Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Takut
Deana menggeleng polos. "Dea ndak pelnah lihat, Auntie. Tapi kata Bi Lasti... Ibunya Baby El sekalang lagi koma di lumah sakit."
Koma?
Vivian tertegun di tempatnya. Rasa kaget dan bingung bercampur menjadi satu, yang kemudian dengan cepat berubah menjadi riak amarah yang membakar dadanya.
Kayden bajingan!
Vivian mengumpat dalam hati, giginya mengatup rapat.
Dia sebenarnya selama ini melakukan apa saja di belakangku? Dia punya anak dari wanita lain, dan sekarang wanita itu sedang koma? Benar-benar laki-laki biadab dan bajingan murni!
"Oweeeekkk! Oweeeekkk!"
Tiba-tiba, Baby Elvano memecah keheningan dengan tangisan melengkingnya yang kelaparan.
Deana langsung menarik-narik ujung baju Vivian. "Auntie, Baby El haus! Kasih dia makan, kasian Baby El ndak bisa minum susu botol. Apa Baby El sukanya ail galam?"
Vivian sempat ragu dan enggan. Mengingat bayi ini adalah darah daging Kayden dengan wanita lain, egonya berontak. Namun, melihat bibir mungil bayi itu yang memerah dan tangisannya yang makin kejer, sifat keibuan di dalam jiwa Vivian tidak tega. Bayi suci ini tidak punya salah apa pun.
Vivian akhirnya menggendong Baby Elvano ke atas pangkuannya, lalu membuka beberapa kancing baju tidurnya. Secara ajaib, seolah memiliki insting yang kuat, Baby Elvano langsung berhenti menangis.
Mulut mungilnya dengan rakus menyambar pucuk dada Vivian, menyu-su dengan sangat lahap hingga membuat Vivian mendesah kaget karena sensasi asing yang tiba-tiba menyengat tubuh barunya.
Deana maju mendekat, menatap adiknya dengan wajah bersalah pada Vivian. "Auntie, maaf ya... Baby El emang suka nakal. Mimiknya kenceng kaliiii."
Vivian terkekeh pelan melihat tingkah Deana. Sambil mengusap dahi Baby Elvano yang berkeringat, ia bertanya, "Deana... apa Deana sayang sekali pada bayi ini?"
"Sayaaang, Auntieeeee!" jawab Deana dengan mata berbinar-binar. "Baby El itu bukan cuma adik, tapi dia teman balu Dea. Dea ndak kesepian lagi kalau ada Baby El."
Deg.
Vivian tertegun cukup lama. Bukan karena kalimat yang diucapkan putrinya, melainkan karena melihat senyuman Deana yang sempat sirna selama di mansion, kini terpancar kembali dengan sangat tulus dan bahagia hanya karena kehadiran sang adik.
Hati Vivian melembut. Perlahan, rasa benci pada asal-usul bayi itu mulai terkikis. Bagaimanapun, Elvano adalah adik dari Deana di mata sang putri.
Vivian menarik napas dalam-dalam, lalu memancing ingatan Deana lagi. "Kalau gitu... apa Deana pernah ketemu Nenek atau Kakek dari pihak Ibunya Deana? Orang tua dari Mama Vivian?"
Deana menggeleng polos dengan wajah tanpa dosa. "Ndak pelnah. Dea ndak pelnah ketemu siapa-siapa. Dea ndak pelnah boleh kelual dari lumah besal itu."
Dalam hati, Vivian mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya pada Kayden Gilbert sudah mencapai ubun-ubun. Pria kejam itu benar-benar mengurung putrinya seperti burung dalam sangkar emas, menjauhkannya dari kasih sayang klan Marvis yang sah!
Vivian mengecup dahi Deana dengan penuh tekad. "Deana jangan takut lagi. Auntie janji... suatu hari nanti, Auntie akan mempertemukan Deana dengan Kakek Nicolas dan Nenek Alettha."
Vivian tahu janjinya itu tidak akan mudah. Saat ini, sang 'Iblis Black Valley' pasti sedang mengerahkan ratusan pasukan bersenjata untuk memburunya di seluruh penjuru kota. Namun sebagai mantan putri mafia, Vivian Sherwin yang baru tidak akan pernah mundur selangkah pun.
"Jika nanti aku harus mati untuk kedua kalinya di tangan bajingan itu, aku tidak peduli," bisik Vivian lirih dengan tatapan mata yang mendadak berubah tajam dan dingin. "Asalkan... putriku bisa kembali dengan aman ke pelukan keluarga Marvis."
Sebagai mantan putri mafia, Vivian Sherwin yang baru tidak akan pernah mundur selangkah pun. Pengorbanan seorang ibu baru saja dimulai.
.
.
.
Sementara itu, di Kediaman Gilbert yang sedang dicekam kepanikan massal, Kayden memimpin sendiri pencarian di area paviliun belakang. Sorot matanya yang sepekat malam menyapu setiap jengkal tanah dengan teliti.
Langkah kaki tegapnya mendadak berhenti di depan rimbunnya semak-semak berduri yang berada di sudut paling buta halaman belakang. Dengan kasar, Kayden menyibak tanaman pelindung itu menggunakan ujung sepatunya.
Mata elangnya seketika menyipit tajam.
Di sana, tersembunyi sebuah lubang kecil yang mengarah ke terowongan rahasia bawah tanah. Tempat itu tampak sedikit acak-acakan karena baru saja dilewati seseorang. Dan tepat di dekat mulut terowongan, sepasang benda kecil berkilau terkena sorot lampu senter para penjaga.
Kayden membungkuk, memungut benda itu dengan tangan yang gemetar menahan gejolak emosi.
Itu adalah kacamata milik Deana yang terjatuh.
"Tuan, ini..." Davin yang berada di belakangnya ikut terbelalak syok. "Bagaimana bisa ada terowongan rahasia di sini?"
Kayden mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kacamata putrinya itu tercengkram erat di telapak tangannya. Rahangnya mengeras sempurna. Ia tahu betul siapa yang membuat terowongan ini. Tak salah lagi ini terowongan buatan istrinya.
"Aneh, bagaimana bisa wanita gila itu tahu letak terowongan ini?" batin Kayden bergemuruh hebat.
Pikiran Kayden langsung melesat mundur, mengingat kembali tatapan mata menantang yang sangat familier dari wanita lusuh itu, serta satu kata tegas yang diucapkannya sebelum pingsan tadi.
“Istrimu!”
Jantung sang penguasa Black Valley tiba-tiba berdegup kencang dengan ritme tak beraturan. Sebuah kemungkinan gila yang di luar nalar mendadak menghantam kepalanya hingga membuat napasnya terasa sesak luar biasa.
Apa jangan-jangan wanita gila itu... dia...
"KENAPA KALIAN DIAM SAJA DI SINI, HA? CEPAT TEMUKAN WANITA ITU DAN KEDUA ANAKKU!"
—🌹
Lanjut?
Jangan lupa like, komen, vote, supaya author semangat nulisnya sampai tamat...
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