Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah itu?
"Ugh..." Ella mengeluh saat matanya terbuka, tubuhnya terasa pegal bukan main dan rasanya tulang- tulangnya terasa remuk.
"Sakit sekali," keluhnya saat mendudukan dirinya. Ella tahu katanya kehilangan keperawanan itu sangat sakit, dan sekarang dia tahu bagaimana sakitnya. Meski akhirnya itu semua kalah dengan kenikmatan yang di dapat, tetap saja setelah selesai sakit itu kembali terasa. "Sialan! Dia benar-benar mengerjai aku? Apanya yang lemah dan tidak bergairah. Dia seperti singa yang ganas."
Ella mengedarkan pandangannya. Dia masih berada di kamar Dominic setelah semalam pria itu tak melepaskannya. Melakukan praktik yang sesungguhnya. Kamar telah rapi, tak ada jejak semalam dimana pakaian mereka berserakan di lantai.
Ella menunduk menatap dirinya yang hanya terbalut selimut. Tiba-tiba pipinya terasa panas.
"Aku menyerahkan diriku pada pria jahat itu." Ella ingin mengutuk dirinya sendiri. Bisa- bisanya dia tak tahan dengan sentuhan Dominic, tubuhnya tak bisa menghindar saat beberapa hari ini dia terus bermimpi bercinta dengan pria itu, rasanya tubuhnya bergejolak dan mendamba hingga akhirnya terjadi juga percintaan yang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar mimpi.
"Sialan kau, Ella," umpatnya pada diri sendiri.
"Setelah ini, apa?" Ella meremas rambutnya frustasi. "Tidak Ella, ini bukan apa- apa. Ini hal biasa yang terjadi pada wanita dewasa. Jangan sampai terbawa perasaan." Ella menurunkan kakinya, meraih kemeja putih yang tergantung di lemari lalu mengenakannya. Entah kemana larinya pakaiannya, dia tak menemukannya. Tidak mungkin dia keluar kamar dengan tubuh polosnya, bukan? Jadi satu- satunya cara adalah dia meraih satu kemeja Dominic untuk dia kenakan.
Ella menggelung asal rambut berantakannya, lalu meraih kacamatanya di atas nakas di samping tempat tidur. Setelah memastikan tak ada orang melihatnya, Ella melangkah mengendap untuk pergi ke kamarnya, namun saat melewati ruang kerja Dominic, Ella menghentikan langkahnya sebentar, untuk mendengar pembicaraan dari dalam.
Terdengar suara Dominic dan Bobby, dan yang membuatnya mengerutkan keningnya kedua orang itu tengah membicarakannya.
"Jadi, apa yang akan anda lakukan pada nona Ella selanjutnya, Tuan?"
"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?" Suara Dominic sangat tenang, saking tenangnya membuat Ella penasaran apa yang pria itu pikirkan. Benar apa yang akan pria itu lakukan padanya? Jika Dominic akan membunuhnya, maka dia harus segera lari.
"Saya tidak berani, Tuan." Tentu saja Bobby tak akan berani bicara. Hanya Dominic yang berhak memutuskan. Ella memfokuskan telinganya untuk mendengar lebih jelas. Bagusnya ruang kerja ini tak seluas ruang tamu jadi dia masih bisa mendengar meski samar.
"Hanya saja peringatan Tuan besar yang ingin anda menikah dengan putri klan lain memang harus di pertimbangkan demi klan kita."
Hening beberapa saat, hingga suara dingin itu kembali terdengar.
"Kamu pikir aku akan menikah dengan Ella? Kamu pikir karena aku tidur dengannya aku harus menikahinya?"
Degh!
Ella merasakan hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Dia yang sejak tadi merasa penasaran dengan perbincangan keduanya memilih melanjutkan niatnya untuk pergi ke kamarnya. Menyeret kakinya yang masih terasa kebas terutama di bagian intinya.
Ella tahu dia dan Dominic tak memiliki hubungan apapun. Saat melakukannya pun Ella tak berpikir akan menjadi wanita Dominic atau bahkan menikah dengan pria itu.
Itu terlalu jauh.
Ella hanya menganggap ini hanya hubungan antara pria dan wanita dewasa. Dominic yang memang ingin memastikan kejantanannya, dan Ella yang penasaran dengan hal tersebut, dimana dia yang introvert dan tak memiliki kekasih belum pernah melakukannya di usia ini.
"Ini bukan sesuatu yang harus di pikirkan. Aku juga tidak akan meminta pertanggungjawabannya." Ella juga tahu diri. "Lagi pula aku juga tak mau menikahi penjahat." Gerakan Ella yang hendak meraih pakaian dalam lemari terhenti.
