NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat Lelah

Di dalam ruang kerjanya, Ezra masih berkutat dengan tumpukan dokumen. Jemarinya mengetik dengan kecepatan stabil dan menandai lembar demi lembar berkas yang ia periksa dengan memberikan lingkaran di setiap angka atau kata.

Namun perlahan konsentrasinya buyar. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela di ruangannya. Di luar sana, langit telah sepenuhnya gelap. Dihiasi oleh bulan yang menggantung rendah dan gemerlap lampu dari bangunan-bangunan tinggi di sekitarnya.

Ezra menghela napas panjang. Sebuah embusan napas yang terdengar berat dan lelah. Ia tidak bisa membohongi diri sendiri. Ia memang seorang workaholic. Baginya, tenggelam dalam tumpukan pekerjaan adalah pelarian terbaik untuk mematikan suara-suara masalah di kepalanya.

Ia memijat tengkuk dan punggungnya yang terasa kaku. Rasa nyeri itu masih tertinggal. Sisa dari posisi tidurnya yang salah di ruang kerja rumah semalam. Tubuhnya seolah memprotes keras kelelahan yang ia paksakan.

Tanpa sadar, jempolnya bergerak membuka layar ponsel. Ia menatap layar itu cukup lama. Menunggu notifikasi yang tidak kunjung muncul. Sienna tidak mengabarinya lagi sejak kemarin. Kekosongan dari sisi wanita itu membuat perasaannya tidak menentu, bercampur antara rasa rindu dan rasa terabaikan.

Minggu depan saat Sienna kembali, Ezra akan menjelaskan pernikahannya dengan Azizah. Ia pikir membicarakan hal itu sebaiknya dilakukan secara langsung saat mereka bertemu. Ia juga akan berusaha membujuk Sienna agar wanita itu tidak pergi setelah tahu ia menikahi wanita lain.

Ezra menatap layar ponsel yang gelap itu selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk menyerah. Dengan gerakan cepat, ia mematikan komputer dan merapikan sisa berkas di mejanya. Jika tujuannya bekerja adalah untuk melupakan masalah, malam ini pekerjaan justru membuatnya semakin merasa terbebani.

Ia meraih kunci mobil dan tas kerjanya, lalu melangkah keluar dari ruangan.

......................

Di sisi lain, Azizah menanti suaminya dengan setia. Ia bahkan sudah menyiapkan kata-kata penyambutan di ponselnya. Agar saat Ezra tiba nanti, ia bisa langsung menunjukkannya.

Begitu sorot lampu mobil menyapu pelataran, Azizah segera menoleh. Ia tentu mengenali mobil itu. Dengan perasaan berdebar, ia bergegas berdiri dan melangkah menuju pintu. Saat Ezra baru saja menapakkan kaki di teras, Azizah sudah membuka pintu lebar-lebar dan menyambut pria itu dengan senyuman tulus.

Ezra masuk ke dalam rumah dengan dahi yang berkerut dalam. Ia masih tidak terbiasa. Ia merasa dirinya adalah seorang jenderal yang disambut meriah setelah pulang dari medan perang.

Tanpa memberikan waktu bagi Ezra untuk bernapas, Azizah segera meraih tangan kanannya dan mencium punggung tangan pria itu.

Ezra tersentak, bahkan mengerjapkan matanya berkali-kali karena benar-benar tidak siap dengan situasi yang terjadi begitu cepat. Ia mematung sesaat, merasakan sisa hangat dari sentuhan Azizah di punggung tangannya.

Segera setelah itu, Azizah menunjukkan layar ponselnya.

‘Selamat datang, Mas.’

Ekspresi Ezra kembali datar, ia mencoba mengusir rasa canggung yang tiba-tiba muncul, “Sudah kubilang, jangan menungguku.”

Azizah tidak membiarkan kata-kata itu memadamkan semangatnya. Ia kembali mengetik dengan cekatan.

‘Aku hanya ingin menyambut kepulanganmu setelah hari yang melelahkan. Kata nenekku, saat suami pulang bekerja, kita harus menyambutnya dengan hangat agar bisa meringankan lelah di pundak suami.’

