Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 29
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma daging dan suara tawa warga yang hangat.
Yin Yin membuka matanya perlahan, dunia di sekitarnya terasa berubah, sebagai praktisi bela diri tingkat master, Dia memang sudah mampu merasakan aura spiritual dan menangkap suara sekecil apapun. Namun, hadiah dari sistem kali ini melampaui segalanya, setiap gerakan halus di sekelilingnya kini terlihat begitu jelas, seolah tak ada lagi yang bisa luput dari pengamatannya.
DING!
[Skill aktif, deteksi bahaya level dasar]
[Dengan radius 20 meter]
[Efek yang bisa di rasakan; niat buruk, ancaman, atau perubahan yang mencurigakan]
Yin Yin menarik napas perlahan, Dia bisa merasakan perubahan pada penglihatannya, segalanya menjadi lebih jelas dari sebelumnya. "Ini, kemampuan yang luar biasa."
Yin Yin perlahan menoleh ke arah keramaian warga desa Shanyin, dalam sekejap, Dia bisa merasakan bukan sesuatu yang berbahaya melainkan emosi hangat, rasa syukur dan kegembiraan, Yin Yin tersenyum tipis.
"Syukurlah, tidak ada ancaman untuk sekarang."
Menjelang malam, setelah semua pekerjaan selesai dan daging sudah dibagi, warga desa satu per satu berpamitan pulang.
"Terima kasih banyak, Guo Shan!"
"Hari ini benar-benar berkah!"
"Kami akan datang lagi besok untuk membantu pembangunan rumah!"
"Kau akan masak apa nanti?" tanya salah satu warga sambil melangkah pulang.
"Ah, aku ingin makan daging kecap buatan ibuku," jawab seorang wanita dengan mata berbinar, tanpa menunggu lama, ia pun masuk ke dalam rumahnya.
Perlahan, suara-suara warga desa memudar meninggalkan suasana yang kembali hening dan tenang.
Di dalam rumah sederhana mereka, lampu minyak menyala redup, menciptakan suasana hangat. Lin Mei Hua menyajikan semangkuk besar sup daging panas di tengah meja, aromanya harum dan menggoda membuat mereka tak sabar untuk menyantapnya.
"Sudah lama kita tidak makan sup daging segar sebanyak ini." gumam Yin Guo Shan sambil duduk.
Yin Chen langsung berbinar matanya, "Ini pasti enak!"
Lin Meli sudah tidak sabar, " Bu! Aku mau yang banyak dagingnya!"
Mata Xiao Lan berbinar cerah saat uap sup yang harum mengepul di depannya. Ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya mencicipi sup daging hangat itu.
Yin Yin duduk tenang, memandang satu persatu anggota keluarganya yang menikmati hidangan dengan wajah penuh kebahagiaan. Momen sederhana seperti ini belum pernah Dia rasakan saat masih hidup sebagai Dian. Terlalu tenggelam dalam kenangan, lamunannya tiba-tiba terputus oleh suara lembut sang ibu.
"Nak, kamu tidak makan?" tanya Lin Mei Hua dengan lembut.
Yin Yin tersenyum tipis. Iya, Bu. Aku mau makan kok, tadi dagingnya masih panas, jadi aku tunggu dingin dulu."
Malam itu, kehangatan menyelimuti rumah sederhana mereka, diiringi canda tawa keluarga kecil Yin Guo Shan.
Keesokan paginya, suara ketukan dan percakapan ramai sudah terdengar sejak matahari baru saja terbit.
"Angkat ke sini!"
"Kayunya taruh di belakang!"
"Pondasi mulai dari sisi ini!"
Paman Luo berdiri di tengah halaman, memimpin pekerjaan dengan suara lantang.
"Kalau kita kerja cepat, dua minggu rumahnya sudah jadi."
Yin Guo Shan ikut membantu, wajahnya dipenuhi semangat baru. Di sampingnya, Yin Yin berdiri sambil menggenggam selembar kertas berisi cetak biru rumah dengan desain modern dua lantai. Bahkan untuk zaman ini, desain tersebut terlalu maju.
Paman Luo menatap lembar kertas itu dengan ekspresi serius, namun tampak bersemangat.
"Yin Yin, ini benar kamu yang menggambarnya?"
Yin Yin mengangguk tenang. "Iya, Paman. Semuanya sudah aku perhitungkan." Dia kemudian menunjuk satu per satu bagian pada gambar tersebut.
