Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Ratusan Sayap Elang di Depan Mata
Setelah Arkan mengetahui kebenaran tentang identitas Liora dan keberadaan Unit Falcon, hatinya dipenuhi oleh rasa kagum dan cinta yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
Liora tidak pernah memaksanya untuk mengetahui semuanya, namun kepercayaan yang diberikan Damar membuat Arkan merasa terhormat sekaligus terharu.
Suatu pagi yang cerah, Liora memanggil Arkan ke ruang kerjanya dengan wajah yang tenang namun penuh makna.
"Arkan," ucap Liora sambil tersenyum lembut.
"Hari ini aku ingin membawamu ke suatu tempat. Tempat di mana semua pelindung kita berkumpul. Tempat di mana semua janji kesetiaan kita terikat selamanya."
Arkan menatap istrinya dengan mata yang bersinar penuh rasa ingin tahu dan kepercayaan penuh.
"Aku siap ke mana pun kau bawa aku, Liora. Karena di mana pun itu, itu adalah tempat yang paling aman bagiku."
Mereka berdua berangkat dengan mobil pribadi yang bergerak menuju arah pegunungan yang jauh dari keramaian kota.
Perjalanan hanya memakan waktu satu jam, dan akhirnya mereka tiba di depan sebuah pintu besi raksasa yang tertutup rapat di antara tebing batu yang terjal.
Pintu itu tampak biasa saja dari luar, namun Arkan tahu bahwa di baliknya tersembunyi dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setelah memberikan kode rahasia, pintu besi itu terbuka perlahan, dan pemandangan yang terbentang di depan mata Arkan membuatnya tertegun sepenuhnya.
Di dalam sana, terdapat lapangan luas yang tertutup rumput hijau dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan yang dirancang dengan presisi militer.
Di seluruh penjuru lapangan, berdiri ratusan bahkan ribuan prajurit dengan seragam gelap yang sama, lencana sayap elang bersinar di dada mereka, dan wajah yang tegar serta penuh disiplin.
Total mereka ada sekitar 3.000 orang, tersebar rapi dalam formasi yang teratur sempurna, tanpa satu pun gerakan yang berlebihan atau suara yang berisik.
Mereka berdiri tegak seperti dinding baja, mata mereka tajam mengarah lurus ke depan, memancarkan aura kekuatan, kesiapan, dan kesetiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Arkan menelan ludah pelan, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa di balik organisasi kecil yang ia bangun, tersembunyi kekuatan sebesar ini.
"Ini..." bisik Arkan dengan suara yang sedikit bergetar.
"Ini semua adalah anggota Unit Falcon?"
Liora mengangguk bangga, lalu menggenggam tangan suaminya erat-erat.
"Ya, Arkan.
"Semua ini adalah keluarga kita. Tiga ribu prajurit terbaik dari seluruh dunia, yang dilatih sejak muda, yang rela mengorbankan segalanya hanya demi satu perintah: melindungi kamu, melindungi aku, dan melindungi segala hal yang kita bangun bersama."
Lalu Liora melangkah maju ke depan, menuju panggung kecil yang telah disiapkan di tengah lapangan.
Suaranya bergema jelas dan tegas, memenuhi seluruh ruang luas itu, menembus keheningan yang sempurna.
"Prajurit Unit Falcon!" seru Liora, dan suara itu langsung dijawab oleh teriakan serentak dari ribuan orang di depannya.
"SIAP MELAYANI KOMANDAN!"
Suara itu bergemuruh seperti guntur, membuat udara bergetar, namun tetap terdengar teratur dan disiplin sempurna.
Liora mengangkat tangan, dan seketika seluruh lapangan menjadi hening kembali. Ia menoleh ke arah Arkan, lalu menunjuk ke arahnya dengan tatapan penuh cinta dan bangga.
"Selama ini kalian melayani aku sebagai Komandan kalian," ucap Liora dengan suara yang penuh emosi dan otoritas.
"Tapi hari ini, aku akan memperkenalkan pada kalian seseorang yang lebih berharga daripada segala kekuasaan, segala kekayaan, dan segala kemenangan yang pernah kita raih bersama."
Ia menepuk bahu Arkan lembut, lalu berbicara lagi kepada seluruh pasukan di depannya.
"Ini adalah Tuan Arkan. Pemimpin yang aku cintai. Suamiku. Dan orang yang menjadi alasan mengapa kita ada di sini."
"Semua yang kita lakukan, semua kekuatan yang kita miliki, semua pengorbanan yang kita siapkan—semuanya demi keselamatan dia, demi kebahagiaannya, dan demi masa depan yang akan kita bangun bersama."
Liora menatap mata seluruh prajurit itu satu per satu, lalu melanjutkan dengan suara yang tegas dan jelas.
"Mulai hari ini, Tuan Arkan bukan hanya pemimpin di dunia luar. Dia juga adalah Pelindung Besar Kita. Siapa pun yang berani menyakiti dia, berarti berani melawan seluruh Unit Falcon."
"Siapa pun yang berani menyentuh apa pun miliknya, berarti berani menghadapi kematian. Dan kalian berjanji padaku, kalian akan menjaga dia dengan nyawa kalian sendiri, sama seperti kalian menjaga aku, kan?"
"BERJANJI! BERJANJI! BERJANJI!"
Teriakan itu kembali meledak, lebih keras dan penuh semangat dari sebelumnya.
Rasa hormat dan kesetiaan yang terpancar dari mata mereka membuat Arkan merasa terharu hingga air mata hampir jatuh di pipinya.
