Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
[Keluarga dan Pengkhianatan]
---
Derrick menyunggingkan senyum tipis saat pikirannya melayang ke masa lalu. Kenangan pahit itu kembali menghantui, mengingat betapa mudah dirinya dimanfaatkan. Dia dulu lemah, terlalu patuh, hingga pria tua itu merasa berhak bersikap sewenang-wenang. Tapi hari ini berbeda. Derrick tidak lagi sama seperti dulu.
“Jack,” panggil Derrick, memecah keheningan dalam mobil. “Bawa aku ke rumah lama.”
Jack menoleh cepat, sedikit terkejut, tapi tidak berani bertanya.
“Baik, Tuan.”
Perjalanan ke desa terpencil itu memakan waktu lebih lama dari yang Derrick perkirakan. Mobil mewahnya akhirnya berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang masih berdiri kokoh meski termakan waktu. Derrick keluar tanpa terburu-buru, pandangannya menyapu halaman. Tak lama, dua sosok muncul dari dalam rumah—seorang pria setengah baya dan wanita tua.
“Selamat datang, Tuan Derrick,” sapa Tuan Eddie dengan senyum ramah, meski sorot matanya sedikit ragu. “Apa yang bisa kami bantu?”
Derrick tidak langsung menjawab. Matanya tajam menatap pria itu, sebelum akhirnya bertanya dengan suara dingin. “Bagaimana kondisi Ayah?”
Tuan Eddie tampak gugup sesaat, tapi kemudian menjawab, “Tuan Anderson baik-baik saja.”
Derrick mengangguk kecil. “Dimana dia sekarang?”
“Dia sedang memberi makan sapi di belakang,” jawab Nyonya Dema, wanita tua yang berdiri di samping Eddie.
Derrick tertawa pelan, suara tawa itu lebih seperti ejekan. “Tentu saja. Aktivitas yang cocok untuknya.” Dia hendak melangkah pergi, tapi Nyonya Dema menghentikannya.
“Tuan Derrick, sudah lama Anda dan Ayah Anda bertengkar. Mungkin ini saatnya untuk berdamai,” ucapnya dengan hati-hati.
Derrick berhenti sejenak, lalu menoleh. “Berdamai?” katanya pelan, hampir seperti mengejek. “Dia harus diberi pelajaran lebih dulu. Agar tahu rasanya menerima apa yang dia tanam.”
“Tapi mungkin dia tidak bermaksud seperti itu...” Nyonya Dema mencoba membela.
“Mungkin?” Derrick memotong dengan tajam. “Kau pikir aku bisa menyelesaikan ini hanya dengan mendengar kemungkinan?” Tanpa menunggu jawaban, dia melangkah ke belakang rumah.
Di belakang, Derrick mendapati sosok tua yang tak asing sedang sibuk memberi makan sapi. Dia berdiri sejenak, memperhatikan pria itu, sebelum akhirnya bersuara. “Seorang Lawrence memberi makan sapi. Aku tidak pernah membayangkan ini.”
Pria tua itu, Tuan Anderson, menoleh perlahan. Senyumnya tenang, seperti tak terganggu.
“Kenapa tidak? Semua orang punya awal dan akhir.”
Derrick berjalan mendekat, tapi berhenti ketika rumput kering dan bau ternak terlalu menyengat. “Aku hampir lupa, kau selalu menemukan cara untuk membuat dirimu terlihat sederhana. Mungkin kau harus mencoba tidur di kandang ini. Itu akan melengkapi citra barumu.”
Tuan Anderson tertawa kecil, tawanya ringan, tapi ada sesuatu yang menyiratkan ejekan balik. “Tidur di sini mungkin tidak terlalu buruk. Setidaknya, aku punya kebebasan.”
Derrick mendekatkan diri sedikit, menatap pria itu. “Kebebasan yang kau pilih sendiri, atau yang aku berikan?” katanya dingin. “Kalau kau menikmati hidupmu di sini, aku bisa memastikan kau tinggal selamanya.”
“Kau tahu, ranjangku di sini dingin,” ujar Tuan Anderson, suaranya sedikit melunak. “Terkadang, aku membutuhkan seseorang.”
Derrick langsung menanggapi tanpa basa-basi. “Aku tidak akan membiarkanmu bermain-main lagi. Tidak ada lagi anak sembarangan yang harus aku tanggung akibat kelakuanmu.”
Tuan Anderson terdiam, lalu perlahan bertanya, “Bagaimana Neysa?”
