NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 43

Menyaksikan sebuah reputasi yang dibangun di atas kebohongan runtuh hanya dalam hitungan detik adalah jenis pertunjukan yang jauh lebih dramatis daripada pementasan opera mana pun di Paris. Felysha berdiri terpaku di sisi panggung, tangannya masih mencengkeram erat tepi podium kayu yang terasa dingin di bawah jemarinya. Di depannya, lautan manusia yang mengenakan pakaian seharga rumah mewah mendadak berubah menjadi massa yang dipenuhi bisik-bisik ketidakpastian. Cahaya lampu kristal di atas mereka seolah-olah kehilangan binar mewahnya, justru membiaskan warna yang pucat pada wajah Andra yang kini tampak membeku.

Felysha menatap ke arah pintu masuk utama. Mahesa berdiri di sana, sosoknya tampak begitu kontras dengan kemeja tuxedo yang sedikit robek di bagian lengan, namun ada otoritas yang terpancar dari caranya berdiri. Dia tidak lagi terlihat seperti pencuri yang menyelinap di antara bayang-bayang; dia terlihat seperti seseorang yang baru saja menarik paksa kebenaran ke permukaan tanah yang silau. Di belakangnya, beberapa pria berpakaian sipil namun memiliki aura otoritas yang kuat mulai melangkah masuk, membelah kerumunan tamu dengan gerakan yang efisien dan tanpa kompromi.

"Fely, tenanglah. Ini pasti hanya kesalahpahaman," bisik Gunawan yang sudah berada di samping putrinya. Suara ayahnya terdengar tenang, namun Felysha bisa melihat bagaimana otot di pelipis ayahnya berdenyut—sebuah tanda bahwa pria itu sedang memproses sebuah kenyataan yang melampaui perhitungannya.

Andra mencoba melangkah mundur, namun langkahnya terhenti saat ia menyadari bahwa beberapa petugas kepolisian sudah berdiri di belakang mejanya. Ponsel di tangannya bergetar, namun ia tidak berani mengangkatnya. Matanya yang tadi penuh dengan kemenangan jahat kini hanya menyisakan kepanikan yang tidak bisa ia tutupi lagi.

Mahesa melangkah maju, membiarkan tas kameranya tetap menggantung di bahu. Dia berhenti tepat di depan meja utama, hanya berjarak beberapa meter dari Gunawan dan Andra. Dia tidak menatap Andra dengan kebencian; dia menatapnya dengan rasa kasihan yang dingin, jenis tatapan yang biasanya diberikan kepada seseorang yang baru saja kehilangan segalanya tanpa disadari.

"Pak Gunawan," suara Mahesa terdengar jernih, memecah kesunyian yang mencekam di dalam ballroom. "Saya di sini bukan untuk merusak acara Anda. Saya di sini untuk memberikan apa yang Anda minta—kejujuran."

Mahesa mengeluarkan sebuah tablet kecil dari tas kameranya, lalu ia meletakkannya di atas meja perjamuan, tepat di depan Gunawan. Layar tablet itu menyala, menampilkan serangkaian log percakapan dan dokumen digital yang telah terenkripsi, namun kini terbuka lebar.

"Ini adalah bukti transaksi dari perusahaan cangkang di Singapura yang selama ini digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengalihkan dana investasi proyek keluarga Anda," lanjut Mahesa, matanya kini melirik singkat ke arah Andra. "Dan ini adalah rekaman koordinasi untuk sabotase keamanan hotel malam ini. Semua data ini dikirimkan secara real-time ke agensi saya di London sesaat setelah alat penyadap frekuensi diaktifkan."

Andra mencoba tertawa, namun suaranya terdengar seperti gesekan logam yang berkarat. "Kamu pikir... kamu pikir siapa yang akan percaya pada pencuri sepertimu? Papa, jangan dengarkan dia! Dia hanya mencoba mengalihkan perhatian dari fakta bahwa dia adalah buronan!"

Gunawan tidak menanggapi Andra. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah tablet, jemarinya bergerak cepat menelusuri data di layar. Felysha memperhatikan wajah ayahnya yang perlahan-lahan berubah menjadi sedingin es. Dia tahu, bagi ayahnya, pengkhianatan dalam bisnis adalah dosa yang tidak termaafkan, dan Mahesa baru saja menyodorkan bukti bahwa Andra bukan hanya ingin menghancurkan Mahesa, tapi juga berniat menusuk ayahnya dari belakang.

"Andra," suara Gunawan terdengar sangat rendah, jenis suara yang selalu membuat staf di kantornya menahan napas karena takut. "Apa arti dari transfer dana ke rekening atas nama firma hukum di Paris ini? Firma yang sama dengan yang menangani kasus perizinan lahan proyek kita?"

Andra terdiam. Mulutnya terbuka seolah ingin bicara, namun tidak ada satu kata pun yang keluar. Dia melirik ke arah petugas polisi yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya. Salah satu petugas menunjukkan sebuah surat perintah yang ditandatangani oleh otoritas terkait.

"Saudara Andra Pratama, Anda diminta ikut ke markas besar untuk memberikan keterangan terkait dugaan tindak pidana pencucian uang dan upaya sabotase sistem keamanan hotel," ucap petugas itu dengan nada yang sangat datar.

