Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Di kafe tempat aku biasa datang untuk menemui Maya pada hari Senin sepulang sekolah, hari ini bukanlah hari Senin tapi aku harus menemui Maya karena peristiwa yang menggemparkan sekolah telah terjadi. Peristiwa itu adalah pengakuan seorang serigala penyendiri yang memasukkan sebuah Manga bergenre Romantis Komedi yang terkenal dengan adegan – adegan tidak senonoh sering menyelip di dalam ceritanya ke dalam tas seorang siswi cantik yang merupakan teman sekelas dari si serigala penyendiri, apa masih tidak terdengar seperti tindakan seorang kriminal?
Ditambah bumbu – bumbu gosip yang entah datang dari mana seperti katanya si serigala penyendiri ini sering mengintip saat siswi – siswi sedang berganti pakaian olahraga atau katanya si serigala penyendiri ini pernah menyelonong ke dalam kamar mandi cewek, sungguh kasihan sekali nasib serigala penyendiri ini kena gosip yang begitu kejam...
...Bagaimana mungkin kehidupan keduaku malah menjadi lebih parah daripada kehidupan pertama? Ini jelas salah Maya kan?
“Jadiii~... Rakaaaa... apa komentarmu...?!” tanya Maya dengan nada yang mengerikan, itu seperti sebuah amarah yang terpendam dan akan segera meledak kalau aku melakukan kesalahan saat menjawabnya.
“Tu... tunggu! Aku punya alasan kuat untuk kasus memasukkan Manga Rom-Kom (Romantis-Komedi) ke tas Elma!” jawabku panik karena aku sangat ketakutan melihat senyum Maya yang tampak seperti seorang pembunuh berdarah dingin.
Jauh di lubuk hati paling dalam, aku juga tidak ingin menjadi musuh semua orang, tahu. Aku cuma ingin memecahkan masalah dan mengatakan apa pun yang ada di benakku, tapi yang terjadi malah sekarang semua orang berpikir kalau aku adalah pria yang sangat menjijikkan. Jujur saja, aku cuma takut akan ada yang melaporkanku ke polisi atas dugaan dan kesalahpahaman yang saat ini berkembang. Aku tidak bisa mati dengan tenang kalau gosip liar itu masih menjadi topik panas di SMA-ku...
“Haah... ini ada hubungannya sama Elma yang memutuskan untuk berhenti sekolah, kan?” tanya Maya lagi sambil menghela nafasnya, dia sampai menyandarkan tubuh di kursi dan terlihat sangat kelelahan dengan semua yang terjadi.
Tunggu... yang seharusnya merasa lelah itu aku, kan? aku seperti ini karena permintaan dari cewek di depanku ini!!
“Ternyata kamu cepat mengerti ya...” sindirku karena di awal tadi Maya terkesan tidak mau memahami kenapa aku melakukan hal memalukan itu.
“Tapi aku tetap curiga kalau kamu sengaja melakukan serangan bunuh diri karena kamu gak bisa mendapatkan perhatian Elma hingga sampai titik ini” dengan penuh kecurigaan Maya mengatakannya, dia bahkan menatapku seolah aku melakukan tindakan memalukan itu untuk mencari perhatian Elma.
“Wooii!! Aku tidak sedang mengincar cinta Elma, siapa juga yang mau melakukan hal memalukan seperti itu untuk mengejar cinta orang lain?!! Hanya akan ada kebencian yang bisa aku dapatkan, tau!” timpalku dengan bentakan, Maya menghela nafasnya masih menatapku penuh curiga.
“Iya sih, tapi kan benci sama cinta itu beda tipis” terdengar seperti sebuah sindiran saat Maya mengatakannya, aku semakin emosi mendengar omong kosong Maya dan ditambah mentalku juga sudah terkoyak saat ini.
“Mana ada!!!” dengan bentakan aku mengatakannya, aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyingkirkan perasaan marah ini.
“Terus apa sih yang kamu pikirkan sampai berbuat gitu?!” tanya Maya heran.
“Jadi gini ceritanya...” jawabku dan aku terpaksa harus menjelaskan apa yang membuatku bertindak sejauh itu meski aku tahu aku akan hancur di kehidupan SMA keduaku...
Aku terpaksa menceritakan tentang pertemuanku dengan Elma di toko buku saat akhir pekan di mana saat itu aku melihatnya membeli beberapa Manga dan novel bergenre Romantis Komedi, lalu aku melanjutkan cerita tentang konflik antara Elma dan Sari yang mungkin menjadi sebab kenapa di kehidupan pertama kita ketika itu Elma dan Sari memutuskan untuk berhenti sekolah.
Aku juga menjelaskan alasan kenapa Elma tidak ingin rasa cintanya pada Manga dan novel bergenre Romantis Komedi diketahui publik, karena hal itu akan menjatuhkan namanya dan pasti akan dijauhi oleh lingkaran pertemanannya yang sekarang. Menimbang seberapa besar pengaruh perbuatan Sari, aku sudah tidak punya rencana lain dan terjadilah penyelamatan bunuh diri itu.
