SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 OBROLAN
Setelah badai topan berwujud tendangan maut yang meruntuhkan pintu kamar Reo. Gian akhirnya bisa menjatuhkan punggungnya ke atas kasur. lalu Gian menghela napas panjang, mencoba mengevakuasi sisa-sisa kekesalannya ke udara.
Namun, kedamaian itu berumur sangat pendek. Ponsel di genggamannya bergetar bagai kesurupan. Dengan malas, Gian membuka aplikasi hijau berlambang gagang telepon itu, lalu menggulir layar membaca rentetan obrolan dari atas sampai bawah. Di sanalah, namanya sedang digoreng hangat-hangat oleh warga grup.
Pergunjingan Hangat di Grup "RENCANA KEMPING"
Ruby: “Heee @GianLz apa kamu tidak ingin ikut? Kenapa dari tadi tidak muncul di grup? Muncul gak lu, jangan jadi hantu!”
Gian hanya menatap datar ketikan Ruby. Jemarinya diam, enggan membalas.
Ruby: “@Reo gimana? Apa kamu sudah membujuk Gian untuk ikut bersama? Nyawa lu masih aman kan ngebujuk dia?”
Zordan: “Emmm... palingan si manusia kutub itu lagi mau diem membeku di kamarnya sambil bertapa. Gak bakal mau dia diajak bersosialisasi sama kaum hamba amatir kayak kita, wkwkwk! 🧊”
Melihat ledekan Zordan, sudut alis Gian langsung berkedut. “Bisa-bisanya bocah ini menyamakanku dengan es mambo,” batin Gian mulai tersulut api jengkel.
Namun, sebelum Gian sempat mengetik balasan ketus, sebuah pesan media masuk ke dalam grup dari nomor Reo. Pesan itu seketika mengubah jalannya sejarah diskusi kemping mereka.
Reo mengirim sebuah foto.
Foto itu diambil dengan sudut low-angle yang sangat dramatis. Menampilkan wajah Reo yang dipasang dengan ekspresi paling merana sedunia, mata berkaca-kaca seperti pahlawan drama Korea yang tertembak di medan perang, lengkap dengan dahi yang ditempeli plester dan sedikit noda merah yang sengaja diekspos jelas.
Reo: “Tenang saja teman-teman... Perjuangan darah dan air mata tidak mengkhianati hasil. Dia akan ikut juga kok... 😢😭 (Mengirim stiker kucing menangis di pojokan)”
Gempar Gara-Gara Luka Drama Reo
Seketika, grup langsung meledak riuh. Foto dahi bocor Reo sukses memicu kepanikan massal sekaligus gelak tawa di balik layar masing-masing.
Nana: “Ehhh!! Ya ampun Reo! Kenapa dengan dahi mu?! Kok bisa sampai bocor begitu? Apakah kamu habis dihantam balok es oleh Gian? 😱”
Arkana: “Wahh... sungguh pemandangan yang sangat menyedihkan dan tidak estetis. Turut berduka cita untuk dahimu, Yo. 🙏😂”
Reo: “Eummm benar sekaliiisss!! Ini adalah akibat yang harus kubayar demi membujuk si manusia kutub tanpa hati itu! Kepalaku ketiban pintu karena dia! 😭😭 (Mengirim stiker anak babi menangis meraung-raung)”
Ruby: “Ahahahahahahah! Sumpah demi apa?! Tapi berhasil kan membujuknya? Lu luar biasa, Yo! Pengorbananmu akan dikenang dalam sejarah kemping kita! 😭🤣👋”
Reo: “Hee Ruby! Dasar kau ya, tidak punya empati! Pecah kepalaku disuruh ngebujukin dia, egoku terluka, fisikku tersakiti! Aku merasa sangat terintimidasi di apartemen sendiri! 😫✊”
Gretta: (Mengirim stiker monyet tertawa terpingkal-pingkal sampai guling-guling tepat di bawah foto Reo)
Kemunculan sang Pelaku Utama
Gian yang sedang membaca semua drama buatan sepupunya itu di atas kasur, tidak bisa menahan diri lagi. Ini sudah pencemaran nama baik tingkat internasional. Dengan penuh penekanan, Gian mengirimkan satu respons.
Gian:
(Mengirim stiker anak ayam memasang muka super sebel dan menunjuk-nunjuk layar dengan penuh amarah)
Di sisi lain apartemen, tepatnya di sofa ruang tamu, Reo yang sedang rebahan manja meluruskan kakinya setelah selesai mencuci piring langsung melonjak kaget saat melihat stiker itu muncul.