Kerumunan tamu mulai bergolak. Kamera-kamera ponsel mulai diarahkan ke meja utama. Felysha merasa dunianya seolah sedang diputarbalikkan. Dia melihat Andra yang biasanya begitu angkuh, kini dipandu oleh dua petugas polisi keluar dari ballroom. Andra sempat menoleh ke arah Felysha, matanya menyiratkan amarah yang belum padam, namun Felysha tidak memalingkan wajahnya. Dia tetap berdiri tegak, membiarkan Andra melihat bahwa dia tidak lagi takut.

Begitu Andra menghilang di balik pintu ganda besar, suasana di dalam ballroom masih terasa berat oleh ketegangan yang tertinggal. Gunawan berdiri, ia merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat mekanis. Dia menatap Mahesa cukup lama. Ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka berdua, sebuah momen di mana dua pria dari dunia yang sangat berbeda ini saling mengukur nilai satu sama lain tanpa menggunakan uang sebagai tolak ukur.

"Bagaimana kamu bisa mendapatkan semua ini?" tanya Gunawan akhirnya.

Mahesa menarik napas panjang, merapikan tali kameranya yang sedikit melintir. "Di Paris, saya belajar bahwa informasi adalah komoditas paling berharga di jalanan, Pak. Andra meremehkan saya karena dia pikir saya hanya bisa mencopet dompet. Dia lupa bahwa untuk mencuri identitas, seseorang harus tahu cara membobol sistem yang paling rahasia sekalipun."

Mahesa melirik ke arah Felysha yang masih berdiri di tepi panggung. "Dan saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak apa yang sudah dia perjuangkan untuk saya."

Gunawan mengangguk pelan. Dia mengambil kembali kartu nama Mahesa yang tadi sore ia letakkan di sakunya. "Papa butuh waktu untuk memeriksa ulang semua ini dengan tim audit Papa. Tapi untuk malam ini... kamu sudah membuktikan bahwa kamu lebih dari sekadar bayangan."

Gunawan berjalan mendekati Felysha, menepuk bahu putrinya dengan lembut sebelum ia melangkah menuju ke arah para tamu yang masih bingung untuk memberikan penjelasan singkat.

Felysha turun dari panggung, langkah kakinya terasa ringan di atas karpet merah. Dia berjalan mendekati Mahesa, mengabaikan tatapan mata para tamu yang masih tertuju pada mereka. Begitu ia sampai di depan Mahesa, Felysha tidak peduli lagi pada etika gala diner yang kaku. Dia segera meraih tangan Mahesa, menggenggamnya erat-erat dengan kedua tangannya.

"Kamu terluka," bisik Felysha saat melihat memar baru di wajah Mahesa dan noda darah kecil di kemeja putihnya.

Mahesa tersenyum tipis, sebuah senyum yang terasa sangat hangat dan jujur. Dia tidak menarik tangannya; sebaliknya, dia membalas genggaman Felysha dengan tekanan yang sama kuatnya. "Hanya beberapa goresan kecil, Fely. Tidak sebanding dengan rasa lega yang aku rasakan sekarang."

"Pierre?" tanya Felysha pelan.

"Polisi sudah membawanya. Dia tidak akan mengganggumu lagi," Mahesa menatap ke sekeliling ruangan yang kini mulai dipenuhi oleh petugas hotel yang mencoba menenangkan para tamu. "Aku rasa pameran fotoku di Paris adalah latihan yang bagus untuk drama malam ini."

Felysha tertawa kecil di sela air matanya yang mulai jatuh. "Kamu benar-benar penipu paling hebat, Mahesa. Kamu menipu Andra dengan keberanianmu."

Mahesa menggeleng. "Aku tidak menipunya, Fely. Aku hanya menunjukkan padanya bahwa kejujuran punya cara paling kasar untuk menampakkan diri."

Mereka berdua berdiri di tengah kekacauan yang terkendali itu. Di atas mereka, langit Jakarta yang biasanya tertutup polusi seolah-olah mulai memberikan celah untuk warna biru gelap yang megah. Di dalam hati Felysha, ia menyadari bahwa sangkar emasnya kini sudah benar-benar terbuka, bukan karena ayahnya memberikan izin, tapi karena ia dan Mahesa telah membangun kuncinya bersama-sama di bawah langit Midnight Blue Paris.

"Ayo keluar dari sini," ajak Mahesa. "Udara di dalam sini terlalu penuh dengan aroma yang tidak enak."

Felysha mengangguk. Mereka berjalan beriringan keluar dari ballroom, meninggalkan kerumunan sosialita dan lampu-lampu kristal yang kini terasa begitu palsu. Saat mereka melangkah keluar dari lobi hotel menuju area parkir, hawa panas Jakarta menyambut mereka, namun bagi Felysha dan Mahesa, udara itu terasa jauh lebih segar daripada oksigen yang ada di dalam gedung tadi.

Di bawah langit malam yang lembap, mereka menyadari bahwa perjalanan mereka masih panjang, namun beban yang mereka bawa kini terasa jauh lebih ringan. Andra mungkin masih punya cara untuk melawan nanti, dan Pierre mungkin masih menyisakan dendam, namun malam ini, di depan megahnya Hotel Indonesia, Mahesa dan Felysha tahu bahwa mereka telah memenangkan sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun: masa depan mereka yang sebenarnya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!