“Ooh gitu.. kalau begitu, apa kejadian ngintip perempuan ganti baju dan nyelonong ke kamar mandi perempuan bisa dianggap sebagai rencana penyelamatan bunuh dirimu juga?” tanya Maya sambil berpose dia sedang berpikir keras seperti seorang detektif, dia cuma sedang mengejekku dengan posenya itu kan!!
“Tidak bisa!!! Itu tidak ada dalam rencanaku dan aku mengutuk siapa pun yang membumbui gosip seenaknya begitu!!!” bentakku begitu kesal, Maya menatapku dengan wajah serius dan berkata...
“Ya udah, aku rasa kamu gak sengaja memasukkan itu ke punya Elma” dengan nada datar Maya mengucapkannya, aku pun langsung memandangnya dengan tatapan jijik.
“Kok rasanya kata – katamu agaaakk...” aku menggantung kalimatku karena aku rasa itu terdengar seperti lawakan jorok yang dikeluarkan Maya
“Hah?” tanya Maya terdengar bingung, sepertinya dia benar – benar tidak sadar kalimatnya begitu ambigu...
Terdiam sejenak, mungkin Maya mencoba memutar kembali kata – katanya di dalam kepala. Dia menatapku dengan raut wajah heran dan tidak lama setelahnya, wajah Maya merah padam. Dia menggebrak meja lalu menunjukku dengan jari telunjuknya sambil berteriak...
“Bodoh!! bodoh!! dasar cabul!!! Yang aku maksud itu memasukkan Manga ke tas punya Elma!!” teriak Maya terdengar begitu panik dan begitu merasa malu, aku tidak ingin beraksi apa pun lagi karena aku memang sudah sangat lelah saat ini.
“Padahal kamu baru saja memikirkan hal yang sama kayak aku” agak bergumam aku katakan itu, Maya pun menarik nafas panjang lalu melipat kedua tangan di atas meja dan meletakkan kepalanya ditumpukan tangannya.
“Ampun deeh~ bisa gak sih gak buat aku marah terus?” pinta Maya terdengar seperti sebuah keluhan, padahal dia yang selalu over reaktif...
Perlahan Maya mengangkat kepalanya untuk kembali menatapku, pipinya masih memerah dan aku rasa dia masih ke pikiran sama apa yang baru saja dia katakan. Dia menatapku dengan raut wajah sebal, meletakkan kedua telapak tangan di pipi, lalu berkata...
“Kita itu sedang membicarakan soal gosipmu, desas – desus yang mengatakan kalau kamu anak yang berbahaya sudah terdengar sampai ke kelasku” tegas namun sedikit terbata Maya mengucapkannya, aku menghela nafas dan dengan datar aku katakan...
“Aku ini memang pria berbahaya di mata orang lain” ucapku.
“Kita bahkan baru melewati tengah semester pertama, tapi kamu sudah buat kehidupan SMA keduamu seperti di neraka! Kamu ini ngapain aja siiiih?!!!” terdengar kesal Maya mengatakannya, aku kembali menghela nafas dan aku jawab...
“Hanya itu saja satu – satunya yang bisa aku perbuat” jawabku
“Ini kehidupan SMA keduamu loooo~!!!! Aaaa~ harusnya kan jadi lebih baik dari sebelumnya!!!! Kenapa kamu membuatnya menjadi semakin bertambah buruk?!!!” semakin kesal Maya dibuatnya, dia mungkin lupa kalau aku melakukan hal memalukan ini karena dia sedih mengetahui Elma dan Sari akan berhenti sekolah di kehidupan pertama kita.
“Yaa... gimana...” timpalku lalu aku menghela nafas, aku rasa aku sudah putus asa...
“Begini, aku juga ke pikiran tentang kehidupan keduaku yang menjadi jauh lebih buruk daripada di kehidupan pertama dan aku gak bisa membantahnya. Tapi aku minta tolong, jangan terlalu keras denganku” pintaku padanya
“Ya kan harusnya kamu rencanakan dulu sejak awal!! Ini kan kejadian yang pernah terjadi!!!” timpal Maya membentakku, lalu dia menarik nafas dalam – dalam dan kembali menyandarkan punggungnya di kursi.
“Kehidupan SMA keduamu bakal lebih kacau kalau seperti ini, tau?!” ucap Maya masih terasa dia sangat kesal dengan apa yang terjadi padaku, aku harus segera memberinya pengertian agar dia tidak terlalu jauh memikirkan tentang diriku.
“Gak usah terlalu dipikirkan, aku gak pernah peduli sama kehidupan SMA-ku” jawabku tenang dan mencoba memberinya pengertian kalau aku benar baik – baik saja.
“Ya aku tau kamu gak peduli, tapi aku peduli!” timpalnya sambil kembali menempelkan badannya ke meja dan sedikit menggebrak meja itu, aku terkejut tapi bukan karena sikapnya namun karena apa yang dia katakan...
Dia bilang kalau dia peduli padaku? Kenapa? Aku dan dia tidak pernah terikat hubungan apa pun di kehidupan pertama kami, lebih dari itu... aku merasa dia semakin cerewet dan suka mengatur seperti seorang ibu, apa maksudnya?