“Ya, ya, terserah dirimu,” balas Ezra acuh, lalu segera melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah.

Azizah bergerak sigap mengambil alih tas kerja Ezra dari tangannya, lalu kembali mengetik.

‘Makan malam akan kuhangatkan.’

Ezra mengangguk singkat sebagai jawaban.

“Aku ingin mandi,” balasnya dingin, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga menuju lantai atas.

Azizah juga mengikuti pria itu naik ke atas, namun ia membelokkan arah menuju ruang kerja Ezra untuk meletakkan tas kerja suaminya dengan rapi di atas meja. Setelah memastikan semuanya tertata, barulah ia berbalik dan turun kembali menuju dapur.

Menu makan malam kali ini adalah soto ayam. Azizah sengaja memasak soto karena tiba-tiba merindukan masakan Laksmi. Ia ingin merasakan kembali hangatnya rempah-rempah yang diajarkan neneknya saat ia masih belajar memasak di desa dulu.

Azizah menata dua mangkuk soto yang masih mengepul panas di meja makan. Lengkap dengan bakul nasi di tengah, sambal, jeruk nipis, dan kerupuk renyah. Ia juga menuangkan air putih ke dalam dua gelas hingga penuh.

Sesaat setelah persiapan selesai, Ezra turun dengan penampilan yang jauh lebih segar setelah mandi.

“Soto?” tanya Ezra begitu melihat menu di meja makan.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Suasana meja makan malam ini membuatnya merasa seperti sedang berada di warung makan. Ia harus mengakui, masakan Azizah yang sederhana namun kaya akan rasa khas daerah selalu memiliki daya tarik tersendiri yang mampu meluluhkan egonya.

Ia pun duduk di kursinya, diikuti oleh Azizah yang langsung mengambil ponselnya untuk bertanya.

‘Nasi dicampur kuah atau tidak? Jika tidak, aku akan mengambil piring lagi.’

Ezra menggeleng, “Soto lebih enak dicampur.”

Dengan sigap, Azizah menyendokkan nasi ke dalam mangkuk Ezra, lalu melakukan hal yang sama untuk mangkuknya sendiri. Ketika Azizah hendak menambahkan sambal, Ezra segera bersuara.

“Aku tidak terlalu suka pedas, sambalnya sedikit saja.”

Azizah mengangguk paham. Ia mencatat permintaan itu dalam ingatannya. Menambah satu lagi daftar kecil mengenai selera pria yang kini menjadi suaminya itu. Sentuhan terakhir, Azizah memeras jeruk nipis ke dalam kuah soto.

Mereka pun mulai makan dalam diam. Ezra tidak bisa berkata-kata. Kuah hangat soto ayam buatan Azizah benar-benar ajaib. Rasa segar dari perasan jeruk nipis dan gurihnya rempah berhasil mengusir rasa lelah yang sejak pagi tadi menggelayuti pundaknya. Walaupun ia menikmati soto itu hingga suapan terakhir, namun sesekali ia menyentuh punggung dan pinggang belakangnya dengan ringis tertahan.

Azizah memperhatikan itu dengan saksama. Ia sangat yakin, nyeri itu adalah akibat dari posisi tidur Ezra yang tidak bagus di ruang kerja semalam.

Tidak lama, mangkuk Ezra sudah tandas. Ia meneguk air putih dengan cepat, lalu beranjak berdiri. Namun sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Azizah sudah lebih dulu berdiri dan menarik lengan pria itu dengan lembut namun tegas menuju sofa ruang tamu.

“Hei, lepaskan aku! Azizah!” Ezra mencoba protes, namun Azizah tidak peduli.

Wanita itu mendudukkan Ezra di sofa, lalu menyodorkan layar ponselnya.

‘Duduk di sini. Jangan ke mana-mana.’

Setelah memberi perintah itu, Azizah bergegas ke dapur. Ezra tertinggal dengan wajah bingung.

