NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Pantai

Pagi datang dengan perlahan. Cahaya matahari menembus celah tirai kamar hotel, jatuh lembut di atas kasur tempat tiga orang itu masih terlelap dalam posisi yang… lebih dekat dari biasanya.

Binar masih tidur nyenyak di tengah, memeluk boneka kelincinya. Sementara di sisi lain, Samira terbangun lebih dulu.

Matanya perlahan terbuka. Beberapa detik ia hanya diam… merasakan sesuatu yang berbeda.

Hangat.

Pelan ia menoleh. Dan di sanalah Samudra masih tertidur, dengan satu lengannya yang masih melingkar di pinggangnya.

Samira terdiam. Hatinya kembali berdebar, tapi kali ini… bukan karena gugup.

Melainkan karena nyaman. Sangat nyaman. Dengan hati-hati, ia mencoba melepaskan diri agar tidak membangunkan suaminya. Namun baru saja ia bergerak sedikit—lengan itu justru mengerat.

“Mas…” bisiknya pelan.

Samudra mengerang kecil, lalu perlahan membuka matanya. Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.

Beberapa detik… tidak ada yang bicara. Sampai akhirnya Samudra tersenyum tipis.

“Pagi.”

Samira langsung memalingkan wajahnya sedikit, menahan malu.

“Pagi…”

Samudra masih belum melepaskan pelukannya.

“Bangunnya cepat banget,” gumamnya.

Samira menarik napas kecil.

“Sudah biasa, Mas. Apalagi kalau lagi di luar begini.”

Samudra mengangguk pelan. Lalu, tanpa sadar, ibu jarinya bergerak mengusap pelan sisi pinggang Samira.

Gerakan kecil. Tapi cukup membuat Samira kembali diam.

“Mas…” ucapnya pelan.

“Iya?”

“Bibi…”

Samudra melirik ke tengah. Putri mereka masih tidur pulas. Ia tersenyum kecil.

“Biarkan saja. Jarang-jarang dia tidur nyenyak begini.”

Samira ikut tersenyum. Beberapa detik kemudian, Samudra akhirnya melepaskan pelukannya dan duduk di tepi kasur.

Ia mengusap wajahnya, lalu menoleh ke arah Samira.

“Hari ini kita jalan-jalan, kan?”

Samira mengangguk.

“Iya.”

Samudra menatapnya sejenak, lalu bertanya dengan nada lebih santai,

“Mau ke mana?”

Samira terlihat berpikir. Samudra kemudian menambahkan,

“Kita bisa ke pantai… atau ke mall… atau ke tempat lain yang kamu mau.”

Ia menyandarkan tangannya ke kasur, menatap Samira dengan ekspresi yang jauh lebih ringan dari biasanya.

“Kamu yang pilih.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Samira… Itu berarti. Karena selama ini… hampir tidak pernah ia yang memilih.

Samira terdiam sejenak.

Ia melirik ke arah Binar yang masih tertidur, lalu kembali menatap Samudra.

“Pantai aja,” jawabnya pelan.

Samudra mengangguk.

“Pantai?”

“Iya.”

“Kenapa pantai?”

Samira tersenyum kecil.

“Bibi pasti suka. Dia dari kemarin pengen main air.”

Lalu setelah jeda sebentar, ia menambahkan lebih pelan,

“Aku juga pengen suasana yang tenang.”

Samudra memperhatikannya. Tatapannya sedikit berubah—lebih dalam.

“Tenang, ya…” gumamnya.

Samira mengangguk.

“Iya.”

Samudra lalu berdiri, berjalan mendekat ke jendela dan membuka tirai sepenuhnya. Cahaya pagi langsung memenuhi ruangan.

“Kalau begitu kita ke pantai,” ujarnya mantap.

Ia menoleh kembali ke arah Samira.

“Nanti kita sarapan dulu, terus berangkat.”

Samira tersenyum.

“Iya, Mas.”

Di saat yang sama, Binar mulai bergerak kecil di tengah-tengah mereka. Matanya terbuka perlahan.

“Mama…”

Samira langsung mendekat.

“Iya, sayang?”

“Ini pagi?” tanya Binar dengan suara serak khas bangun tidur.

Samudra ikut mendekat.

“Iya, pagi.”

Binar mengucek matanya, lalu tiba-tiba duduk.

“Kita jadi jalan-jalan?!”

Samudra tertawa kecil.

“Iya.”

“Mau ke mana?!”

