Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Suara dari Balik Batu
Wira membeku di tempat.
Suara itu datang lagi, lebih pelan, lebih rapuh, tetapi jelas cukup untuk membuat seluruh ruangan seperti berhenti bernapas.
“Wira...”
Ia menoleh cepat ke arah sumber suara. Semua mata ikut bergerak ke dinding batu yang retak di sisi ruang sisa. Dari celah yang nyaris tak terlihat itu, ada embusan udara dingin yang keluar perlahan, membawa bau lembap yang lebih tua dari ruang ini sendiri.
Panca langsung mundur setengah langkah. “Itu... orang?”
Jaya tidak menjawab. Ia justru mengangkat lampu lebih tinggi dan bergerak mendekat, namun Ki Rangga menahan lengannya.
“Jangan dulu,” kata gurunya.
Watu menatap celah batu itu dengan wajah yang mendadak pucat. Danar juga diam, seolah tubuhnya menegang bukan karena takut, tetapi karena sesuatu yang sangat lama akhirnya menyentuhnya kembali.
Wira menelan ludah. “Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Namun dari balik celah itu terdengar bunyi halus, seperti tangan yang menyentuh permukaan batu dari sisi lain.
“Dia masih ada,” bisik Watu.
Raden Seta menatap lelaki tua itu. “Kau yakin?”
Watu mengangguk kecil. “Kalau suara itu keluar dari ruang sisa, berarti penahan terakhir belum runtuh.”
Panca menggaruk tengkuknya. “Kalau begitu tolong jelaskan kenapa semuanya masih terdengar seperti kita sedang dikejar.”
Ki Rangga menoleh tajam ke arah lorong masuk. Benturan di belakang mereka belum berhenti. Suara batu dipukul dan kayu diseret terdengar makin keras. Orang-orang yang mengejar mereka sudah masuk ke jalur terakhir.
“Aku tidak suka dua masalah datang bersamaan,” gumam Jaya.
“Aku bahkan tidak suka satu masalah pun,” balas Panca.
Wira tidak mendengar percakapan itu sepenuhnya. Pandangannya masih tertuju pada celah batu. Suara ibunya tadi seperti menghapus semua jarak yang selama ini ia tempuh. Setelah petunjuk, lorong, nama, dan ruang-ruang bawah tanah, akhirnya ada suara nyata yang mungkin berasal dari orang yang selama ini ia cari.
“Buka itu,” kata Wira pelan.
Danar menatapnya cepat. “Jangan sembarang buka.”
Wira menoleh. “Kalau dia benar ibuku, aku harus dengar.”
Danar diam sejenak, lalu menatap Watu. Watu menghela napas panjang dan mengangguk tipis.
“Kalau begitu kita buka dengan hati-hati,” katanya.
Arya segera bergerak ke sisi dinding yang retak. Ia meneliti celah itu, lalu menekan batu kecil di bawahnya. Bunyi klik terdengar pelan. Batu di tepi celah bergeser sedikit, cukup untuk membuat retakan melebar sejengkal. Dari baliknya, muncul cahaya kuning sangat redup, seolah ada lampu lain di ruangan sebelah.
Wira mendekat setengah langkah.
Lalu suara perempuan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas.
“Jangan buka semuanya.”
Wira menahan napas.
“Larisa?” tanya Danar dengan suara serak.
Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara napas yang terdengar berat di balik batu. Wira merasakan dadanya sesak.
“Bu...” katanya lirih.
Ada jeda panjang. Lalu, sangat pelan, suara itu menjawab, “Kau datang juga.”
Wira menutup mata sesaat.
Jaya menatap Ki Rangga. “Ini benar.”
Watu memejamkan mata seolah menahan sesuatu yang terlalu lama ditunggu. Panca malah tampak makin panik. “Aku tidak tahu harus senang atau takut.”
“Dua-duanya,” jawab Arya datar.
Ki Rangga menatap celah batu. “Kita harus bisa lihat ke balik sana.”
Watu mengangguk. “Tapi kalau jalur penahan dibuka terlalu lebar, ruang sisa akan kehilangan penguncinya.”
Raden Seta mengerutkan dahi. “Maksudmu ruangan ini bisa runtuh?”
“Bukan runtuh,” jawab Watu. “Terbuka.”
Wira menatap batu retak itu. Ia tidak peduli dengan istilah teknisnya. Yang ia pedulikan hanya suara ibunya yang nyata, dekat, dan mungkin lebih lemah dari yang ia bayangkan.
“Buka,” katanya lagi.
Arya dan Jaya maju bersama. Dengan hati-hati mereka menekan dua sisi batu yang retak. Celah itu melebar perlahan, cukup untuk menampakkan bagian ruang kecil di baliknya. Ruangan itu gelap, sempit, dan penuh debu. Di sana, bersandar pada dinding batu, ada seorang perempuan duduk dengan tubuh yang terlihat sangat kurus.
