Xu Natalia, wanita yang diam-diam mengangkat keluarga Li dari rakyat biasa menjadi bangsawan, justru dihina saat suaminya, Li Adrian, pulang dari perang membawa istri lain. Tanpa banyak kata, ia memilih bercerai dan pergi hanya dengan harga dirinya.
Tak ada yang tahu wanita yang mereka remehkan adalah putri kaisar dari negeri seberang sekaligus ahli pengobatan yang mampu mengubah takdir.
Bagaimanakah saat keluarga Li tahu identitas Natalia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan yang Menyakitkan
“Yang itu letakkan di tengah. Hati-hati, jangan sampai miring.”
Suara lembut itu terdengar jelas di antara para pelayan. Xu Natalia berdiri di tengah aula, mengenakan hanfu biru sederhana yang justru menonjolkan kecantikannya. Wajahnya tampak antusias, hari ini, suaminya akan pulang setelah enam bulan pergi berperang, dan kini membawa kemenangan.
Sejak semalam, ia hampir tidak beristirahat. Semua ia siapkan sendiri, memastikan tak ada yang kurang.
Di sampingnya, Wulan, pelayan pribadinya, menatap dengan khawatir.
“Nyonya Muda, sebaiknya Anda beristirahat dulu. Anda belum tidur sejak semalam,” ujarnya pelan.
Xu Natalia menoleh dan tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja, Wulan. Lagi pula, semuanya hampir selesai.”
Wulan menghela napas, tahu ia tak akan bisa membujuk nyonyanya. Ia pun memilih membantu tanpa berkata lagi.
Tak lama, suasana mendadak berubah saat langkah kaki terdengar dari luar aula. Nyonya Tua Li Anna masuk dengan anggun, diikuti putrinya, Karina, dan menantu pertamanya, Lusi. Tatapan mereka langsung jatuh pada Xu Natalia dengan wajah dingin.
“Natalia,” panggil Li Anna dengan nada dingin dan memerintah. “Pergi ke paviliun belakang. Ambilkan barang-barangku.”
Xu Natalia sedikit terkejut, namun tetap menunduk hormat. “Baik, Ibu. Aku akan menyelesaikan ini dulu, setelah itu—”
“Apa kau membantah?” potong Li Anna tajam. “Berani sekali kau menunda perintah ibu mertuamu!”
Suasana langsung hening. Para pelayan menunduk, tak berani bersuara.
Xu Natalia terdiam. Wajahnya tetap tenang, seolah sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu.
Karina mendengus pelan. “Dasar pemalas. Hal sekecil itu saja masih harus ditunda.”
Lusi ikut tersenyum sinis. “Memang begitu kalau asal-usulnya tak jelas. Tak tahu etika.”
Wulan mengepalkan tangannya, menahan amarah. Namun Xu Natalia hanya mengangguk pelan.
“Baik, Ibu. Aku akan segera ke sana.” Ia berbalik dan berjalan menuju paviliun belakang, diikuti Wulan yang masih menahan kesal.
Begitu Xu Natalia pergi, Li Anna mencibir. “Cih, dasar yatim piatu. Sudah jelas hanya ingin menumpang hidup di keluarga Li.”
Karina tertawa kecil, sementara Lusi menutup mulutnya, menahan senyum.
Namun suasana berubah seketika saat seorang pengawal bergegas masuk dan berlutut.
“Nyonya Tua! Rombongan Tuan Muda Li Adrian sudah tiba di depan gerbang!”
Wajah Li Anna langsung berseri-seri.
“Benarkah?!”
“Iya, Nyonya!”
“Cepat, kita sambut!” serunya penuh antusias.
Tanpa memedulikan yang lain, mereka segera berbalik menuju gerbang utama, meninggalkan aula yang masih dipenuhi sisa persiapan. Mereka bahkan tak berniat memanggil Natalia kembali.
*
*
Di paviliun belakang kediaman, terlihat Natalia dan Wulan sibuk mencari barang milik mertuanya itu.
Tapi gerakan tangan Xu Natalia terhenti sejenak saat seorang pelayan bergegas menghampirinya di paviliun belakang.
“Nyonya Muda, Tuan Muda Li telah datang,” lapor pelayan itu sambil menunduk.
Mata Natalia langsung berbinar. “Benarkah?”
Pelayan itu mengangguk cepat. “Benar, Nyonya. Tapi, Tuan—”
Belum sempat kalimat itu selesai, Natalia sudah berbalik dan bergegas pergi. Senyum manis menghiasi wajahnya, langkahnya ringan penuh harap.
Di belakangnya, pelayan itu hanya bisa terdiam kaku, seolah ingin mengatakan sesuatu namun tak mampu.
