Demi memastikan calon tunangan yang akan dijodohkan orang tuanya, Bella terpaksa menyamar bekerja di perusahaan milik Gilang, pria yang dipilih oleh sang papa untuk menjadi suaminya.
Satria Wijaya,, papa Bella adalah seorang pengusaha kaya raya dan Bella adalah anak semata wayang pasangan Satria dan Hani. Bella tentu tidak ingin calon suaminya, bersedia menikah dengannya hanya karena harta dan ia pun ingin memastikan jika pria yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah pria setia.
Namun, kesalahpahaman terjadi. Gilang justru menganggap Bella adalah wanita simpanan Satria karena Satria lah yang meminta Gilang untuk mempekerjakan Bella sebagai sekretaris Gilang tanpa melalui proses pengrekrutan karyawan pada umumnya.
Lantas, bagaimana perjalanan kisah mereka selanjutnya? Ikuti saja kisah Bella dan Gilang dalam novel Sekretaris Palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunggu Di Mobil
Bella tak menyangka jika Gilang akan membawanya ikut berkunjung ke kantor papanya. Benar kalimat yang dikatakan Jimmy, kalau untuk urusan pribadi, kenapa dia harus diajak?
Senyuman Bella merekah, membayangkan saat Gilang mengetahui dirinya adalah wanita yang sebenarnya akan menjadi calon istri Gilang.
"Dia pasti akan makin posesif banget," gumamnya, mengingat Gilang selalu ketus padanya jika ia dekat dengan pria.
Jalanan yang cukup macet siang ini membuat perjalanan Gilang menuju kantor Pak Satria sedikit terhambat. padatnya lalu lintas jelang makan siang sudah menjadi rutinitas yang tak terelakkan bagi masyarakat yang tinggal di ibu kota.
Setelah menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit, akhirnya mereka sampai juga di kantor Star Gemilang.
"Kamu tunggu saja di sini!" Kalimat bernada perintah dari Gilang sontak membuat Bella membeliakkan matanya.
Bella hendak melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya seketika menoleh kepada Gilang.
"Saya tunggu di sini, Pak?" Seolah tak percaya pada pendengarannya, Bella mengulang kalimat perintah dari Gilang.
"Yang akan saya bicarakan dengan Pak Satria adalah urusan pribadi, tidak ada urusannya dengan pekerjaan, jadi kamu tunggu saja di sini!" Gilang membuka pintu dan membiarkan kunci menempel di kemudi.
"Kalau gitu, kenapa Bapak bawa saya kemari? Tau gini, mending saya di kantor bisa mengerjakan tugas saya!" Bella melipat tangan di dada, memperlihatkan ekspresi kesal.
"Kamu memilih di kantor karena kamu senang dirayu Jimmy!?" Melihat sikap Bella yang tampak kesal, Gilang melontarkan kalimat sindiran. "Lagi pula, saya bos kamu, saya berhak mengatur apapun yang harus kamu lakukan!" Gilang menegaskan, dengan jawabannya sebagai CEO sekaligus owner perusahaan Mahesa Persada, dia sepenuhnya berpihak memerintah Bella.
Keluar dari mobil, Gilang menjejakkan kakinya ke pelataran parkir kantor Star Gemilang. "Kalau kamu jenuh, kamu bisa menunggu di lobby! Kalau kamu lapar, kamu bisa makan di kantin atau di rumah makan di depan. Nanti uangnya saya ganti," ucapannya kemudian sebelum menutup pintu dan meninggalkan Bella sendirian di dalam mobil.
"Sialan! Dasar cowok nggak punya perasaan! Awas aja pembalasanku nanti!" umpat Bella menatap dengan mata menyipit, Gilang yang menjauh dari pandangannya.
Sesampainya Gilang di ruangan kerja Pak Satria, Gilang langsung disambut hangat bos perusahaan itu, bersama Ibu Hani yang ternyata lebih awal tiba di kantor suaminya.
"Mih, ini lho, calon menantu Mamih yang Papih ceritakan." Pak Satria mengenalkan Gilang pada istrinya.
"Saya Gilang, Bu. Ibu gimana kabarnya?" Walau rencana perjodohannya dengan putri yang Pak Satria ia terima dengan terpaksa, Gilang tetap bersikap santun, menghargai Ibu Hani sebagai orang yang lebih tua darinya.
"Alhamdulilah baik, Gilang. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" Seakan sudah pernah berjumpa sebelumnya, Ibu Hani berusaha mengakrabkan dirinya dengan calon pasangan putri kesayangannya itu.
"Saya juga baik, Bu. Alhamdulillah ..." jawab Gilang.
"Silakan duduk, Nak Gilang!" Pak Satria mengajak Gilang untuk duduk di sofa agar mereka dapat berbincang lebih akrab dalam suasana yang santai.
"Terima kasih, Pak." Gilang melangkah ke sofa yang berbeda dengan Pak Satria dan istrinya.
"Istri saya ini ingin sekali bertemu dengan Nak Gilang, sampai menyuruh saya untuk memanggil Nak Gilang kemari." Pak Satria menjelaskan, yang memaksa Gilang datang bukanlah dirinya.
"Saya merasa tersanjung, Ibu ingin bertemu dengan saya." Gilang merendah dan merasa tak ada yang perlu ditonjolkan dalam dirinya. Dalam segala hal, dia jauh di bawah nama besar Satria Wijaya.