"Tunggu! Aku harus memastikan setelah ini aku akan di apakan? Setidaknya aku harus segera pergi, kan? Jangan sampai pria itu berakhir membunuhku seperti para wanita itu." Ella bergidik ngeri. "Kenapa tadi aku tidak mendengarkan sampai selesai, setidaknya aku tahu apa yang akan dia lakukan padaku. Bodoh!" rutuknya.
Meraih pakaian asal Ella segera pergi ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
....
Ella menatap sekitarnya, setelah memastikan tidak ada orang Ella melanjutkan niatnya untuk keluar kamar.
"Lapar sekali." Mengusap perut ratanya Ella melangkah menuruni tangga. Di jam seperti ini biasanya Dominic sudah pergi. Jadi dia bisa turun untuk makan. Namun saat tiba di ruang makan, langkahnya terhenti saat melihat di meja makan sana Dominic duduk di salah satu kursi.
Ella membalik tubuhnya hendak membatalkan niatnya untuk makan, namun suara Dominic justru terdengar membuatnya tertegun. "Tidak mau makan? Kamu harus memulihkan tenagamu, kan?"
Ella memejamkan matanya dengan bibir meringis. "Aku cuma takut mengganggu." Ella melangkah mendekat lalu menarik kursi yang sedikit jauh dari Dominic.
Dominic benar, dia harus memulihkan tenaganya, namun seberapa terlihat menggugahpun makanan di meja, Ella rasa dia akan kehilangan nafsu makannya, jika di depannya ada Dominic.
"Makanlah!"
"Baik." Ella mengangguk dan mengambil makanan ke dalam piringnya. Sepanjang makan Ella tak berani melihat Dominic. Bagaimana pun dia takut pria itu tiba-tiba mengungkit hal semalam dan akan menjadi canggung.
Benar saja makanan ini terasa seperti jarum yang menusuk tenggorokkannya. Tak enak, dan tak nyaman.
Ella meletakkan sendoknya. "Aku sudah selesai—" namun saat baru akan bangkit suara Dominic terdengar.
"Mengenai semalam—" Ella membelalakan matanya lalu dengan cepat menyela ucapan Dominic.
"Tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban," potongnya cepat.
"Itu, kemauanku sendiri. Anggap saja itu benar-benar praktek yang harus dilakukan." Ella meringiskan senyuman. "Jadi, kita lupakan saja, ya?"
Dominic menatap Ella dengan mata tajamnya, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi berlebihan, hanya kerutan samar di dahinya yang nyaris tak terlihat oleh Ella.
"Jadi, itu bukan hal penting?"
Ella terkekeh, "Itu hal wajar yang terjadi antara pria dan wanita dewasa. Kamu tidak perlu memikirkannya, Tuan."
Dominic mengetuk jarinya di meja. "Baiklah," ucapnya setelah diam beberapa saat.
"Baiklah." Ella mengulang ucapan Dominic. "Kalau begitu, aku bisa pulang, kan?" tanyanya dengan senyum canggung. Sungguh dia ingin cepat- cepat pergi dan mengurung dirinya di kamar kosnya.
Dominic mengerutkan keningnya, dan kali ini kerutannya nampak lebih dalam. "Aku pikir kamu mengerti dengan perjanjian kita, Ella?" Dominic beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri Ella.
"A—ku mengerti, tapi bukankah kita sudah membuktikannya, tidak ada yang salah denganmu. Kau—" Ella menghentikan ucapannya saat Dominic semakin mendekat dan mengurungnya membuatnya semakin mengerutkan dirinya di kursi.
"Aku apa?"
"K—au pria jantan ... dan bergairah." Ella berucap tergagap, dengan pipi merona.
Dominic menyeringai. "Tapi aku butuh membuktikannya lebih lama. Jadi, kamu harus tetap tinggal."
"A—apa!" Apa pria itu bermaksud melakukannya lagi dengannya? Mata Ella mengerjap cepat. Meski itu terdengar menggoda, tapi dia harus tetap sadar, jangan sampai dia tak bisa menahan dirinya lagi nanti.
"Sebagai gantinya Bobby akan segera membayarmu." Dominic menarik diri membuat Ella tertegun.
"Tenang saja kamu tidak akan rugi."
Ucapan Dominic terdengar benar, tapi entah kenapa dia justru merasa hatinya tergores.
Membayar?
Dia pikir aku pelacur?
bapak ma anak sama aja ..😏😏...
belum tau aja klo Ella ada bodyguard nya .
dah lah... jangan salahin Ella klo dia bener2 ninggalin kamu, Dom..
cut...cut...
aq ngga mau jadi nyamuk, ngintipin orang begituan 🤭🫣
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....