Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Retak
Hal-Hal yang Tidak Tercatat di Kontrak
Pagi berikutnya datang dengan cuaca yang terlalu cerah untuk situasi yang menggantung. Jakarta seolah tidak peduli pada kontrak, evaluasi, atau dua orang dewasa yang sedang belajar berdiri tanpa saling bersandar. Matahari naik seperti biasa. Jalanan padat. Kopi tetap pahit di lidah. Hidup berjalan, bahkan ketika sesuatu di dalam diri belum menemukan tempatnya.
Di kantor Cinta Rental 24 Jam, seorang perempuan muda Admin kembali membuka dashboard utama. Semua indikator tampak normal—bahkan terlalu normal. Tidak ada komplain publik, tidak ada unggahan liar, tidak ada rumor yang bocor ke luar. Dari sudut pandang sistem, ini nyaris ideal.
Dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman.Ia membuka tab internal: Risk Assessment – Emotional Deviation.
Nama Andi Pratama muncul dengan status kuning.Stabil, namun berpotensi melawan arus.
Mira mengetuk meja pelan sudah cukup lama bekerja di tempat ini untuk tahu satu hal: klien paling berbahaya bukan yang emosional, melainkan yang sadar—dan tetap memilih.
“Siapkan opsi mitigasi,” katanya ke staf legal tanpa menoleh.
“Yang mana?”
“Yang paling rapi,” jawabnya. “Kalau perlu, libatkan talent cadangan.”
Staf legal terdiam sesaat.“Untuk Mas Andi?”
“Untuk sistem,” jawab Admin singkat.
Di coworking space kecil tempat Nayla bekerja, pagi berjalan lebih lambat. Tidak ada jam absen, tatapan rekan kantor yang mengukur. Hanya suara keyboard, pendingin ruangan yang mendengung, dan pikiran yang akhirnya punya ruang.
Nayla membuka email resmi dari Cinta Rental.Subjeknya sederhana: Penyesuaian Jadwal & Opsi Pendamping Tambahan.
Ia membacanya sekali lalu dua kali secara berulang ulang. Tidak ada ancaman maupun paksaan, hanya kalimat terakhir cukup jelas:
“Sebagai langkah preventif, perusahaan mempertimbangkan opsi talent cadangan apabila dinamika klien dinilai berpotensi mengganggu objektivitas.”
Gadis berhidung mancung itu menutup laptop perlahan. Inilah harga dari menjaga jarak bukan hukuman—melainkan digantikan. Ia tidak panik tidak juga marah. Tapi untuk pertama kalinya semenjak kontrak dimulai, ia merasakan sesuatu yang lebih tajam dari cemburu atau takut kehilangan.
Ia tetap merasa… diuji bukan sebagai talent.
Tapi sebagai manusia yang berani berkata, cukup.
Sementara itu, Andi menerima undangan lanjutan pertemuan Strategis – Penyesuaian Citra Publik nama Nayla tidak tercantum.
Ia membaca email itu lama. Lalu menutupnya tanpa membalas tidak langsung patuh pada ritme yang sudah membesarkannya.
Ia menghubungi satu orang—bukan admin, bukan legal tapi Dio sahabatnya
“Kapan terakhir lu minum kopi tanpa mikirin reputasi?” tanya Dio tanpa basa-basi setelah telepon tersambung.
Ia tersenyum tipis. "Sebelum hidup gue jadi presentasi PowerPoint.”
“Kenapa?”
“Mereka mau ganti Nayla.”
Hening di seberang.
“Lu bakal diam?”
Andi menatap kaca jendela apartemennya. Bayangan dirinya terpantul—rapi, tenang, tapi tidak lagi kosong.
“Enggak,” jawabnya pelan. “Tapi kali ini gue nggak mau nyelametin siapa pun. Gue cuma mau jujur.”
Sore matahari turun pelan, langit merah jambu, Nayla sedang duduk diluar tiba tiba notice hapenya berdering menerima pesan dari laki laki itu
“Boleh ketemu sebentar? Netral tanpa peran.”
Ia menatap layar beberapa detik lalu membalas: “Boleh, cukup satu jam.”
"Warung kopi disamping Nasi Uduk kesukaan lu."
Mereka bertemu di tempat yang tidak punya sejarah di sebuah kedai kopi kecil dekat taman kota—meja kayu, kursi besi, suara daun yang gemerisik
Andi datang lebih dulu. Nayla menyusul lima menit kemudian tdak ada pelukan, senyum yang dibuat-buat.
“Halo,” kata Nayla.
“Halo,” jawab kak Andi.
Mereka duduk.
“Ada kemungkinan mereka ganti lu,” kata Andi langsung tidak dramatis dan berputar-putar.
Ia mengangguk, “Gue tahu.”
“Dan lu… oke?”
“Gue siap,” jawabnya jujur. “Kalau sistem butuh itu.”
Andi menunduk tubuhnya gelisah “Kalau gue nolak?”
Ia menatapnya tajam untuk pertama kalinya hari itu.“Ini pilihan kakak bukan pembelaan.”
“Gue tahu dan gue memilih itu."
“Gue bakal jalanin kontrak ini sampai selesai. Tapi gue nggak mau diganti-gantiin manusia kayak komponen.”
“Nanti dampaknya ke lu,” ucap gadis itu pelan.
“Iya,” jawab Andi merespon, keputusan gue sendiri tanpa orang lain ikut campur.”
Gadis berambut sebahu itu tidak langsung menjawab menatap cangkir kopinya, uap yang naik pelan.“Kalau lu jatuh?” tanyanya pelan.
“Berarti gue jatuh sebagai diri gue, bukan sebagai produk.”
Ada senyum kecil di wajah Nayla senyum kebahagiaan dan rasa lega.“Makasih,”
Andi menghela napas sejenak, “Buat diri lu yang nggak ngilang.”
Malam itu, Mira menerima laporan singkat.
Klien menolak opsi talent cadangan. Bertanggung jawab penuh atas konsekuensi citra.
Ia membaca kalimat itu lama lalu menutup laptop.“Menarik,” gumamnya.
Karena untuk pertama kalinya sejak Cinta Rental 24 Jam berdiri, ada klien yang tidak minta diselamatkan.
Dan di luar sana—di dua tempat berbeda—Andi dan Nayla sama-sama tahu Ini belum akhir baru titik di mana mereka berhenti bersembunyi.
\=\=\=
Rumor tidak pernah datang dengan bunyi ledakan.Ia muncul seperti rembesan air di dinding—pelan, nyaris tak terlihat, sampai akhirnya semua orang sadar tembok itu tidak pernah benar-benar utuh.
Pagi itu, sebuah akun gosip kecil mengunggah foto buram bukan foto pasangan lagi bermesraan, pegangan tangan apalagi ciuman, hanya dua orang duduk berhadapan di kedai kopi di gang kecil samping nasi uduk.
Caption-nya singkat:
“Pacar sewaan ketemu klien di luar jadwal? Profesional atau mulai personal?”
Tidak viral belum, tapi cukup untuk memicu satu hal pertanyaan.
Di kantor Andi merasakan suasana berubah sebelum makan siang, bisik-bisik terbuka— jeda kecil yang tidak biasa, kalimat yang terhenti dan senyuman yang terlalu cepat ditarik.
Dio menghampiri mejanya tanpa basa-basi.
“Lu lagi diuji.”
Laki laki itu tidak mengangkat kepala dari layar.“Gue tahu.”
“Admin gerak?"
“Belum frontal.”
“Justru itu bahaya,” gumamnya berisik “Kalau mereka frontal, masih bisa ditawar. Kalau rapi, itu artinya mereka siap ngelepas lu.”
Andi akhirnya menoleh menatapnya “Dan kalau gue dilepas?”
Dio terdiam sesaat lalu menarik tangannya pelan seolah berbisik “Lu siap kehilangan karier yang lu bangun belasan tahun?”
Pertanyaan itu tidak membuat Andi panik apalagi defensif. Dan Ia menjawab jujur, tanpa kalkulasi:“Gue lebih takut kehilangan diri gue sendiri.”
Di sisi lain kota, Nayla dipanggil lagi ke kantor Cinta Rental 24 Jam sebuah Penawaran.
Mira duduk santai, terlalu santai untuk situasi yang seharusnya formal.“Kami ingin jujur,” katanya sambil menyilangkan tangan. “Ada klien baru public figure, paketnya jangka panjang lebih aman, lebih… bersih.”
Nayla mengerti arti kata bersih berarti tanpa keterikatan tanpa pilihan rumit tanpa klien yang mulai bertanya kenapa. “Dan kontrak saya sekarang?” tanyanya lambat.
“Masih aktif,” jawab Admin ringan. “Tapi jika Anda ingin transisi, kami bisa atur secara elegan.”
Ia tersenyum tipis. “Elegan untuk siapa?”
Gadis tidak menjawab langsung berpikir sejenak “Untuk sistem.”
Ia mengangguk pelan.“Dan kalau saya menolak?”
Admin menatapnya lebih serius kali ini “Risikonya ada anda tahu itu.”
“Iya,” jawab Nayla tenang. “Dan saya tetap menolak.”
Ruangan itu hening beberapa detik.
“Kami catat pilihan Anda.”
Nayla merasa ia tidak lagi sedang disewa— sedang diuji untuk bertahan.
“Mereka nawarin gue klien lain.”
Andi membaca WA Nayla sore sepulang kerja di apartemennya
Ia membalas dengan cepat“Lu nggak perlu mikirin gue.”
Balasan Nayla datang tak lama kemudian.
“Gue mikirin diri gue dan pilihan gue tetap sama.”
Andi memejamkan mata sejenak. Ada rasa bangga y bercampur rasa takut karena ia tahu—pilihan seperti itu jarang ada yang gratis.
Malam turun perlahan. Kota tetap ribut, lampu tetap menyala, dan sistem tetap bekerja.
Di balik semua itu, dua orang dewasa sedang berjalan ke arah yang tidak nyaman:
keputusan yang tidak bisa lagi ditarik.
Dan di kantor Cinta Rental 24 Jam, Admin menulis satu catatan internal terakhir hari itu:
“Hubungan klien–talent menunjukkan resistensi terhadap kontrol perlu eskalasi dan
uji batas.” Cerita belum pecah tapi retaknya sudah jelas.