“Hah? Maksudnya?” tanyaku dan seketika itu Maya terdiam menatapku, tidak lama dia menghela nafas dan membuang muka.
“Haah~ gak ada maksud apa – apa, lupakan saja” jawabnya dan Maya menekan bel untuk memanggil pelayan kafe.
“Hari ini sekalian makan siang aja deh, gak enak juga kalau cuma beli paket all you can eat terus – terusan” celetuk Maya setelah menekan bel, ini seperti dia sedang mengalihkan pembicaraan, kan?
Ingin sekali aku bertanya tentang beberapa keganjilan sikap Maya kepadaku, tapi aku yakin itu hanya akan merusak suasana. Terlebih aku baru saja menjalani hari yang berat, aku juga butuh istirahat sejenak untuk menyembuhkan mentalku yang sudah terkoyak – koyak. Kejadian di sekolah tadi benar – benar merusak akal sehat dan mentalku secara keseluruhan.
“Kalau gitu aku juga sama, aku rasa aku pantas diberi reward atas kerja kerasku hari ini” timpalku sambil membuka buku menu yang ada di atas meja, tapi tiba – tiba Maya menahan buku menu itu dan membuatku menatapnya.
“Raka, terima kasih sudah mau menolong Elma. Aku tahu itu permintaanku, dan aku belum sempat mengucapkan terima kasih sejak tadi” ucapnya dengan suara yang terdengar begitu lembut lalu dia melepaskan tangan dari buku menu yang sedang aku buka itu, jujur saja aku terkejut melihat Maya tiba – tiba lembut seperti itu ke aku.
“Aku membantu karena aku memang mau dan gak ada hubungannya sama kamu, jadi gak perlu sampai bilang terima kasih padaku” timpalku sambil kembali mengalihkan perhatianku ke buku menu, namun aku tidak membacanya karena masih kaget mendengar ucapan terima kasih dari Maya.
Ini bukan karena Maya yang mengucapkan terima kasih sampai membuatku terpesona, tapi... seumur hidup, baru kali ini aku mendengar ucapan terima kasih karena membantu seseorang, jadi ketika mendengarkan ucapan terima kasih darinya itu membuatku bingung harus berkata apa. Aku hanya mengatakan apa yang tiba – tiba terbesit di kepala, entah perkataanku itu tepat atau tidak... aku tidak peduli...
“Kemarin aku mengatakan tentang kekhawatiranku ke kamu, tapi aku sendiri gak berbuat apa – apa...” ucap Maya dan dia terdengar sedang sedih atau menyesal, aku mengerti... dia memang tipe orang yang selalu ingin membuat semua orang senang, sayangnya kali ini dia tidak punya kesempatan apa pun untuk membereskannya...
“Ya wajar, kamu gak sekelas ataupun berteman sama Elma atau Sari” timpalku, aku mencoba memberinya semangat meski aku tidak tahu apa kata – kata itu bisa untuk membuatnya berhenti menyalahkan dirinya sendiri.
“Jujur aja aku tidak ingin terlibat awalnya, aku pura – pura gak lihat dan berharap punya kesempatan untuk kabur secepat mungkin dari kelas” ucapku kembali mencoba menyemangatinya, aku tidak ingin Maya berpikir buruk tentang dirinya dan merasa dia lebih rendah dari aku.
“Meski begitu... pada akhirnya kamu menyelamatkan Elma, sama seperti saat kamu menyelamatkanku...” timpalnya, jujur aku terkejut mendengar perkataan Maya sampai aku kembali mengalihkan pandanganku menatap wajahnya yang merona...
Dalam hati aku bertanya ‘Apa... apaan itu?’ ketika melihat tatapan lembut Maya kepadaku, dia tersenyum manis yang bisa membuat detak jantungku berdebar kencang. Apa ini artinya? Kenapa dia berekspresi seperti itu?
“....Jadi? apa yang mau kamu katakan sebenarnya?” tanyaku setelah beberapa saat aku hanya terdiam menatap matanya
“...Jadi.. aku berpikir... kalau aku dan kamu bisa...” Maya menggantung kalimatnya, perlahan dia mengalihkan pandangan menatap keluar kaca jendela di kanannya.
“Maaf sudah me...” suara pelayan mendekat, suasana aneh bersama Maya pun buyar karena aku belum memutuskan akan memesan apa.
Dalam hati aku berkata ‘Sial! Aku belum memilih menu! Gara – gara Maya ,aku sampai lupa mau pesan apa!!’ aku pun cepat – cepat membuka buku menu itu lagi dan melihat apa yang menarik untuk aku jadikan makan siangku, namun percuma karena pelayan sudah berdiri disebelah meja dan menungguku untuk memesan. Aku jadi tidak enak hati...
“Eeh... serius...” celetuk pelayan itu, tentu saja celetukan itu membuatku heran karena tidak biasanya pelayan bertanya serius ke konsumennya yang ingin memesan.
Aku pun mengalihkan pandanganku menatap pelayan dan ketika itu aku tahu kenapa pelayan itu kaget saat melihatku...
“Raka... kenapa kamu ada disini?” tanya Elma padaku