Reo: “NAH! Muncul juga nih pelakunya! Tolong semuanya, lindungi aku dari monster ini! 📢🚨”
Gian: “Yah itu salahmu sendiri. Lagian siapa suruh jadi mata-mata di balik pintu. Rasakan itu. 🙄”
Reo: (Mengirim rentetan stiker anime berwajah merah, mengeluarkan asap dari telinga, dan menghentakkan kaki tanda marah besar)
Keputusan Final dan Fleksing Kendaraan
Sebelum perdebatan sepupu durhaka itu semakin meluas dan berujung pada pembongkaran rahasia apartemen yang lain, Arkana kembali mengambil alih kendali obrolan sebagai ketua penyedia fasilitas.
Arkana: “Ah udah, udah, jangan berantem di sini. Jadi ini fiks ya, semuanya ikut? tuju orang ganjil?”
Ruby: “Tentu saja fiks! Tidak ada yang boleh mundur, kalau mundur denda bayar konsumsi seminggu!”
Ruby: “Jadi besok hari Kamis, kalian semua sudah bisa bersiap-siap untuk barang pribadi atau makanan ringan yang mau kalian bawa masing-masing ya. Hari Jumat jam 08.00 pagi kita langsung berangkat. Jangan ada yang ngaret, terutama yang hobi simulasi pingsan @Reo.”
Nana: “Oke siap, Ruby! Aku besok mau beli stok cemilan yang banyak! 🍫🍪”
Arkana: “Bagus. Soal kendaraan nanti tenang saja, aku saja yang bawa mobil. Pakai Lamborghini-ku aja, pasti masuk semua kok barang-barang kalian ke dalam. 😎👌”
Suasana grup mendadak hening selama tiga detik sebelum akhirnya Zordan memecah ombak ketidakmasukan-akalan tersebut.
Zordan: “Wahhh... BOS MUDA NIHH BOSS! Senggol dong! Tapi bentar, Ar... Lu mau bawa Lamborghini buat kemping ke gunung dekat air terjun? Lu mau sekalian bajak sawah pakai supercar atau gimana? Istigfar lu, Kar! 😭🤣”
Arkana: “Ahahahah, tenang aja. Lambo-ku kan tipe SUV, muat banyak dan suspensinya aman buat jalanan berbatu. Gak bakal nyangkut di pematang sawah tenang aja, Dan. 😂”
Nana: “Wahhh kayaknya seru banget naik Lamborghini ke hutan! Berasa jadi petualang elit! 😍✨”
Akhir dari Malam yang Melelahkan
Jam digital di sudut layar ponsel sudah menunjukkan angka yang semakin larut. Setelah membahas beberapa detail kecil mengenai perlengkapan tenda yang untungnya sudah disediakan di vila milik ayah Arkana, satu per satu dari mereka mulai merasakan kantuk yang luar biasa akibat tertawa terlalu banyak.
Nana: “Udah malam nih, sudah dulu ya teman-teman. Aku duluan mau tidur, takut besok bangunnya kesiangan buat packing. Bye semua! 😴👋”
Ruby: “Oke Nana, selamat istirahat!”
Melihat obrolan sudah mulai surut dan tidak ada lagi namanya yang dijelek-jelekkan oleh Reo, Gian akhirnya mengunci ponselnya. Ia menaruh ponselnya itu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, menarik selimut hingga sebatas dada, lalu memejamkan mata untuk menjemput mimpi yang damai—berharap di dalam mimpinya besok, pintu kamarnya sudah terpasang kembali dengan gaib.
Sementara itu, di dalam grup, Ruby mengirimkan pesan penutup malam.
Ruby: “Selamat tidur semua! Sampai ketemu di koordinasi Jum,t nanti!”
Arkana: “Selamat tidur juga Ruby.”
Reo: “Met tidur buby~ 🥱👋”
Nana: “Selamat tidur semuanyyaaa~ 🌌”
Gretta: “Good night all! 🦖✨”
Zordan: “Mimpi indah semuanya, jangan lupa berdoa biar gak ketemu hantu pintu kayak Reo!”
Hanya ponsel Gian yang tetap gelap gulita, tidak membalas sepatah kata pun, menjadi satu-satunya entitas dingin yang paling konsisten di malam yang penuh komedi itu.