Samira tersenyum.

“Kita ke pantai.”

Mata Binar langsung membesar.

“Pantai?!”

“Iya.”

“Yeaaay!”

Binar langsung meloncat kecil di atas kasur.

“Mau main air! Mau bikin istana pasir!”

Samudra dan Samira saling berpandangan. Dan tanpa sadar… Keduanya sama-sama tersenyum.

@@@

Saat itu, Samira dan Samudra sudah berdiri di tepi pantai. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma khas air asin yang menenangkan. Suara ombak yang datang silih berganti seolah menjadi musik alami yang menyambut kedatangan mereka.

Langit tampak cerah, biru tanpa cela, sementara sinar matahari pagi terasa hangat namun tidak menyengat.

Di tengah suasana itu, Binar langsung berlari kecil begitu kakinya menyentuh pasir.

“Mama! Papa! Aku mau main pasir!” serunya dengan wajah berbinar.

Samira tersenyum lebar melihat antusiasme putrinya.

“Iya, sayang. Tapi jangan jauh-jauh ya,” pesannya lembut.

Samudra ikut menambahkan dengan nada tegas namun tetap hangat,

“Mainnya di sini saja, jangan ke arah air kalau nggak ada Papa atau Mama.”

Binar mengangguk cepat.

“Iya, Papa!”

Tanpa menunggu lama, ia langsung duduk di pasir, mulai sibuk dengan dunia kecilnya menggali, menumpuk, lalu membentuk sesuatu yang bahkan belum jelas bentuknya.

Samira dan Samudra berdiri tak jauh dari sana, memperhatikan. Beberapa detik… hanya diam. Namun diam kali ini terasa berbeda.

Lebih nyaman.

Samira melipat kedua tangannya di depan dada, matanya tidak lepas dari Binar.

“Dia memang suka banget pantai,” gumamnya pelan.

Samudra mengangguk.

“Iya. Kelihatan.”

Angin kembali berhembus, membuat rambut Samira sedikit berantakan. Tanpa sadar, ia merapikannya ke belakang telinga.

Gerakan kecil itu… tidak luput dari perhatian Samudra. Pria itu menatapnya sejenak.

Lalu—

“Mir.”

Samira menoleh.

“Iya, Mas?”

“Kamu… senang?”

Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa, selalu berhasil membuat hati Samira bergetar.

Ia tersenyum kecil.

“Senang.”

Kali ini jawabannya tidak ragu. Tidak ada jeda. Benar-benar tulus. Samudra mengangguk pelan.

Tatapannya kembali ke arah Binar yang sedang tertawa sendiri karena pasir yang ia tumpuk runtuh.

Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri berdampingan.

Sampai tiba-tiba—

“Mas…”

“Iya?”

Samira sedikit ragu, tapi akhirnya berkata,

“Terima kasih ya… sudah ajak kita ke sini.”

Samudra menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Samira.

“Harusnya Mas yang bilang terima kasih.”

Samira sedikit bingung.

“Kenapa?”

Samudra tersenyum tipis.

“Karena kamu sama Bibi… masih mau nunggu Mas.”

Kalimat itu membuat Samira terdiam. Hatinya kembali menghangat.

Belum sempat ia menjawab—

Tiba-tiba terdengar suara kecil dari depan.

“Mama! Papa! Lihat!”

Binar berlari kecil ke arah mereka sambil membawa sesuatu di tangannya.

“Ini rumah pasir Bibi!”

Ia menunjukkan gundukan pasir yang tidak terlalu rapi, tapi dibuat dengan penuh semangat.

Samira langsung berjongkok di depannya.

“Wah… bagus banget!”

“Ini buat Mama, Papa, sama Bibi,” ujar Binar polos.

Samudra ikut berjongkok di samping mereka.

“Yang mana Papa?” tanyanya.

Binar menunjuk satu bagian kecil.

“Ini!”

“Kenapa kecil?” tanya Samudra pura-pura protes.

Binar berpikir sebentar.

“Biar bisa deket sama Mama.”

Samira langsung tertawa kecil.

Sementara Samudra hanya menggeleng sambil tersenyum. Anak itu… Selalu punya cara sederhana untuk membuat suasana jadi hangat.

Beberapa saat kemudian Samudra ikut duduk di pasir, membantu Binar membentuk “rumah” mereka.

Samira memperhatikan dari samping. Pemandangan itu terasa… asing. Tapi sekaligus sangat ia inginkan sejak dulu. Samudra yang bermain dengan Binar.