Derrick berhenti, lalu menjawab dengan tenang, meski ada sedikit jeda. “Dia hamil.”
Tuan Anderson menatapnya lekat-lekat, ekspresinya sulit diartikan. “Jadi kau sudah menghamili anakku tanpa sepengetahuanku?”
Derrick tertawa pendek. “Jangan terburu menuduh, Ayah. Anak itu bukan milikku. Dia milik salah satu keluarga Barnes.”
Tuan Anderson tampak terkejut. “Keluarga Barnes? Anakku bahkan tidak pernah dekat dengan mereka.”
“Setahun terakhir, Neysa tinggal di rumah Darren Barnes. Mereka cukup kreatif untuk membuat anak di tempatnya,” Derrick menjelaskan dengan nada datar, tapi ada ketegasan yang membuat lawan bicaranya terdiam.
Setelah beberapa saat, Tuan Anderson tertawa kecil, tawanya getir. “Keluarga Barnes yang kecil itu? Mereka berani melibatkan diri dengan keluargaku? Aku akan kembali dan membereskan mereka.”
Derrick menatapnya dengan pandangan yang tak tergoyahkan. “Kau tidak akan pergi kemana-mana tanpa izinku,” katanya pelan tapi penuh otoritas. “Kita punya kesepakatan, ingat? Selama aku bilang kau tetap di sini, kau tidak akan kemana-mana.”
“Aku kepala keluarga Lawrence,” balas Tuan Anderson.
“Dan aku yang membuat keputusan,” Derrick menyela cepat. “Kau tetap di sini sampai aku mengizinkanmu keluar. Titik.”
Setelah berkata demikian, Derrick berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Tuan Anderson berdiri di tempatnya, wajahnya tak menunjukkan apa-apa, tapi pikirannya jelas berputar.
Tak lama kemudian, dia memanggil seseorang. Dari balik kandang, dua orang lelaki muncul, wajahnya penuh debu. “Mandilah dulu,” kata Tuan Anderson sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku tidak bisa bicara denganmu kalau kau bau begini.”
Pria satu lagi tersenyum malu-malu dan segera pergi. Tuan Anderson memandang ke kejauhan. “Anakku sedang hamil,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Pantau keluarga Barnes. Jika ada yang berani menyakiti Neysa atau anaknya, beri mereka pelajaran.”
Anak buahnya kembali mengangguk dengan patuh. “Akan saya pastikan, Tuan.”
Tuan Anderson tersenyum kecil, meski senyuman itu tak sepenuhnya menutupi kekhawatirannya. "Aku terlalu lama berada di kandang sapi, sampai tidak tahu anakku Hamil. Astaga, aku tidak percaya benar-benar akan menjadi kakek."
---
Sedangkan di tempat lain...
Neysa tersenyum puas, memandang kontrak di tangannya. Surat perjanjian itu kini telah ditandatangani. Amy dan Winston menjadi saksi sah atas dokumen tersebut. Dengan ini, tinggal satu langkah lagi—memberikannya kepada pengacara, maka segalanya akan selesai.
Sementara itu, Darren hanya bisa mengusap rambutnya dengan gusar. Bagaimana mungkin dia terus terjebak dalam permainan Neysa? Tingkahnya selalu di luar dugaan, membuat Darren merasa kewarasan dirinya terus diuji. Keluarga Lawrence memang tidak ada yang normal, pikirnya. Kakaknya, Derrick, sudah gila. Adiknya? Lebih parah lagi. Jika saja waktu bisa diputar ulang, Darren mungkin akan berpikir dua kali sebelum mengejar wanita di hadapannya mati-matian.
Di sisi lain ruangan, Amy menyenggol Winston dengan pelan. Dia berbisik sambil tertawa kecil, “Sembilan bulan lagi, hidup kita tamat. Tinggal tunggu Derrick datang ke rumah ini dengan bala tentaranya. Selesai sudah keluarga Winston.”
Winston menatap Amy dengan ekspresi bercampur antara geli dan khawatir, lalu mengalihkan pandangannya ke Neysa. Dengan nada hati-hati, dia berkata, “Neysa, kau dan Darren tidak perlu membuat perjanjian seperti ini. Bukankah kalian sudah suami istri? Lagipula, Darren sudah meminta maaf.”
Darren, yang sepertinya melihat celah untuk menghentikan drama ini, langsung mengangguk setuju. “Benar. Kita tidak butuh kontrak seperti ini, Neysa. Tidak masuk akal untuk rumah tangga kita.”
