"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PELARIAN DI SELAT MALAKA
Malam di Sentosa Cove mendadak pecah. WUT-WUT-WUT-WUT! (Deru mesin helikopter tempur yang membelah udara).
Arka, dalam balutan identitas Satria Erlangga, merasakan jantungnya berdegup kencang. Bukan takut, tapi resonansi liar Keris Kyai Sangga Buwana mulai menyatu di jiwanya.
WUUUUUNGGG! (Getaran ghaib dari bilah keris).
"Pegang erat, Siska!" teriak Arka.
Arka memusatkan 15% Sinkronisasi Elemen Udara ke telapak kakinya. ZLAP! ZLAP! Ia melompat dari dahan pohon angsana, bergerak secepat bayangan angin. WUTSH!
Siska mendekap punggung Arka erat-erat. Nafasnya tersengal, namun matanya menatap tajam ke arah mansion ayahnya yang mulai menjauh.
"Arka, mereka pakai sensor panas!" teriak Siska. Di langit, tiga titik merah laser menari di punggung mereka. PIP... PIP... PIP...
Arka melirik ke langit. Tiga titik merah dari laser bidik mulai menari-nari di sekitar mereka. "Aku tahu. Kita butuh media yang lebih besar untuk menyerap energi," gumam Arka.
Arka mengarahkan lompatannya ke tebing. Di bawah, ombak menghantam karang. BYURRRRR!
"Percaya padaku?" tanya Arka singkat.
Siska hanya mengangguk pelan, memejamkan mata.
WUSH! Mereka terjun bebas.
Di udara, Arka memutar tubuhnya, menghunuskan Keris Kyai Sangga Buwana ke arah laut. ZING!
Ia tidak menggunakan kekuatan bumi untuk mengeraskan air, melainkan menggunakan kekuatan udara untuk menciptakan bantalan tekanan tinggi yang memecah permukaan air tepat sebelum tubuh mereka menyentuh laut.
BOOOM! PLUNG!
Mereka tenggelam dalam dinginnya air laut. GLUP... BLUB...
Namun Arka segera mengaktifkan Segel Bumi 20% untuk menstabilkan kepadatan air di sekitar mereka, menciptakan rongga udara kecil yang memungkinkan mereka bernapas di bawah permukaan.
Arka berenang menembus kegelapan air.
***
Satu jam kemudian, di sebuah kapal kargo tua berbendera Panama yang sedang melintas menuju perairan internasional.
Arka dan Siska merangkak naik melalui rantai jangkar. SRET... SRET... SRET...
Tubuh mereka basah kuyup dan menggigil. Kapal ini adalah jalur pelarian yang sudah diatur oleh Eyang Jugo melalui jaringan bayangannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arka sambil menyampirkan terpal bekas ke bahu Siska.
Siska menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan. Di bawah remang lampu dek kapal, wajah Arka tampak lebih tirus dan matanya... meski masih menggunakan lensa kontak biru memancarkan kelelahan yang luar biasa.
"Kenapa kau melakukan ini, Arka?" suara Siska bergetar. "Kau punya hidup baru. Kau punya Dafa. Kenapa kau harus kembali masuk ke dalam lubang neraka keluarga Adiningrat?"
Arka terdiam, menatap keris di tangannya yang kini sudah meredup cahayanya.
"Karena neraka ini tidak akan pernah berhenti mengejarmu, Siska."
"Dan kalau aku membiarkan Rendra mendapatkan keris ini, bukan cuma kau yang hancur, tapi seluruh negeri ini akan tenggelam dalam badai yang diciptakannya."
Tiba-tiba, pintu palka kapal terbuka. BRAK! Seorang pria bertubuh gempal dengan tato jangkar di lehernya keluar sambil memegang senapan pompa. KLIK!
"Siapa kalian?! Berhenti di situ!" teriak sang mualim kapal.
Arka tidak mengangkat tangan. Ia hanya menatap pria itu dengan pandangan dingin. Secara halus, ia melepaskan sedikit frekuensi getaran dari kakinya ke lantai besi kapal.
Getaran itu membuat senapan di tangan pria tersebut mendadak terasa sangat berat, seolah-olah beratnya bertambah menjadi seratus kilogram dalam sekejap.
BRAKK!
