NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di dunia nyata, di dalam kamar yang penuh dengan aroma dupa dan doa-doa yang tak putus, jari tangan Arash tiba-tiba bergerak kecil. 

Matanya yang terpejam rapat mulai bergetar. 

Kyai Hasan yang sedang duduk berzikir di samping tempat tidur Arash terperanjat, matanya membelalak melihat cucu sulungnya akhirnya menarik napas panjang, sangat panjang, seolah baru saja kembali dari perjalanan yang sangat jauh.

"Arash?" panggil Kyai Hasan dengan suara bergetar.

"Eyang..." gumam Arash pelan.

 Suaranya terdengar sangat serak, nyaris menyerupai bisikan angin sore di sela gorden jendela kamar yang sedikit terbuka. 

Tenggorokannya terasa sekering padang pasir, dan seluruh persendian tubuhnya seolah kaku setelah dipaksa beristirahat dalam waktu yang teramat lama.

Kyai Hasan yang sejak tadi tidak melepaskan tasbih dari jemarinya langsung menghentikan zikirnya. 

Sepasang mata sepuh yang biasanya memancarkan ketenangan itu kini berkaca-kaca menatap sang cucu sulung. 

Beliau segera mendekatkan duduknya pada tepi ranjang, meraba kening Arash yang syukurlah kini suhunya sudah kembali normal.

"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah, kamu sudah pulang, Le," ucap Kyai Hasan dengan suara bergetar penuh rasa syukur yang membuncah. 

Kerutan di wajah tuanya seolah mengendur, digantikan oleh senyuman paling lega yang pernah Arash lihat selama hidupnya.

Arash mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya lampu kamar yang temaram. 

Memori terakhir di padang rumput hijau yang begitu indah bersama Mami Kayla dan Papinya mendadak berputar kembali di benaknya. 

Sentilan gemas dari Maminya bahkan seolah masih meninggalkan sensasi hangat di keningnya.

"Eyang... tapi tadi Arash ketemu Mami sama Papi. Mereka—"

"Ssshhh... Eyang sudah tahu, Arash," potong Kyai Hasan lembut sembari tersenyum teduh. 

Beliau mengusap rambut lebat cucunya dengan penuh kasih sayang, seolah ingin menyalurkan sisa-sisa ketenangan spiritual yang beliau miliki ke dalam jiwa Arash yang baru saja bertempur hebat di dimensi ghaib.

Arash tersentak kecil, kepalanya yang masih agak pening mencoba mencerna ucapan sang kakek.

 "Eyang... tahu? Eyang tahu kalau Arash ketemu mereka?"

Kyai Hasan mengangguk perlahan, janggut putihnya bergerak selaras dengan anggukan kepalanya. 

"Jiwa yang suci tidak pernah benar-benar tersesat, Le. Mami dan Papimu sengaja menjemputmu di batas alam tadi, hanya untuk memastikan anak jagoan mereka tidak menyerah pada kegelapan. Mereka yang menuntunmu kembali ke raga ini atas izin Allah." 

Beliau menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan tatapan penuh arti, "Nanti, setelah kondisi fisikmu benar-benar membaik, Eyang akan mengenalkan kamu dengan sahabat baik Eyang."

Arash mengerutkan dahinya bingung. Rasa ingin tahunya yang tinggi seketika terusik, mengalahkan rasa lemas yang masih menjalar di sekujur tubuhnya.

 "Sahabat baik Eyang? Siapa, Eyang? Apakah beliau seorang kyai juga?"

"Nanti... kalau kamu sudah benar-benar pulih dan bisa mandek dengan tegak," jawab Kyai Hasan sembari terkekeh pelan, sengaja merahasiakan sosok misterius tersebut agar cucunya fokus pada proses pemulihan terlebih dahulu.

 Beliau tahu, perjalanan spiritual Arash ke depannya akan jauh lebih berat, dan sosok sahabat lama yang beliau maksud adalah kunci utama untuk melatih bakat indigo Arash agar tidak lagi gampang tumbang oleh serangan ghaib.

Tak lama setelah percakapan hangat itu terjeda, terdengar suara knop pintu yang berputar. 

Pintu kayu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok Fatimah yang melangkah masuk dengan wajah yang tampak begitu lelah dan sembap. 

Namun, begitu sepasang matanya menangkap siluet Arash yang kini sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan mata terbuka, Fatimah langsung mematung di ambang pintu.

"Alhamdulillah... Arash! Kamu akhirnya bangun, Nak!" seru Fatimah dengan suara melengking gembira bercampur tangis yang pecah seketika.