Dia mengulurkan tangan mencoba meraih kertas itu, tetapi Neysa dengan cepat menghalangi.
Dengan senyum ramah namun penuh arti, Neysa menatap Winston. “Tidak ada yang tahu masa depan, Winston. Mungkin saja, di tengah jalan, salah satu dari kami berubah pikiran. Kalau itu terjadi, aku yang dirugikan, bukan? Jadi, karena kami ingin hubungan ini berjalan serius, semuanya harus jelas sejak awal.”
Amy tertawa canggung mendengar jawaban Neysa. Dengan suara pelan, dia berbisik lagi kepada Winston, “Ini dia, darah Lawrence. Apapun dia lakukan untuk memastikan dirinya aman.”
Winston mengangguk-angguk sambil tersenyum. Kemudian, dia merangkul Amy dan berkata, “Ayo, kita pergi saja. Waktu kita lebih baik dihabiskan bersama. Sebelum Derrick benar-benar menghancurkan kita semua.”
Amy mengikuti langkah suaminya keluar, meninggalkan Darren dan Neysa di ruangan itu.
---
Ketika mereka akhirnya pulang, Darren membuat keputusan yang tak terduga. Alih-alih membawa Neysa ke rumah keluarga Barnes, dia mengarahkan mobilnya menuju rumah pribadinya—sebuah hunian yang tersembunyi di tengah hutan. Rumah yang jarang ia bicarakan, apalagi tunjukkan pada orang lain.
Neysa menelan ludah. Pandangannya tak lepas dari Darren yang tetap fokus menyetir. Kekhawatirannya terpancar jelas.
“Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Darren, mencuri pandang ke arahnya. “Aku tidak akan melakukan hal-hal aneh, Neysa. Aku bukan orang gila yang ingin membunuh anakku sendiri.”
Neysa tersenyum tipis, sedikit kecut. “Baguslah,” jawabnya singkat. Matanya kembali memandang ke luar jendela. Bagaimanapun, yang terpenting baginya sekarang adalah memastikan anaknya lahir dengan selamat.
---
Rumah Darren muncul di depan mereka, tersembunyi di antara pepohonan rindang. Meski terletak di tengah hutan, rumah itu tidak terlihat kecil atau sederhana. Struktur bangunannya modern, dengan sentuhan kayu alami yang memberikan kesan hangat namun tetap elegan. Halaman depannya luas, dikelilingi taman hijau yang tertata rapi. Jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya bulan memberikan pemandangan ke dalam rumah yang tampak mewah.
Ketika Darren membuka pintu utama, Neysa tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Interior rumah itu memadukan keindahan desain minimalis dengan kenyamanan khas pedesaan. Ruang tamunya luas, dihiasi sofa empuk dan perapian yang terlihat sering digunakan. Meski tidak sebesar rumah Lawrence, tempat ini memiliki daya tarik tersendiri.
Namun, kekagumannya seketika buyar saat Neysa tiba-tiba memegang kakinya dan meringis pelan. “Aduh!” pekiknya.
Darren segera berbalik, raut khawatir tergambar jelas di wajahnya. “Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?”
“Kakiku sakit,” jawab Neysa cepat. “Mungkin karena kehamilanku.”
Darren tampak ragu. “Tadi kau baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba—”
Belum selesai dia bicara, Neysa melingkarkan tangannya ke leher Darren dan memotong dengan nada manja, “Kau harus menggendongku. Ini demi anak kita.”
Darren mendesah panjang, tapi akhirnya menuruti permintaan Neysa. Dia menggendongnya masuk ke kamar utama. Setelah menurunkannya perlahan ke ranjang, Darren berbalik hendak pergi.
Namun, Neysa memegang pergelangan tangannya, menariknya kembali. Duduk di ranjang dengan posisi menggoda, Neysa menatap Darren dalam-dalam. “Kau tidak ingin tidur bersamaku, Darren?” tanyanya lembut, suaranya nyaris berbisik.
Darren berdiri mematung, ekspresinya bercampur antara bingung dan curiga. “Kenapa tiba-tiba kau... begini?” tanyanya, masih mencoba mencerna perubahan sikap Neysa.
Neysa hanya tersenyum tipis, penuh teka-teki, menunggu apa yang akan dilakukan suaminya.
B e r s a m b u n g ....
Maaf, Darren. Istrimu ini Neysa, kadang idenya diluar nalar semua wkwk
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Mimin bikin panjang. Soalnya besok mau libur dulu. Makasih sudah mau baca (^^)