Senapan itu jatuh menghantam dek, hampir menghancurkan kaki sang mualim. Pria itu pucat pasi, mundur ketakutan.
"Katakan pada kaptenmu, Satria Erlangga ada di sini. Berikan kami kabin paling bawah dan jangan ada yang mengganggu sampai kita menyentuh perairan Batam," ucap Arka dengan nada yang tak terbantahkan.
***
NGUUUNNGGG... JEDUG-JEDUG..
Di ruang mesin yang bising, Arka duduk bersila. Keris Kyai Sangga Buwana ia letakkan di depannya. Ia harus melakukan mediasi.
Tubuhnya terasa seperti akan pecah, perpaduan antara 20% Segel Bumi yang padat dan 15% Elemen Udara yang liar menciptakan konflik internal di dalam meridiannya.
“Arka... dengarkan aku...” sebuah suara parau terdengar dari dalam bilah keris.
Bukan suara manusia, melainkan gema dari ingatan artefak tersebut. Arka melihat kilasan masa lalu saat keris itu ditempa di kawah gunung berapi menggunakan meteorit jatuh.
Ia melihat sosok pria berjubah putih yang memberikan keris itu kepada leluhur keluarga Adiningrat dengan satu janji, hanya untuk menjaga, bukan untuk menguasai.
"Kau sudah melanggar janji itu, Haris Adiningrat," bisik Arka.
Tiba-tiba... ZING! Radar indera bumi Arka menangkap sesuatu yang mendekat dari bawah laut. Sesuatu yang sangat cepat dan memiliki tanda energi yang sama dengan Rendra.
DUM! DUM! DUM! (Hantaman keras dari bawah laut)
Suara hantaman keras terdengar dari lambung kapal. Kapal kargo raksasa itu berguncang hebat seolah menabrak gunung es. KRAAAKKK! Di atas dek, terdengar teriakan para kru yang ketakutan.
"Dia di sini..." Arka berdiri, menggenggam kerisnya erat-eat.
"Rendra?" Siska ikut berdiri, wajahnya pucat.
"Bukan. Rendra masih di Singapura. Ini adalah sesuatu yang lain... sesuatu yang dikirim oleh Black Order untuk menjemput kembali pusaka ini," Arka berjalan menuju tangga palka.
Saat ia sampai di dek utama, pemandangan di depannya sangat mengerikan.
Air laut di sekitar kapal mulai membeku secara tidak wajar, membentuk tangan-tangan es raksasa yang mencengkeram lambung kapal.
KRETEK... KRETEK... KRIEEET...
Dan di tengah pusaran air dingin itu, muncul sesosok makhluk humanoid yang terbuat dari air raksa hitam, mengenakan jubah tempur The Sovereign.
SREEEET...
Ini adalah 'The Liquidator', unit pembunuh elit hasil eksperimen bioteknologi dan klenik hitam yang dirancang khusus untuk memburu para pemilik segel.
"Serahkan kuncinya, Satria Erlangga," suara makhluk itu bergema dari segala arah, tanpa mulut yang bergerak. WREEEEEE... "Atau kapal ini akan menjadi peti mati besimu di dasar Malaka."
Arka melangkah maju, membiarkan angin laut mengacak-acak rambutnya. WUUUUUUSSSHHHH!
Ia tahu, dengan kondisi tubuhnya yang luka, bertarung di atas air adalah kerugian besar. Ia butuh tanah, tapi di sini hanya ada besi dan air.
"Siska, masuk ke dalam sekoci!" perintah Arka tanpa menoleh.
"Tapi Arka.."
"SEKARANG!"
Arka menghujamkan Keris Kyai Sangga Buwana ke udara. ZAP! Bilahnya berpendar hijau zamrud yang menyilaukan.
CRAAAASH! Arka tidak membuat perisai, ia memaksakan getaran buminya masuk ke molekul es yang sedang mencengkeram kapal.
KRAAAKKKKK... PRANKKKKK!
Molekul es itu bergetar hebat sebelum meledak menjadi serpihan tajam. Arka menarik napas panjang, menatap sang pembunuh cair di depannya. Matanya berkilat ungu tajam.
"Kau ingin air?" bisik Arka dingin. "Akan kuberikan Samudera."
DHUMMMMMMM!
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.