Tertawa.

Tanpa beban.

Tanpa terburu-buru.

“Mas, yang itu kurang tinggi,” komentar Samira tanpa sadar.

Samudra menoleh.

“Kamu sini saja bantu.”

Samira sempat ragu. Namun akhirnya ia ikut duduk di samping mereka. Pasir terasa hangat di tangannya. Dan tanpa mereka sadari— Tiga orang itu kini duduk bersama, membangun sesuatu yang sederhana.

Rumah dari pasir. Yang mungkin akan hancur saat ombak datang. Tapi momen itu…

Tidak.

Akan tetap tinggal.

Di ingatan mereka.

Di hati mereka.

Dan di antara tawa kecil Binar yang terus terdengar Samudra melirik Samira sekilas.

Lalu tanpa suara… Senyum kecil itu kembali muncul.

@@@

Matahari mulai naik lebih tinggi. Hangatnya terasa semakin jelas di kulit, tapi angin laut yang berhembus membuat suasana tetap nyaman.

Setelah cukup lama bermain pasir, Binar mulai terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan, tangannya penuh pasir, tapi wajahnya tetap cerah penuh kebahagiaan.

“Mama…” panggilnya sambil mendekat.

“Iya, sayang?” Samira langsung meraih tangan kecil itu, menepuk-nepuk pasir yang menempel.

“Bibi lapar…”

Samira tersenyum.

“Tuh kan, dari tadi main terus.”

Samudra yang berdiri tak jauh dari mereka ikut mendekat.

“Kita makan dulu?” tanyanya.

Binar langsung mengangguk cepat.

“Mau!”

Samira menoleh ke arah Samudra.

“Di sini banyak tempat makan seafood, Mas.”

Samudra mengangguk.

“Ya sudah, kita cari yang dekat saja.”

Ia kemudian mengulurkan tangan pada Binar.

“Sini, Papa gendong.”

Binar langsung mengangkat kedua tangannya, minta digendong. Samudra mengangkatnya dengan mudah, sementara Samira berjalan di samping mereka.

@@@

Tak jauh dari pantai, mereka menemukan sebuah restoran seafood sederhana yang menghadap langsung ke laut.

Meja-meja kayu tertata rapi, dengan suara ombak yang masih terdengar jelas dari kejauhan. Aroma ikan bakar dan udang yang sedang dimasak langsung menyambut begitu mereka masuk.

“Enak banget baunya…” gumam Samira pelan.

Samudra menarik kursi untuk Samira, lalu membantu Binar duduk.

“Kita pesan apa?” tanyanya sambil melihat menu.

Binar langsung menunjuk gambar di buku menu.

“Mau yang ini!” serunya.

Samira tertawa kecil.

“Itu cumi, sayang. Kamu suka?”

Binar mengangguk yakin.

“Suka!”

Samudra mengangkat alis.

“Kamu pernah makan?”

Binar terdiam sebentar.

“…belum.”

Samira langsung tertawa.

“Ya sudah, kita pesan sedikit saja.”

Akhirnya mereka memesan beberapa menu—ikan bakar, udang saus mentega, cumi, dan sayur tumis sederhana.

Sambil menunggu makanan datang, suasana di meja terasa santai.

Binar sibuk bercerita tentang “rumah pasir” yang tadi ia buat.

“Terus tadi hampir roboh, Pa! Tapi Papa bantuin,” ceritanya semangat.

Samudra mengangguk kecil.

“Iya, tapi arsiteknya tetap Binar.”

“Arsi… apa?” tanya Binar bingung.

Samira tersenyum.

“Itu yang bikin rumahnya.”

“Oooh… berarti Binar hebat!”

Samudra tersenyum tipis melihat ekspresi bangga putrinya. Beberapa menit kemudian, makanan datang.

Aroma seafood yang hangat langsung memenuhi meja.

“Wah…” Binar langsung mendekatkan wajahnya.

“Panas, hati-hati,” ujar Samira sambil menahan tangannya.

Samudra mulai mengambilkan nasi untuk mereka. Ia bukan hanya duduk dan makan.

Ia benar-benar ikut terlibat.

“Ini buat kamu,” katanya sambil meletakkan potongan ikan ke piring Samira.

Samira sedikit terkejut.

“Terima kasih, Mas…”

Samudra hanya mengangguk kecil. Lalu ia melakukan hal yang sama untuk Binar.