Natalia berjalan cepat menuju gerbang utama. Namun, langkahnya tiba-tiba melambat saat suara yang begitu dikenalnya terdengar jelas.
“Andrian, kau tahu? Selama kau pergi, istrimu itu tidak melakukan apa-apa,” ujar Li Anna dengan nada penuh sindiran. “Bahkan semua persiapan ini kami yang susah payah mengurusnya. Dia? Hanya diam di paviliunnya sepanjang hari.”
Langkah Natalia terhenti sepenuhnya. Dadanya terasa sesak. Ia berdiri di balik pilar, tak berani melangkah lebih jauh. Padahal dialah yang mengurus semuanya.
Di sampingnya, Wulan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan amarah. Namun Natalia hanya menunduk, berusaha tetap tenang meski hatinya terasa diremas. Meski begitu, Natalia tidak akan marah.
Lalu suara Li Anna kembali terdengar, kali ini penuh rasa penasaran. “Lalu siapa wanita ini, Andrian?”
Suara pria itu, suara yang begitu Natalia rindukan akhirnya terdengar.
“Dia istriku, Ibu. Gu Lilith, putri dari keluarga bangsawan Gu.”
Deg!
Dunia Natalia seakan berhenti. Tubuhnya membeku.
“Istri?” lirih Natalia tak percaya.
Perlahan, dengan langkah berat, ia menampakkan dirinya dari balik pilar.
Semua orang langsung menoleh.
Di sana, ia melihat Li Andrian berdiri tegap dengan pakaian perang yang megah. Namun yang membuat hatinya hancur adalah wanita di sampingnya.
Seorang wanita cantik dalam hanfu merah muda, menggandeng erat lengan suaminya dengan senyum manis.
Napas Natalia tercekat. “Suamiku .…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Siapa dia?”
Li Andrian menatapnya datar, tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Ini istriku. Lilith.”
Kata-kata itu menghantam seperti petir. Tangan Natalia mengepal kuat, kukunya nyaris melukai telapak tangannya sendiri.
Gu Lilith tersenyum lembut, melangkah sedikit mendekat. “Salam kenal, Kakak,” ujarnya manis. “Mulai sekarang, semoga kita bisa bersama-sama melayani suami kita. Tapi ....”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Andrian dengan lembut sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.
Hati Natalia terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Li Andrian maksud dari istri keduanya itu, akhirnya ia pun melanjutkan dengan nada dingin, seolah membicarakan hal sepele.
“Natalia, Lilith sedang mengandung anakku. Karena itu, mulai sekarang dia akan menjadi istri sah. Sedangkan kau cukup menjadi selir.”
Duar!
Segalanya runtuh dalam sekejap. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Dunia di sekitarnya terasa kabur. Namun tak seorang pun peduli.
“Benar! Kak Lilith ini seorang bangsawan, tidak pantas dia menjadi seorang selir,” sela Karina tanpa memikirkan perasaan kakak iparnya.
Bukannya menegur putrinya, Li Anna justru tersenyum lebar, penuh kebanggaan. Ia segera menggandeng tangan Lilith.
“Ayo, kita ke aula. Ibu sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk kalian,” ujarnya hangat, perlakuan yang tak pernah diberikan pada Natalia. “Ayo, menantuku.”
Rombongan itu pun berjalan pergi, meninggalkan Natalia berdiri sendirian. Tak ada yang menoleh padanya bahkan bersimpati sedikitpun.
Sampai akhirnya, lutut Natalia tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia jatuh terduduk di tanah.
“Nyonya!” Wulan berlari menghampiri, wajahnya panik.
Natalia terisak pelan, air matanya jatuh tanpa henti. “Apa … salahku, Wulan?” suaranya bergetar. “Apa aku kurang baik sebagai istri? Aku telah mengobarkan semuanya.”
Wulan menggigit bibirnya, menahan tangis. Ia memeluk Natalia erat. “Bukan salah Nyonya mereka saja yang tidak tahu diri.”
Namun bagi Natalia, kata-kata itu tak lagi mampu mengobati luka.
Hari yang seharusnya penuh kebahagiaan justru menjadi awal dari kehancuran hatinya.
Selama lima tahun, Xu Natalia mengabdikan dirinya sepenuh hati pada keluarga Li, menahan hinaan, menelan luka, dan tetap berdiri sebagai istri yang setia. Tapi yang ia dapatkan hari ini hanyalah pengkhianatan.
Tubuhnya yang lemah masih terjatuh di gerbang kediaman. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan lagi, bahunya bergetar hebat. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang pucat.
Semua usaha, semua pengorbanan seakan tak pernah berarti. “Apa … semua itu sia-sia?” lirihnya dengan suara parau.
itu siapa punya hak
hadeh dasar ya kko manusia serakah