Ia tidak pernah merasa sebesar ini, tidak pernah merasa seaman ini, dan tidak pernah merasa dicintai sekuat ini.
Kemudian Liora memperkenalkan para komandan yang paling setia dan terkuat di sampingnya.
"Dihadapan kalian, berdiri tangan kanan dan kiri aku.
"Yang pertama: Komandan Jack, pemimpin Unit 1—penjaga intelijen, pengawasan, dan pertahanan strategis."
"Dia yang selalu tahu di mana musuh berada, sebelum musuh itu bahkan sadar bahwa dia ada."
Jack melangkah maju, menunduk hormat dengan sikap yang gagah dan penuh kebanggaan.
Arkan menepuk bahunya sebagai tanda penghargaan.
"Dan yang kedua: Komandan Jordan, pemimpin Unit 2—pemimpin operasi tempur, penyusupan, dan keamanan lapangan."
"Dia yang bisa menembak target dari jarak jauh dengan presisi mutlak, dan memimpin pasukan kita menuju kemenangan di mana pun bahaya muncul."
Jordan juga melangkah maju, wajahnya tegar namun penuh rasa hormat yang dalam pada Arkan.
"Dan di antara kalian semua, ada Damar, anggota terbaru yang sudah membuktikan dirinya layak memakai lencana Sayap Elang."
"Dia adalah jembatan antara dunia kita dan dunia luar, dan dia akan selalu menjadi mata dan telinga kita di setiap tempat yang kita kunjungi."
Damar melangkah maju, berdiri tegak di sebelah kedua komandan lainnya, lencana di dadanya bersinar terang sebagai tanda keanggotaan sejati.
Arkan menatap ketiga orang hebat itu, lalu menoleh kembali ke arah ribuan prajurit yang berdiri tegak di hadapannya.
Ia merasa kecil namun sangat kuat sekaligus. Ia tahu bahwa kekuatan yang ia miliki bukan hanya kekayaannya, bukan juga bisnisnya.
Kekuatan terbesarnya adalah cinta Liora, dan kesetiaan dari seluruh pasukan di hadapannya ini.
Liora berjalan mendekat ke arah Arkan, lalu berbicara lagi kepada seluruh pasukan dengan suara yang lembut namun tegas.
"Tuan Arkan tidak meminta kekuasaan dari kalian. Dia hanya meminta kesetiaan yang tulus, sama seperti yang kalian berikan padaku."
"Dan aku tahu, kalian akan memberikannya dengan sepenuh hati. Karena kalian tahu, apa pun yang terjadi, kalian akan selalu berdiri bersama dia, sama seperti kalian selalu berdiri bersamaku."
Arkan mengangkat tangannya, menatap ribuan mata yang menatapnya dengan penuh rasa hormat dan kepercayaan.
Suaranya gemetar sedikit karena emosi, namun bergema kuat memenuhi seluruh lapangan itu.
"Aku tidak punya kata-kata yang cukup untuk mengucapkan terima kasih," ucap Arkan dengan suara yang tulus.
"Selama ini aku tidak tahu bahwa aku memiliki keluarga sebesar ini di belakangku. Aku pikir aku berjuang sendirian."
"Tapi sekarang aku tahu: aku tidak pernah sendirian. Aku memiliki Liora, aku memiliki kalian semua, dan aku memiliki kekuatan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan tatapan yang penuh tekad.
"Mulai hari ini, bukan hanya kalian yang melindungiku. Aku juga akan berdiri di barisan paling depan bersama kalian. Kita bukan hanya pemimpin dan prajurit."
"Kita adalah keluarga yang sama. Kita akan terbang tinggi bersama, kita akan menang bersama, dan kita akan tetap berdiri tegak selamanya, tidak akan pernah runtuh oleh apa pun di dunia ini."
Mendengar kata-kata itu, seluruh pasukan Unit Falcon bersorak lagi, sorak yang penuh semangat, kebanggaan, dan kesetiaan yang tak terhingga. Langit seolah ikut bergema menyambut janji abadi itu.
Sore itu, Arkan menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Ia berjalan di antara barisan prajurit, menyapa mereka satu per satu, melihat keahlian mereka berlatih, dan merasakan denyut nadi kekuatan besar yang hidup di tempat itu.
Ia menyadari bahwa Liora tidak hanya memberinya perlindungan, tapi juga memberinya sebuah keluarga baru yang lebih kuat dan abadi daripada apa pun yang pernah ia miliki sebelumnya.
Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi keemasan, Arkan dan Liora kembali berjalan menuju pintu keluar.
Sebelum pintu tertutup rapat kembali, Arkan menoleh sekali lagi ke arah ribuan pasukan yang masih berdiri tegak, memandang mereka dengan rasa bangga yang tidak terucapkan.
Di sampingnya, Liora tersenyum tenang.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Arkan?" tanyanya lembut.
Arkan menggenggam tangan istrinya erat, lalu tersenyum bahagia.
"Aku merasa bahwa aku adalah orang paling beruntung di seluruh dunia," jawabnya.
"Karena aku memiliki Ratu, aku memiliki Pelindung, dan aku memiliki seluruh Sayap Elang ini di sisiku."
Dan saat pintu besi itu tertutup, menutup dunia luar di belakang mereka, Arkan tahu bahwa mulai hari itu, tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi ancaman, dan tidak ada lagi halangan yang bisa mengganggu kedamaian dan kejayaan kerajaan mereka selamanya.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