“Makan yang banyak.”

“Iya, Papa!”

Makan siang itu berlangsung hangat. Tidak ada percakapan berat. Hanya hal-hal sederhana.

Tentang rasa makanan.

Tentang ombak.

Tentang cerita kecil Binar yang tidak ada habisnya.

Namun justru dari hal sederhana itu…

Ada sesuatu yang terasa utuh. Samira beberapa kali melirik ke arah Samudra. Pria itu terlihat lebih santai.

Dan tanpa sadar, senyum kecil terus muncul di wajahnya.

“Mas…”

Samudra menoleh.

“Iya?”

“Enak ya…”

Samudra mengangguk.

“Iya.”

Lalu ia menambahkan pelan,

“Mas juga baru ngerasain makan begini.”

Samira mengernyit.

“Maksudnya?”

Samudra menatapnya sebentar.

“Makan tanpa mikirin kerjaan.”

Ia tersenyum kecil.

“Bagus dong.”

Samudra mengangguk.

“Iya… ternyata enak.”

Binar yang tidak terlalu paham hanya ikut tersenyum sambil makan dengan penuh semangat.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Yunita Sophi
thor jgn di kasih bom dong... petasan aja bikin kaget dan takut..😂 semoga mereka kuat menghadapi cobaan yg akan merusak hubungan mereka yg mulai manis...
Itz_zara: Hmm gimana yakk🤔
total 1 replies
cinta semu
awal baca biasa aja tapi makin lama ..bikin nagih tuk lanjut baca😂😂titip samudera sm Samira ya Thor ...bikin bahagia sampai tamat
Itz_zara: Aww makaasih🥰
total 1 replies
cinta semu
nah kan meluk istri sambil tidur bikin ketagihan kan ...lama2 u akan kecanduan samudera 😂😂😂😂
Itz_zara: Nagih banget🤭
total 1 replies
Uthie
Masih penasaran soal Judulnya.. apakah jadi terealisasi kan.. atau.. malah sdh berubah gak jadi pisah 😁👍
Itz_zara: eitss jangan senang dulu🤭 ada boom nanti🤫
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Samudra sdh baik dan menerima Samira sebagai istrinya bahkan sdh dikenalkan sama teman2 nya , semoga rumah tangga Samira dgn Samudra langgeng , selalu rukun dan bahagia .
Itz_zara: Aminn, doain ya lancar terus rumah tangganya😆
total 1 replies
Fina Silaban Tio II
ceritanya aku suka
Itz_zara: Thank u 🥰
total 1 replies
Si Memeh
bagus banget cerita nya
Yunita Sophi
Samira kok gak jadi cemburu sih... cemburu dong 😄😄😄
Itz_zara: Selalu positif thinking dia🤭 jadi gak gampang cemburu🤭
total 1 replies
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya... terdiri dari beberapa part cerita.. jadi berasa banyak dan Puasssss bacanya 👍😘🤗
Itz_zara: Awww makasih ya😆🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
thor semangat 💪💪💪 kopi pagi ☕️🍞
Itz_zara: Thank u ya masih nungguin cerita ini🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
klo udah ada cemburu berarti udah ada cinta ya Sam 😍😄
Itz_zara: Kayaknya🤭🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
aq cubit jantung Samudra klo tergoda sama pelakor... kan dia yg ninggalin kamu Sam masa mau tergoda sih...
Itz_zara: Waduh mau di cubit jantungnya🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
ahh makin suka liat yg bahagia...😍
Itz_zara: Awww makasih🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam qta kan jadi ketularan bahagia🤭😄😄😍
Itz_zara: Samudra memang susah ditebak🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
semoga kalian bahagia mulai dari saat ini..😍
Itz_zara: Aminnn🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
seharusnya kamu bahagia Samudra mendapatkan istri yg sll ada walau kamu tdk mencintai nya...
Itz_zara: Orang yang punya gengsi gedhe kak🤭
total 1 replies
Uthie
Nexxxttt 💞💞
Itz_zara: Siap😆 Maap ya balasnya telat😆
total 1 replies
Yunita Sophi
jangan sampai ulet keket mengganggu kebahagiaan mereka
Itz_zara: hahaha ulet keket gak tuh🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam... so cool bikin gemes aja tau
Itz_zara: Samudra si cowok cool🥶
total 1 replies
Yunita Sophi
aq yakin othor nya baik sama Samira...
Itz_zara: Baik banget ini🤫🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!