Fatimah menjatuhkan nampan kecil yang dipegangnya ke atas meja terdekat, lalu setengah berlari menghampiri ranjang.

 Tanpa memedulikan keberadaan Kyai Hasan, wanita itu langsung memeluk tubuh Arash dengan teramat erat. 

Tubuh Fatimah bergetar hebat di dalam dekapan tersebut.

 Kedua tangannya mencengkeram erat punggung kaos Arash, seolah-olah ia sedang menahan sekuat tenaga agar remaja itu tidak kembali tersedot ke alam koma yang menakutkan selama tiga hari terakhir.

 Rasa takut kehilangan yang teramat besar begitu kentara dari eratnya pelukan itu.

Arash tertegun sejenak, namun sejurus kemudian seulas senyum tulus terukir di wajah pucatnya. 

Ia membalas pelukan hangat itu, menepuk-nepuk punggung Fatimah dengan lembut menggunakan sisa tenaga yang ia miliki.

"Bunda... Arash gak apa-apa kok. Arash sudah kembali. Bunda gak usah khawatir lagi ya," kata Arash, mencoba menenangkan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri itu.

"Arash... hiks... hiks... Jangan pernah bikin Bunda takut lagi seperti ini, Nak," ratap Fatimah di sela tangisnya, menenggelamkan wajahnya di bahu Arash. "Tiga hari kamu tidur gak bangun-bangun, badan kamu dingin... Bunda rasanya mau gila memikirkan kalau kamu gak akan bangun lagi."

"Insya Allah Arash baik-baik aja, Bunda. Jadi, Bunda jangan nangis lagi ya? Nanti Arash ikut sedih," hibur Arash dengan nada yang sengaja dibuat sedikit manja, persis seperti saat ia merengek pada Mami Kayla di padang rumput tadi.

Tak lama berselang, langkah kaki berat lainnya terdengar mendekat. 

Arfin masuk ke dalam kamar sembari membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam yang masih ngepul hangat dan segelas susu putih khusus pemulihan fisik. 

Wajah tegas Arfin yang biasanya irit ekspresi kini tampak melunak secara signifikan begitu melihat keponakan tertuanya sudah sadar.

"Makan dulu. Kamu sudah tiga hari penuh cuma tidur dan diinfus," kata Arfin dengan nada suara baritonnya yang datar namun sarat akan perhatian kebapakan.

 Ia meletakkan nampan tersebut di atas nakas di samping tempat tidur. 

"Bunda kamu ini... setiap hari, pagi, siang, dan malam, selalu masak bubur baru. Dia selalu berharap setiap kali dia masuk ke kamar ini membawa makanan, kamu sudah bangun dan bisa langsung makan bubur buatannya. Makanya, sekarang harus dihabiskan."

Arash menoleh ke arah Fatimah yang kini wajahnya memerah karena malu rahasia dapurnya dibongkar oleh sang suami. Mendengar penuturan jujur dari pamannya, dada Arash mendadak berdenyut oleh rasa haru yang luar biasa hebat.

 Air mata kebahagiaan nyaris saja menetes dari sudut matanya yang memerah.

"Terima kasih, Bunda... Ayah... Eyang," ucap Arash tulus, suaranya kini terdengar jauh lebih mantap. 

Wusshhh!

"Mas gantengggg! Kamu sudah bangun!"

Suara teriakan melengking super cempreng khas Lala itu menggema dahsyat di dalam gendang telinga Arash. 

Efek kejut yang luar biasa dari kemunculan mahluk halus cegil yang kelewat bersemangat itu sukses membuat seluruh sistem saraf motorik Arash mengalami malfungsi seketika.

Byurrr!

"Uhukk! Uhukk! Hukk!"

...____...

...Mommy gak tega mau pindah, tapi juga bingung 😭 Setelah kamar mas Hanan di kecewain sama Entun, aku takut kamar Arash juga bakal di kecewain 😭...

^^^Jadi tolong kerjasamanya ya sayangku, baca sampai tuntas, jangan di tinggal atau di acak2 karena sangat pengaruh ke retensi 😭😭^^^

1
Rosy
gemblengannya di mulai besok saja kyai.. sekarang Arash lagi di tungguin sama hantu cegil yg lagi mau curhat 🤭🤭
Rosy
kenapa pake di perjelas segala sih mom...ngeri banget bayanginnya 😭😭😭😭
Rosy
astaghfirullah ternyata Lala lagi ngobrol sama pocong 😭😭🤣🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!