Wira berhenti bernapas.
Rambut perempuan itu kusut dan panjang, sebagian menutupi wajahnya. Pakaiannya lusuh dan berlapis debu. Namun ketika ia mengangkat kepala sedikit, Wira melihat wajah yang tidak asing lagi—lebih pucat, lebih tua oleh waktu dan luka, tetapi tetap wajah yang selama ini menghantui liontin kecil di dadanya.
“...Ibu.”
Larisa menatap Wira dengan mata yang tampak lelah namun masih hidup. Matanya bergerak perlahan, seakan memastikan bahwa yang berdiri di depannya benar-benar anaknya.
Danar melangkah maju setengah langkah. “Larisa.”
Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu menghela napas yang terdengar seperti rasa sakit yang sangat lama.
“Kau terlalu lama,” katanya pelan.
Danar menutup mata sesaat. “Aku tahu.”
Panca yang ikut mengintip dari belakang langsung berbisik, “Ya ampun, ini benar-benar reuni keluarga yang paling gelap.”
Jaya menahan bahunya agar tidak maju terlalu dekat. “Diam dulu.”
Larisa mengangkat tangan sedikit. Jarinya gemetar. Wira melihat ada bekas luka tipis di pergelangan tangannya, dan noda gelap di ujung lengan. Ia tampak lemah, tetapi tidak sepenuhnya lumpuh. Seperti orang yang bertahan hanya karena masih ada satu tugas terakhir.
Wira menelan ludah. “Ibu... aku datang.”
Larisa menatapnya lama. “Aku tahu.”
Kalimat itu sederhana, tapi justru membuat dada Wira semakin sesak.
Ki Rangga menatap Larisa dengan waspada. “Apa yang terjadi padamu?”
Larisa memalingkan wajah sebentar ke arah ruang gelap di belakangnya. “Aku menjaga sisa.”
Watu langsung menegang. “Jadi benar kau masih menahan pintu.”
Larisa mengangguk pelan. “Selama ini.”
Raden Seta menatapnya. “Kau ada sendirian?”
“Tidak sepenuhnya,” jawab Larisa.
Semua langsung saling pandang.
Danar menegang. “Ada orang lain?”
Larisa mengangguk kecil. “Ada yang belum keluar.”
Panca langsung mendesah. “Tentu saja ada.”
Wira menatap ibunya dengan cepat. “Maksud Ibu apa?”
Larisa menatap Wira, lalu menoleh ke batu di sisi kirinya. “Ada satu nama yang belum disebut.”
Ki Rangga langsung paham lebih dulu. “Nama siapa?”
Larisa menatap Danar, lalu Watu, lalu Wira. “Nama yang dihapus dari semua catatan karena jika disebut, pintu terakhir tidak lagi bisa ditutup.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Watu langsung pucat. “Jangan bilang nama itu ada hubungannya dengan pengucapan ulang.”
Larisa mengangguk pelan. “Itulah yang mereka sembunyikan.”
Danar menatapnya tajam. “Kau masih menyimpan bagian itu.”
Larisa menatapnya balik. “Kalau tidak, kalian semua sudah tahu siapa yang benar-benar memerintah sejak awal.”
Wira kebingungan. “Siapa?”
Larisa tidak langsung menjawab. Ia justru menahan napas, lalu berkata sangat pelan, “Nama itu bukan hanya nama orang. Itu juga nama yang dipakai sebagai tanda kuasa.”
Arya mengernyit. “Tanda kuasa?”
Larisa mengangguk. “Jika kalian menyebutnya, orang yang berada di balik semua penghapusan akan tahu bahwa pintu ini sudah tidak aman lagi.”
Jaya menatap lorong belakang. “Dan mereka sudah dekat.”
Benar saja, dari jalur masuk terdengar suara keras. Bukan hanya dipukul, melainkan didobrak. Pintu atau batu penahan di lorong luar mungkin sudah hampir roboh.
Ki Rangga langsung menatap Wira. “Kita tidak punya banyak waktu.”
Wira menatap ibunya yang masih duduk lemah di balik celah batu. “Ibu, bagaimana aku membawamu keluar?”
Larisa tersenyum kecil, sangat tipis. “Kau tidak bisa membawaku keluar sekarang.”
Wira membeku. “Kenapa?”
“Karena kalau aku keluar sebelum ruang sisa diputus, nama kita yang belum sempat selesai akan ikut terbawa keluar bersama mereka.”
Wira menatap ibunya tanpa berkedip. “Jadi Ibu harus tetap di sini?”
Larisa mengangguk perlahan. “Sebentar lagi.”
Danar langsung menoleh. “Tidak. Kita tidak meninggalkanmu lagi.”