"Oh ya, kamu sendiri saja ke sini, Gilang?" tanya Ibu Hani, karena sebelumnya Bella sudah mengirim pesan bahwa sedang dalam perjalanan menuju kantor Star Gemilang, namun, hanya Gilang yang muncul di hadapannya.
"Hmmm ..." Gilang berpikir mencari alasan. Jika ia menyebut datang sendiri, khawatir Bella pun akan memberitahu Pak Satria. Jika ia mengatakan bersama Bella, khawatir Pak Satria dan Ibu Hani curiga padanya karena membawa sekretaris ikut serta. Dia tak ingin dianggap punya affair dengan sekretarisnya sendiri.
"Saya bersama sekretaris saya, Pak. Hanya saja, dia bilang tidak enak ikut masuk ke dalam. Setelah dari sini rencananya kami ingin berkunjung ke tempat klien." Gilang akhirnya memilih mengatakan jika bersama Bella dengan sedikit berbohong.
"Kamu bersama Bella? Kenapa tidak disuruh masuk saja ke sini, Nak Gilang? Cepat, suruh Bella kemari!" Pak Satria memaksa Gilang agar Bella pun masuk ke ruangannya, karena memang seharusnya Bella berada di antara mereka.
"Bella anak kenalannya Papih itu, kan?" Ibu Hani mulai ikut melakonkan sandiwara seperti suami dan anaknya.
"Benar, Mih," jawab Pak Satria.
"Suruh dia masuk saja, Gilang. Ibu udah lama nggak ketemu Bella." Ibu Hani mendukung permintaan suaminya, seolah sudah mengenal lama wanita yang menyamar menjadi sekretaris Gilang.
"Ternyata istri Pak Satria juga mengenal Bella. Apa aku terlalu berlebihan menuduh Bella?" Gilang merasa bersalah karena sudah salah paham dengan hubungan Bella dan Pak Satria. "Tapi, apa istri Pak Satria tahu kalau Pak Satria bersikap mesra dengan Bella?" Masih terselip keraguan di hati Gilang, karena keakraban mereka berdua tampak aneh.
"Baik, Bu. Saya akan hubungi Bella untuk ke sini." Gilang segera menghubungi Bella dengan ponselnya. Namun, panggilan teleponnya tak diangkat oleh Bella. Dia juga mengetik pesan agar Bella dapat membacanya. Tak beda jauh dengan panggilan teleponnya tadi, pesan yang ia kirim pun hanya ceklis satu, menandakan ponsel Bella tidak aktif.
"Sepertinya HP Bella tidak aktif, Pak, Bu. Biar saya turun ke parkiran." Gilang berpamitan hendak memanggil Bella. Namun, Pak Satria dengan cepat menahannya.
"Biar sekretaris saya saja yang atur orang untuk panggil Bella. Mobil Nak Gilang parkir di mana?" Pak Satria kembali bangkit dan berjalan ke arah meja untuk memberi perintah pada Dessy, sektretarisnya.
Selepas bicara pada Dessy melalui media wireless intercom, Pak Satria menuju sofa yang dia duduki tadi.
"Saya jadi merepotkan Bapak." Gilang tak enak hati telah membuat Pak Satria repot memanggil Bella.
"Tidak apa-apa, Nak Satria. Kita ini akan menjadi keluarga, jangan terlalu sungkan terhadap saya." Merasa mereka akan menjadi family, Pak Satria meminta Gilang tak terlalu bersikap formal terhadapnya.
Mereka melanjutkan percakapan santai mereka, hingga sepuluh menit kemudian, Dessy masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, Pak. Info dari security di bawah, katanya nggak ada mobil seperti yang Bapak sebutkan di halaman parkir." Dessy melaporkan informasi yang dia dapatkan dari security. "Kata tukang parkir, mobil itu pergi nggak lama setelah datang," sambungnya.
Gilang terkesiap mendengar laporan Dessy. Mobilnya tak ada di parkiran. Sudah meninggalkan kantor Star Gemilang setelah ia turun dari mobil. Pasti ada sesuatu yang nggak beres.
"Astaga, apa yang dilakukan Bella?" Gilang mulai gusar.
"Apa Nak Gilang yakin parkir di sana?" tanya Pak Satria melihat Gilang gelisah. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Gilang dan Bellam
"Saya yakin parkir dekat pos security, Pak." Gilang kemudian bangkit, "Saya permisi ke bawah dulu untuk mengecek, Pak, Bu." Gilang khawatir terjadi sesuatu, Dia sempat melihat wajah kesal Bella ketika ia menyuruh wanita itu Bella menunggu di mobil.
Setelah mendapat persetujuan dari Pak Satria dan Ibu Hani, Gilang bergegas meninggalkan ruangan Pak Satria.
❤️❤️❤️
Bersambung ...
Kasih 1 kata buat Gimana, Please! 😂
mobilnya di bawa Bella kabur😂 kan kuncinya masih di mobil tadi.apa cuma pindah geser tempat parkir.kalang kabut deh Gilang nyariin Bella.bukan mobilnya.
betul saran Bella,kalau mau ketemu Gilang,manfaatkan saja papanya Bella untuk mempertemukannya dengan Gilang😁
bakal makin gencar gak nih Bella menggoda Gilang setelah dengar cerita Jimmy😁