“Apa yang ingin dia lakukan?” gumamnya.

Tidak butuh waktu lama, Azizah kembali dengan sebuah baskom berisi air hangat yang mengepulkan uap tipis. Ia meletakkannya tepat di samping kaki Ezra. Tanpa aba-aba, ia hendak meraih kaki pria itu untuk melepas sandalnya.

“Eh! Lepaskan! Itu tidak sopan!” Ezra menghindar dengan refleks, menarik kakinya dari jangkauan tangan Azizah.

Azizah berdiri tegak, tidak terpengaruh oleh protes Ezra, lalu mengetikkan sesuatu dengan cepat.

‘Kalau begitu rendam kakimu sendiri sekarang. Merendam kaki di air hangat saat kelelahan berguna untuk relaksasi dan membantu melancarkan sirkulasi darah.’

Ezra menatap istrinya dengan tatapan heran, “Kenapa ada banyak sekali yang kau tahu?”

Azizah membalas dengan ketikan singkat.

‘Itu gunanya sekolah. Cepat rendam kakimu!’

Ezra akhirnya menurut. Ia memasukkan kakinya ke dalam baskom air hangat itu. Sensasi panas yang menjalar perlahan dari telapak kakinya ke seluruh saraf tubuh benar-benar melegakan. Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan ketegangan di tubuhnya luruh.

Tanpa membuang waktu, Azizah beralih ke belakang sofa. Ia meraih pundak Ezra dan mulai memberikan pijatan.

Ezra sempat menegang dan menghindar, “Jangan menyentuhku, Azizah!”

Azizah segera menunjukkan ponselnya lagi.

‘Tubuhmu pegal karena tidur di ruang kerja semalam, kan? Biarkan aku memijatmu. Jangan sampai besok kau tidak bisa bangun karena nyeri otot.’

Ezra terdiam. Ia memikirkan argumen untuk menolak, namun rasa pegal di tubuhnya memang sudah tidak tertahankan. Ia akhirnya mengalah dan memposisikan kembali tubuhnya agar Azizah bisa menjangkau bahunya dengan lebih leluasa. Toh, pikirnya, ia tidak rugi apa-apa jika mendapat pijatan gratis. Lagipula, teknik pijatan Azizah sangat nikmat. Membuat Ezra tanpa sadar memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang perlahan mengurai simpul-simpul ototnya yang kaku.

Hampir tiga puluh menit berlalu, dan Azizah mulai merasakan pergelangan tangannya pegal. Ia pun menghentikan pijatannya. Anehnya, suasana ruang tamu menjadi hening seketika. Ia tidak mendengar lagi suara Ezra. Azizah melangkah ke depan sofa untuk memastikan, dan benar saja, pria itu sudah terlelap dalam posisi duduk.

Azizah menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. Ia sebenarnya merasa tidak tega harus mengusik tidur nyenyak itu, namun tidur di posisi duduk tentu akan membuat punggung pria itu semakin sakit saat bangun nanti. Dengan perlahan, ia mengguncang pundak Ezra beberapa kali hingga pria itu mengerang pelan dan membuka matanya.

“Apa aku ketiduran?” tanya Ezra dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Azizah mengangguk, lalu menunjukkan layar ponselnya.

‘Tidurlah di kamar, Mas.’

Setelah Ezra membaca pesannya, Azizah tidak langsung pergi. Ia meraih handuk kecil, lalu dengan telaten mengangkat kaki Ezra dari baskom dan mengeringkannya sampai benar-benar bersih.

Ezra terdiam. Matanya tidak lepas dari sosok Azizah yang tampak begitu tulus dan telaten mengurusnya tanpa pamrih.

Setelah memastikan kaki suaminya kering, Azizah berdiri dan membawa baskom air itu menuju dapur. Ezra memandangi punggung istrinya sejenak sebelum akhirnya ia mengenakan kembali sandalnya. Ia berdiri sambil meregangkan otot-ototnya yang kini terasa jauh lebih rileks, lalu melangkah menuju lantai atas.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!