"Lantai bawah terdiri dari tiga kamar untuk Ayah dan Ibu, Yin Chen, serta Xiao Lan. Sedangkan di lantai atas ada dua kamar, untukku dan Lin Meli, setiap kamar juga memiliki kamar mandi di dalam.
"Apa? kamar mandi di dalam kamar?" seru salah satu warga dengan mata terbelalak.
"Itu seperti rumah orang kaya di kota!" sahut yang lain tak kalah terkejut.
Yin Yin menjawab dengan tenang, "Supaya lebih praktis, tidak perlu repot keluar malam."
Paman Luo terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa kecil.
"Hahaha! Baik! Kalau begitu, kita bangun rumah terbaik di desa Shanyin!"
Semangat warga langsung meningkat mendengar ucapan Paman Luo.
Hari demi hari pun berlalu, suara palu yang berdentang, gergaji yang menggesek kayu, serta tawa para warga terus memenuhi halaman rumah keluarga Yin. Yin Yin ikut membantu bukan dengan tenaga, melainkan melalui arahan yang sangat tepat dan terukur.
"Paman, balok itu perlu dimiringkan dua derajat. Fondasi di bagian kiri masih kurang dalam, tambahkan penyangga di sini."
Pada awalnya warga sempat meragukan ucapannya. Namun, setelah melihat hasilnya yang rapi dan kokoh, kepercayaan mereka pun tumbuh sepenuhnya.
Bahkan Paman Luo tak bisa menahan diri untuk bergumam, "Anak ini, seolah sudah membangun seratus rumah sebelumnya."
Yin Yin hanya membalas dengan senyum tipis. Dalam hatinya, Dia berbisik,
"Sistem mungkin membantu perhitungan, tapi pengalaman ini tetap milikku."
Dua minggu kemudian, sebuah rumah megah akhirnya berdiri kokoh. Berlantai dua dan tampak mencolok, rumah itu berbeda dari rumah-rumah lain di ujung Desa Shanyin, tepat di dekat jalan menuju hutan.
Warga desa yang berkumpul, hanya bisa menatap kagum pada bangunan di depan mereka.
"Ini benar-benar rumah desa?"
"Seperti rumah bangsawan!"
"Bahkan lebih bagus dari rumah kepala desa!"
Yin Guo Shan berdiri terpaku di depan rumah itu, matanya berkaca-kaca. Lin Mei Hua menggenggam tangan suaminya erat, seolah tak ingin melepaskan momen itu. Di samping mereka, Yin Chen, Lin Meli, dan Xiao Lan ikut terdiam.
"Kita, benar-benar punya rumah sebagus ini."
"Ayah, kita tidak perlu takut kedinginan lagi saat musim dingin datang," kata Yin Chen dengan wajah ceria.
"Benar, Dek. Kita pasti bisa tidur lebih nyenyak. Oh iya, aku ingin membagikan upah kepada para pekerja yang sudah membantu membangun rumah kita," lanjut Yin Yin.
Yin Yin melangkah ke depan, beberapa kantong kecil tergenggam di tangannya. Dia berbicara dengan suara tenang namun jelas,
"Warga desa, terimakasih atas bantuan kalian selama ini. Saya telah menyiapkan sedikit tanda terima kasih, berupa sembako dan uang sebesar 33 koin tembaga."
Warga desa seketika terkejut, tak menyangka akan menerima sebanyak itu.
"Apa? Terlalu banyak!"
"Kami hanya membantu sesama, Yin Yin. Tak perlu memberi sebanyak itu," ucap salah satu warga dengan tulus.
Yin Yin menggeleng lembut. "Tanpa kalian, rumah ini tidak mungkin selesai secepat ini."
Paman Luo menatap Yin Yin dalam diam, lalu tersenyum bangga.
"Kamu bukan hanya pintar, tapi juga tahu membalas budi."
Saat semua orang larut dalam perbincangan dan rasa syukur, tiba-tiba Yin Yin merasakan kehadiran aura asing.
DING!
[Deteksi bahaya aktif]
[Objek mencurigakan terdeteksi, lokasi di belakang hutan jarak 18 meter dari sini]
Senyum di wajah Yin Yin perlahan lenyap, berganti dengan tatapan dingin yang tajam. Dia menoleh ke arah hutan, merasakan kehadiran seseorang yang diam-diam mengawasi.
"Jadi... Akhirnya bahaya datang juga."
Bersambung....