Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab28
Darrel tampak salah tingkah setelah kata itu terlanjur keluar. Anak itu menundukkan kepalanya, jemarinya saling memainkan ujung tas sekolah yang menggantung di bahunya.
“Maksudnya… Mbak Andin…” gumamnya pelan.
Namun keheningan yang muncul setelahnya terasa terlalu jelas untuk diabaikan.
Andin berdiri membeku. Pelukan kecil Darrel masih terasa di tubuhnya, hangat namun sekaligus membuat dadanya terasa sesak.
Ia tahu Darrel tidak mengerti apa-apa. Anak itu hanya mengikuti perasaan polosnya.
Namun panggilan itu tetap terasa berat. Sangat berat. Perlahan Andin menarik napas dan menatap wajah kecil di hadapannya.
“Darrel,” ucapnya lembut.
Anak itu langsung mengangkat wajahnya.
“Iya?”
Andin sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan suara yang jauh lebih tenang.
“Kenapa Darrel ingin memanggil Mbak Andin Mama?”
Darrel terlihat berpikir. Ia menggaruk sedikit kepalanya, lalu menjawab dengan jujur.
“Soalnya Mbak Andin baik sama Darrel.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Waktu Darrel sakit juga… Mbak Andin pegang tangan Darrel terus.”
Nathan yang berdiri tidak jauh dari sana langsung menegang.
Ia masih ingat jelas malam di rumah sakit itu. Bagaimana Darrel menolak melepaskan tangan Andin bahkan ketika anak itu sudah tertidur.
Namun Darrel belum selesai bicara.
“Kalau Mama… Darrel gak pernah lihat,” katanya polos.
Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa berubah. Andin terdiam. Sementara Nathan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Darrel kemudian memegang tangan Andin dengan kedua tangannya.
“Kalau Darrel panggil Mama… boleh gak?” tanyanya lagi dengan suara kecil.
Pertanyaan itu membuat dada Andin terasa seperti diperas. Ia menatap anak kecil itu cukup lama sebelum akhirnya berlutut agar sejajar dengan tinggi tubuh Darrel.
Tangannya perlahan mengusap pipi anak itu.
“Darrel,” katanya lembut.
“Panggil Mbak Andin seperti biasa saja, ya.”
Wajah Darrel langsung berubah sedikit murung. “Kenapa?”
Andin tersenyum tipis. “Karena Darrel sudah punya Daddy yang sangat sayang sama Darrel.”
Darrel menoleh ke arah Nathan. Pria itu berdiri diam, tetapi jelas terlihat bahwa ia sedang memperhatikan mereka.
Darrel kembali menatap Andin. “Tapi… Darrel boleh sayang sama Mbak Andin kan?”
Andin mengangguk tanpa ragu. “Tentu saja boleh.”
Jawaban itu langsung membuat wajah Darrel kembali cerah. Anak itu bahkan memeluk Andin lagi dengan erat, seolah jawaban itu sudah cukup membuatnya bahagia.
Nathan memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Ada sesuatu yang menghangatkan dadanya… tetapi bersamaan dengan itu juga muncul rasa bersalah yang semakin menekan.
Karena jauh di dalam hatinya, Nathan tahu satu hal dengan sangat jelas. Andin seharusnya memang berada di kehidupan mereka sejak dulu.
Bel masuk sekolah tiba-tiba berbunyi nyaring.
Darrel langsung terlonjak kecil.
“Bel!” Ia segera melepaskan pelukannya.
“Mbak Andin, Darrel masuk kelas dulu ya!”
“Iya,” jawab Andin sambil tersenyum.
“Belajar yang rajin.”
Darrel mengangguk semangat, lalu berlari menuju kelasnya. Namun sebelum benar-benar pergi, anak itu tiba-tiba berhenti dan berbalik.
“Mbak Andin!”
“Iya?”
Anak itu terlihat berpikir sebentar sebelum berkata. “Walaupun gak boleh panggil Mama… Darrel tetap sayang Mbak Andin.”
Andin tersenyum lembut. “Terima kasih.”
Baru setelah itu Darrel benar-benar berlari menuju kelasnya. Halaman sekolah perlahan kembali lebih tenang.
Kini hanya tersisa Andin dan Nathan. Suasana canggung langsung terasa di antara mereka. Nathan berdiri dengan kedua tangan di saku celananya, mencoba terlihat tenang meskipun pikirannya sebenarnya sedang kacau.
“Maaf,” ucapnya tiba-tiba.
Andin sedikit mengernyit. “Untuk apa?”
Nathan menatap ke arah kelas tempat Darrel masuk. “Darrel kadang bicara apa saja yang ada di pikirannya.”
Andin menghela napas pelan. “Dia masih anak-anak.”
Nathan mengangguk. Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata lagi.
“Terima kasih.”
Andin menoleh. “Untuk apa lagi?”
Nathan menatapnya langsung. “Karena kamu tetap baik pada Darrel.”
Tatapan Andin langsung berubah sedikit dingin. “Apa kamu pikir aku akan melampiaskan kebencian pada anak kecil?”
Nathan cepat menggeleng. “Tidak.”
Andin menatapnya beberapa detik sebelum berkata datar. “Darrel tidak bersalah apa-apa.”
Nathan mengangguk pelan. “Justru itu,” katanya lirih.
Ia menatap perempuan itu dengan sesuatu yang sulit disembunyikan di matanya. “Aku bersyukur kamu tidak berubah.”
Andin tidak menjawab.Perempuan itu akhirnya mengalihkan pandangannya dan berkata singkat,
“Aku harus kembali bekerja.”
Nathan tidak menahannya.Namun sebelum Andin benar-benar pergi, pria itu berkata lagi dengan suara lebih pelan.
“Andin.”
Langkah perempuan itu berhenti.Nathan menarik napas sebelum berkata.
“Besok… aku akan mengantar Darrel lagi.”
Andin tidak menoleh. Namun setelah beberapa detik, ia menjawab singkat.
“Itu memang tugasmu sebagai ayah.”
Setelah itu Andin benar-benar berjalan masuk ke dalam gedung sekolah. Nathan tetap berdiri di tempatnya cukup lama. Tatapannya tertuju pada pintu tempat perempuan itu menghilang.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa jarak yang begitu jauh di antara mereka perlahan mulai terbuka sedikit. Hanya sedikit. Namun cukup untuk membuatnya berharap.
Bersambung ..
Maaf ya cuma sedikit lagi sibuk di dunia nyata.
Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin