NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:910
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Tambah Bingung

Gue duduk sendirian di balkon apartemen malam itu, pikiran penuh. Setelah tekanan keluarga dari Ibu Harti soal Aprilia dan Dr. Maya, gue mutusin buat bikin rencana sendiri. Gue harus nilai satu per satu semua cewek yang ada di hidup gue. Ranking, plus minus, kesiapan, dan kecocokan buat nikah.

Mulai dari Dian. Besok malam gue ajak dia ketemu di apartemen. Setelah makan malam ringan, gue langsung ngomong serius.

“Dian, gue lagi mikir nikah. Lu siap nggak?”

Dian natap gue lama, matanya berkaca-kaca tapi tegas. “Gue siap, asal lu serius. Tapi… ada syarat.”

“Apa?”

“Kalau lu poligami, gue tolak mentah-mentah. Gue nggak mau berbagi suami. Gue mau full.”

Gue ngangguk pelan. Dian emang tipe yang posesif dan kuat. Dia bagus di ranjang, liar, dan selalu bikin gue puas, tapi soal pernikahan dia nggak mau kompromi. Gue catat di hati. Dian ranking tinggi di gairah, tapi rendah di fleksibilitas.

Dari Dian, gue nggak berani nanya soal Ria. Hubungan gue sama Ria cuma sekali itu di ruang meeting, dan sekarang Angga lagi gila-gilaan. Gue malah nelpon Marita.

Marita dateng ke apartemen keesokan harinya. Rambut keritingnya masih eksotis, senyumnya hangat. Gue peluk dia lama.

“Mar, gue lagi mikir serius soal nikah. Lu gimana?”

Marita diam agak lama, lalu senyum pahit. “Gue? Gue ngerasa diri gue bukan yang terbaik. Bukan yang paling cantik, bukan yang paling pintar, bukan yang paling kaya. Gue cuma… gue. Kalau lu pilih gue, gue bahagia. Tapi gue ngerti kalau lu punya banyak pilihan yang lebih bagus.”

Gue elus rambutnya. Jawaban itu malah jadi nilai plus buat gue. Marita rendah hati, mandiri sekarang, dan selalu ada buat gue tanpa banyak tuntutan. Dia nggak posesif berlebihan. Ranking Marita naik di hati gue.

Siang harinya di kantor, masalah baru dateng. Angga tiba-tiba nyamperin gue di koridor, mukanya merah. “Lu! Masih berani deket-deket Ria? Gue bunuh lu kalau lu ganggu dia lagi!”

Dia dorong dada gue keras. Gue mundur, tapi emosi naik. “Lu gila ya? Gue nggak pernah berduaan sama Ria lagi. Udah diwanti-wanti Bu Sita sama Pak Krismono.”

Angga maju lagi, tangan mengepal. Hampir saja kami berkelahi di tengah kantor. Ria dan beberapa karyawan langsung pisahin. “Stop! Ini kantor!” teriak Ria.

Gue mundur, napas ngos-ngosan. “Gue nggak mau ribut. Lu tenangin diri lu.”

Angga diusir security. Gue masuk ruangan, tangan masih gemetar. Ria memang off limits sekarang. Gue nggak pernah berduaan lagi sama dia. Terlalu risky.

Sore harinya gue mikirin Bu Sita. Dia ganas, pengalaman, dan selalu bikin gue merasa dibutuhkan. Tapi setelah beberapa kali, gue sadar gue cuma pelampiasan buat dia. Suaminya jarang pulang, anak di Magelang, dia butuh pelepasan stres. Bukan tipe buat dinikahi. Ranking Bu Sita rendah buat pernikahan, tinggi buat sesi rahasia.

Malamnya gue hubungi Nina. “Nina, gue ke apartemen lu boleh? Ada yang mau dibahas.”

Nina langsung setuju. “Dateng aja. Gue nunggu.”

Gue samperin apartemen Nina . Begitu pintu dibuka, Nina berdiri di depan dengan tank top ketat dan celana pendek. Dia masih muda, cantik banget, tubuhnya luar biasa payudara penuh, pinggang ramping, pinggul lebar, kulit kuning langsat yang kinclong. Rambutnya panjang tergerai.

“Masuk,” katanya sambil senyum.

Gue masuk, nutup pintu. Tanpa banyak kata, gue peluk dia dari belakang. Nina terkesiap pelan tapi nggak nolak. Gue cium lehernya lembut, hirup aroma shampoo rambutnya yang wangi. Tangan gue merayap pelan di perutnya yang rata, naik ke bawah dada.

“Gue kangen lu, Nin,” bisik gue di telinganya.

Nina mendesah kecil, badannya menempel ke gue. Gue cium lehernya lagi, lebih lama, lidah gue menyentuh kulit halusnya dengan lembut. Tangan gue naik lebih berani, meraba payudaranya dari luar tank top. Kain tipis itu nggak bisa nutupin kehangatan dan kelembutan yang gue rasain. Gue remas pelan, penuh perasaan, jempol gue usap putingnya yang mulai mengeras.

Nina memiringkan kepala, kasih akses lebih ke lehernya. “Mas… enak,” desahnya suaranya manja.

Gue puter badannya pelan, cium bibirnya dalam. Lidah kami saling menyapa lambat, penuh gairah yang lama tertahan. Tangan gue turun ke pinggulnya, angkat sedikit tank topnya, sentuh kulit perutnya yang mulus. Nina gemetar, tangannya pegang punggung gue erat.

Kami berjalan ke sofa tanpa melepaskan ciuman. Gue duduk, Nina di pangkuan gue. Gue angkat tank topnya pelan, lepas branya. Payudaranya yang indah terpapar, gue cium dari leher turun ke dada, hisap pelan dengan penuh kasih. Nina pegang kepala gue, napasnya berat, pinggulnya gerak pelan di pangkuan gue.

Gue balik posisi, baringin dia di sofa. Tangan gue menjelajahi seluruh tubuhnya dari paha jenjang, pinggul lebar, sampai payudara yang bergoyang lembut tiap gerakan. Sentuhan gue sensual, lambat, nikmatin setiap inci kulitnya. Nina mendesah terus, badannya melengkung manja tiap gue sentuh titik sensitifnya.

“Kita ke kamar yuk,” bisik Nina dengan suara bergetar.

Di kamar, kami lanjut dengan lebih intim. Nina naik ke atas gue, gerakannya lembut dan sensual. Payudaranya bergoyang indah di depan mata gue, tangannya pegang dada gue. Gue pegang pinggulnya, bantu ritme yang semakin dalam. Desahan kami bercampur, keringat mulai keluar, tapi semuanya tetap penuh perasaan, erotis tanpa terburu-buru.

Nina klimaks dengan badan kejang pelan, desahannya manja di telinga gue. Gue susul tak lama kemudian, peluk dia erat. Kami tergeletak saling peluk, napas ngos-ngosan.

“Lu masih aja bikin gue meleleh,” kata Nina sambil elus dada gue.

Gue cium keningnya. “Lu juga, Nin. Tubuh lu luar biasa.”

Setelah itu kami ngobrol panjang di kasur. Nina cerita soal hidupnya, karir modelingnya yang masih jalan, dan keinginannya buat punya hubungan yang lebih serius. Gue dengerin sambil elus rambutnya. Nina masuk ranking tinggi cantik, seksi, muda, dan fleksibel.

Pagi harinya gue pulang ke apartemen dengan pikiran lebih jernih. Ranking sementara di kepala gue, dari Marita sampai Poppy. Dian dan Bu Sita lebih ke pelampiasan. Ria terlarang. Yang lain masih dipertimbangkan.

Tapi tekanan keluarga makin berat. Ibu Harti chat lagi, “Sudah ada pilihan belum?”

Gue belum jawab. Masih banyak yang harus gue nilai lebih dalam. Angga masih ancam di kantor, Bu Sita masih lirik penuh arti, Rinda nunggu kepastian.

Gue duduk di meja kerja, buka laptop. Kerjaan nunggu, tapi hati gue lagi perang besar. Nikah bukan pilihan mudah buat orang kayak gue yang terlalu banyak “pilihan”.

Malam itu gue ranking ulang lagi sambil minum kopi. Semuanya punya kelebihan. Tapi gue harus pilih satu yang paling pas buat masa depan.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
Kim Borahae
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!