
Ia terdiam sejenak, menatap kelopak mata Sekar yang tak bergerak sedikit pun.
“Jika kau lelah, biarkan aku yang memikul beban ini. Tapi jangan tinggalkan aku dalam kesunyian ini, Sekar. Aku tidak butuh takhta jika kau tidak ada disampingku untuk berbagi warnanya. Berjuanglah sedikit lagi, cintaku. Ingatlah janji kita di bawah pohon kamboja. Aku menunggumu di sini… aku tidak akan beranjak sedikit pun sampai matamu menatapku kembali.”
Sampai fajar tiba, Arya menolak untuk meninggalkan sisi ranjang Sekar. Ia mengabaikan panggilan para menteri dan urusan kerajaan. Baginya, dunia di luar sana telah berhenti berputar.
Seno dan Ki Ageng Suro hanya bisa berdiri di pintu dengan hati yang ikut teriris. Mereka melihat seorang Raja yang biasanya begitu gagah dan tegas, kini tampak begitu rapuh hanya karena seorang gadis dari rakyat jelata. Di atas ranjang itu, Sekar tampak begitu cantik namun tenang, seolah sedang menikmati tidur yang tak berujung, membiarkan Arya bertarung sendirian melawan waktu dan ketidakpastian yang mencekam.
Antara Takhta dan Air Mata
Di dalam kamar yang kini beraroma herbal dan keputusasaan, waktu seolah berhenti berdetak. Hanya suara halus Sekar yang menjadi tanda bahwa harapan itu masih ada, meski sangat tipis. Di tengah keheningan yang menyakitkan itu, langkah kaki Ki Ageng Suro terdengar mendekat, sangat pelan dan penuh hormat.
Ki Ageng berdiri beberapa langkah di belakang Arya yang masih mematung sambil memegang tangan Sekar. Ia melihat punggung Rajanya yang tegap kini tampak membungkuk karena beban kesedihan yang tak terkatakan.
“Gusti Prabu,” panggil Ki Ageng dengan suara rendah penuh kewibawaan sekaligus empati.
Arya tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada wajah pucat Sekar. “Katakan padaku, Ki. Bagaimana mungkin aku bisa keluar menemui mereka, sementara jantungku sedang berjuang untuk tetap berdenyut di ranjang ini?”
Ki Ageng menarik napas panjang. “Hamba mengerti, Gusti. Namun, matahari sudah mulai meninggi. Ribuan rakyat dari penjuru negeri telah memadati alun-alun. Mereka membawa bunga, mereka membawa doa, dan mereka menanti fajar baru bagi Amarta. Kita tidak bisa membiarkan mereka menunggu dalam ketidaktahuan. Apa yang harus kita sampaikan kepada rakyat mengenai hari penobatan ini?”
Arya terdiam cukup lama. Pertanyaan Ki Ageng adalah hantaman realitas yang keras. Di satu sisi, ia adalah seorang pria yang sedang berduka, namun di sisi lain, ia adalah pusat dari sebuah kerajaan yang sedang menanti stabilitas.
“Jika aku mengumumkan bahwa Sekar diracun, kerusuhan akan pecah. Rakyat akan menuntut darah, dan Amarta akan terbakar oleh kemarahan,” bisik Arya suaranya parau. “Namun, jika aku menunda tanpa alasan, fitnah baru akan muncul. Mereka mengira kita berubah pikiran karena dia hanya rakyat jelata.”
Ki Ageng mendekat, meletakkan tangannya di bahu Arya. “Rakyat mencintai Nimas Sekar karena kejujurannya. Mungkin, kejujuran pulalah yang mereka butuhkan saat ini. Katakan pada mereka bahwa sang Melati sedang diuji oleh semesta, dan ajaklah mereka semua untuk bertarung bersama melalui doa.”
Arya perlahan melepaskan tangan Sekar, menyelimutinya dengan kain sutra hingga sebatas dada. Ia berdiri, merapikan beskapnya yang kusut, dan mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya yang terserak.
“Sampaikan pada Seno untuk menyiapkan balkon utama,” perintah Arya, matanya kini berkilat dengan ketegasan yang dingin. “Aku sendiri yang bicara pada mereka. Kita tidak akan menunda penobatan, tapi kita akan mengubahnya menjadi hari Istighosah Agung (Doa Bersama). Aku akan memberitahu mereka bahwa calon Permaisuri mereka sedang berjuang melawan kegelapan, dan aku meminta setiap napas di negeri ini untuk ikut membantunya memberikan doa agar Sekar bisa cepat tersadar dari kegelapan.”
Arya menatap Sekar sekali lagi, mencium keningnya yang dingin dengan penuh perasaan. “Tunggu aku disini, Sekar. Aku akan pergi untuk memanggil seluruh rakyatmu agar kamu bisa kembali.”
Ia melangkah keluar, diikuti oleh Ki Ageng Suro. Di luar pintu, Seno sudah bersiaga dengan wajah tegang. Arya berjalan menuju balkon yang menghadap langsung ke alun-alun, di mana lautan manusia sedang bersorak memanggil namanya.
Pagi itu, Amarta tidak akan mendengar suara terompet kemenangan, melainkan suara seorang Raja yang jujur mengakui kerentanannya di hadapan rakyatnya. Sebuah momen yang akan membuktikan akankah cinta rakyat kepada Sekar cukup kuat untuk menembus tidur panjang sang calon Permaisuri.