Larisa menatapnya dengan mata tajam meski lemah. “Bukan soal meninggalkan. Ini soal menahan pintu sampai anak kita tahu siapa yang harus dituju.”
Wira merasakan tengkuknya dingin. “Aku?”
Larisa mengangguk.
Watu menatap mereka semua, lalu mengeluarkan lembar kulit kayu yang tadi dibaca. “Ada satu nama lagi di daftar ini, tapi sebagian sudah dibakar.”
Raden Seta mendekat. “Bacakan.”
Watu menyipit, lalu membaca potongan yang masih terlihat.
“...yang memerintah pemisahan terakhir...”
Sisanya rusak.
Panca mengumpat pelan. “Bagus. Selalu ada bagian yang rusak.”
Larisa menatap Watu. “Kalau kalian ingin sisa yang hilang, buka batu di bawahku.”
Wira langsung menoleh. “Batu?”
Larisa mengangguk ke lantai ruang kecil di belakang celah. “Di bawah alas ini ada peti datar. Di sana ada nama yang selama ini disembunyikan dari semua catatan.”
Wira menatap celah batu itu. Di balik ibunya, ia bisa melihat lantai ruang kecil yang sempit dan gelap. Ada tanda ukiran samar di salah satu batu datarnya, nyaris tak terlihat.
Ki Rangga menatap Jaya. “Buka kalau bisa.”
Jaya mengangguk lalu maju, tetapi suara dari lorong belakang meledak lebih keras.
“Sekarang!” teriak Arya.
Mereka bergerak serentak.
Jaya menahan batu di sisi ruang kecil sementara Ki Rangga membantu. Wira sendiri hampir menerobos masuk, tapi Larisa mengangkat tangan.
“Wira,” katanya.
Ia menoleh cepat.
Larisa menatapnya dengan sorot yang dalam, lelah, namun masih penuh cinta. “Kalau nanti kau menemukan nama itu, jangan percaya kalau mereka bilang itu demi kebaikan.”
Wira menelan ludah. “Siapa mereka?”
Larisa memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. “Orang yang menyebut diri penjaga nama.”
Belum sempat Wira bertanya lebih jauh, batu di belakang mereka berguncang keras. Celah lorong utama akhirnya jebol. Benturan kuat terdengar, disusul suara orang berteriak.
“Ada di sini!”
Ki Rangga langsung mengangkat senjatanya. “Mereka masuk!”
Panca mundur sambil mengeluh panik. “Tentu saja mereka masuk! Karena semesta ini benci kita!”
Wira ingin tetap di depan ibunya, tapi Danar menarik bahunya. “Kau harus ikut kami.”
“Tidak!” Wira menahan diri. “Ibu belum selesai bicara.”
Larisa menggeleng pelan. “Aku akan bicara lagi jika pintu ini masih berdiri.”
Ia menatap Wira sekali lagi, lalu menekan tangannya ke batu di sampingnya. Dari balik ruang kecil, terdengar bunyi mekanisme tua yang mulai bergerak, seperti ada pengunci yang dilepas dari tempat yang jauh lebih dalam.
“Apa yang Ibu lakukan?” tanya Wira cepat.
“Menahan mereka lebih lama,” jawab Larisa. “Sekarang pergilah.”
Wira membeku.
Jaya menoleh ke arah mereka. “Kita harus pindah sekarang!”
Danar menarik napas dalam, lalu untuk pertama kalinya sejak bertemu, ia bicara dengan nada yang benar-benar tegas.
“Wira. Dengarkan ibumu.”
Wira menatap Larisa, lalu Danar, lalu kembali ke celah batu. Di balik semua yang baru saja terbuka, masih ada satu nama, satu kuasa, dan satu kebenaran yang belum keluar. Tapi lorong belakang sudah penuh suara, dan waktu habis.
Larisa mengangguk ke arahnya sekali, sangat kecil, namun cukup untuk memintanya percaya.
Wira menggigit bibir, lalu mundur setengah langkah.
Ki Rangga segera menariknya menjauh dari celah. “Ayo!”
Mereka bergerak ke ruang batu di sisi lain, sementara di belakang, suara benturan dan teriakan semakin keras. Wira sempat menoleh satu kali dan melihat Larisa masih duduk di balik batu, tangan menempel pada dinding, wajahnya tenang seperti seseorang yang telah menerima bahwa ia hanya punya beberapa detik lagi untuk menjaga pintu.
Dan di saat yang sama, dari balik ruang kecil, terdengar suara itu sekali lagi—bukan dari ibunya, melainkan dari kedalaman yang lebih gelap.
Satu nama yang belum disebut.
Wira tidak mendengarnya jelas. Tetapi ia merasakan sesuatu yang lebih buruk: pintu terakhir kini benar-benar mulai terbuka.
bukin pusing aja